
Pena selalu menuliskan kata-kata beragam makna. Kesedihan, kesakitan, kepiluan, kebahagiaan, kesenangan sampai coretan abstrak tertuang dalam selembar kertas. Kisah akan terus berlanjut sampai episode kehidupan berakhir pada satu titik. Entah itu mendapatkan happy ending atau sad ending tergantung pada sang pemilik cerita.
Allah yang menggenggam semua kehidupan setiap hamba-Nya. Allah Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Terkadang kejutannya tidak terduga dan tidak disangka kedatangannya. Dan hal tersebut sangat baik serta mengundang senyum kebahagiaan.
Sama seperti keempat insan yang terjebak dalam satu waktu bersama.
Kim YeonJin yang masih memeluk erat sang istri melupakan keberadaan dua orang di sana. Sadar akan keberadaan Jasmin dan Jimin, Riana pun mendorong sang suami dan merasa gugup seketika. Ia malu dan tidak terbiasa terlihat mesra di depan orang lain.
"O-oppa jangan lakukan itu lagi," cicitnya. Ia juga takut memberikan pengaruh tidak baik pada Jasmin setelah mendengar ceritanya.
"Wae? Kita sudah menikah Riana, jadi tidak apa-apa."
Riana gelagapan enggan menatap ke dalam manik suaminya. YeonJin yang melihat itu hanya tersenyum maklum.
Jasmin yang menyaksikan adegan tersebut pun tidak bisa menahan senyum. Lengkungan bulan sabit di wajah cantiknya membuktikan jika ia baik-baik saja.
"Pernikahan mereka sangat harmonis," benaknya.
Sedari tadi ada sepasang manik yang terus memandanginya tanpa henti. Pria bermarga Choi tersebut kembali merasakan sesuatu dalam dada. Ia tahu apa yang tengah menempat hatinya, tapi apa secepat itu? Pikirnya bingung sendiri.
Keheningan membuat Riana penasaran apa yang terjadi disekitarnya. Ia pun sedikit menjauh dari sang suami dan menatap Jasmin dan Jimin bergantian. Seketika dahi lebarnya mengerut kala tatapan Jimin terus mengarah pada Jasmin. Ia menggeleng pelan lalu menjentikan jemarinya tepat di wajah Jimin.
"Mau sampai kapan kamu terus memandanginya seperti itu, hah?"
Pertanyaan Riana seketika membuatnya gelagapan. Jimin terkejut sudah tertangkap basah dan segera memalingkan wajah memerahnya. Merasa jika hal tersebut ditujukan padanya, Jasmin menegakan kepala dan menatap nyalang ke arah pria itu.
"Teh aku pulang dulu, yah assalamu'alaikum."
Tanpa mendengar jawaban Riana, Jasmin langsung angkat kaki dari sana begitu saja. Riana menyadari sesuatu dan hanya membiarkannya saja. Ia yakin Choi Jimin sudah membuatnya tidak nyaman, masa lalu yang kembali terbuka meninggalkan jejak kenangan tidak menyenangkan.
"Wa'alaikusalam," balas Riana dan YeonJin bersamaan.
Kecanggungan begitu kentara di antara ketiganya, pasangan suami istri itu tahu tentang sesuatu yang merayap dalam diri Jimin. Mereka pun lalu membawanya ke ruang keluarga dan duduk saling berhadapan.
Riana menatap kedua pria di sana bergantian, ada sesuatu hal lain yang tengah disembunyikan. Firasat seorang wanita terlebih istri terkadang benar adanya. Sedari tadi YeonJin enggan menatap padanya seperti sengaja menghindarinya.
"Kita kesampingkan dulu masalah Jasmin, sebenarnya kenapa Jimin datang ke sini? Apa ada sesuatu yang serius?" tanya Riana langsung.
Keduanya terkejut kemudian saling pandang. YeonJin menghela napas berat dan berjalan mendekati sang istri. Ia duduk di samping wanitanya lalu menggenggam tangannya hangat.
"Aku tidak mau membebanimu, Sayang."
Kedua alis Riana saling berpautan dan memandangi iris sang suami begitu dalam. "Membebani? Apa oppa tahu kenapa kita menikah? Sudah seharusnya suami istri saling menguatkan satu sama lain, tidak ada kata membebani dalam urusan rumah tangga. Masalahmu, masalahku juga." Balasnya. Tangan ramping itu terulur dan mengusap wajah tampan YeonJin.
"Aku hanya tidak ingin membuatmu terluka. Aku sudah berjanji untuk membahagiakanmu dan anak-anak kita."
YeonJin membawa telapak tangan wanitanya untuk diberikan kecupan lembut. Riana melebarkan mata tidak percaya.
"Ekhemmm."
Deheman kuat dari seseorang menyadarkan mereka. Buru-buru Riana menarik tangannya dan menundukan kepala. Ia lupa jika di sana masih ada Choi Jimin. Sedangkan YeonJin hanya memutar bola matanya dan memberikan tatapan tajam.
"Jangan bermesraan di hadapanku, hah~ sungguh tidak menghargai perasaan orang lain. Aku juga merindukan seseorang." Oceh Jimin seraya memandang ke langit-langit ruangan.
"Bukankah kamu sudah menyukai Jasmin?"
"Yak, h-hyu-hyunga a-apa yang kamu bicarakan?" Jimin gugup luar biasa.
Riana kembali menegakan kepala dan memandang serius padanya. Jimin mengerutkan dahi tidak mengerti saat menangkap ekspresi wanita itu.
"A-apa? Kenapa kamu menatapku begitu Riana? A-aku tidak bersalah di sini," cicitnya takut-takut.
Riana menghela napas pelan lalu melipat tangan di depan dada. "Jatuh cinta pada pandangan pertama, heh? Tapi sepertinya tidak mudah untuk dilalui, kamu tahu sendiri jawabannya."
Penjelasan Riana mengantarkan ketegangan dalam diri Jimin. Kepala bersurai halus itu pun menunduk perlahan. Ia menautkan jari jemarinya kuat merasakan sesak dalam dada yang tiba-tiba datang menerpa.
"Aku tidak menampik perasaanmu, hanya saja kamu butuh perjuagan lebih untuk meluluhkan hati seorang wanita seperti Jasmin. Kamu harus yakin dengan hal itu, jangan sampai ada penyesalan diakhir."
Setelah mengatakan itu Riana pun beranjak dari sana membiarkan sang suami mengambil alih. Selepas kepergiannya, YeonJin berjalan lalu kembali beralih di sampingnya. Tepukan pelan mendarat di bahu Jimin. Ia mengangkat kepalanya seraya tersenyum lemah.
"Aku baik-baik saja hyung," timpalnya.
"Kamu tahu sendiri bagaimana perjuangan hyung untuk bisa percaya akan cinta. Dan sekarang Riana sudah menjadi bagian dalam hidup hyung. Seberat apapun jika Tuhan sudah menakdirkan maka kalian bisa bersama. Perbedaan bisa terkikis jika kita yakin dan percaya pada ketentuan-Nya. Kamu hanya harus berjuang."
Kata-kata yang mengalir mulus dari mulut menawan sang kakak menyadarkan ia jika sejatinya kehidupan butuh perjuangan. Ujian akan selalu datang ketika napas masih berhembus, tidak ada yang tahu sedetik ke depan hal apa yang menyambut. Hanya terus melangkah dan tidak melihat ke belakang.
Satu anggukan diberikan pria itu. "Yah, aku sudah melihat bagaimana perjuangan hyung, mungkin kali ini aku harus berjuang?"
YeonJin menepuk kepalanya beberapa kali dengan lengkungan bulan sabit bertengger di sana. "Hyung percaya takdirmu juga akan luar biasa. Jika Tuhan sudah berkehendak maka tidak ada yang tidak mungkin."
Jimin hanya mengangguk mengiyakan. Jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia kagum pada sosok Kim YeonJin yang bisa bertahan seorang diri melawan ganasnya dunia. Banyak batu sandungan yang dilewatinya, tapi YeonJin tidak menyerah dan pada akhirnya mendapatkan hasil luar biasa. Terlebih saat kepercayaan itu didapatkan.
Tuhan menjadi tujuan utama dalam hidup.
Allah tidak pernah salah memberikan ujian seberat apapun pada hamba-Nya. Karena Dia percaya jika hamba-Nya bisa melewati semua itu. Tidak akan ada pelangi jika tidak ada badai datang. Tidak akan ada senyum kebahagiaan tanpa air mata. Kesalahan dibutuhkan untuk melangkah lebih baik lagi.
Di ujung sana masih ada cahaya harapan yang tengah menunggu.