
Sejatinya tidak ada yang abadi di dunia ini. Senang, sedih, bahagia, gembira, kecewa dan berbagai macam perasaan yang datang hanya singgah lalu menghilang. Keberadaannya yang sementara terkadang menimbulkan malapetaka ataupun keharuan. Semua jalan kehidupan sudah diskenariokan oleh Sang Maha Pencipta.
Allah pemilik kehidupan setiap hamba dengan rencana-Nya yang gemilang. Pertemuan dan perpisahan sudah menjadi bagian dari takdir-Nya.
Jasmin duduk dengan gelisah kala terjebak dengan dua orang pria dalam ruangan. Setelah Riana dan Kim Yejun menghilang mereka memutuskan untuk masuk dan menunggu keduanya di sana. Sedari tadi Jasmin menunduk mencoba untuk tidak terlibat dalam permasahalan.
Ia berusaha tenang meskipun ada gejolak tidak mengenakan mengendap dalam dada.
Tanpa ia sadari, dalam diam Jimin terus memperhatikan. Ia mengerti gesture yang dilayangkan Jasmin. Ada ketidaknyamanan yang berusaha disembunyikan.
"Apa kalian sepasang kekasih?"
Mendengar petanyaan yang terlontar dari orang ketiga membuat Jimin dan Jasmin menolehkan kepala ke samping melihat Kim YeonSun tengah melipat kaki di sofa tunggal. Jasmin menatapnya gemetar tidak percaya, sedangkan Jimin mengerutkan dahi dalam.
"Kenapa kalian berekspresi seperti itu? Apa saya bertanya hal yang salah?" tanyanya lagi seraya mengendikan kedua tangan.
Jimin yang khawatir segera melihat ke arah Jasmin. Tiba-tiba saja ia merasakan firasat tidak mengenakan, dan benar saja wanita berhijab tersebut tengah mengapalkan kedua tangan erat. Entah apa yang terjadi di masa lalu hingga membuat mata bulat Jasmin memerah. Jimin bersimpati sekaligus penasaran.
"Jadi, benar kalian sepasang kekasih?"
Kim YeonSun terus bertanya mengantarkan kejengkelan dalam diri Jimin.
Saat hendak membuka mulut, Jasmin lebih dulu menyambar membuat bibirnya kembali mengatup.
"Bisakah Anda berhenti bertanya? Masalah kami, tidak ada hubungannya dengan Anda."
Perkataan Jasmin dengan nada dingin membuat Jimin terperangah, begitu pula dengan Kim YeonSun. Pria paruh baya tersebut terkejut lalu menyeringai dan menganggukan kepala beberapa kali, tertarik dengan Jasmin.
"Waw, kamu wanita yang luar biasa. Siapa namamu?"
"Rasanya tidak penting saya mengenalkan diri pada Anda."
"Apa kamu keluarga Riana, istri putra saya? Kalau begitu bukankah kita keluarga?"
"Saya minta maaf, saya di sini hanya orang asing."
Kim YeonSun melebarkan kedua belah sudut bibirnya kala melihat raut muka Jasmin yang sama sekali tidak bersahabat. Jimin yang menyaksikan hal tersebut kembali dibuat tidak percaya. Jasmin, wanita yang baru dikenalnya memiliki sisi berbeda.
Di tengah ketegangan tersebut Riana dan YeonJun datang menyelamatkan. Riana pun segera membawa Jasmin untuk menyuruhnya beribadah. Sedangkan ia dan sang suami sudah lebih dulu setelah menyelesaikan konflik yang mendera keduanya.
Dalam diam bola mata kecoklatan Jimin mengikuti ke mana perginya sosok Jasmin hingga menghilang dalam pandangan. Hal tersebut tidak luput dari perhatian mereka.
Kim YeonSun semakin berulah dan meracau sambil menatap kuku-kuku tangannya. Perkataan barusan membuat YeonJun, Riana dan Jimin menatap lekat padanya.
"Apa yang Appa inginkan sekarang? Jangan menyindir, katakan yang sebenarnya. Aku tidak mau Appa mengganggu keluargaku lagi." YeonJun mempertegas.
"Apa kamu keberatan Appa datang ke rumahmu? Berapa tahun kita berpisah, apa kamu tidak merindukan Appa sedikit saja?"
Air muka Kim YeonSun berubah, ada kesedihan di balik sorot matanya. Entah itu kebenaran atau hanya akting semata, hanya pria itu dan Tuhan yang tahu. Riana terkesiap tidak percaya dan menatap sang suami yang berada di samping. Tangannya terulur menggenggam hangat jari jemari YeonJin.
Tanpa membalas tatapan sang istri, YeonJin menautkan kedua jari mereka.
"Rindu sudah tidak tersisa dalam diriku lagi. Jika Appa sedang kesusahan, aku akan membantu. Bagaimana pun juga Appa tetap orang tuaku."
Kim YeonSun berdecih lalu melipat tangan di depan dada.
"Apa kekuasaan sudah membuat hatimu buta? Sadarkah siapa yang kamu ajak bicara ini? Aku ayahmu, Kim YeonJin. Aku sudah banting tulang untuk membesarkanmu dulu, inikah balasanmu?"
Riana bisa merasakan pegangan tangan sang suami mengerat. Ia mengusap bahunya pelan mencoba menenangkan.
"Lalu menanamkan luka padaku dan eomma? Aku tidak akan bisa melupakan bagaimana pengkhianatan Appa dulu pada kami. Setelah Appa memutuskan untuk memilih bersama wanita itu, kami kesusahan. Untuk makan saja bisa menunggu sehari, aku dan eomma pernah terlunta-lunta di jalanan saat Appa mengusir kami dari rumah. Lantas, apa yang Appa harapkan dariku sekarang? Bagi Appa Kim YeonJin tidak pernah ada. Itukan yang Appa katakan waktu itu? Sampai-sampai Appa tidak mengakui bakatku yang senang menggambar. Bagi Appa-" YeonJun menarik napas pelan menahan air mata yang mencoba keluar dari bendungan.
"Bagi Appa bakatku tidak berguna. Dan karya yang aku hasilkan hanyalah sampah."
Kim YeonJin tidak kuasa menahan kepedihan, seketika itu juga cairan bening mengalir tak tertahankan. Ia menghapusnya kasar dan menunduk dalam. Masa lalu menyakitkan kembali teringat membuat ia rindu akan keberadaan sang ibu.
Wanita yang sudah melahirkannya lebih terluka, tidak hanya batin, tapi fisiknya juga. Sang ayah dulu tidak segan main tangan kala sang ibu membelanya. Itulah kenapa ia sangat bersimpati kala mengetahui masa lalu Riana, yang sama seperti ibunya mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Jauh dari lubuk hatinya paling dalam, YeonJin bersyukur saat ayahnya menyuruh mereka untuk pergi. Ia lega, setidaknya bisa melihat sang ibu terlepas dari kungkungan Kim YeonSun. Dulu ia dan ibunya seperti hidup dalam sangkar. Ada kemewahan, tapi tidak bahagia.
Jimin dan Riana yang menyaksikan bagaimana terlukanya seorang Kim YeonJin tidak kuasa menahan air matanya juga. Mereka menangis dalam diam merasakan seperti apa masa lalu yang pernah YeonJin alami.
Seorang anak korban broken home yang harus menyaksikan hal keji. Kalimat "selamat tinggal" lebih membahagiakan di bandingkan "tetap bertahan." YeonJin kecil kini sudah berubah dewasa dan menemukan kebahagiaannya. Ia tidak melupakan sang ayah, bagaimana pun Kim YeonSun pernah hadir dalam hidup dan akan tetap menjadi orang tuanya.
Tidak kuasa melihat sang suami sesenggukan menahan isak tangis, Riana menariknya ke dalam pelukan. Ia tidak peduli jika di hadapannya ada ayah mertua dan juga Jimin. Ia hanya ingin membuat suaminya aman dan nyaman. Karena ia merasakan bagaimana sakitnya diperlakukan tidak adil oleh suami. Arsyid, mantan suaminya dulu telah menorehkan luka yang tidak bisa dihilangkan. Namun, bersama Kim YeonJun ia merasa tenang.
"Menangislah jika itu bisa membuat Oppa lega. Aku ada di sini, kita bisa melalui semuanya bersama. Tidak usah ingat lagi masa lalu menyakitkan, kita punya masa depan membahagiakan di depan. Jangan pernah berpikir, jika Oppa sendirian. Karena aku, dan anak-anak akan selamanya ada bersamamu. Menangislah."
Suara lembut Riana menendang indera pendengaran. Gerakan lembut di punggungnya membuat ia aman. YeonJin membalas pelukan sang istri erat dengan menyembunyikan wajah berair di bahu kecilnya. Ia menangis di sana menumpahkan segala keluh kesah, kesakitan, kepedihan yang pernah dilaluinya di masa lalu.
Jimin dan YeonSun menyaksikan adegan tersebut dalam diam. Kegundahan seketika merayap membentuk sebuah episode baru.