
Air muka ceria nampak hadir di wajah tampan Kim YeonJin. Setelah beberapa saat mendengarkan percakapan antara sang istri dan Jasmin, ia pun menunjukan batang hidungnya. Kedatangan kepala keluarga tersebut mengejutkan keduanya dan langsung melepaskan dekapan masing-masing.
"Assalamu'alaikum," ucap YeonJin kemudian.
"Wa'alaikumsalam," balas Jasmin dan Riana bersamaan.
Kim YeonJin mendudukan diri di hadapan mereka dan menatapnya bergantian. Riana mengerutkan dahi bingung dengan kelakuan sang suami. "Oppa, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya.
"Aku tadi tidak sengaja mendengar percakapan kalian. Aku minta maaf bukan bermaksud untuk mengupi hanya saja pembicaraan kalian cukup menarik. Aku senang pada akhirnya kamu bisa mengatasai trauma, percayalah Allah tengah menyiapkan sesuatu terbaik untukmu," balas YeonJin yang kini memandang ke arah Jasmin.
Wanita berlandang di pipi sebelah kanan itu pun mengangguk singkat dengan rona merah menyebar di wajah ayunya. Baru kali ini ia bisa membahas mengenai sebuah perasaan bersama seorang pria. Selama ia hidup dan setelah kejadian mengerikan yang hampir merenggut mahkotanya, Jasmin menutup diri dari lawan jenis.
Baginya mereka sama saja hanya mengandalkan nafsu dan hasrat terpendam untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, semua itu dipatahkan dengan cerita yang ia dengar dari Riana mengenai seorang Kim YeonJin. Pria berdarah asli Negara Ginseng tersebut berjuang sekuat tenaga untuk meluluhkan wanita yang dicintainya.
Perbedaan yang begitu kentara di antara keduanya bisa kandas dengan keyakinan Kim YeonJin. Allah menghadirkan hidayah membuatnya menjadi seorang mualaf. Kebaikan serta keseriusan Kim YeonJin membuka mata hati Jasmin jika di luar sana masih ada pria baik yang tengah Allah persiapkan.
"Seperti yang kamu tahu, adikku, Choi Jimin sudah mengaku menyukaimu. Aku sudah mengenalnya dari remaja, dia sosok yang ceria, baik terkadang juga ceroboh. Jimin tipikal pria yang setia dan jika sudah mencintai seorang wanita maka ia akan memberikan perasaan itu sepenuhnya. Ia juga rela banting tulang untuk membahagiakan pasangannya, tetapi seperti yang kita ketahui Yona mantan calon tunangan Jimin mengkhianatinya. Wanita itu pergi bersama pria lain yang lebih mapan dari dia dan memutuskan hubungan mereka begitu saja. Setelah kejadian itu Jimin tidak pernah berhubungan atau jatuh cinta pada wanita manapun. Namun ..." YeonJin menjeda ceritanya. Kedua sudut bibirnya kembali terangkat menatap Jasmin lekat. Ia menautkan dahi bingung dan tidak mengerti, ada perasaan was-was yang mendatangi diri.
Sontak hal tersebut menambah rasa penasaran keduanya. Riana dan Jasmin dengan setia menunggu kelanjutan cerita YeonJin. "Namun, setelah bertemu denganmu ini pertama kalinya aku melihat Jimin bersemangat. Ia mundur bukan berarti menyerah, tetapi ia mengalah dan membiarkan perasaannya pada takdir. Jika memang kalian berjodoh Allah akan mempermudahkan perjalanan tersebut, tapi jika tidak pun pasti akan memberikan pelajaran paling berharga. Kalian berhak bahagia dan menemukan kebahagaan selepas perginya kesakitan," tutur YeonJin panjang lebar.
Jasmin termangu, kata-kata yang baru saja tercetus dari bibir menawan seorang Kim YeonJin orang terdekat dari Choi Jimin terus terngiang. Bak kaset kusut alunan itu mengalun mendamaikan perasaan. Ia menoleh ke arah Riana yang tengah memandangi suaminya dengan lekat.
Ketenangan dan kedamaian seketika menyapanya lekat. "Terima kasih sudah menceritakannya padaku. Sekarang aku hanya bisa membiarkan semuanya berlalu layaknya air mengalir. Allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Aku juga tidak akan memaksakan kehendak dan berharap dia juga mendapatkan kebahagiaannya ... meskipun mungkin itu bukan bersamaku," jawab Jasmin, suaranya semakin pelan dan pelan, dengan cepat Riana menenangkannya.
YeonJin mengangguk dan memandang sang istri yang menggenggam erat kedua tangan Jasmin. "Bismillah, keajaiban pasti mendatangi kalian," benaknya.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Pasangan suami istri tersebut kini tengah menikmati waktu berdua saling mendekap dan bersandar di kepala ranjang. Raksi yang menyebar di tubuh masing-masing memberikan ketenangan akan perasaan yang terus mendera.
"Hmm, apa itu Oppa?" balas Riana mendongak memandangi sang suami.
Selung pipi pun muncul di wajah tampan YeonJin membuat Riana semakin terpesona. Ia semakin merapatkan diri ke tubuh kekar prianya. Ia mengendus dalam-dalam aroma mint yang setiap saat selalu dirindukannya, seperti sebuah candu harum sang suami bisa membuatnya tenang.
"Saat ini Jimin sedang mendalami kepercayaan kita, aku harap dia bisa menyusulku untuk bersyahadat," kata YeonJin lagi.
Riana yang tengah menutup kedua mata seketika kembali membuka kelopaknya. Kedua tangan melingkar erat di perut rata YeonJin pun sedikit mengendur. "Benarkah? MasyaAllah aku senang mendengarnya. Semoga Allah segera memberinya hidayah dan menjadikannya beriman."
YeonJin mengangguk setuju lalu melabuhkan ciuman mendalam di puncak kepala sang istri. Riana mengembangkan senyum dan mendongak lagi untuk bertemu tatap dengannya. Keinginan masing-masing berlabuh dalam sorot mata membuat mereka mendekatkan diri.
Seketika penyatuan pun terjadi, begitu mendalam dan intens. Detikan jam mengalun merdu menemani kebersamaan pasangan sah tersebut. Tidak ada yang lebih menyenangkan selain menghabiskan waktu bersama sang terkasih.
Beberapa saat kemudian mereka pun menjauhkan wajah beberapa senti lalu menyatukan dahi. Tangan kekar YeonJin bertengger nyaman dikedua pipi sang istri seraya tersenyum lebar. Begitu pula dengan Riana yang menautkan jari jemarinya di sana.
"Aku beruntung bisa bertemu denganmu. Tidak henti-hentinya aku mengucap rasa syukur, karena Allah sudah mempertemukan kita dan memberikan Hyun Sik," ucap Riana serak.
"Tidak ada yang paling berharga selain memilikimu, Kaila dan Hyun Sik. Aku sangat bahagia, karena ratu sesungguhnya kini sudah duduk di singgasana hatiku. Kita berhasil membangun istana kebahagiaan bersama, aku sangat mencintaimu," ungkap YeonJin kembali mengungkapkan isi hati.
"Jazakallah khairan, Allah masih memberikan pria terbaik sepertimu untukku yang hanya seorang single parent. Sekarang aku tidak menyesali apa yang sudah berlalu, karena berkatnya aku bisa bersanding denganmu. Saranghae."
YeonJin pun kemudian membubuhkan kecupan hangat di dahinya. Riana menteskan air mata merasakan kehangatan yang begitu mendalam tengah disalurkan sang suami. "Tidak peduli kamu single parent atau bukan, yang jelas kamu wanita paling berharga dalam hidupku. Aku sangat sangat mencintaimu."
Setelah mengatakan itu YeonJin menariknya membuat mereka berbaring. Sedetik kemudian pria itu mendominasi permaian dan mengukung sang istri menggunakan tubuh atletisnya. Gelak tawa pun terdengar nyaring dan lambat laun kesyahduan pun tercipta. Malam itu bulan bersinar terang menemani kebahagiaan pasangan suami istri tersebut.
Cinta pada dasarnya akan bermuara dan menemukan pasangannya berada. Tidak peduli sejauh apa jarak memisahkan, sedalam lautan membentang atau sebanyak bintang di atas langit, jika Allah sudah menentukan takdir untuk bertemu maka jalinan kasih akan menuntunnya. Sampai ridho pun datang untuk melangkah ke jenjang pernikahan dan mengucap janji di hadapan Allah.
Pernikahan sebuah ikatan paling kuat jika berlandaskan pada Allah semata. Hubuangan itu bisa renggang jika di dalamnya jauh dari Sang Pencipta. Maka jalani dan pupuk janji suci tersebut dengan terus beribadah dan mendekatkan diri kepada Pemilik Hati. Allah pasti meridhoi dan memberikan kebahagiaan serta ketenangan dalam rumah tangga. Meskipun terkadang banyak ujian datang menerjang.