QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 15



...Kehadirannya memberikan warna lain, tapi warna itu bukanlah yang ku mau....


.......


Santer diberitakan jika pemimpin perusahaan art collection sudah mempunyai seorang putri berusia 5 tahun. Berita itu berhembus dari 3 hari yang lalu. Sudah banyak orang yang mendengarnya, mulai dari karyawan dan juga investor-investor yang bekerjasama dengannya. Mereka pun meragukan kemampuan Kim YeonJin.


Pria itu sedang berada di ujung tanduk sekarang. Netra kecilnya tengah membaca artikel mengenai dirinya dalam gadget yang disodorkan Jimin beberapa saat lalu. Ia tidak percaya membaca itu semua. Kini panah tengah mengarah padaya. Kedekatannya dengan Kaila menambah beban lain. Kejadian yang tidak diharapkan harus datang juga.


Ia sampai melupakan posisinya waktu itu. Kedatangan YeonJin ke TK Kaila sudah pasti mengundang rasa penasaran orang-orang. Sudah dipastikan pelakunya pasti dari salah satu mereka. YeonJin mengepalkan tangannya erat. Bola matanya terus bergulir membaca tulisan demi tulisan Hangeul yang tertuang di sana.


“Kim YeonJin, CEO art collection ternyata sudah menikah dan mempunyai anak. Di mana selama ini ia sembunyikan mereka? Apa anak itu hasil dari hubungan gelapnya dengan seorang wanita biasa?”


Dan berita-berita lain yang tidak benar keberadaannya.


Brakk!!


YeonJin memukul meja. Sontak hal itu membuat Jimin terlonjak kaget. Ia juga tidak menyangka kenapa ada berita tidak benar tentang hyungnya ini.


“Sebenarnya apa yang hyung lakukan sampai ada berita seperti itu?” Tanya Jimin berusaha mencairkan suasana. Namun, sepertinya keadaan semakin memanas. Rahang YeonJin mengeras dengan sorot mata tajam. Jimin sedikit bergidik ngeri melihatnya. Tidak biasanya pria itu bersikap seperti sekarang. Itu tandanya YeonJin sudah berada dilevel kemarahan yang berbeda.


“Apa hyung menyukai Riana?” Pertanyaan itu sedikit mengambil alih kesadarannya. Bola matanya bergulir menatap Jimin lekat.


“Apa maksudmu?”


“Aku tahu selama ini hyung selalu berurusan dengan Riana. Apa yang sebenarnya hyung pikirkan?”


YeonJin terdiam. Ia juga tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti ini. Kedekatannya dengan Kaila berdampak besar pada kehidupan kariernya. Namun, ia sudah terlanjur menyayangi gadis kecil itu. Ia mengerti bagaimana sakitnya kehilangan kasih sayang seorang ayah. Dan ia tidak ingin melihat Kaila seperti dirinya. Bahkan gadis kecil itu lebih parah. Ada senyum manis yang tersembunyi di balik awan mendung di mata Kaila. Ia ingin terus melihat senyumannya. Tanpa tahu kenapa.


“Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti. Bagaimana keadaan Riana? Apa dia juga membaca artikel ini?” Tanyanya balik. Hal itu membuat Jimin menyimpulkan sesuatu.


“Dia baru saja datang, mungkin dia sedang membacanya.”


Seperti yang dikatakan Jimin, saat ini Riana tengah berhadapan dengan laptopnya. Layar persegi panjang kecil itu menjadi perhatian. Iris besarnya membulat membaca artikel yang tertuang. Bersamaan dengan itu degup jantungnya semakin berdebar kencang. Perlahan bibir ranumnya terbuka, tidak percaya. Kepala berhijab tosca itu menggeleng singkat.


“I…ini tidak seperti yang diberitakan.” Ada perasaan takut menyapa hatinya.


“Kamu sudah membaca berita itu?” Suara baritone menginstrupsinya. Riana mendongak dan mendapati atasannya.


“Sajangnim. Ma..maafkan saya karena Kaila berita ini sam_”


"Astaghfirullah Riana. Ya Allah bantulah hamba dalam menghadapi permasalahan ini. Semoga tidak memberatkan YeonJin-ssi." Benaknya seraya menundukan pandangan.


Keadaan menjadi hening.


Riana maupun YeonJin tidak saling membuka suara kembali. Jatuh ke dalam lamunannya sendiri. Riana senang ada seseorang yang bisa menggantikan sosok ayah untuk Kaila. Namun, ia tidak berpikir jika hal itu justru menjerumuskannya pada permasalahan lain. Sebulan lebih bukan waktu yang singkat. Selama itu pula Kaila selalu berhubungan dengan YeonJin layaknya ayah kandung.


Senyum kebahagiaan sang anak tat kala menceritakan sosok ayah dari diri Kim YeonJin terngiang dalam kepalanya. Ia baru pertama kali melihat wajah cerita itu dari sang anak. Ternyata keberadaan YeonJin berpengaruh besar pada putrinya.


“Jadi anak itu anak wanita ini? O…oppa, aku tidak menyangka ternyata kalian…..” Ucapan seorang wanita mengejutkan mereka. Keduanya kompak menoleh ke arah pintu masuk.


“Hyerin? Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan Riana.” Jelas YeonJin. Pun dengannya Ia takut hubungan mereka bisa kandas karenanya.


“I….itu benar Hyerin-ssi. Saya dan Sajangnim hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Berita itu tidak benar.”


“Hee….” Hyerin berjalan mendekatinya. Netra kecoklatannya menatap Riana lekat. “Kalau sampai aku tahu kamu berhubungan dengan YeonJin oppa, aku pastikan hidupmu tidak akan tenang.” Bisiknya tepat di telinga Riana. YeonJin sadar dengan ancaman itu dan seketika menarik Hyerin dari sana. Riana terpaku tidak percaya mendapatkan masalah rumit seperti ini.


“Sepertinya aku harus melarang YeonJin-ssi bertemu Kaila.” Gumamnya menatap kepergian mereka.


YeonJin membawa Hyerin ke ruangannya. Iris kecilnya masih menatap tunangannya serius. Berbeda dengan wanita itu acuh tak acuh melipat tangan di depan dada seraya membalas tatapannya lekat. Sebagai seorang wanita ia merasa sudah dikecewakan. Meskipun pertunangan itu terjadi karena perjodohan tapi Hyerin sudah terlanjur mencintainya.


Cinta? Memang seperti itu yang ia rasakan sekarang.


“Aku seperti mendapati priaku bersama wanita lain. Jadi bisa oppa jelaskan tentang berita itu?” Tanyanya menuntut.


“Berita itu tidak benar aku belum punya anak. Atau pun menyembunyikan anak mana pun. Aku hanya bermain bersama anak Riana saja. Dan aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Sudahlah tidak usah termakan berita tidak benar itu.” YeonJin pun beralih menuju kursi kerjanya. Tanpa ia sadari, ekspresi Hyerin berubah. Sorot matanya menghangat lalu bangkit berjalan ke arah YeonJin.


“Sepertinya aku memilih pria yang tepat. Oppa menyukai anak-anak? Bagaimana kalau kita segera menikah saja?” Sontak perkataannya membuat YeonJin menoleh cepat.


“Mwo, menikah? Aku belum siap menikah secepat itu.”


“Kenapa? Umur kitakan sudah cukup untuk berumah tangga.” Penjelasan Hyerin tadi membuatnya terpaku. Memang benar usianya sudah matang untuk membina rumah tangga dan mempunyai seorang anak.


Namun, tetap saja ia belum siap. Dan lagi ia tidak mencintai sedikit pun tunangannya ini. YeonJin tidak ingin menikah karena terpaksa. Terlebih ada perasaan yang belum sempat ia mengerti. Hal itu mempengaruhinya dan ia juga tidak ingin menyakiti Hyerin. Perjodohan itu tidak mungkin berlangsung selamanya.


Orang tua Hyerin menginvestasikan banyak uang kepada perusahaannya. Dan pertunangan mereka menjadi syaratnya. Kedekatannya dengan Hyerin sejak kecil berakhir seperti ini. Bukan hubungan seperti itu yang ia inginkan. Namun, tetap saja nasi sudah berubah menjadi bubur tidak bisa kembali lagi.