
...Sekali pun badai, ombak, hujan datang menerjang, jika kekuatan cinta terikat kuat dan Allah menjadi tujuannya tidak mungkin bisa diluluhlantahkan dengan mudah....
.......
Kini di dalam gedung galeri tersebut, YeonJin dan Riana pun mengadakan jumpa pers untuk meluruskan kejadian yang tdak benar adanya. Wanita berhijab hitam itu sedari tadi terus menunduk menyembunyikan wajahnya. Kedua tangan meremas kuat gamis di pangkuannya. Kini semua panah menuju pada sang suami. Namun, ia pun ikut menjadi pusat perhatian.
Sedari tadi tubuhnya bergetar hebat. Riana, wanita yang selalu mengurung dirinya dari dunia luar sekarang harus dihadapkan pada suatu hal yang paling dibencinya. Ia tahu kejadian yang menimpa suaminya hari ini akibat keberadaannya.
Semua orang yang ada di sana menatap pasangan suami istri itu dengan tatapan keingintahuan. Pertanyaan yang masih mengambang memberikan tanda tanya. Benarkan Kim YeonJin, pria yang pernah menjadi petinggi perusahaan berskandal dengan rumah tangga orang? Mereka semakin penasaran dengan diamnya YeonJin.
Pria bermarga Kim itu pun merasakan kegundahan sang istri dan mantapnya lalu menggenggam tangannya erat. Merasakan kehangatan yang disalurkan suaminya, Riana mengangkat kepala dan menoleh ke samping kanan membalas tatapan sayu itu.
Senyum yang memperlihatkan selung pipitnya seketika membuat ia tenang.
“Kamu tidak usah khawatir. Kita bisa menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Kamu tahu, Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Kamu harus yakin di balik ini pasti ada hikmahnya. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui.”
Tuturnya lembut membuat perasaan Riana berangsung-angsur tenang.
Ia mulai memberanikan diri menoleh ke depan di mana semua pasang mata memandanginya. Bola bulatnya bergulir melihat satu persatu orang yang datang. Ia tahu itu tugas mereka untuk mencari tahu kebenaran. Satu yang pasti, ia harus menemukan dalang dari semua ini. Ketika matanya mengarah ke lukisan abstrak beberapa meter di belakang para wartawan itu, ia melihat seorang pria tengah memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Jas biru dongker serta senyumannya mengingatkan Riana pada seseorang.
Sedetik kemudian tatapan mereka bertemu. Seketika itu juga pria tadi melebarkan senyumannya.
Degg!!
Degup jantung Riana meningkat tajam. Benar apa yang ia khawatirkan selama ini. Mantan suaminya tidak mungkin menghilang begitu saja. Ia berpikir selama mereka tidak bertemu, pria itu pasti merencanakan sesuatu.
"Dan sekarang puncaknya. Arsyid, apa yang kamu inginkan? Ya Allah lindungilah YeonJin, suamiku…" benaknya takut.
Riana tahu Arsyid selalu berbuat nekad. Apapun yang ingin dicapainya harus bisa diraih, bagaimana pun jalannya. Arsyid tidak peduli. Riana semakin takut sekarang.
“Saya tahu kalian semua yang berada di ruangan ini pasti penasaran dengan beberapa pertanyaan tadi. Baiklah untuk mempersingkat waktu saya akan menjawabnya.” Jeda sejenak YeonJin menatap mereka satu persatu hingga irisnya berakhir pada sang istri. “Saya tidak merebut wanita spesial ini dari siapa pun. Saya juga tidak terlibat dalam skandal rumah tangga orang lain. Justru saya berhasil menemukan mutiara di balik perihnya jerami. Kalian tahu, kehidupan ini selalu berputar. Tuhan menghadirkan seseorang dan menghilangkannya dengan tujuan tertentu. Dan pertemuan kita menjadi salah satunya. Terima kasih sudah datang ke tempat ini dan menyapa saya. Hari ini akan tercetak dalam sejarah jika orang yang menyebarkan berita tidak benar itu menjadi waktu terakhirnya menghirup udara bebas.”
Pernyataan YeonJin barusan tentu saja membuat para wartawan itu tidak mengerti.
Mereka saling pandang mencari benang penyambung untuk perkataannya. Begitu pula dengan Riana yang sudah kembali memandangi suaminya. Senyum yang masih terpendar di wajah tampan itu membuatnya mengerutkan kening. Ia tidak memahami apa yang hendak disampikan sang suami. Namun, ada kilatan matanya yang menyiratkan keyakinan. Riana pun melengkungkan kedua sudut bibirnya, yakin.
Ia tahu YeonJin tengah merancang strategi.
“Apa kamu membawa ponsel?” tanyanya kemudian.
Hanya dengan pertanyaan itu saja membuat Riana akhirnya mengerti. Ia pun mengeluarkan benda pipih dalam saku gamisnya lalu menyodorkannya pada YeonJin. Beberapa saat YeonJin tengah berada dalam dunianya sendiri menghiraukan keberadaan kamera yang terus mengawasinya sedari tadi.
Tidak lama kemudian, ia menemukan sesuatu yang bisa membebaskannya dari permasalahan tersebut. Ia semakin melebarkan senyum penuh keyakinan.
“Orang yang ada di belakang pemberitaan ini tidak lain mantan suami istri saya. Saya tidak tahu apa tujuannya mengeluarkan statement ini tapi, yang pasti semua berita itu tidak benar,” lanjut YeonJin kembali.
“Kenapa Anda bisa berbicara seperti itu?”
“Anda sedang tidak berbohong, kan?”
Kembali beberapa pertanyaan lain menghujaninya. YeonJin sedikit pun tidak gentar. Karena dirinya sama sekali tidak bersalah. Dan di saat matanya menghadap ke depan ia pun menangkap bayangan seseorang di sana.
“Bukankah Anda ada di sini, Arsyid?”
Sontak perkataan YeonJin barusan membuat orang-orang yang ada di sana terkejut. Tak terkecuali Riana yang sudah membulatkan kedua matanya.
Para wartawan pun menoleh ke belakang mendapati pria dengan tinggi 179cm itu tengah melipat tangan di depan dada. Kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya menghalangi wajah tampannya. Ia terlihat tidak bersalah sama sekali.
Setelah keberadaannya diketahui, Arsyid pun berjalan beberapa langkah ke depan. “Saya tidak menyebarkan berita tidak baik apapun tentang Kim YeonJin. Semua yang kalian ketahui itu benar adanya. Riana, wanita yang sekarang duduk di sampingnya memang mantan istri saya. Dan dia sudah mempengaruhinya hingga membuat rumah tangga kami berantakan.”
Sungguh fakta dan kenyataan yang dilontaran tidak benar adanya.
Riana naik pitam, tidak sanggup menahan amarah. Sudah cukup pria itu menyakitinya di masa lalu. Ia hanya ingin bahagia dengan kehidupan barunya. Tanpa bayang-bayang mantan suami.
Baru saja Riana beranjak dari duduknya, seorang wanita berambut panjang sepinggang masuk ke dalam gedung. Ia pun melebarkan senyuman seraya menatap mereka satu persatu. Hingga iris kecoklatannya mendarat pada pria itu. Sosok pendamping idaman yang sudah ia ikhlaskan bersama wanita lain.
“Saya Park Hyerin, mantan tunangan Kim YeonJin. Mungkin kalian juga sudah tahu tentang hubungan kami di masa lalu. Lalu, kenapa kalian berdebat tentang masalah ini? Memang hanya salah satu pihak yang mengakhiri hubungan kami, tapi saya sudah merelakan Kim YeonJin. Dan pria itu sama sekali tidak terlibat dalam skandal rumah tangga orang lain.”
Seketika saja kedatangan Hyerin mengejutkan YeonJin, Riana dan juga Arsyid. Pria itu tidak tahu tentang keberadaan Hyerin. Wajahnya menjadi cemas. Ia tidak boleh goyah dengan pendiriannya.
“Bohong. Semua yang dikatakan wanita itu bohong. Saya ini korban. Saya sangat mencintai Riana. Sampai, YeonJin datang dan menjadi orang ketiga.”
Arsyid tetap kukuh pada keyakinannya.
Sungguh akal busuknya semakin menjadi-jadi. “Apa pantas orang yang sudah merusak rumah tangga orang lain menjadi pemimpin perusahaan? Dia pasti akan menjadi contoh yang buruk.” Tunjuk Arsyid pada YeonJin di sana.
Sekarang Riana tahu apa tujuan mantan suaminya ini. Ia pun membawa ponsel yang berada dalam genggaman YeonJin. Ia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Mungkin detik ini juga masa lalunya akan terungkap pada khalayak ramai. Namun, itulah yang terbaik untuk mereka. Ia tidak mau terus melibatkan YeonJin dalam bayang-bayang Arsyid.
Sudah cukup pria itu bebas setelah perlakuan yang tidak baik pada dirinya. Selama ini ia menahan, karena Riana tahu Arsyid adalah ayah dari anaknya. Ia masih punya hati untuk tidak mengurungnya dalam jeruji besi. Ia juga terus berharap Arsyid bisa membuka matanya untuk menemui sang anak.
Memang benar Arysid melakukannya. Namun, bukan sebagai seorang ayah yang baik. Melainkan ada niat terselubung. Tetapi, semakin didiami Arysid malah menjadi-jadi. Riana sudah tidak sanggup lagi. Ia hanya ingin hidup tenang bersama suami barunya.
Kalia juga berhak bahagia tanpa ayah kandungnya sendiri.
Riana masih terdiam menatap semua orang yang ada di sana. Ia gugup merasa tidak sanggup melakukannya. Itu sama saja membuka luka yang berhasil ia jahit. Namun, tidak lama kemudian ada tangan tegap yang menggenggam tangannya hangat.
Ia mendongak ke samping kanan melihat suaminya berada. Senyum yang masih bertengger di bibir kemerahannya memberikan semangat lebih.
“Lakukanlah, aku akan ada di sini bersamamu. Tidak perlu takut. Luka itu harus sepenuhnya menghilang.”
Keyakinan didapatkan. YeonJin seperti sinar mentari yang menerangi kegelapan hatinya.
Riana pun mengangguk yakin dan kembali menghadap ke depan.