
...Hari-hari menyedihkan telah berlalu berganti senyum kebahagiaan. Ternyata masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja....
.......
Hampir satu bulan setelah Riana menyelesaikan kontrak kerja dengan Kim YeonJin, ia berubah menjadi ibu rumah tangga kembali. Hari-hari ia lewati hanya untuk Kaila. Setiap hari ia selalu mengantar dan menjemputnya ke sekolah. Hal langka itu membuat putri semata wayangnya bahagia. Karena bisa menghabiskan banyak waktu bersama sang ibu.
Hari ahad kembali datang. Seperti biasa, ketika waktu luang seperti ini tidak ada yang bisa dikerjakannya. Orang tua tunggal itu hanya menikmati kesendiriannya di ruang televisi melihat drama yang tayang setiap minggu. Ia berselonjor kaki seraya menikmati apel yang sudah dikupas.
Kaila yang baru selesai mandi mengerutkan dahi, bingung. Ia pun berjalan mendekat lalu duduk di samping Riana seraya menatapnya lekat.
“Hah~ Kaila bosan melihat mamah seperti ini terus. Lebih baik mamah cari kerja di luar saja.” Ucapan sang anak membuat Riana bangkit. Ia tidak percaya Kaila berbicara seperti orang dewasa. Tanpa ia sadari sang anak tumbuh besar dengan cepat.
“Sayang, dari mana kamu belajar berbicara seperti itu?” Ia terheran-heran seraya mengusap kepalanya sayang.
“Mamah, Kaila sudah 7 tahun sekarang. Kaila tahu mana yang baik dan tidak.”
Memang benar yang diucapkan anaknya ini. Dua tahun berlalu sejak ia bekerja sebagai seorang arsitek. Selama itu pula banyak kejadian yang menimpanya. Terutama tentang pria bernama Kim YeonJin. Sosok yang tidak pernah ia harapkan, nyatanya datang untuk sang putri.
“Ahh, eung mamah tahu Sayang, tapi mamah bingung harus mencari pekerjaan di mana terlebih sekarang cari kerja itu su-” seketika ucapannya terhenti saat mengingat ucapan seseorang.
Ingatannya berputar pada saat CEO itu meresmikan gedung galerinya. Setelah acara tersebut pria Kim lainnya menawarkan ia sebuah pekerjaan. Namun, sampai detik ini Riana belum menjawabnya dan sekarang perkataan sang anak menyadarkan. Jika ia harus kembali bekerja untuk menyambung hidup. Riana tidak bisa terus mengandalakan penghasilannya selama menjadi arsitek pria itu, bisa saja suatu saat nanti uangnya habis tanpa tersisa.
"Benar juga, pamannya pernah menawari pekerjaan. Apalagi beliau juga mau membayar seperti yang kumau. Ya Allah apa ini pintu rezeki-Mu yang lain?" benaknya berkecambuk.
Kaila kembali mengerutkan dahinya tidak mengerti melihat ibunya tiba-tiba saja melamun. Ia pun menepuk pipinya pelan.
“Mamah kenapa?”
“Ahh, mamah tidak apa-apa Sayang. Baiklah karena kamu sudah menyuruh untuk bekerja lagi, besok mamah akan mencari pekerjaan.”
“Yyeee Kaila senang sekali.”
Tidak pernah Riana duga kehadiran Kaila menjadi obat mujarab untuk luka menganganya. Malaikat kecil yang dikirimkan Allah untuknya ini membawa segudang kebahagiaan. Rezeki, kesehatan, dan juga keberhasilan.
Riana tidak pernah menyangka seorang anak yang di kandungnya tumbuh menjelma menjadi gadis kecil mandiri.
"Maafkan mamah Sayang, dulu sempat tidak menginginkan kehadiranmu. Ya Allah terima kasih atas harta paling berharga yang sudah Kau berikan," benaknya menatap lekat sang anak yang tengah berjingkrak senang di depannya.
...***...
Seperti yang sudah dipikirkan kemarin, hari ini Riana menemui pria bermarga Kim itu. Mereka memutuskan untuk bertemu di café dekat perusahaan art collection. Wanita berumur 29 tahun ini masuk mencari keberadaannya.
Dua tahun berlalu tidak terasa membuat umurnya pun terus bertambah. Wajah dewasanya semakin menawan. Ia seorang ibu yang mengemban tugas demi membahagiakan putri kecilnya. Apapun akan ia lakukan untuk memenuhi semua kebutuhan Kaila.
Bola mata kecoklatannya mendarat pada seorang pria yang tengah duduk di dekat jendela. Buru-buru ia pun berjalan mendekatinya.
“Anyyeongahseyyo,” sapanya kemudian.
“Ohh Riana-ssi, senang sekali bisa bertemu denganmu lagi. Silakan duduk.” Titahnya, Riana mengangguk singkat dan mendaratkan dirinya di kursi.
“Jadi bagaimana, apa kamu bersedia bekerjasama dengan saya?” tanyanya lagi memastikan, “Jika bersedia saya akan membayar sesuai yang kamu mau.” Tawarnya terus membuat Riana tergiur. Sudah tidak ada lagi pekerjaan dan peluang besar tengah mendatanginya sekarang. Mana mungkin Riana menyia-nyiakannya begitu saja.
“Baiklah, saya bersedia. Masalah bayaran nanti kita bicarakan lagi.”
Senyum kemenangan tercetak jelas di wajah paruh baya itu. Ia pun menyodorkan selembar kertas kerjasama padanya.
“Silakan tandatangani surat tersebut dan setelah itu kamu sudah terikat kontrak dengan saya.”
Tanpa pikir panjang Riana langsung memberikan tanda tangannya. Kim Haneul puas dengan apa yang didapatkannya.
"Aku berhasil mengumpan ikan besar ini. Mulai sekarang YoenJin tidak bisa pergi ke mana-mana dan aku bisa mendapatkan keuntungan lebih dari pernikahan itu," benaknya dalam diam. Riana tidak tahu jika dirinya masuk ke dalam permainan pria paruh baya ini.
...***...
Setelah kontrak kerjasamanya dengan Riana berakhir, YeonJin disibukan dengan persiapan pernikahannya. Setiap hari ia pergi bersama Hyerin mencari gedung, gaun, jas dan lain sebagainya. Sebagai pria sejati ia melakukannya dengan baik. Karena YeonJin selalu teringat akan nasihat sang ibu untuk tidak menyakiti hati wanita. Meskipun ia tidak mencintainya.
Hilang sudah harapan untuk bersanding dengan tambatan hatinya. Ia harus mengubur perasaan yang tidak boleh mencuat kepermukaan. Ia tahu diakui atau pun tidak dirinya tidak mungkin bersama wanita itu. Ia sadar akan hal tersebut.
“Katanya hari ini paman Kim akan datang. Emm, tadi beliau juga bilang akan memberi kejutan untuk kita," ucap Hyerin yang tengah berada di rumahnya.
YeonJin menyesap tehnya singkat tidak berminat dengan topik obrolan tersebut.
“Benarkah?” hanya itu saja yang ia berikan.
Tidak lama berselang pintu rumahnya dibuka seseorang. YeonJin dan Hyerin tahu siapa yang datang. Karena hanya dirinya dan sang paman yang mengetahui kata sandi kediamannya tersebut.
“Wah kebetulan sekali kalian sedang bersama. Kedatangan paman ke sini ingin memberitahu satu hal. Terutama untukmu YeonJin, keponakan yang begitu aku sayangi.”
YeonJin merasa mual mendengar penuturannya.
“Baiklah ini hadiah yang bisa paman berikan untuk pernikahan kalian. Rencananya paman ingin memberikan rumah baru untukmu, Yeon. Dan paman sudah memiliki seseorang yang bisa mewujudkan rumah impian itu. Kalau begitu, paman kenalkan siapa dia.” Jelasnya lalu menyuruh seseorang yang datang bersamanya untuk memperkenalkan diri.
Sedetik kemudian, langkah pelan seorang wanita muncul di balik punggung sang paman. YeonJin melebarkan matanya sempurna tidak menyangka orang yang dimaksudkannya itu dia.
“Ri-riana?” panggilnya gugup.
Wanita itu menyunggingkan senyum ramah. Ia tahu jika dirinya dipekerjakan oleh Kim Haneul untuk merancang sebuah rumah yang hendak diberikan kepada keponakannya, Kim YeonJin. Sebelum datang ke sana, pria itu sudah menjelaskannya. Riana sangat terkejut dan tidak menyangka. Namun, mau bagaimana lagi ia juga ingin memberikan yang terbaik. Selama ini YeonJin sudah sangat baik terhadapnya.
YeonJin bahkan rela menjadi ayah pengganti untuk Kaila.
“Sepertinya kita tidak perlu berkenalan lagi. Saya pastikan akan merancang sebuah rumah yang nyaman untuk kalian.”
Suara lembut yang mengalun menendang pendengaran. YeonJin tidak menyukai Riana menyetujui permintaan pamannya. Kedua tangan pria itu mengepal kuat melihat orang yang selama ini sudah membesarkannya. Dari dulu YeonJin tidak pernah bersimpati terhadap pamannya. Meskipun beliau orang yang sudah membesarkannya. Namun, ia tahu yang pamannya lakukan semata-semata untuk mendapakan uang.
"Ternyata permaianan barunya dimulai juga. Sial!! Apa yang diinginkan pria itu?" benak YeonJin menahan kekesalan.