QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 25



...Asa kembali datang membentuk harapan yang tidak bisa diraih. Namun, tidak ada yang tidak mungkin bukan jika Allah sudah berkehendak?...


.......


Entah secara kebetulan atau memang batin mereka sudah menyatu, perlahan kelopak matanya terbuka memperlihatkan bulan beningnya. Gadis kecil itu kembali melihat dunia yang sempat redup dalam pandangan. Di sana ia melihat sosok yang sudah lama dirindukannya tengah tersenyum manis. Kaila tidak kuasa membendung cairan bening dalam matanya. Itu mengalir dan membasahi bantal putihnya.


Riana terkejut menyadari hal tersebut. Betapa besar kasih sayang Kaila kepada YeonJin. Salahnya sudah menjauhkan sang anak dari ayah angkatnya. Mungkin karena Kaila sudah menganggapnya sebagai ayah kandung perasaan mereka menyatu satu sama lain.


“Appa! Appa datang? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah.” Kaila melebarkan senyumnya memperlihatkan deretan gigi-gigi kelincinya.


Ia berusaha untuk bangun dan memeluk sang ayah. Secara naluriah YeonJin membantunya dan langsung mendekapnya erat.


“Ne, appa datang untuk menjengukmu Sayang. Kenapa Kaila bisa sakit seperti ini, hmmm?” tanyanya seraya menatap ke dalam bola mata hitam itu setelah melepaskan pelukannya.


Kaila kembali melengkungkan bibir pucatnya seraya menatapnya binar.


“Karena Kaila rindu appa.” Sampai sini Riana tidak bisa menahan kesedihan. Liquid bening mengalir deras di kedua pipinya. Buru-buru ia pun menghapusnya tidak ingin sang anak tahu.


“Benarkah? Appa juga rindu…..sekali sama Kaila.” Balas YeonJin mengusap puncak kepalanya sayang.


“Jinjja?” YeonJin mengangguk berkali-kali.


“Tapi kenapa appa tidak mengunjungi, Kaila? A, ini karena mamah melarangku bertemu appa? Kenapa?” Kini ekistensi mereka mengarah pada Riana yang tengah memunggungi mereka. Merasakan tatapan itu Riana seketika membalas tatapan keduanya. Ia terkejut melihat rasa penasaran yang terpancar di sana.


“I-itu ka-karena YeonJin appa sedang sibuk, Sayang. Ja-jadi Kaila tidak bisa mengganggunya.”


“Hhmm.” Kaila kembali menatap YeonJin.


“Benarkah seperti itu?” Tidak ingin membuat keadaan semakin runyam, YeonJin pun mengangguk mengiyakan.


“Syukurlah. Kaila pikir appa tidak mau bertemu denganku lagi. Kaila sangat menyayangi YeonJin appa.” Ia pun kembali menghamburkan dirinya ke dalam pelukan pria itu.


YeonJin tidak kuasa menahan air mata. Ia menangis dalam diam merasakan suhu badan Kaila. Meskipun belum menjadi seorang ayah, tapi YeonJin mengerti bagaimana perasaan orang tua saat anaknya sedang sakit.


Tidak kuasa melihat kedekatan mereka, Riana pun keluar dari ruangan. Cairan bening itu tidak bisa dihentikan. Ia merasakan sakit karena sudah berusaha memisahkan mereka.


“Ya Allah apa aku bersalah? Kaila terlihat bahagia saat bersama YeonJin-ssi. Apa seperti ini perasaannya ketika bertemu ayah kandung? Tidak. Mas Arsyid tidak mungkin bisa menyayangi Kaila. Ya Allah, hamba percaya dengan rencana-Mu,” gumamnya.


...***...


YeonJin pun meninggalkan ruang inap Kaila. Di lorong itu ia melihat Riana mendundukan kepalanya. YeonJin tahu wanita itu tengah terkantuk-kantuk dalam diam. Ia tersenyum singkat dan berjalan mendekat lalu mengambil duduk di sampingnya dengan adanya jarak. Ia tahu seperti apa kedudukan wanita muslimah ini.


Netra kecoklatannya menatap tembok putih di depannya. Beberapa saat hanya ada keheningan di antara mereka. Tidak lama berselang Riana merasakan seseorang di sampingnya. Ia pun mendongak lalu menoleh dan mendapati atasannya.


“Karena aku tidak mau menyebabkan hubunganmu dan Hyerin kandas. Bisa saja keberadaan Kaila menjadi faktor utamanya.”


Sontak pernyataan tadi membuat YeonJin melebarkan mata tidak percaya Riana bisa berpikir demikian. YeonJin sadar jika dia belum mengetahui yang sebenarnya.


“Aku harap kamu tidak bersikap seperti itu. Bagaimana pun juga aku sudah menganggap Kaila seperti anakku sendiri,” ucap YeonJin tulus membuat perasaan hangat menayapa hati Riana dengan cepat. Ia tidak bisa mengiyakan atau pun menolak ucapannya.


“Aku minta maaf karena sudah mengatakan hal yang tidak-tidak malam itu.”


“Eung.”


Hening kembali menyapa mereka. Sang Raja Siang tengah menyinari alam semesta dengan kehangatannya. Awan berarak tenang menjadi backround kebersamaan kedua insan tersebut. YeonJin maupun Riana sama-sama berkutat dengan pikirannya sendiri. Begitu banyak kejadian menyakitkan yang pernah mereka lewati. Meskipun dengan cerita yang berbeda. Sudah menjadi ketentuan di Atas. YeonJin dan Riana menjadi tokoh utama dalam kisahnya.


“Riana, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya YeonJin lagi setelah sekian lama bungkam. Riana mengangguk mempersilakan.


“Apa yang kamu lakukan saat tidak mempunyai seseorang untuk berbagi kesedihan? Dan itu sangat menyakitkan? Bahkan dirimu tidak bisa menjelaskannya pada siapa pun.” Mendengar itu Riana menoleh sekilas. YeonJin terus melihat langit-langit tanpa menghiraukan keheranannya.


“Aku akan bercerita kepada Tuhan. Karena meskipun aku tidak memiliki siapa pun untuk berbagi tapi, Tuhan selalu ada untukku. Dia terus bersamaku dan mendengarkan keluh kesah setiap hamba-Nya. Setelah menceritakan semua kesedihan itu aku merasa lega dan tenang,” jawab Riana disertai senyum tulus.


“Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (Q.S Al Anfal : 43 )


Begitulah yang di rasakan Riana. Di masa lalu ia mengandalkan dirinya sendiri untuk kembali dalam keterpurukan. Dan ia terus berdo’a kepada Allah jika suatu saat nanti kesedihannya akan berubah kebahagiaan. Tidak ada siapa pun yang bisa ia bagi tentang kesakitannya. Hanya kepada Allah ia berserah diri dan meminta perlindungan dari-Nya. Karena ia mempunyai yang Maha Besar dari masalahnya.


YeonJin pun kembali menoleh. Sudah lama rasanya ia tidak melihat senyuman itu dari wajah Riana. Ia menyadari jika selama ini Riana menyembunyikan sesuatu. Masa lalu yang belum ia ketahui. Setelah mendengarkan ucapannya tadi, ia juga merasakan hal berbeda dalam hatinya.


“Selama ini aku tidak pernah mengenal Tuhan. Apa setenang itu hidup bersama Tuhan?” tanya YeonJin lagi.


“Tentu sangat menenangkan. Allah selalu memberikan ketenangan yang tidak terbatas. Dulu, aku mengalami kesulitan dalam hidup dan aku memasrahkan semuanya pada Allah, Tuhan semesta alam. Allah pun memberikan kekuatan dan jalan keluar.”


Lagi-lagi YeonJin merasakan hal berbeda dalam hatinya. Ini tidak biasanya. Dari dulu hingga sekarang ia belum pernah mendapatkannya. Ia ada. Namun, dia sama sekali tidak memikirkan Sang Pencipta. Ia sadar telah jatuh ke dalam dunia terlalu dalam. Bertemu dengan wanita itu membuka mata hatinya yang kelam. Selama ini ia terus menyalahkan keadaan dalam hidupnya.


Beberapa saat kemudian YeonJin kembali ke perusahaan. Sedari kedatangannya, ia terus melamun memikirkan ucapan Riana. Perkataannya kembali terngiang bak kaset kusut yang tidak bisa diperbaiki. Bola matanya bergulir melihat ruangan itu.


Tidak banyak barang-barang yang dimilikinya di sana. Hanya ada sofa dan beberapa lukisan berharga yang pernah ia gambar. Semua itu nyata terlihat dan bisa terjangkau dalam pandangan.


“Tapi bagaimana aku tahu Tuhan itu ada? Bagaimana Riana merasakannya? Kenapa dia sangat senang ketika mengatakannya? Padahal dia menyimpan luka yang tidak ku ketahui,” racau YeonJin terus memikirkan hal tersebut.


Ada titik penasaran dalam hatinya yang ingin ia cari tahu.


Perlahan cahaya kecil itu muncul dalam benaknya.