
Air mata, luka, dan sakit. Tiga kata mengiringi setiap langkah kala ujian datang menerjang. Sulit menjadi kata yang menggambarkan bagaimana cobaan silih berganti. Kesepian telah hilang digantikan dengan seseorang yang menemani. Kebahagiaan mengiringi menjadi pelengkap setiap perjalanan yang ditapaki. Namun, akan selalu ada kerikil tajam yang menghalangi.
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. YeonJin tengah berdiri di balkon kamar memandang ke depan menikmati setiap pemandangan yang tertangkap netranya. Sesekali semilir angin menyapu kesendirian mengantarkan kegundahan. Kedua tangan bertumpu erat pada teralis besi.
Detik demi detik berlalu, sampai tidak terasa sepasang lengan ramping memeluknya dari belakang. Kehangatan menjalar membentuk senyum yang begitu lebar. Aroma vanilla menguar menyentuh perasaan terdalam.
"Sayang, apa yang sedang kamu pikirkan hmm?"
Suara lembut mengalun menggetarkan hati Kim YeonJin. Ia lalu merengkuh tangan sang istri seraya menutup kedua mata beberapa detik.
"Apapun yang terjadi, apa kamu mau bertahan denganku?"
Suara berat sarat akan makna membuat Riana mematung dengan iris membola sempurna. Ia kemudian semakin mengeratkan pelukannya dan menyandarkan kepala berhijab di bahu tegap sang suami.
"Oppa tahu apa artinya pernikahan ini bagiku?" YeonJin tidak menjawab, Riana mengerti dan langsung melanjutkan ucapannya. "Bagiku pernikahan ini adalah segalanya. Aku menerimamu karena Allah. Cinta itu datang murni atas takdir yang sudah Allah berikan. Aku sangat mencintaimu, karena oppa bisa merobohkan pertahananku untuk tidak menerima siapa pun lagi. Lantas apa hakku untuk tidak bertahan denganmu? Aku siap bertaruh nyawa untuk tetap bersamamu, oppa."
Seketika air mata menyeruak tak tertahankan, YeonJin berusaha mempertahankan kegigihannya. Riana sangat menghargai pernikahan keduanya dan tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Ia berharap rumah tangganya bersama Kim YeonJin bisa selamanya, sampai Allah mempertemukan mereka lagi di jannah-Nya. Itulah harapan Riana saat ini. Tidak ada alasan untuk berpisah atau pun melepaskan Kim YeonJin. Baginya pria itu adalah segalanya.
Cahaya yang berhasil menembus sanubari dan melepaskannya dari jerat rasa sakit trauma akan masa lalu.
Tubuhnya sedikit bergetar menyadarkan YeonJin jika sang istri tengah menahan isak tangis. Seketika YeonJin melepaskan tangan Riana lalu berbalik menghadap wanitanya. YeonJin terpaku kala melihat air mata sudah membasahi wajah cantik istrinya.
Tangan tegapnya terulur menghapus jejak bulir keristal bening yang tumpah ruah di sana. Senyum pun turut hadir menghiasi ketampanan YeonJin. Ia sadar jika cinta yang dimiliki istrinya sama besar. Ia sangat bersyukur bisa bertemu dengan Riana dan menjadikannya seorang istri.
"Terima kasih karena mau bertahan denganku. Jikapun nanti kamu ingin pergi, aku tidak akan pernah melepaskannya. Sampai kapan pun kamu milik Kim YeonJin. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti atau pun merebutmu. Terima kasih, Sayang."
YeonJin menarik dagu sang istri pelan untuk mendongak menatapnya. Iris berair itu membalas tatapan lembutnya. Berlatar belakang langit bermandikan cahaya bulan Riana melihat sosok menawan yang begitu menggetarkan jiwa.
Tangisannya pun pecah seraya menggenggam erat kedua tangan yang kini bertengger di pipinya. Riana tidak bisa menahan keharuan dan langsung kembali memeluk sang suami. Ia bisa mendengar dengan jelas degup jantung Kim YeonJin.
"Suaranya sangat kencang, ahh sama seperti milikku," ucap Riana menyamankan posisinya di dada bidang prianya.
YeonJin membalas pelukan itu tak kalah erat. Dagu lancipnya pun mendarat nyaman di puncak kepala Riana. Lengkungan bulan sabit turut hadir dan menari indah atas perasaan ternyamannya.
"Jantungku akan tetap berdetak kencang hanya untukmu, Sayang," balas YeoonJin kemudian.
Pipi putih Riana merona seketika, hanya anggukan singkat dan gumaman "eum" sebagai jawaban. Di bawah langit berbintang suami istri yang saling mencintai itu silih mengantarkan kehangatan. Perasaan yang saling terbalaskan itu pun mengudara memberitahukan pada angkasa jika cinta mereka tidak bsia dipisahkan.
Hening menepi pada waktu yang terbilang menambah momen memori berkasih. Kisah cinta akan terus berlanjut pada pemilik hati yang sudah menemukan pelabuhannya. Seperti jembatan cerita Riana dan YeonJin. Keduanya dipertemukan dalam satu masa yang sudah ditentukan. Tidak terpikirkan atau pun direncanakan.
Semua sudah menjadi takdir dari Allah sebagai penyatu kedua insan. Sejauh apapun jarak memisahkan, seberat bagaimana pun kisah di masa lalu, jika Allah sudah mengatakan waktunya bersama maka akan terjadi.
Begitu indah kehidupan cinta yang sudah terikat janji suci di hadapan Allah. Setiap menit yang terlewat hanya akan ada hembusan kebahagiaan dan kesenang. Satu sama lain memiliki kepemilikan dari kunci gebok sebuah perasaan.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan."
Nada rendah nan dalam Kim YeonJin menyapu pendengaran Riana. Wanita yang tengah berada dalam pelukannya mendongak melihat ke dalam manik coklat sang suami. Saat ini mereka tengah berbaring nyaman di tempat tidur menikmati kebersamaan.
"Apa itu oppa?"
YeonJin tidak langsung menjawab memberi jeda sebentar dengan menarik napas dan menghembuskannya beberapa kali. Rangkulan di bahu sang istri pun kian mengerat, Riana menoleh melihat kuku-kuku itu memutih perlahan.
"Appa,"
Ada getaran dalam suara yang dilayangkan YeonJin. Riana sedikit mengerti saat suaminya mengatakan satu kata tersebut. Lama sekali YeonJin tidak membicarakan sang ayah, dan kini panggilan itu pun terlontar sudah.
"Pasti sudah terjadi sesuatu," benak Riana menambahkan dan masih menunggu kelanjutan ucapan suaminya.
"Beberapa hari lalu appa kembali ke kehidupanku dan sekarang-" ucapan YeonJin tercekat dalam tenggorokan. Rasanya ia tidak sanggup jika harus mengatakan yang sebenarnya. Namun, sentuhan lembut dari sang istri membuatnya yakin. "Appa menyebarkan artikel palsu tentangku. Aku takut appa berulah dan menyakiti kalian," lanjutnya.
Riana membalikan badan hingga menghadap sang suami. Jari jemari rampingnya terulur mengelus pelan pelipis Kim YeonJin. "Tidak usah khawatir, apapun yang terjadi semua sudah menjadi rencana-Nya. Oppa percayakan jika Allah tidak mungkin membiarkan keadaan hamba-Nya terus berlarut dalam kesedihan? Ikuti saja ke mana arus membawa sampai Allah mengatakan semuanya baik-baik saja. Oppa menjadi saksinya sendiri bagaimana Allah merencanakan sesuatu dengan sangat indah. Dan juga balasannya sungguh luar biasa, maka yang harus kita lakukan sekarang adalah bersabar. Serahkan semuanya pada yang Di Atas."
Kata demi kata yang terucap dari bibir tipis istrinya menggetarkan hati Kim YeonJin. Ia terpaku seolah tersadarkan akan keadaan yang kini tengah menimpa. Ia pun menyampingkan tubuhnya bertatapan langsung dengan Riana.
"Kamu benar, Allah pemilik kehidupan ini. Maka tidak ada yang perlu dicemaskan. Terima kasih dan aku sangat bersyukur bisa memilikimu. Aku sangat mencintaimu, sekarang maupun nanti. Perasaan ini tidak akan pernah berubah."
Setelah mengatakan itu kecupan hangat pun mendarat di dahi Riana. Ia merasakan cairan hangat menyentuhnya perlahan. Ia kembali mengusap wajah berairnya dan seketika langsung memeluk tubuh lemah sang suami.
"Menangislah jika itu memang diperlukan. Aku ada di sini, bersama oppa sekarang maupun nanti."
Kim YeonJin membalas pelukan itu seraya membenamkan wajahnya di bahu kanan Riana. Malam itu mereka menghabiskan waktu untuk saling terbuka satu sama lain mengenai keadaan baru yang datang menerjang.