
"Apa keputusanmu?"
Pesan singkat yang masuk ke dalam benda pintar miliknya membuat sang empunya termenung. Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam, percakapan yang terjadi beberapa saat lalu hinggap lagi dalam ingatan.
Riana menoleh ke samping kanan di mana Kaila sudah tertidur pulas. Ia kembali menatap ke dalam layar ponsel melihat nomor yang tidak terdaftar dari kontak. Ia tahu siapa pengirim pesan tersebut, Kim YeonSun, pria paruh baya yang kini tengah mengganggu ketenangannya lagi.
Keseriusan nampak dikedua manik bulan Riana kala memberikan balasan kepada sang mertua. Seriangan tercetak jelas menampilkan ketegasan seorang ibu. Ia tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kebahagiaan putri kecil ataupun keluarganya, termasuk Kim YeonSun, ayah dari suaminya sendiri.
Fajar menyingsing mengenyahkan kegelapan malam, sinar hangat dari sang surya hadir menemani jiwa. Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan pagi, waktu yang pas bagi Kim YeonJin tiba di tempat kerja. Beberapa karyawan dan juga pelukis yang baru bergabung ke perusahaannya bergantian saling menyapa. Senyum yang mengembang dari Presdir menawan itu pun memberikan pesona tersendiri bagi mereka.
Sapaan pun menghilang seiring sosoknya hilang dalam pandangan, YeonJin memasuki lift dan menuju ruangannya berada.
Tidak lama berselang semerbak aroma masukin menyapa indera penciuman Jimin yang tengah sibuk di meja kerja. Kepalanya mendongak mendapati sang atasan yang baru saja tiba.
"Pagi," sapa YeonJin ramah.
Seketika Jimin langsung beranjak dari duduk memperlihatkan air muka serius, YeonJin menautkan kedua alis tidak mengerti.
"Hyung," panggil Jimin.
"Wae? Apa ada sesuat yang terjadi? Kenapa wajahmu kusut begitu? Apa kamu ditolak lagi oleh Yasmin?" tanya YeonJin beruntun, senang menggoda adiknya.
Ia menahan senyum dan menghilangkannya begitu saja saat ketegangan semakin kuat dalam diri Jimin mengantarkan kegugupan padanya.
"A-apa benar kamu sudah ditolak lagi? Ka-"
"Hyung, aku sedang tidak membahas masalah itu di sini, tapi ini mengenai Kaila dan Riana."
Mendadak ekspresi YeonJin berubah terkejut dan tidak percaya. Ketegangan pun kini diambil alih dan menetap di wajah tampannya.
"A-apa?"
"Tidak ada waktu lagi, Hyung harus mendengarkanku."
Jimin keluar dari meja kerjanya dan menarik pergelangan sang kakak begitu saja, tanpa menolak YeonJin mengikutinya.
Ruangan CEO yang kedap suara menjadi pertemuan mereka. Keduanya saling berhadapan dengan atmosfer tegang menyelimuti kebersamaan. Firasat tidak mengenakan menendang perasaan YeonJin kala menatap kedua manik Jimin.
"Apa Hyung tahu jika kemarin Kaila bertengkar dengan anak laki-laki teman sekelasnya? Kemarin juga Riana dipanggil ke sekolah karena masalah itu. Aku mendapatkan informasi dari seseorang suruhan kita untuk mencari tahu tentang Tuan Kim YeonSun. Seminggu lalu bukankah Hyung memanggilku untuk melakukan itu?"
YeonJin diam di tempat, kata-kata yang baru saja Jimin layangkan memberikan pukulan telak. Ia tidak menyangka jika hal tersebut terjadi pada keluarganya, terutama Kaila. Putri sambung yang sudah ia anggap layaknya anak kandung.
Kesakitan pun merundung sembilu memutus akses pada lidahnya untuk berbicara. Perkataan yang sudah sampai ke tenggorokan tercekat kala empedu menguar dalam indera pengecap. Ia tidak percaya sekaligus sedikit kecewa mengenai informasi yang baru saja diterimanya.
"Ini ada bukti Riana bertemu dengan tuan Kim YeonSun."
Jimin menyodorkan beberapa foto di dalam gedung tua tempat Riana dan ayah kandungnya kembali saling bertatap muka. YeonJin mengambilnya dan melihat dengan jelas jika potret tersebut memperlihatkan interaksi kedua orang yang sudah sangat dihapalnya.
"Ba-bagaimana bisa ini terjadi? Pantas saja beberapa hari ini aku tidak pernah melihat Kaila, dia bahkan tidak mau diantar lagi ke sekolah. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Riana tidak mengatakan apa pun padaku?"
Gertak YeonJin melemparkan foto itu ke atas meja, Jimin tidak mengelak bagaimanapun perasaan seorang suami dan ayah tengah dipermainkan di sini. Namun, ia juga mengerti dengan apa yang dirasakan Riana.
"Mungkin Riana tidak mau membebanimu, Hyung. Aku pikir beberapa minggu yang lalu Tuan Kim YeonSun datang ke sekolah Kaila dan mengatakan hal tidak mengenakan, kemungkinan itulah yang bisa membuat perbuahan sikapnya padamu, Hyung"
Komentar Jimin terngiang, YeonJin kembali diam seraya fokus kepada gambar terpampang nyata di hadapannya. Degup jantung terus bertalu kencang mengalirkan kekesalan, ia mengepal kedua tangan mencoba meredamkan.
Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, melihat hal tersebut membuat Jimin khawatir.
"Hyung, jangan terbawa emosi, berbicaralah baik-baik dengan Riana. Aku tahu dia punya alasannya sendiri," ucapnya mencoba menenangkan.
"Aku harus kembali ke rumah."
Dengan cepat YeonJin melangkahkan kaki hendak keluar dari ruangan, Jimin pun beranjak dari duduk dan mencoba menyusulnya. Namun, sebelum itu terjadi ponsel di jas kerjanya pun bergetar, buru-buru ia membawa dan menerimanya.
Sedetik kemudian manik coklatnya melebar sempurna.
"APA?! Baiklah, terima kasih."
Teriakan dari sekertarisnya pun menghentikan langkah, YeonJin menoleh ke belakang menangkap kebimbangan dalam diri Jimin. Intusinya kembali bekerja, perasaan tidak mengenakan menyapanya cepat.
"Hyu-hyung Ri-riana, aku baru saja mendapatkan kabar jika..........Riana kembali menemui Tuan Kim YeonSun."
Bak terkena petir di siang bolong, kedua mata YeonJin membulat sempurna.
"Apa? Kita harus pergi menyusulnya."
Jimin pun mengangguk setuju dan berjalan mendekat.
"Sebelum itu bawa dokumen yang berada di berankas. Aku tahu apa yang diinginkannya," lanjut YeonJin kemudian.
Jimin menghentikan langkah dan kembali menampilkan ketegangan dalam diri, ia tidak percaya mendengar penuturan tersebut.
"A-apa Hyung serius?"
YeonJin mengangguk yakin tanpa bimbang sedikit pun, mau tidak mau Jimin mengikuti apa suruhannya dengan cemas.
...***...
Di tempat berbeda, untuk ketiga kalinya Riana kembali berhadapan dengan sang mertua. Ketegasan tersirat dalam wajah masing-masing, keduanya tidak gentar atas apa yang hendak dilakukan. Ruang lingkup yang jauh dari keramaian pun menambah ketegangan, hanya keheningan menemani dan keseriusan menjadi teman setia.
Seketika gelak tawa hadir mengejutkan Riana, dahi lebarnya mengerut dalam menatap kelakuan ayah dari suaminya tersebut.
"Tidak usah tegang begitu, kamu datang ke sini untuk mengatakan keputusanmu, kan? Kamu akan meningglkan Kim YeonJin, benar?"
Mendengar perkataan itu Riana menyeringai tajam dan sekilas melihat ke samping kanan.
"Tidak."
Satu kata melunturkan raut kesenangan di wajah tua itu, YeonSun menggebrak meja lalu mencondongkan badan ke depan.
"Apa? Apa yang kamu katakan?"
Riana kembali mengangkat sebelah bibirnya dan menatap tajam ke dalam manik sayu Kim YeonSun.
"Saya datang ke sini bukan untuk mengikuti permainan Anda. Saya datang untuk menolak apa yang sudah Anda usulkan. Saya tidak akan pernah meninggalkan Kim YeonJin, apa pun yang akan terjadi! Anda atau siapa pun tidak akan pernah bisa memisahkan kita."
"MWO?!"
Kim YeonSun kembali menggebrak meja dengan kuat seraya beranjak dari duduk. Keriusan yang dilayangkan Riana membuatnya berdecih, pria paruh baya itu pun berjalan ringan di sana seraya melipat tangan di depan dada.
"Apa yang kamu katakan, menantu? Keputusanmu akan mendatangkan malapetaka lain bagi putri kecilmu," ujar YeonSun lagi.
"Malapetaka bisa datang dan pergi, sebelum itu terjadi saya tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu ketenangan keluarga kami, termasuk Anda!!"
Riana mendongak, api pun berkobar dalam manik kecoklatannya. Sebagai seorang ibu dan istri ia tidak akan pernah membiarkan orang lain mengusik ketenangan mereka. Ia akan terus berjuang tanpa gentar demi mempertahankan keluarga utuhnya.