
...Ketika Allah sudah berhendak semua bisa terjadi. Termasuk memberikan hidayah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya....
.......
Tiga hari berlalu. Kaila pun sudah pulih dari demamnya. Gadis kecil itu kembali ceria atau mungkin lebih ceria dari sebelumnya. Ia terlihat bersemangat saat tahu jika sekarang hendak bertemu dengan “ayah” nya lagi. Senyum terus membingkai wajah bulatnya yang imut. Sedari tadi ia tidak bisa membendung kebahagiaannya.
Riana yang tengah menyiapkan kotak bekal makan siang ikut menyunggingkan senyum betapa gembiranya Kaila. Ia sadar sudah merobohkan pondasi kebahagiaan sang anak.
“Mamah tahu di mana tas merah muda Kaila?” tanyanya seraya celingak celinguk ke sekitaran. “Kaila tidak bisa pergi kalau tidak ada tas itu," lanjutnya lagi. Riana melebarkan senyuamnya kembali melihat sang anak, gemas.
“Ini, mamah sedang menyiapkan semuanya.” Seketika itu juga Kaila menatapnya langsung lalu berlari kecil mendekati sang ibu.
“Alhamdulillah, Kaila pikir hilang,” Kaila terkekeh senang.
“Kaila senang bisa pergi piknik bersama YeonJin appa?”
Kaila mengangguk antusias. “Tentu mah. Sudah lama Kaila tidak pergi bersama appa. Oh yah, kita pergi bersama kan mah?”
“Ehh! Emm, sepertinya mamah tidak bisa Sayang. Mamah banyak pekerjaan.” Senyum dipaksakan itu terlihat. Riana tidak mungkin ikut bersama mereka. Bukankah nanti mereka terlihat seperti keluarga? Bagaimana jika nanti berpapasan dengan Hyerin di jalan? Ia tidak mau menambah masalah.
“Ahh baiklah. Selamat menikmati hari libur dengan kertas dan pensil, mamah.” Riana tersenyum senang mendengar celotehan putrinya.
“Sayang~” Riana pun langsung mendekap Kaila erat seraya menghujaninya kecupan hangat.
Tidak lama berselang bel apartemennya ditekan seseorang. Buru-buru Kaila turun dari pangkuan sang ibu seolah tahu siapa yang datang.
Pintu terbuka lebar. Senyum mengembang di wajah tampan itu membuat selung pipit di pipinya semakin terlihat. Kaila berbinar senang melihatnya.
“Appa…”
“Kaila siap liburan?” Gadis kecil itu mengangguk yakin. Riana pun mendekat lalu mengantar mereka menuju parkiran.
Udara terasa sedikit dingin hari ini. Seperti seorang ayah yang sebenarnya YeonJin menggendong dan mendekap Kaila hangat. Ia tidak mau sang anak kedinginan, mengingat Kaila baru saja sembuh dari sakit.
“Kim YeonJin-ssi, aku minta maaf merepotkanmu lagi,” ucap Riana setibanya di bawah.
YeonJin tersenyum menatapnya dalam. “TIdak apa-apa, Riana. Jangan meminta maaf, aku sendiri yang mengajak Kaila jalan-jalan hari ini. Oh yah, kenapa kamu tidak ikut bersama kita?”
“Tidak usah. Ada sesuatu yang harus aku lakukan. Kalau begitu selamat bersenang-senang, Kaila jangan merepotkan YeonJin appa yah,” ujarnya seraya mengusap pelan surai sang putri.
“Mamah tidak usah khawatir. Kaila tidak akan merepotkan appa…”
“Anak pintar.”
Melihat kedekatan Riana dengan anak semata wayangnya membuat perasaan CEO ini menghangat. Orang-orang berjalan di sekitar sana berpikir jika mereka keluarga utuh yang harmonis. Namun, pada kenyataannya tidak demikian.
“Kalau begitu kita pergi dulu,” ucap YeonJin lagi. Riana mengangguk mempersilakan mereka untuk masuk ke dalam mobil.
Tidak lama berselang kendaraan roda empat itu mulai meninggalkannya. Lambaian tangan mengiringi kepergian sang anak bersama ayah angkatnya. Ia tidak menyangka kehidupannya bisa seperti ini. Kehadiran YeonJin sedikitnya bisa mengobati rindu Kaila tentang sosok sang ayah.
“Maafkan mamah, Sayang…”
...***...
Ia tidak mengerti kenapa sang ibu bersikap seperti itu.
“Kaila senang sekali. Hari ini pergi liburan bersama appa.” Ucapnya menatap YeonJin yang tengah menyetir di samping kirinya.
YeonJin pun menoleh sekilas, “jinjja? Appa juga senang bisa menghabiskan waktu bersama Kaila,” jawabnya tidak kalah riang.
Tidak terasa dengan diiringi perbincangan ringan mereka akhirnya tiba di tempat tujuan. Taman yang berada di tengah-tengah Kota Seoul mulai dipadati pengunjung. Sungai yang membentang luas menjadi ciri khas utamaya.
YeonJin dan Kaila pun menggelar tikar kecil di bawah pohon rindang untuk menikmati waktu. Kaila melihat banyak keluarga yang juga memilih menghabiskan liburannya di sana. Ia tersenyum kembali jika sekarang dirinya sama seperti mereka. Meskipun sang ibu tidak ikut dengannya.
“Andai saja mamah ikut.” Celotehnya kemudian, lalu mengelurkan kotak bekal makan siang dalam tas kesayangannya.
YeonJin tercengang melihat hal tersebut. Ia mengerutkan dahi dalam tidak mengerti kenapa Kaila mengenakan tas tersebut. Rasa ingin tahunya semakin dalam. Bukankah gaji yang diberikannya pada Riana lebih dari cukup untuk membeli tas anak seperti itu? Pikirnya dalam diam.
“Kaila, kenapa masih menggunakan tas ini? Lihat bukankah sudah banyak tambalannya?” sebenarnya ia tidak tega bertanya seperti itu. Namun, YeonJin sangat penasaran. Ia yakin ada sesuatu di baliknya.
“Oh ini, mamah juga sempat menyuruh Kaila untuk menggantinya. Tapi Kaila tidak mau, karena tas ini pemberian dari ayah. Kata mamah ketika Kaila masih bayi ayah memberikan tas ini sebagai hadiah.”
Entah benar atau tidak, YeonJin melihat binar kebahagiaan dalam sorot mata Kaila. Ia terenyuh dengan kesederhanaan yang dimiliki anak ini. Ia pun semakin menyayanginya.
“Ahh, begitu.”
“Appa ayo makan. Ini mamah yang buat tadi,” tawarnya kemudian. YeonJin pun mulai mencicipi masakan buatan Riana.
Sedetik kemudian mata kecilnya melebar. Ia tidak percaya masakan wanita arsitek itu sama dengan sang ibu. Masakan Korea yang dibuatnya mengingatkan ia pada mendiang ibunya. Beliau selalu memasak makanan kesukaannya setiap hari. Entah kenapa bayangan Riana terus memenuhi kepalanya.
“Pa. Appa…. YeonJin appa…” Teriak Kaila seraya menggoncangkan tubuhnya melihat sang ayah melamun.
“Ahh, ne…”
“Appa kenapa?”
“Eheheh mian, appa hanya teringat mendiang eomma. Masakan ibumu ini rasanya mirip sekali dengannya.”
“Jinjja?” YeonJin mengangguk-anggukan kepalanya yakin. Ia kembali merindukan sosok sang ibu dalam hidupnya. Namun, sekarang ia tidak mungkin berharap kembali beliau ada di sisinya.
Mereka pun makan siang bersama seraya menikmati hembusan angin yang terus menyapa. Ini pertama kalinya YeonJin menghabiskan waktu bersama seorang anak. Bukan bersama kanvas dan cat yang setiap hari libur menemaninya.
“Bagaimana jika sebelum pulang, kita mampir dulu ke suatu tempat? Kaila mau?” tanya YeonJin.
“Kemana appa?”
“Nanti Kaila pasti suka. Di sana bisa membeli apapun yang Kaila mau. Bagaimana?”
“Eung.”
Sungguh keselarasan yang sempurna. Mereka sama-sama kehilangan kasih sayang dari seorang ayah. YeonJin tahu betapa terlukanya Kaila ketika merindukan sosok pelindung, tapi beliau tidak pernah ada dalam hidupnya.
Bagaikan menggenggam pasir yang perlahan semakin menghilang. Ada tapi tidak bisa tergapai. Beruntung Riana mendapatkan putri sebaik Kaila. Meskipun dulu ia tidak pernah mengharapkan kehadirannya. Namun, Allah membuka mata hatinya untuk menerima semua ketentuan itu. Hingga sekarang Kaila tumbuh dan bertemu dengan Kim YeonJin. Pria baik hati yang menawarkan dirinya sebagai seorang ayah.