QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 3



...Perjalanan hidup tidak selamanya berliku. Terkadang Allah menghadirkan ujian untuk memperkuat keyakinan. Apa kita mampu melalui ujiannya atau tidak....


.......


Sudah hampir 1 bulan Riana melakoni tugasnya sebagai arsitek. Sejak ia bekerja bersama art collection kini di perusahaan itu tesedia makanan halal. YeonJin, khusus mendatangkan koki muslim dari Turki. Mendapatkan pelayanan khusus dari rekan kerjanya membuat Riana betah bekerja di sana. Ia mengerahkan semua kemampuan untuk merancang bangunan agar tidak mengecewakan sang klien. Seiring berjalannya waktu pertemanan antar mereka pun terjalin. Jimin yang awalnya mengira YeonJin menyukai Riana ternyata salah besar. Ia hanya mengagumi kemampuan yang dimilikinya saja. Berbicara tentang kemampuan. Dulu, saat Riana masih berada di Indonesia dan menjadi seorang istri dari mantan suaminya, banyak omongan yang terus menghantamnya. Seperti, “Kau tidak akan sukses dengan kemampuanmu itu.”


“Sekolah tinggi-tinggi ujung-ujungnya ke dapur juga. Memang seperti itulah kodaratnya wanita. Jangan banyak tingkah deh. Percuma sekolah tinggi tapi tidak berguna.”


Dan masih banyak perkataan menyakitkan yang setiap saat mengundang air mata. Sudah tidak ada orang tua yang ia bagi keluh kesah. Hanya mengadu pada Sang Khalik yang setiap saat memantau keadaannya. Riana beruntung masih bisa diberi napas. Kesempatan kedua yang Allah kasih tidak akan ia sia-siakan. Itulah tekadnya. Hingga pada akhirnya ia ada di sini. Tengah menebar senyum pada setiap pekerja yang bekerja sama dengannya. Ia tidak lagi diremehkan, tidak dicaci maki dan lebih dihargai. Ia sangat bersyukur bisa melebarkan sayapnya. Terbang dari sangkar menyesakan itu.


YeonJin yang baru tiba di tempat lokasi pembuatan bangunan terbarunya melengkungan senyum menawan tat kala menangkap betapa semangatnya Riana hari ini. YeonJin memperhatikan wanita itu dalam diam.


“Aku tidak menyangka wanita seperti Riana bisa bekerja dengan pria-pria tua itu hahahaha sungguh sangat disayangkan.” Ocehan meluncur mulus dari mulut seseorang yang berdiri disamping kanannya membuat YeonJin menoleh. Ia mengerutkan dahinya heran.


“Paman? Sedang apa paman di sini?”


“Ohh, ponakanku kamu sudah besar ternyata. Hahaha paman ingin melihat bangunan barumu.” Jelasnya ditambah acara pelukan singkat khas keluarga yang sudah lama tidak bertemu. Namun, sepertinya YeonJin tidak menyukai hal itu. "Basa-basi yang sangat basi." Benaknya. “Tumben. Biasanya paman ingin uangku saja.”


“Hahaha seperti biasa kau tidak suka basa-basi.”


Senyum tipisnya muncul menjawab perkataan pamannya. Pria dengan tinggi 170 cm berbadan berisi itu menatap lekat orang-orang di depannya. Mereka sama-sama diam hanya ditemani suara konstruksi yang saling bersahutan. Kehampaan membuat YeonJin tidak menyukainya, terlebih bersama pria 50 tahunan ini.


“Mimpi ibumu akhirnya terwujud juga. Mereka pasti bangga padamu Jin.” Lanjut pamannya lagi. Kini perbincangan itu mengarah pada hal serius.


“Tidak usah membicarakannya. Jangan so peduli dengan kehidupanku dan keluargaku.” Nada kekesalan terdengar. Kim Haneul tahu, keponakannya tengah menahan amarah. Sudut bibirnya terangkat melihatnya pergi.


Setelah memberikan pengarahan kepada orang-orang itu, Riana meninggalkan lokasi. Ia berencana kembali ke gedung art collection untuk membuat laporan. Namun, langkahnya terhenti saat menangkap bayangan seseorang yang tengah duduk di bangku dekat parkiran. Seakan kenal ia pun mendekatinya.


“Sajangnim.” Panggilnya pelan. Kepala yang tengah menunduk itu mendongak menoleh ke kiri melihat Riana. Ia pun terkejut seketika.


“Ehh, kamu sudah selesai bekerja?” Tanyanya mengalihkan topik. Riana mengangguk singkat.


“Aku mau kembali ke kantor. Apa sajangnim ada pertemuan di sini?” Tanyanya balik. YeonJin menggelengkan kepalanya cepat.


“Ani. Aku hanya sedang melihat-lihat saja. Tapi bentuknya belum terlihat.”


“Hahaha sudah pasti. Merekakan baru saja mulai.” Jelas Riana membuatnya kikuk.


“Oh yah tadi kamu bilang mau kembali ke kantor? Aku juga mau balik lagi, kita bareng saja. Ayo.” Ajaknya kemudian.


Riana mematung di tempat. Ia tidak menyadari pira itu sudah melangkah meninggalkannya. Ia melamun merasakan sesuatu dalam hatinya. Hal yang ingin ia hindari, apa akan terjadi? Ia semakin menyelam ke dasar lamunan. Titt!! Hingga klakson mobil menyadarkannya.


“Astagfirullah…”


“Masuklah!!” Teriak pria itu menyembulkan kepalanya keluar. Spontan Riana mengangguk dan bergegas mengikuti suruhannya.


Perjalanan menuju gedung perkantoran terasa lebih panjang baginya. Setelah duduk dijok itu, Riana tidak pernah putus beristighfar. Pemandangan yang terhampar tidak sedikit pun mengenyahkan memori yang terus datang menghantam kepalanya. Bak kaset kusut, kenangan itu terus berputar membuatnya gelisah. YeonJin yang tengah menyetir merasakannya. Berkali-kali ia menoleh dan mengerutkan dahi dalam tidak mengerti. Ini pertama kalinya YeonJin bersama wanita berhijab seperti Riana. Begitu pula dengannya.


“Kenapa? Apa kamu tidak terbiasa naik mobil?” Pertanyaan itu membuyarkan lamunan Riana.


“A…ti…tidak sajangnim… ha..hanya saja saya_”


“YeonJin. Panggil aku YeonJin. Kita sedang tidak di kantor sekarang.” Potongnya cepat. Riana mengangguk pelan dan tidak ada percakapan lagi.


Riana gelisah dan membungkam mulutnya sendiri. Setelah sekian lama ia mengurung dan menutup diri untuk tidak berinteraksi dengan pria yang bukan mahrom, kini situasi menjebaknya. Mati-matian ia menahan diri seraya berkeringat dingin. Ia takut. Sungguh, ia sangat takut. Bersama pria asing ini membuat luka kembali mencuat ke permukaan.


"Tidak boleh. Jangan sampai terjadi, astaghfirullah Ya Allah lindungi hamba." Gumamnya dalam benak.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka tiba di kantor. Buru-buru Riana masuk ke dalam gedung tanpa mengindahkan atasannya. Langkah kaki yang terseok-seok itu membuat YeonJin kembali menautkan alisnya.


“Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa dia berjalan seperti itu?” Herannya.


Tingg!!


Bunyi pintu lift terbuka menyadarkan. Ia masuk tanpa ada orang lain di sana. Lantai demi lantai terlewati. Hingga lift kembali terbuka di lantai 6. Pria berjas biru dongker itu kembali dipersatukan dengannya. Tanpa melihat kedatangannya Riana terus menundukan pandangan. YeonJin. Sang CEO art collection berkali-kali dibuat heran.


“Riana-ssi…. Riana-ssi…RIANA.” Dengan sedikit kencang ia terus memanggilnya. Riana kembali dari alam bawah sadar dengan mata bulannya membola sempurna. “A… YeonJin-ssi…”


“Sebenarnya, kamu kenapa? Sedari pulang dari proyek kamu seperti ini. Apa ada yang tidak beres?” Tanyanya beruntun.


“Ak_”


Brughh!!


Sebelum menjawab pertanyaan YeonJin, tiba-tiba saja lift berhenti berjalan. Seketika mereka panik. Berkali-kali ia menekan-nekan tombol untuk meminta bantuan. Kedua tangannya melambai ke arah CCTV. Namun, hingga beberapa menit kemudian tidak ada yang menyahutinya.


“Sial, kenapa seperti ini? Apa mereka tidak bec_”


Brukhh!!


Untuk kedua kalinya YeonJin terkejut mendengar suara bentuman itu yang kini dihasilkan oleh orang yang berada bersamanya. Ia menoleh ke samping kanan melihar Riana jatuh terduduk. Ia terkejut melihat lelehan air mata yang turut mengiringi. Buru-buru YeonJin berjongkok melihat wanita itu.


“Ri…riana?” Wanita itu tidak mengindahkannya. Dengan napas memburu Riana mencoba menahan kesakitan yang mencoba datang menerpanya lagi. Sekelebat bayangan masa itu berputar. Kepala berhijabnya terus menggeleng mengenyahkan pikiran itu.


“Sa…saya minta maaf.” Gumamnya dengan parau. YeonJin tidak mengerti dengan keadaannya.


Drrtt…. getaran ponsel ditas selempangnya membuat Riana sadar. Ia mengusap air mata kasar seraya mengubek isi tasnya menemukan benda pintar tersebut. Tertera nama malaikat kecilnya di sana. Ia terdiam bak batung tidak melakukan apapun. Hal itu pun turut menjadi perhatian Kim YeonJin.


Setelah beberapa menit terjebak akhirnya lift kembali berfungsi normal. Buru-buru Riana melarikan diri dari hadapan YeonJin. Jika sudah menyangkut keadaan seperti ini ia sudah tidak peduli dengan siapa dirinya berhadapan. YeonJin terus melihatnya hingga sosok itu menghilang dalam taksi.


“Ssshhh, aku tidak mengerti…”


Riana masih mencoba menahan kepedihan. Air mata tak kunjung reda membuatnya terus mengusapnya kasar. Rasa sakit yang dihilangkan secepat kilat menyentuh hati terdalamnya.


“Tidak…. aku tidak boleh mengingatnya lagi. Kenangan bersama dia harus dimusnahkan.”


Beberapa saat kemudian ia tiba di sekolah sang anak. Waktu gelap itu membuat keadaan terlihat hening. Di sana di depan gedung gadis kecilnya tengah menunggu.


“Kaila, sayang.” Panggilnya cepat mendekati sang anak.


“Mamah.” Mereka berlari kecil lalu saling berpelukan.


“Maaf, mamah telat menjempumu.” Sesalnya seraya mendaratkan kecupan hangat di kepala Kaila. Gadis kecil itu mengangguk paham. Setelah berpamitan, mereka berdua pun menaiki taksi segera pulang ke apartemen.


Jalanan kosong memudahkannya tiba ditempat tujuan dengan cepat. Riana menggandeng hangat tangan Kaila seraya berjalan menuju ke dalam apartemen. Ia tidak bisa kehilangan malaikat kecilnya. 5 tahun bukan waktu sebentar. Sebagai orang tua tunggal, Riana harus berjuang mati-matiaan dengan berdarah-darah untuk kebahagiaannya. Kini, di Negara Ginseng ini ia berhasil menemukan puncaknya. Ia berhasil mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan.


“Sayang.” Ucapnya menahan sang anak dan membalikan tubuhnya untuk berhadapan.


“Mamah sayang~ sekali sama kamu Kaila.. mamah janji akan membahagiakanmu.” Senyum merekah di wajah imutnya.


“Kalia senang sekali mendengarnya mah. Kaila boleh minta sesuatu tidak mah?” Riana mengangguk mengiyakan.


“Kaila ingin melihat ayah. Selama ini Kaila tidak tahu ayah itu seperti apa.” Bak diiris pisau belati, hati Riana sakit mendengar permintaan anak semata wayangnya. Tanpa bisa dicegah air mata itu tumpah dan ia pun merengkuhnya hangat.


“Nanti, Kaila bertemu ayah yah. Nanti.” Ucapnya dengan suara bergetar. "Entahlah, apa aku bisa mempertemukan kalian. Pria itu bahkan tidak menginginkan kehadiran Kaila… maafkan mamah, sayang." Batinya berkecambuk. Malam yang hening ini menjadi saksi tentang kekecewaan yang ia rasakan kembali.


Di tempat yang berbeda, sedari tadi Kim YeonJin sang pemimpin perusahaan masih memikirkan apa yang terjadi dengan rekan kerjanya, Riana. Bayangan wanita itu terus menghantuinya tanpa henti. Ia penasaran akan sesuatu hal yang terjadi.


“Kenapa dia menangis? Aku tidak melakukan apapun padanya. Ssshh, ini membuatku pusing… Ada apa sebenarnya?” Gumamnya.