QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Ayah Sambung (Season 2)



Raksi kebahagiaan menguar menjelma menjadi lengkungan bulan sabit di wajah pasangan suami istri tersebut. Tidak ada yang paling membahagiakan selain bersama kekasih halal berjalan bersama menuju kebenaran. Pasangan menjadi pelipur lara saat masa memberikan pedih tak berkesudahan mengeluarkan air mata.


Tidak ada yang abadi di dunia ini semua mempunyai proporsinya masing-masing. Kebahagiaan akan datang selepas perginya kepedihan, tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok. Namun, yang jelas tugas insan di bumi hanya mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kemungkinan terjadi.


Pemandangan yang menentramkan jiwa bak menonton drama romantis tepat di depan kedua mata kepala sendiri menjadi tontonan menarik. Jasmin, Jimin dan Kaila masih betah melihat apa yang tertangkap pandangan mereka. Irisnya tidak tertarik untuk melihat ke arah lain dan hanya dua objek di depan sebagai tumpuan.


Senyum yang mengembang di bibir ranum Riana membekukan diri Kaila. Ia sadar jika keberadaan Kim YeonJin sangat berarti untuk sang ibu. Namun, masih ada perasaan campur aduk dalam dada mengukung kedamaian yang selama ini ia rasakan. Hidup selama lima tahun tanpa seorang ayah membuat Kaila terbiasa, kedatangan YeonJin pun seketika meruntuhkan kesepian yang selama ini disembunyikan. Ia terlalu dini untuk mengerti apa yang dirasakan sang ibu, tetapi baru kali ini Kaila melihat manik berbinar dikedua mata Riana.


"Mamah," panggilnya.


Sontak teriakan itu pun mengejutkan keempat orang dewasa di sana, Jasmin dan Jimin langsung menunduk melihat ketegasan dan keseriusan hadir meneguhkan diri Kaila. Sorot mata memancar jelas untuk kedua orang di hadapannya. Riana bergegas bangkit dari pangkuan sang suami seraya melebarkan manik bulatnya sempurna.


Degup jantung bertalu kencang mengantarkan rona merah di pipi. Ia gelagapan memandangi ketiganya satu persatu. Ia malu dan salah tingkah tertangkap basah tengah menyebar keromantisan bersama Kim YeonJin. Kepala keluarga Kim itu hanya menggaruk tengkuknya seraya acuh tak acuh atas apa yang terjadi.


Jimin berdecih lalu menggeleng-gelengkan kepala lalu melipat tangan di depan dada memandang lurus ke arah sang kakak dan istri tercintanya. "Bisa-bisanya kalian bermesraan di siang bolong seperti ini," ucapnya menggoda.


Riana semakin salah tingkah dan menundukan kepala berhijabnya dalam. Melihat hal itu mengundang senyum di wajah cantik Jasmin. "Aku baru tahu jika Teteh Riana kalau malu seperti ini. Sungguh membahagiakan bisa melihat keharmonisan kalian, pasangan suami istri yang hidup rukun menjadi pondasi terkuat dalam membina sebuah keluarga. Aku turut senang untuk Teteh dan Oppa," kata Jasmin kemudian.


Perlahan Riana kembali mendongak memberikan senyum kaku membalas tatapan Jasmin. Ia bingung harus berkata apa di situasi mendebarkan. YeonJin yang tidak nyaman dengan atmosfer di sekitarnya pun mengerti kegelisahan sang istri. Bola mata kecoklatan itu bergulir memandang Kaila yang masih kukuh menatap dalam ibunya.


"Jimin, bisa kamu jemput Hyun Sik di tempat penitipan anak? Ada sesuatu yang harus kami bicarakan," ujar YeonJin kemudian.


Jimin yang mengerti situasi sang kakak pun mengangguk mengiyakan lalu berbisik pada Jasmin untuk ikut bersamanya. Mau tidak mau ia pun mengikuti ke mana pria Choi itu pergi. Perasaan tidak enak kembali menghantui kala bayangan beberapa minggu silam hinggap dalam ingatan. Kata cinta yang terlontar menyuguhkan ketidakpastian. Baik Jimin ataupun Jasmin tidak ada yang membicarakannya lagi.


Selepas kepergian mereka, YeonJin pun beranjak dari duduk dan berjalan mendekati Kaila. Gadis berusia delapan tahun tersebut hanya terdiam membungkam mulutnya rapat. Seulas senyum terpendar di wajah tampan YeonJin kala bersimpuh di hadapan putri sambungnya.


Kaila menggulirkan manik beningnya memandang bulan sabit bertengger di bibir menawan sang ayah tiri. Senyuman itu sama seperti beberapa tahun ke belakang di mana untuk pertama kalinya ia bisa pergi bersama pria dewasa layaknya seorang ayah. Taman yang berada di dekat Sungai Han menjadi bukti nyata bagaimana keduanya menghabiskan waktu bersama.


Saat itu Kaila masih berusia lima tahun, seorang anak yang begitu merindukan sosok sang ayah. Keberadaan YeonJin mengikis perasaan itu dan menggantinya dengan kasih sayang. Kebaikan, kepedulian serta kasih sayang yang diberikannya waktu itu meruntuhan pertanyaan "di mana ayah." Pada Riana. Kaila senang bisa bertemu dengan Kim YeonJin yang kini berhasil menjadi ayahnya.


"Kaila tahu ... Appa sangat menyayangimu. Mau Kaila anak kandung Appa atau bukan ... yang jelas Kaila adalah putri kebanggan Appa sampai kapan pun. Kaila jangan pernah memandang Appa sebagai ayahnya Hyun Sik. Karena kamu dan Hyun Sik merupakan anak kesayangan Appa." Senyum lembut nan tulus pun mengakhiri ucapan Kim YeonJin.


Kata-kata hangat yang dilayangannya mengantarkan cairan bening dikedua manik Riana. Ia kembali dibuat takjub dengan ketulusan yang diberikan suaminya pada sang anak. Dari dulu sampai sekarang Kim YeonJin selalu menganggap Kaila seperti putri kandungnya sendiri.


Setetes keristal bening yang jatuh di pipi YeonJin melebarkan manik Kaila. Tangan tegap yang kini menggenggam jari jemarinya mengantarkan kehangatan sampai pada sanubari. Selama tiga tahun mereka hidup bersama, Kaila hampir melupakan jika Kim YeonJin merupakan ayah sambungnya. Ia merasakan jika pria itu memang ayah kandungnya. Namun, kenyataan yang harus ia terima dua minggu ke belakang memberikan pukulan telak. Jika Kim YeonJin bukan ayahnya yang sesungguhnya. Ayah kandung Kaila kini masih mendekam di penjara atas perbuatan yang dilakukan.


"Kaila jangan pernah berpikir jika Appa akan memperlakukanmu berbeda, yah," ucap YeonJin lagi.


"Kenapa?" tanya Kaila kemudian. Jeda sejenak membuat YeonJin yang hendak kembali menjawab langsung dipotong dengan cepat. "Kenapa Hyun Sik Appa mengatakan itu padaku? Hyun Sik Appa bukanlah ayah kandungku. Kata mereka ayah kandung dan ayah tiri tidak sama, mereka berbeda dan sudah pasti sebagai anak dari orang lain aku pasti akan dibedakan. Kenapa .... kenapa ayah kandungku di penjara? Kenapa bukan Hyun Sik Appa saja sebagai ayah kandungku? Kenapa?" Pertanyaan itu terus tercetus dari celah bibir mungil kemerahan Kaila.


Tidak kuasa melihat air mata terus berjatuhan di wajah manis putrinya, YeonJin pun merengkuhnya hangat seraya mengusap punggungnya pelan. Ia pun ikut menangis merasakan kekecewaan dalam diri Kaila. Setidaknya mereka hampir memiliki kisah hidup yang sama, di mana kelakuan sang ayah menorehkan luka. Kaila pun menangis kencang meluapkan kepedihan yang beberapa hari ke belakang ditahannya.


"Kamu jangan menangis, Sayang. Appa bukan hanya sebagai ayah Hyun Sik, tetapi Appa ayahmu juga, Sayang. Appa sangat menyayangimu. Jadi terus panggil Appa bukan Hyun Sik Appa, yah."


Diserati dengan linangan liquid bening Kaila mengangguk singkat dan melupkan rasa sakit dalam dada. Dalam diam Riana pun ikut menangis melihat kebersamaan ayah dan anak tidak sedarah tersebut. Sebagai seorang ibu kebahagiaan anak sudah pasti menjadi prioritas utama. Ia bahagia bisa menemukan sosok Kim YeonJin yang tulus menyayangi buah hatinya meskipun di antara mereka tidak ada ikatan darah.


"Alhamdulillah, syukurlah. Terima kasih Ya Allah, Kau sudah memberikan kebahagiaan kepada kami." Batinnya haru.