
Kenangan akan tetap ada bagaimanapun melewati banyak waktu untuk melupakannya.
Masa lalu paling menyedihkan yang tidak ingin diingat kembali, nyatanya jejak itu tidak bisa dihapuskan sepenuhnya. Memori hari-hari tersebut akan terus terekam dan memberikan sebuah pembelajaran.
Trauma, depresi, derai air mata serta kepedihan yang terus membayang, mengantarkan pada jendela pengharapan. Harapan yang semula pupus nyatanya Tuhan memberikan jalan terbaik.
Di balik itu semua ada pelangi yang senantiasa membalut gelapnya awan kelabu. Karena masa depan masih ada harapan untuk menggapai sebuah cahaya mendebarkan.
Tidak ada yang salah dengan kesendirian dan kepedihan. Karena dari dua hal tersebut terdapat sesuatu yang mendewasakan, baik dan buruk keduanya akan tetap berdampingan.
Itulah yang tengah Riana rasakan. Bibir ranumnya melengkung sempurna kala menyaksikan mantan dan suami sahnya tengah berbincang bersama. Di tengah-tengah mereka kedua buah hatinya turut mendampingi.
Ia yang sedang berdiri beberapa meter dari mereka tidak kuasa membendung haru. Ia tidak menyangka jika waktu menyuguhkan kejadian yang tidak pernah diduga.
"Kamu benar-benar sudah berubah, yah?"
Perkataan seseorang seketika mengejutkannya, suara yang sudah lama tidak ia dengar membuatnya terpaku.
Riana menoleh ke samping kanan mendapati wanita paruh baya tengah memandangi objek yang sama. Senyum pun kembali terpendar dan menatap lurus ke depan lagi.
"Em, Alhamdulillah. Mamah, apa kabar?" tanyanya balik.
Melati, mantan ibu mertuanya tersenyum sekilas. "Seperti yang kamu lihat, Mamah baik-baik saja." Lama kedua wanita terpaut usia jauh tersebut kembali diam. Di sekitar mereka hanya terdengar hembusan angin menyapu wajah. Kini waktu kembali mempertemukannya lagi dengan keadaan yang sudah jauh berbeda.
Sampai Melati pun kembali bersuara. "Mamah ... mendengar panggilan itu darimu saat ini membuatku merasa sangat bersalah. Mamah minta maaf, dulu ... sudah memperlakukanmu tidak baik. Kamu selalu berjuang sepenuh jiwa raga untuk keluarga kita, tetapi Mamah dan Irsyad tidak pernah memperlakukanmu dengan baik. Sampai, kamu mengalami kekerasan rumah tangga pun Mamah tutup telinga seolah tidak ada yang terjadi. Mamah-"
"Mamah tidak usah berkata seperti itu," potong Riana cepat. "Aku sudah melupakan semuanya. Aku ikhlas menjalaninya. Karena balasannya sungguh luar biasa, aku bisa bertemu dengan seseorang yang bisa menerima dan mencintaiku sepenuh jiwa raga. Kami pun dianugerahi seorang putra yang sangat tampan dan putri yang sangat mandiri," lanjutnya seraya melengkungkan bulan sabit sempurna.
Melati mendengus pelan sambil mengangguk-anggukan kepala. "Mamah senang mendengarnya. Mamah benar-benar minta maaf, Riana. Bahkan sampai detik ini pun Mamah tidak pernah menjadi Nenek yang baik untuk Kaila."
Riana kembali menoleh, pandangan mereka pun saling bertemu. Sorot mata hangat diberikan membuat sang mantan ibu mertua terperangah. Melati tidak menyangka setelah bertahun-tahun tidak bertemu, mereka bisa melihat satu sama lain lagi, meskipun hanya sementara.
"Aku sudah memaafkan Mamah maupun Mas Irsyad. Karena bagiku kalian adalah sebuah pembelajaran yang sangat berharga. Terima kasih sudah memberikan itu, untuk Kaila ... aku yakin dia mengerti," balas Riana.
Melati tidak kuasa membendung air mata, cairan bening itu meluncur cepat di pipinya. Riana pun langsung memeluknya erat dan yakin jika penyesalan benar-benar datang padanya. Ia bersyukur Allah masih memberikan kebenaran kepada sang mantan ibu mertua.
"Terima kasih Riana, kamu memang gadis yang baik. Kamu pantas mendapatkan kebahagiaan ini," bisik Melati lembut.
Di balik punggungnya Riana hanya mengangguk serta melengkungkan kembali bulan sabit sempurna.
...***...
Tidak ada yang baik-baik saja selama napas masih berhembus. Kejadian demi kejadian memberikan pembelajaran berharga yang tidak bisa ternilai oleh apa pun.
Isak tangis pilu serta air mata mengalir menjadi saksi bisu, jika tidak ada yang mudah untuk dilewati. Apa pun itu, baik maupun buruk, sudah pasti terdapat pembelajaran berharga.
Dua insan yang tadinya tidak saling tahu satu sama lain, jika takdir Allah sudah berbicara makan akan dipertemukan.
Itulah yang tengah dirasakan Riana. Ia tidak menyangka dan menduga akan dipertemukan dengan sosok luar biasa.
Kim YeonJin yang keberadaannya jauh berkilo-kilo meter, saat ini mereka bisa terikat dalam janji suci pernikahan.
Tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak. Karena skenarion-Nya lebih indah dari apa yang direncanakan.
"Manusia hanya bisa berencana, tapi Allah-lah yang menentukan segalanya," ucap Riana tiba-tiba.
YeonJin yang duduk di sampingnya menoleh lekat memandangi sang istri. "Apa maksudmu, Sayang?" tanyanya tidak mengerti.
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam membawa keluarga kecil Kim mengapung di udara. Mereka tengah berada di dalam pesawat hendak kembali ke Negara Ginseng, Korea Selatan. Pemandangan di luar jendela seketika menyejukan jiwa, senyum pun terpendar di wajah cantik Riana.
"Aku pergi jauh berencana mengubah nasib dan tidak memikirkan untuk menikah kembali. Namun, rencana tetap rencana, sejatinya Allah sudah menentukan kita akan bertemu," jawab pemilik senyum manis tersebut.
YeonJin tidak kuasa membendung haru, kedua sudut bibirnya melengkung sempurna dan seketika menggenggam tangan pujaan hatinya erat. Ia lalu membawanya dan memberikan kecupan hangat di punggung tangan itu.
Riana terperangah dan bahagia bisa dipertemukan serta disatukan dengan pria baik seperti suaminya.
"Lewat pekerjaan itu kita bisa bertemu, kamu arsitek terhebat yang pernah aku temui. Saranghae ... aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku beruntung bisa memilikimu, sekuat dan sebesar apa pun masalah menimpa jika aku bersamamu ... maka terasa ringan. Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku," ungkap YeonJin tulus.
Setetes cairan bening mengalir di pipi putih Riana. Ia lega akhirnya setelah bertahun-tahun luka yang diterimanya, kini kebahagiaan melingkupi. Apa pun yang terjadi ia akan tetap setia dan mendampingi suaminya.
"Saranghae," balasnya singkat.
YeonJin pun merangkul pundak sang istri dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepalanya. Kelopak mata besar Riana menutup menikmati aroma yang menguar dari tubuh tegap suaminya.
Di tengah gelapnya malam, bulan bersinar dengan terang, bintang-bintang berkelap-kelip serta hembusan angin menjadi pengiring kebahagiaan. Harum semerbak kesyahduan mengalirkan kesabaran atas ujian datang menerjang.
Riana kembali membuka mata memperlihatkan netra cokelat beningnya. Ia menatap dengan seksama jari jemari yang saling bertauan. Di jari manis masing-masing tersemat cincin pernikahan yang sudah dua tahun lebih bertengger di sana.
Ia pun semakin mengeratkan genggaman tangannya seolah tidak ingin dilepaskan, "Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini. Ya Allah terima kasih sudah mempertemukan hamba dengan pria sebaik YeonJin. Semoga kelak kami masih bisa bersama, ridhoi pernikahan kami ya Allah," monolognya dalam diam.
Kenangan menyakitkan itu perlahan terkikis dengan kebahagiaan. Air mata yang dulu sudah banyak terbuang, kini digantikan oleh senyum kelegaan.
Tidak ada yang abadi semuanya hanya membutuhkan waktu dan proses. Sabar, yakin, dan serahkan semuanya pada Allah semata maka semua akan baik-baik saja.
Riana mendapatkan pembelajaran berharga dari kehidupan masa lalu. Gagalnya pernikahan pertama yang ia bina bisa menjadikan sosoknya lebih kuat lagi. Ia sudah berjuang sekuat tenaga menjadi seorang ibu guna membesarkan buah hatinya.
Kini ia merasakan balasan luar biasa yang tidak akan pernah ditemukan di tempat lain. Kim YeonJin menjadi satu-satunya rumah tempatnya berpulang.