QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 42



...Kau datang membawa segenggam harapan, membasuh luka menganga menjahitnya dengan kebahagiaan....


.......


Brakk!!


Riana membanting pintu cukup keras hingga membuat Kaila yang tengah sarapan terkejut. Napasnya naik turun seraya membelakangi pintu itu. Bola matanya bergulir kesekitaran tidak bisa berpikir jernih.


"Apa aku masih bermimpi?" benaknya tidak bisa membandingkan kenyataan dan juga alam bawah sadarnya.


“Mamah kenapa? Bukankah di depan ada tamu? Kenapa tidak disuruh masuk?”


Seketika perkataan Kaila membuyarkan lamunan.


Gadis itu pun melewatinya dan kembali membuka pintu tersebut. Ia terkejut melihat ayah angkatnya ada di sana sekarang.


“Appa.” Pekiknya senang. “Ayo masuk kita sarapan bareng. Kaila sudah membuat sandwich loh.” Ajaknya begitu saja tidak mempedulikan keterkejutan sang ibu.


YeonJin pun tersenyum seraya mengikutinya.


Riana kelabakan. Bagaimana bisa Kaila dengan mudahnya membawa pria itu masuk? “Ya Allah apa yang harus hamba lakukan?” Ia kelimpungan lalu masuk ke dalam kamarnya tidak menghiraukan pria itu.


Kini Kaila dan YeonJin pun tengah menikmati sarapan bersama.


“Kenapa appa datang ke sini pagi-pagi sekali? Bawa bunga segala, romantis sekali appa ini,” ucap Kaila kemudian.


“Appa ingin melamar ibumu. Apa Kaila setuju appa dan eomma menikah dan satu rumah?”


Sungguh pertanyaan yang membuat Riana kembali ketakutan. Diam-diam di balik kamarnya ia mendengarkan mereka.


Kaila tampak berpikir, sampai.


“Semalam appa kandung Kaila datang. Appa juga menawarkan hal yang sama.”


Sontak saja hal itu membuat YeonJin melebarkan pandangannya. Apa Kaila akan memilih ayah kandungnya? Ia merasa takut sekarang.


“Jadi Kaila sudah bertemu dengan Arsyid appa? Syukurlah appa senang mendengarnya. Kaila sudah bisa bersama appa sekarang.”


Mengatakan itu sama saja mengoyak perasaannya. YeonJin tahu ayah dan anak kandung tidak bisa dipisahkan.


Bisa saja Riana akan kembali bersamanya.


Kaila pun menatap ke bawah memikirkan sesuatu dalam kepalanya.


“Kaila belum memutuskan. Kaila serahkan semuanya sama mamah." Jawab gadis kecil itu seraya terkekeh.


YeonJin hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


“Eung, karena eomma tahu kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Ayo sarapan lagi.”


Kaila mengangguk setuju.


Di dalam kamar itu Riana tidak bisa menghentikan tangisannya. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Ada dua pria yang menginginkannya diwaktu bersamaan. Bukannya kepedean, ia juga tidak bisa menerima mereka.


Arsyid masa lalu yang sudah menghancurkan kehidupannya dan YeonJin yang sudah dimiliki wanita lain. Mana mungkin ia bisa bersama pria itu.


“Aku tidak percaya ini,” gumamnya.


...***...


Sedari tadi Riana terus mengurung diri di dalam kamar. Hal itu membuat mereka berdua tidak mengerti. YeonJin dan Kaila sama-sama mengkhawatirkannya. Apa karena pernyataannya tadi? YeonJin tahu Riana belum membuka hatinya untuk yang lain. Termasuk dirinya.


“Appa, kenapa mamah tidak keluar kamar, yah?” Tanya Kaila menatap bola mata kecilnya.


“A, gawat ini sudah waktunya bus sekolah datang. Kalau begitu Kaila pergi dulu, titip mamah yah appa, Assalamu’alaikum.” Setelah menyalami tangan ayah angkatnya Kaila pun langsung keluar dari apartemen.


“Wa’alaikumsalam,” balas YeonJin. Sontak hal tersebut membuat iris Riana melebar.


“Apa aku salah dengar? Kim YeonJin menjawab salam Kaila?” gumamnya yang tengah duduk di tepi tempat tidur.


Keadaan menjadi hening. Setelah kepergian Kaila, Riana menjadi cemas seketia. Ia tidak boleh bersama yang bukan mahrom dalam satu ruangan.


“Ya Allah bagaimana ini? Apa aku lompat saja dari jendela itu?”


Sungguh pemikiran yang tidak masuk akal.


Perlahan suara langkah kaki mendekati pintu kamarnya. Seketika ia mengepalkan kedua tangannya erat. Keringat dingin bermunculan di dahi lebarnya dan ia kemmbali ketakutan.


“Riana, apa kamu ada di sana? Jika kamu dengar, aku ingin melanjutkan perkataan tadi. Selama ini aku sudah mempunyai perasaan terhadapmu. Bukan rasa kagum melainkan suka. Yah, aku menyukaimu sebagai seorang wanita. Jujur, sebenarnya kamu bukanlah tipe wanita idamanku. Tapi entah kenapa hatiku memilihmu. Aku tahu memendam perasaan terlalu lama itu tidak baik. Jadi, Riana tidak bisakah kamu membuka hati untukku? Aku ingin membahagiakanmu. Kalau begitu aku pergi dulu, terima kasih sudah memberikan waktu padaku untuk menjelaskannya.”


Tutur YeonJin terdengar tulus tanpa cela. Ia pun meletakan buket bunga itu di depan pintu kamarnya.


Riana terdiam kaku. Ia pun mendengar pintu depannya ditutup seseorang. Itu artinya YeonJin sudah keluar. Tidak terasa air mata kembali lolos dari pertahanannya. Riana tidak menyangka mendengar hal itu darinya.


Ia tidak tahu apa yang tengah dirasakanya sekarang. Harus senang atau sedih. Keduanya sama saja. Tidak bisa membuat ia membuka hatinya.


“Kamu main-main dengan perasaanmu sendiri, Kim YeonJin-ssi. Kamu bilang suka? Tapi kenyataannya kamu masih bertunangan dengan Hyerin. Ya Allah ada apa lagi ini?” racaunya dalam kesendirian.


Sangat sulit baginya sekarang untuk mempercayai perkataan YeonJin. Bagaimana bisa pria itu dengan mudahnya mengatakan suka kepada wanita lain, sedangkan ia masih berhubungan bersama seseorang. Riana tidak habis pikir dengan perbuatannya.


...***...


Setelah pernyataannya hari itu, sikap Riana mulai berubah dan terlihat menjauhinya tanpa sebab. Bahkan ia sering membawa pekerjaannya ke apartemen. Karena Riana tidak mau terlibat dalam hubungan mereka.


YeonJin menyadarinya jika Riana memang sengaja melakukan hal itu. Namun, bukan Kim YeonJin namanya jika harus menyerah begitu saja. Setiap ada kesempatan pria berkepala tiga itu berusaha meyakinkan Riana mengenai ucapannya.


Seperti hari ini, Riana tidak datang ke rumahnya untuk menyelesaikan tugas. Dari 3 hari kemarin ia sudah membawa pekerjaannya. Kini ia melanjutkan projek itu di apartemen. Ia tidak peduli jika nanti bayaran yang didapatkannya berkurang. Sungguh dirinya tidak peduli akan hal itu.


Teng!! Nong!!


Bel apartemennya ditekan seseorang. Ia segera melihat siapa gerangan tamu itu dari layar intercom.


“Kenapa YeonJin-ssi terus datang ke sini? Ya Allah bantu hamba,” racaunya gelisah.


Lama Riana tidak membukakan pintu untuknya atau mungkin wanita itu memang tidak ada niatan sama sekali. YeonJin tahu dan menyunggingkan senyum terbaiknya.


“Riana jika kamu melihatku dengarkanlah. Aku sungguh-sungguh dengan perasaan ini. Aku tidak peduli kamu menganggap apa, yang jelas memang itulah kebenarnya. Riana aku mencintaimu dan ingin melamarmu sebagai istriku.”


Degg!!


Jantungnya berdebar kencang saat ini. Ia mengepalkan tangannya kembali dan siap membalas ucapannya.


“Saya mohon hentikan. Anda tidak seharusnya berkata seperti itu kepada saya. Ingatlah Anda sudah bertunangan. Saya tidak menyukai pria yang menyakiti perasaan wanita. Saya harap Anda mengerti. Dan setelah pekerjaan ini berakhir saya harap Anda jangan menemui saya lagi!!”


Tegas dan lantang. Riana mengutarakan sedikit kekesalan dalam dadanya.


“Aku tidak mencintai Hyerin. Pertunangan kami karena perjodohan. Jadi aku berhak menemukan kebahagiaanku sendiri, yaitu bersamamu.”


Untuk kesekian kalinya jatung Riana terus menerus berpacu. Tatapannya jatuh ke bawah mendengar penjelasannya. Lama ia tidak menjawab ucapan YeonJin tadi. Sampai,


“Lebih baik sekarang Anda pergi dari sini. Karena saya tidak mau berurusan dengan Anda lagi.”


Sulit memang membuka pintu hati yang sudah tergembok sangat kuat. Tidak mudah bagi Riana untuk menerima hati yang lain. Luka lamanya masih terlalu basah. Sakit. Menjadi kata akrab yang menempati kehidupannya. Arsyid kembali datang ke dalam hidupnya membuat kesakitan masa lalu terus terasa dalam hatinya.