
...Sakit menjadi titik permasalahan dan senyum menyembuhkan luka yang berkarang....
.......
Satu minggu berlalu begitu cepat. Seperti yang dijadwalkan sebelumnya, tepat pada hari ini perusahaan art collection berulang tahun yang ketiga. Kim YeonJin selaku pemilik sekaligus pemimpin sangat bahagia bisa mengembangkan perusahaannya sampai sekarang. Begitu panjang jalan yang harus ia lalui hingga mencapai puncak.
Sudah banyak lukisan yang berhasil ia jual. Satu, dua, hingga ratusan pelukis ternama terus berdatangan ke perusahaannya untuk bekerjasama. YeonJin sangat bersyukur hobinya bisa menghasilkan jutaan won. Namun, di balik kesuksesannya ia selalu saja merasa gelisah. Senyum yang sering ia tunjukan menyembunyikan luka yang tersimpan rapih dalam hatinya.
Ia ingin sang ibu menyaksikan ini semua. Namun, Tuhan berkehendak lain. Wanita yang begitu ia sayangi pergi sebelum ia bisa sesukses sekarang. Ketika ia menginjak usia 17 tahun ibunya meninggal akibat serangan jantung. Sakit rasanya. Ia kehilangan sang ibu saat masih remaja. Sendirian, tanpa kehadiran sang ayah. Ia pun akhirnya tumbuh bersama paman dari ayahnya. Meskipun mereka berkeluarga tapi pamannya selalu mengungkit-ungkit tentang harta. Terutama dalam hal mengurusinya. Karena itulah hubungan mereka tidak bisa dikatakan baik-baik saja.
“Baiklah dari pada terus bersedih lebih baik aku lihat-lihat dekorasinya,” ujar YeonJin yang sedari tadi terus melamun di ruang kerja. Ia pun beranjak dari sana menuju aula.
Langkah demi langkah menapaki lorong lantai tertinggi ini. Sorot matanya memperlihatkan ketegasan. Pria berumur 30 tahun itu tumbuh dewasa tanpa bimbingan orang tua. Namun, ia berhasil membuktikan pada dunia jika ia mampu berdiri di atas kakinya sendiri. Keberhasilannya tidak luput dari keringat dan air mata. Kenangan menyedihkan itu masih ia simpan dalam memori Namun, ia tidak mau mengingkitnya lagi.
Ia pun tiba di lantai 3. Langkahnya terhenti ketika melihat bayangan seorang wanita yang entah kenapa akhir-akhir ini terus mengisi relung hatinya. Ia masih belum menemukan jawaban atas kebingungannya itu. Buru-buru YeonJin pun berlari kecil menyusulnya.
“Riana,” panggilnya pelan. Otomatis wanita itu berbalik melihatnya, “ehh, YeonJin-ssi.”
“Nanti malam kamu datang, kan?”
pertanyaan itu membuatnya bungkam. Seminggu ini Riana terus memikirkan tentang acara sekarang.
“Emm, bagaimana yah. Aku tidak bisa meninggalkan Kaila sendirian. Se-sepertinya ak_”
“Tidak usah khawatir acara ini terbuka untuk umum. Setiap tahun semua karyawan pasti membawa keluarganya. Aku juga ingin Kaila datang, ahhh bagaimana kalau nanti aku jemput kalian?”
“Ehhh!!”
“Tidak usah menolak, ini permintaanku. Kalau begitu sampai jumpa nanti malam.” Setelah menyunggingkan senyum singkat YeonJin pegi dari hadapannya.
Riana mematung di tempat. Ia tidak percaya pria itu selalu saja bersikap seenaknya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengiyakan. Bukankah dia atasannya? Sudah seharusnya Riana mengikuti apa yang disuruhnya. Itulah karyawan yang baik.
“Tapi ini tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Ahh, molla.” Racaunya lalu kembali melangkah.
...***...
Jam berputar begitu cepat. Hari mulai beranjak malam lagi. YeonJin yang sudah kembali ke kediamannya tengah bersiap-siap untuk menghadiri pesta perusahaan. Ia begitu gembira tahun yang mendebarkan ini kembali terulang untuk ketiga kalinya. Pencapaian yang sungguh luar biasa.
“Baiklah saatnya menjemput Riana dan Kaila.” Ia terlihat senang seraya menyambar jas dongkernya.
Baru saja ia keluar dari rumah, ponsel disaku jasnya berbunyi nyaring. Ia pun mengeluarkannya dan melihat nama seseorang di sana.
“Park Jung Guk?” gumamnya dan setelah itu ia menerima panggilan tersebut.
Obrolan singkat pun berakhir. YeonJin terdiam beberapa saat memikirkan sesuatu.
“Bagaimana ini? Aku sudah berjanji menjemput Riana? Hah~ ayahnya Hyerin mendadak sekali.” Setelah bersikuku dengan dirinya sendiri YeonJin pun bergegas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan rumahnya cepat.
Di lain tempat, sedari tadi Riana dan Kaila tengah menunggu kedatangan YeonJin. Sudah 30 menit berlalu pria itu tidak kunjung datang. Tidak lama berselang ponselnya bergetar memperlihatkan satu notifikasi pesan masuk dari YeonJin.
“Appa mana mah? Lama sekali katanya mau jemput?” perkataan Kaila seketika menyadarkan.
“Emm, sepertinya appa tidak jadi menyemput kita.”
“Kenapa?”
“A-ada urusan mendadak, katanya. Lebih baik kita segera berangkat sekarang.” Ajaknya kemudian.
...***...
Suara musik jazz mengalun merdu mengirigi setiap tamu yang datang. Satu persatu petinggi itu memasuki aula. Dekorasi hangat dan elegan menjadi backround utama pesta ulang tahun perusahaan. Lampu-lampu menggantung rapih di langit-langit serta panggung kecil di depan ruangan menambah kemeriahan. Semua orang saling menyapa bahagia.
Momen seperti itu mereka jadikan ajang untuk mencari keuntungan, tentunya. Banyak sekali investor yang datang dan mereka tidak mau membuang kesempatan emas itu.
Beberapa menit kemudian, Riana datang seraya menggandeng Kaila masuk ke sana. Wanita berhijab coklat lembut itu menatap takjub. Bola matanya bergulir melihat kesekitaran. Ini pertama kalinya Riana menghadiri pesta semewah itu. Begitu pula dengan Kaila kedua matanya berbinar senang.
"Jadi seperti ini pesta orang kaya? Em, tidak mengecewakan. MasyaAllah sungguh indah. Ehh tunggu," Riana tiba-tiba tersadar akan sesuatu. Ia pun berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Kaila.
“Sayang, di sini kamu jangan makan sembarangan yah. Kita tidak tahu, apakah makanan itu halal atau tidak. Kamu hanya boleh makan apa yang mamah berikan. Mengerti?” gadis kecilnya mengangguk paham.
“Bagus.” Riana mengusap pelan puncak kepalanya seraya tersenyum manis.
Riana pun membawa Kaila terus masuk ke dalam. Begitu banyak orang yang berdatangan hingga ia tidak mengenali siapa pun. Ia seperti orang asing yang tengah tersesat dan terbawa arus. Hingga di tengah-tengah kebingungannya,
“Appa."” teriak Kaila yang sedari tadi pandangannya fokus pada seorang pria berdiri tegap di depan panggung seraya bercakap-cakap dengan beberapa orang.
Sontak hal itu membuat perhatian mengarah pada gadis mungil tersebut. Ia pun melepaskan pautan tangannya dari sang ibu lalu berlari menuju pria yang berjarak beberapa meter darinya.
Netra jelaga Riana semakin membola. Ia tidak percaya Kaila bisa bersikap seperti itu. Ia lupa jika harus memperingatinya. Namun, sayang nasi sudah menjadi bubur. Anak semata wayangnya terus mendekati sang pemimpin perusahaan.
Riana takut YeonJin menganggap Kaila sebagai pengganggu. Tapi apa yang dilakukan pria itu? Dia malah berjongkok dan menyambut kedatangan Kaila lalu menggendongnya.
Riana menganga kembali tidak percaya. Dan di sisi lain ia juga merasa takut. “A-apa yang harus aku lakukan? Di…di sana juga ada Hyerin. Ya Allah aku tidak mau mengacaukan pesta ini,” gumamnya seraya mencengkaram gamisnya kuat.
Dari arah samping Jimin yang sedari tadi memperhatikannya berjalan mendekat. Ia tahu posisi wanita itu sekarang.
“Jadi kamu sudah mempunyai seorang putri?” pertanyaan darinya membuat Riana menoleh mendapati Jimin memandanginya lekat. Ia pun mengangguk singkat. “Lalu di mana ayahnya?” tanyanya lagi.
“Aku seorang single parent. Jadi ayahnya tidak ada di sini.”
Pengakuan Riana mengejutkan Choi Jimin. Ia tidak percaya jika Riana seorang single parent. Tatapannya kembali mengarah pada YeonJin. Pria itu terlihat biasa saja dengan kehadiran Kaila dalam gendongannya.
"Emm, aku tidak boleh membiarkan ini terjadi," benak Jimin kemudian.
Di dalam pesta Riana tidak menyangka akan mendapatkan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Ia masih mematung melihat Kaila bersamanya. Bersama pria yang tidak ia mengerti.