
...Pertemuan menjadi langkah awal sebuah perjalanan....
.......
Riana tengah fokus pada pekerjaannya membuat miniatur. Di atap perusahaan ia tengah bermain bersama dua benda yang berharga baginya. Benda mati yang menjadi saksi bisu perjalanan kehidupannya selama ini. Coretan demi coretan di atas kertas mulai terlihat. Senyum terbit di bibir ranumnya dengan rona merah menghias pipi putihnya. Ia senang bisa kembali ke dunianya sendiri. Dari kecil Riana memang suka menggambar rumah impian. Walaupun hanya coretan sederhana, itu sudah membuatnya bahagia.
Sepeninggalan ayah dan ibunya, Riana hidup sendiri dengan mengandalkan pemberian dari sanak saudara. Seolah menjadi beban, ia pun tidak dipedulikan lagi. Kemudian ia dijodohkan dengan seseorang. Setelah pernikahan itu Riana tidak dianggap lagi oleh keluarganya sendiri. Ia seperti hidup sebatang kara. Begitulah, kisah memilukan seorang Riana yang tidak ingin dikenang kembali.
“Dulu, hanya dengan menggambar rumah mewah sudah membuatku senang. Hah~ Ya Allah aku jadi teringat momen menyedihkan itu.” Gumamnya.
Perlahan angin berhembus menyapu wajah sendunya. Tanpa disadari seseorang tengah berjalan ke arahnya. Entahlah sebenarnya dia itu seorang bos atau pengangguran? Setiap saat selalu muncul di hadapan Riana. Bahkan dirinya sendiri pun tidak mengerti. Sudah menjadi kebaisaan sejak kedatangan, Riana. Ia merasa nyaman berada di sampingnya. Wajah tampannya semakin memesona tat kala senyum manis kembali terbit di bibir menawannya. Selung pipit semakin masuk ke dalam menambah keindahan. Riana yang masih menunduk tidak tahu jika sosok itu sudah duduk tepat di depannya. Ia senang betapa rajin karyawannya yang satu ini.
“Aku tidak tahu kalau suasana bagus bisa mempengaruhi pekerjaan.” Sontak perkataannya membuat Riana terperanjat dan langsung menatapnya.
“Ye… YeonJin-ssi. Apa yang sedang Anda lakukan di sini?”
“Kamu sendiri?” Ia malah balik bertanya.
“Saya sedang menyelesaikan rancangan ini. Rencananya habis makan siang nanti saya mau mulai menyusunnya.” YeonJin menganggukan kepala beberapa kali. Setelah mengatakan itu Riana pun kembali menggambar tanpa mempedulikan keberadaannya. Mata sipit YeonJin masih saja memperhatikan wanita berhijab ini. Ada sesuatu dalam dadanya yang tidak bisa dideskripsikan dengan jelas. Hal itu mengganggu pikirannya. Ia ragu untuk bertanya. Namun, rasa penasaran semakin menggebu.
“Apa yang membuatmu bekerja keras seperti ini?” Riana menghentikan kegiatannya beberapa detik dan kembali fokus pada dunianya sendiri.
“Saya ingin memberikan kehidupan yang layak untuk Kaila. Dia satu-satunya harta paling berharga untuk saya.”
Degg!!
Tiba-tiba saja YeonJin merasakan jantungnya berdebar kencang. Bukan perasaan suka yang dirasakannya, melainkan ia teringat memori beberapa tahun silam. Momen itu berputar cepat dalam kepalanya.
“Kamu adalah harta paling berharga bagi eomma. Meskipun appa pergi meninggalkan kita, eomma akan bekerjakeras untuk kebahagiaanmu, Joon.” Kata-kata dari ibunya terus terngiang. YeonJin tumbuh tanpa seorang ayah selama 16 tahun. Seorang remaja yang masih membutuhkan pengawasan kedua orang tua, nyatanya YeonJin hanya merasakan dari salah satu pihak. Ibunya. Hanya beliau yang ia punya. Ketika usianya menginjak 21 tahun sang ibu meninggal tanpa melihat keberhasilannya.
“Ternyata semua ibu memiliki pemikiran yang sama.” Ucapnya sendu.
Mendengar nada kesedihan itu Riana mendongak. Sorot mata YeonJin berubah. Tidak sehangat tadi. Terlihat sayu menyimpan banyak kesedihan di dalamnya. Riana mengerti, setiap orang memiliki kisah perjalanan hidup yang berbeda.
“Dulu eomma juga bilang seperti itu.” Lanjutnya. Riana masih tidak mengerti dan membiarkan pria itu bermain dengan pikirannya sendiri.
“Apa yang dia bicarakan? Bukannya aneh seorang bos akrab dengan pegawainya. Ahh molla.”
Di balik pintu itu YeonJin menghentikan langkahnya. Kepala dengan surai hitam legamnya menunduk dalam. Sepatu pantofel mengkilap menarik perhatian. Kembali, ingatan itu terus berputar dalam bayang. YeonJin tidak pernah tahu bisa bertemu wanita yang hidupnya sama dengan sang ibu. Bak membuka kisah lama, ia merasa bernostalgia. “Eomma, bogoshippo.” Gumamnya.
...***...
Gelap pun datang. Langit bertabur bintang malam ini. Dari kepulangannya sejak sore tadi, Riana tidak lepas dari pekerjaannya. Pernak-pernik untuk membuat miniatur menyebar di ruang keluarga. Apartemen yang ia tinggali tidak begitu besar. Mudah bagi sang anak untuk melihat kegiatan ibunya dari kamar. Kaila tertarik dan berjalan mendekat. Riana yang masih berkutat dengan kegiatannya tidak menyadari kedatangan sang anak. Wanita itu jika sudah berada di dunianya tidak bisa diganggu gugat.
“Mamah, lagi apa?” Tanyanya.
“Ehh, sayang kenapa belum tidur hmm?”
“Aku tidak bisa tidur karena mamah tidak ada di samping Kaila.” Senyum terpendar di bibir ranum Riana. Ia pun mengusap kepalanya pelan.
“Maaf yah sayang, malam ini mamah tidak bisa menemani kamu tidur karena banyak pekerjaan hehehe.”
“Eung, kalau begitu Kaila di sini temani mamah.” Ia pun membaringkan dirinya di samping pangkuan Riana. Kepala bulatnya membuat Riana tidak bisa mengalihkan pandangan. Ia merasa bersalah dengan anak semata wayangnya ini. Namun, bagaimana pun juga ia tengah berjuang untuk masa depan Kaila. "Aku tidak boleh menyerah. Aku harus membuat YeonJin-ssi berkesan supaya kontrak kerja ini bisa diperpanjang." Benaknya serius.
Setiap hari Riana menghabiskan waktunya dengan miniatur-miniatur yang ia susun membentuk bangunan kecil. Ia pun sempat melewatkan kebersamaannya dengan Kaila. Gadis kecil itu terkadang mengeluh karena ibunya direnggut paksa oleh pekerjaan. Bibir kecilnya selalu mengerucut tat kala Riana menolak untuk membacakannya dongeng sebelum tidur. Rasa penyesalan terkadang melintasi hatinya. Riana sudah melewati kesempatan untuk terus berdekatan dengan Kaila. Namun, mau bagaimana lagi pekerjaannya tidak bisa ditunda. Dua tahun waktu yang diberikan Kim YeonJin untuknya. Ia dikontrak selama itu untuk membuat bangunan yang diinginkannya dan Riana tidak bisa menyianyiakannya begitu saja.
Dua minggu berlalu. Tepat pada malam ini ia berhasil menyelesaikan pekerjaan itu. Semua beban sudah terangkat dan ia pun bisa bernapas lega untuk sesaat.
“Alhamdulillah, Ya Allah.” Ucapnya seraya merentangkan tangan ke udara. Jam menunjukan pukul setengah 7 malam. Ia pun bergegas membereskan barang-barangnya bersiap pulang. Baru saja ia keluar ruangan, langkahnya terhenti melihat YeonJin berjalan mendekat. Tatapannya tajam tidak sehangat biasanya. Riana mengerutkan dahi heran. Ia ragu untuk menyapanya. Alhasil pria itu hanya melewatinya begitu saja. Ia berbalik melihat YeonJin terus berjalan dengan langkah lebar.
“Sssshh, kenapa? Apa ada sesuatu?” Gumamnya tidak mengerti. Melihat Riana terdiam Jimin yang sedari tadi mengikuti ke mana perginya YeonJin pun menghentikan langkah tepat di sampingnya. Ia melihat keheranan yang terpendar dalam matanya.
“Kamu pasti heran kenapa sang CEO seperti itu?” Riana tersentak lalu menoleh padanya. “Besok ada berita besar. Kamu akan tahu sendiri nanti.” Penjelasannya sama sekali tidak membantu. Tidak lama Jimin pun meninggalkannya.
“Berita besar? Apa itu? Apa besok YeonJin-ssi berulang tahun?” Bisiknya dan kemudian melangkah pergi.
Malam ini YeonJin terlihat gelisah. Ia tidak menyangka wanita yang satu tahun pergi ke Paris akan kembali besok. Seharusnya ia senang, tapi pada kenyataannya tidak seperti itu. Ada sesuatu dalam dirinya untuk menolak kedatangannya. Ia masih tidak mengerti dengan sesuatu yang terus bersarang tanpa ia ketahui.