QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Pertemuan 2 (Season 2)



Kim YeonJin tidak tahu harus ke mana lagi mencari bantuan. Selepas mengantarkan Kaila ke sekolah, ia menghubungi teman-teman terdekatnya. Namun, tidak ada satu pun dari keenamnya yang bisa membantu, mereka beralasan terlalu sibuk dan bahkan ada yang tidak menerima panggilannya.


YeonJin menghela napas kasar memandangi layar ponsel, "dasar, apa mereka tidak sadar siapa orang yang sudah membantunya di saat susah? Astaghfirullah hal adzim tidak usah zalim kamu YeonJin," gumamnya mengusak kepala kuat.


Ia meletakan benda pintarnya di jok sebelah dan hendak menjalankan mobil. Namun, sebelum menginjak gas seseorang lebih dulu mengetuk jendela. YeonJin mengurungkan niat dan menoleh ke samping kanan mendapati seorang wanita cantik tengah tersenyum manis.


Seketika netra kecilnya melebar, buru-buru ia keluar dan berdiri di hadapannya. "Park Hyerin? Ya Tuhan apa kabar?" tanyanya semangat.


"Aku baik, tadi aku pikir bukan kamu, Oppa. Ternyata memang benar, jadi apa yang Oppa lakukan di sini? Tidak pergi ke gallery?" tanya Hyerin balik.


Wanita yang beberapa tahun lalu menjabat sebagai tunangannya ini pun terlihat baik. Park Hyerin jauh lebih dewasa dan berwibawa, YeonJin mendengar jika ia sudah menduduki jabatan sebagai wakil direktur di perusahaan keluarganya. YeonJin tersenyum canggung dan tidak tahu harus menjawab apa.


Hyerin mengerutkan alis heran kala melihat gelagat aneh. "Apa ada yang tidak beres? Ah ... dua hari lalu aku mendengar jika ada skandal tentangmu. Kim YeonSun, jadi beliau sudah kembali, Oppa?" tanya Hyerin lagi.


Kim YeonJin bersandar ke badan mobil seraya melipat tangan di depan dada. Orang-orang hilir mudik di trotoar, sesekali mereka menoleh karena penasaran dan setelah itu berlalu begitu saja. YeonJin menghela napas pelan dan mendongak melihat langit siang ini.


"Beliau memang sudah kembali, tetapi tentang skandal itu tidaklah benar. Aku sudah kehilangan gallery, karena aku menyerahkannya," adu YeonJin.


Hyerin melebarkan kedua mata tidak percaya, "MWO? Kenapa Oppa bisa dengan gampang memberikannya? Apa Oppa lupa bagaimana perjuangan membangun gallery itu? Bukankah bangunan itu satu-satunya menjadi saksi kalian? Jika Riana yang merancangnya saat kalian masih bekerjasama? Perusahaan pertama diambil alih dan sekarang gallery? Apa yang Oppa pikirkan?" cerca Hyerin tidak habis pikir.


YeonJin membalas tatapannya lagi, senyum tulus nan ikhlas pun terpendar menambah ketampanan. "Karena keluargaku lebih berharga. Waktu itu ada sedikit kendala yang mengharuskanku merelakan gallery," ungkapnya lagi.


Hyerin mengdengus pelan mengerti bagaiamana rasa cinta yang dimiliki YeonJin untuk istrinya, Riana. Ia bahkan rela menentang satu-satunya keluarga dan merelakan perjodohan mereka. Hubungan yang sudah diatur itu pun harus terputus.


"Aku tidak tahu bagaimana kronologi lebih jelasnya, tapi jika Oppa butuh bantuan aku ada di sini. Jangan memikirkan tentang masa lalu, bagaimanapun hari itu sudah berlalu. Sekarang aku sedang melanjutkan karier melukisku bersama seseorang. Dia juga sama sepertimu menyukai dunia seni, aku rasa kami cocok satu sama lain. Jadi, Oppa tidak usah sungkan, kapan pun Oppa bisa datang, kami akan menyambutmu," kata Hyerin membuka secercah harapan.


YeonJin terpaku, tidak menyangka masih ada orang yang mau membantunya. Sekilas ia bisa melihat kebersamaannya bersama Hyerin di jendela toko pakaian. Mereka bersebelahan memperlihatkan satu sama lain. Kata dewasa menggambarkan keduanya saat ini, dulu baik YeonJin maupun Hyerin masih sama-sama egois mementingkan keinginan masing-masing.


YeonJin juga tidak menyangka wanita yang dulu mencintainyalah kini membantunya. Masa-masa itu hinggap dalam kepala, bagaimana ia acuh tak acuh terhadap perasaan Hyerin. Namun, berkat bantuannya ia bisa menyelesaikan permasalahan mengenai mantan suami sang istri.


"Aku minta maaf, dulu sudah sangat egois. Aku tidak tahu jika di masa depan kamu orang yang membantuku. Mereka yang kupikir teman, hanya datang saat membutuhkan dan di waktu aku butuh mereka menghilang begitu saja," oceh YeonJin mendongak lagi melihat awan berarak.


YeonJin termangu, teman masa kecil yang hampir menjadi istrinya sudah banyak berubah. Selama dua tahun tidak bertemu keperibadian Park Hyerin berganti ke arah baik. "Terima kasih," balasnya singkat.


Setelah itu mereka saling diam sibuk dengan pikiran masing-masing, sesekali angin berhembus menerbangkan anak rambut keduanya. Di belakang begitu banyak kendaraan yang saling berpapasan, suara klakson maupun mesin beradu menjadi backsound pertemuan. Sudah banyak hal terlewat menjadikan seseorang beralih ke arah berbeda, bayang-bayang masa lalu pun memudar seiring berjalannya waktu.


"Ah, bagaimana jika Oppa membuat lukisan lagi saja? Bukankah masih banyak para pengusaha yang berminat dengan lukisanmu? Jika sudah memutuskan untuk membuat apa nanti Oppa hubungi aku," ucap Hyerin antusias lalu merogoh shopper bag hitamnya mengeluarkan sesuatu. "Ini kartu namaku, kalau begitu aku harus kembali ke perusahaan, sampai jumpa." Setelah menyerahkan kartu nama Hyerin melangkahkan kaki tanpa menunggu balasannya.


Kim YeonJin terdiam menatap punggung ramping itu semakin menjauh kemudian menunduk melihat kartu nama dalam genggaman. "Ah, kamu benar. Aku masih bisa melukis untuk menghidupi keluargaku," gumamnya. Tidak lama setelah itu ia pun melajukan mobil meninggalkan lokasi.


Pertemuan Kim YeonJin dan Park Hyerin siang ini tidak luput dari perhatian seseorang. Pria paruh baya mengenakan kaca mata hitam menurunkan kaca mobil. Seorang pria berjas hitam di hadapannya menjulurkan ponsel pintar padanya. Seringaian pun seketika tercetak jelas di wajah tuanya.


"Ini semakin menarik, hyung pasti menyetujui rencanaku," oechnya. "Kita jalan sekarang," lanjutnya pada sang supir. Tidak lama berselang mobil hitam yang ditumpanginya meluncur dari sana.


...***...


Langit gelap datang menggantikan cerahnya sang raja siang. Riana tengah menunggu sang suami pulang untuk menikmati makan malam bersama. Kaila dan Hyun Sik sudah menempati kursi masing-masing. Namun, sampai detik ini batang hidung suaminya belum juga terlihat.


Sesekali ia mendongakan kepala berharap pintu depan di buka. Berkali-kali ia melihat jam dinding yang terus berganti setiap detiknya. Kaila menopang dagu di atas meja menyaksikan kegelisahan sang ibu.


"Mah, mungkin appa terkena macet. Bisakah kita makan lebih dulu? Hyun Sik sepertinya sudah sangat lapar," ujar Kaila menyarakan.


Riana tersentak dan memandangi putri pertamanya seraya tersenyum lebar. "Hyun Sik yang lapar atau kakaknya yang sudah tidak sabar ingin makan, hmm?" Riana mengusap puncak kepalanya hangat.


Kaila terkekeh lalu menggandeng lengan ibunya erat. "Mamah bisa saja, jadi aku sudah boleh makan?" tanyanya lagi dengan mata berbinar.


"Boleh, Sayang. Benar apa katamu, mungkin appa terkena macet. Sini biar Mamah yang ambilkan makanannya," balas Riana mulai menyiapkan makanan, Kaila pun berteriak kegirangan.


Malam itu hanya ada mereka bertiga di meja makan. Meskipun bibirnya melengkungan bulan sabit sempurna, di dalam hati kecilnya Riana sangat khawatir. Tidak biasanya sang suami telat pulang dan melewatkan makan bersama.


"Apa mungkin oppa sudah mendapatkan pekerjaan baru? Kenapa dia tidak menghubungiku? Ya Allah lindungilah suami hamba," benaknya.