QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Pernikahan Jasmin & Jimin (Season 2)



Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Semua orang dengan suka cita menyambut waktu bahagia tersebut dengan senyum merekah. Hangat dari sang surya menemani kegembiraan mereka.


Pasangan yang hendak menikah guna menyempurnakan separuh agama nampak gugup. Choi Jimin dengan tegang duduk di kursi berhadapan langsung dengan sang calon ayah mertua.


Beberapa saat lagi ia akan resmi menyandang status sebagai suami sah dari Jasmin.


Tidak lama berselang jabat tangan antara dua pria terpaut usia jauh itu pun saling menggenggam satu sama lain.


Zaenal, ayah kandung Jasmin dengan mantap menggenggam tangan calon menantunya.


Ijab kabul tengah berlangsung dan dengan sekali napas Jimin melakukannya. Kata sah bergema menandakan ia sudah berhasil menikahi Jasmin.


Tidak lama kemudian bersamaan lantunan musik religi lembut pasangannya pun dikeluarkan.


Semua pandangan langsung tertuju pada satu titik di mana Jasmain menjadi ratu sehari.


Binar kebahagiaan serta perasaan lega tergambar jelas di wajah cantiknya. Ia tidak bisa menyembunyikan senyum manis saat netra cokelat beningnya memandangi punggung sang suami.


Langkah demi langkah membawanya mendekati sang imam dan duduk di sebelah Choi Jimin. Aroma bunga melati seketia menusuk ke indera penciuman pria asal Negara Ginseng tersebut. Ia lalu menoleh ke samping dan menadapai wanita pujaan hatinya tengah menundukan kepala.


"Selamat atas pernikahannya, sekarang kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Anda bisa menciumnya," ucap sang penghulu.


YeonJin yang menjadi saksinya pun menerjemahkan, seketika wajah putih Jimin merah padam. Ia tidak menyangka jika kini sudah bisa menyentuh Jasmin, wanita yang jauh dari jangkauannya.


Tidak berbeda jauh dengan sang suami, Jasmin pun merasa gugup. Setelah insiden tidak mengenakan beberapa tahun lalu, ia sangat menutup diri dari lawan jenis. Bahkan saat berpapasan dengan pria yang bukan mahram ia langsung lari tunggang langgang.


Namun, setelah mengatasai traumanya sedikit demi sedikit ia mulai membuka diri lagi dan memutuskan untuk pergi jauh dari tanah kelahirannya.


Siapa yang menyangka, takdir Allah tidak pernah salah. Ia dipertemukan dengan seseorang yang jauh dari bayangan. Seorang pria yang benar-benar mencintainya hingga mendapatkan jalan kebenaraan.


Setelah melihat kesungguhan Choi Jimin, Jasmin pun meyakinkan diri untuk mencoba sekali lagi membuka hati. Ternyata rencana Allah sangatlah indah, ia disatukan dengan seseorang yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya.


Kini janji suci cinta keduanya sudah dilakukan, Allah menjadi saksi mereka bagaimana rasa sakit bisa mengantarkan pada kebahagiaan.


Keduanya pun saling berhadapan dengan pandangan masih menatap ke bawah. YeonJin kembali berbisik agar Jimin menjulurkan tangan kanannya. Sang empunya pun menurut dan menatap lekat pujaan hatinya.


Jasmin terkejut dan dengan ragu-ragu mengangkat tangannya juga yang gemetaran hebat. Beberapa kali ia gagal meraihnya membuat semua yang melihat gemas.


Tidak jauh dari keberadaannya, Riana dan Sarah tersenyum lebar. Keduanya mengerti dan bangga bagaimana Jasmin menjaga dirinya selama ini.


"Aku senang Jasmin begitu menjaga diri, ah cinta mereka sungguh luar biasa," tutur Riana seraya menggendong Hyun Sik.


Sarah menoleh sekilas dan terus memperhatikan adik sepupunya. "Mbak juga sangat bangga dan senang. Akhirnya Jasmin bisa mendapatkan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya. Aku harap Jimin bisa membahagiakannya."


Setelah itu fokus mereka kembali ke peran utama, di mana Jasmin tengah menyalami tangan suaminya lekat dan Jimin memberikan do'a untuknya.


Tidak lama kemudian ia mengecup hangat dahi Jasmin begitu hangat nan mendalam. Semua pasang mata yang menyaksikan adegan romantis itu pun tidak kuasa membendung kebahagiaan. Mereka senang sekaligus lega menyaksikan momen mendebarkan tersebut.


...***...


Malam telah datang menyambut kehidupan baru penuh haru. Raksi kebahagiaan menyebar ke dalam sanubari kedua mempelai. Selesai mengadakan resepsi pernikahan, kini hanya ada waktu pribadi bagi mereka.


Jasmin dan Jimin duduk berdampingan di tepi tempat tidur, keringat dingin pun bermunculan di pelipis keduanya kala masih belum terbiasa. Dentingan jam seakan mengejek mereka dengan keheningan yang mendera di sekitar. Sesekali angin dingin berhembus menyapu perasaan dan menyadarkan jika kini sudah ada seseorang yang bisa berbagi keluh kesah serta kesenangan.


Diam-diam baik Jimin maupun Jasmin saling memperhatikan satu sama lain. Kecanggungan begitu kentara, dengan degup jantung bersahutan seirama mengiringi.


Senyum kebahagiaan tidak lepas dari wajah keduanya. Jimin pada akhirnya bisa mendapatkan wanita yang paling berharga dalam hidupnya. Begitu pula dengan Jasmin, yang akhirnya bisa mempunyai sosok penamping benar-benar tulus mencintainya.


"Aku ... sangat bahagia bisa bertemu denganmu. Terima kasih, karena sudah membebaskanku dari trauma dan meyakinkanku untuk bisa percaya padamu sepenuhnya," ucap Jasmin memulai.


Jimin terperangah dan seketika menatap langsung istri sahnya. Tangan tegap itu terulur menggenggam jari-jemari lentik Jasmin.


"Aku yang seharusya mengucapkan terima kasih. Karena sudah hadir dalam hidupku dan ... menerimaku sebagai pendampingmu. Aku tidak akan mengumbar janji, nanti kamu bisa merasakannya sendiri jika ... aku benar-benar sangat jatuh cinta padamu. Aku ... mencintaimu, Jasmin." Kata cinta terlontar mengantarkan bulan sabit sempurna di wajah cantik sang pujaan hati.


Setetes cairan bening membasahi pipi, Jasmin tidak menduga akan mendengar kembali perasaan terdalam suaminya. Kata-kata yang tidak pernah ia percayai kini menyentuh sanubari. Ketakutan pun hilang dan sekarang hanya ada kebaikan menyertai.


Masa lalu yang pernah menerjangnya begitu kuat telah menepi, berganti kebahagiaan.


"Aku ... juga mencintaimu, Oppa," jawab Jasmin tulus.


Jimin terperangah, mata kecilnya melebar mendengar penuturan sang wanita tercinta mengenai perasaannya. Ia pun langsung menerjangnya dan membawa tubuh kecil Jasmin ke dalam pelukan hangat.


"Terima kasih ... terima kasih sudah mencintaiku. Aku sangat bahagia," tutur Jimin kembali.


Bibir ranum Jasmin melengkung sempurna mendengar kata terima kasih tercetus dari bibir sang suami. Jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia-lah yang seharusnya mengatakan itu.


"Justru aku yang harus berterima kasih padamu, Oppa. Karena sudah mau menarikku dari jurang keterpurukan. Aku tidak tahu jika kamu tidak hadir, mungkin ... sampai saat ini aku akan terus terjebak di dalam kepedihan masa lalu. Namun, sekarang aku sadar berkat kejadian itu aku bisa bertemu denganmu. Karena aku sadar jika memang rencana dan takdir Allah tidak pernah salah. Ia memberikan cobaan sudah pasti dengan balasan terbaik di dalamnya. Sekarang aku merasakan itu, Allah menghadirkanmu untuk membalut kesakitan. Terima kasih, Jimin Oppa," monolog Jasmin dalam diam.


Kedua tangan rampingnya terulur membalas pelukan Jimin tidak kalah erat. Ia menghirup dalam-dalam aroma sang suami yang begitu menenangkan. Ia bersyukur sangat bersyukur akan kepergiannya ke Negara Ginseng tersebut.


Karena semua itu tidak lepas dari rencana-Nya. Allah selalu punya jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya. Skenario-Nya tidak mungkin salah dan itu adalah sebaik-baik rencana.


Tidak ada kesakitan yang abadi, begitu pula dengan kebahagiaan. Maka jika masih berada di posisi terpuruk selalu ingat Allah dengan terus menggemakan namanya serta bersabar, dan ketika berada di posisi paling bahagia maka harus tetap mengingat Allah dengan bersyukur.