
Satu minggu berlalu begitu cepat, setelah kembali ke negara kelahiran sang suami, Riana dan Yeon Jin mendapatkan kejutan tak terduga.
Kedatangan Kim Dae Jun menjadi awal sebuah hilangnya kepelikkan. Yeon Jin tidak menyangka jika sang kakek bisa mengembalikan perusahaannya yang sudah diambil Kim Yeon Sun, ayahnya tidak berperasaan.
Pria yang selalu ia hormati berkali-kali mengkhianati. Dari dulu Yeon Jin sudah kehilangan kasih sayang dari sang ayah, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan sebuah perjuangan.
Ia berjuang sekuat tenaga untuk bisa berdiri di atas kakinya sendiri, dan hasil tidak pernah mengkhianati usaha.
Kim Yeon Jin berhasil membangun perusahaannya, pelukis tersebut bisa membuka galeri nya sendiri. Ia juga tidak menyangka jika selama ini sudah diawasi oleh kakeknya. Entah bagaimana caranya Kim Dae Jun bisa mendapatkan sertifikat perusahaannya, tetapi yang jelas ia menyadari sesuatu. Sang kakek tengah menghukum putranya sendiri.
"Aku bersyukur gedung ini bisa jatuh ke tanganku lagi," ucap Yeon Jin seraya merengkuh hangat pinggang ramping sang istri.
Riana bersandar nyaman di bahu kanan sang suami. Bibir ranumnya melengkung sempurna melihat bangunan tinggi di hadapan mereka.
"Tidak ada yang salah dengan rencana Allah, meskipun di balut dengan kepedihan sekalipun, di baliknya masih terdapat kebaikan. Allah penulis skenario terbaik dan jalan cerita yang diberikannya sungguh luar biasa."
Tutur kata manis nan mendalam dari pasangan hidupnya membuat Yeon Jin mengangguk haru. Ia pun menoleh ke sebelah kanan dan membubuhkan ciuman mendalam di puncak kepala Riana.
Angin musim dingin sama sekali tidak mereka hiraukan. Keduanya berdiri bersama di depan gedung perusahaan melihat keadaan sekitar.
Bersama dengan orang paling dicintai untuk melewati semua hal dalam kehidupan ini memang memberikan kekuatan lain. Baik Riana maupun Yeon Jin, keduanya bersyukur sudah dipertemukan melalui takdir Allah yang luar biasa.
Jalan cerita-Nya terkadang mengandung misteri dan kejutan tak terduga. Karena di balut rasa perih nan pedih, kebahagiaan itu bagaikan suatu hadiah paling mendebarkan.
Kejadian di masa lalu simpan rapat dalam kenangan dan tidak usah diingat lagi. Hal itu mengandung sebuah pembelajaran untuk terus menatapi hidup menjadi lebih baik.
...***...
Setelah melihat keadaan gedung, Yeon Jin membawa Riana ke suatu tempat. Jalanan yang semula dilalui begitu ramai kini perlahan keheningan menyambut.
Di kedua sisi terdapat pohon-pohon besar menjulang tinggi. Aroma hutan pun begitu kentara bersama angin dingin berhembus memberikan kepulan embun menyambut mereka.
Riana menautkan alis tidak mengerti dan diam tanpa bertanya. Ia merasakan pegangan tangan sang suami yang tengah menggenggam jari jemarinya semakin menguat.
Ia sadar jika saat ini Yeon Jin sangat membutuhkan dirinya. Riana pun melakukan hal yang sama guna menyalurkan kekuatan.
Beberapa saat kemudian supir yang membawa mereka pun menepikan mobil di sebuah rumah. Bangunan kayu berlantai satu itu pun menarik perhatian.
"Tuan Muda kita sudah sampai," jelas sang supir.
Yeon Jin mengangguk sekilas lalu membawa Riana keluar dari mobil. Seketika angin dingin menyapu keduanya.
Riana merapatkan syal ke wajah mencegah hawa masuk. Yeon Jin menariknya ke dalam mantel guna menghangatkan tubuh masing-masing.
"Aku minta maaf sudah memintamu menemaniku datang ke sini, udaranya dingin, kan?" ucapnya.
Riana mendongak bersitatap langsung bersama manik kecil sang suami. Bibir semerah cherry itu tersungging mengantarkan rasa manis ke dalam pandangan Yeon Jin.
"Jangan berkata seperti itu, aku senang bisa menemani Oppa ke manapun," ungkapnya masih menyunggingkan senyum.
Tidak kuasa menahan godaan tepat di hadapannya, Yeon Jin memendekkan jarak, menipiskan pasokan oksigen dan terjadilah penyatuan.
Riana melebarkan mata tidak percaya, di tengah dinginnya cuaca siang ini keduanya menikmati sentuhan satu sama lain. Larut dalam dunianya sendiri, Yeon Jin melupakan kegundahan yang sempat melandanya.
Kurang lebih tiga menit mereka saling melempar kesyahduan, Riana melepaskan pautannya dan memandangi manik hangat sang suami.
Sorot mata penuh damba menatapnya lekat, Riana mengulas senyum manis seraya menangkup wajah tampan Kim Yeon Jin.
"Aku tidak tahu apa yang akan Oppa lakukan, tetapi aku yakin ... Oppa bisa melaluinya dengan baik. Karena Allah bersama kita, apa pun yang terjadi pasti ada tujuannya," ucap Riana.
Yeon Jin mengangguk pelan kemudian melepaskan kedua tangan Riana dan mengecupnya bergantian. Tanpa mengatakan sepatah kata ia menarik tangan sang pujaan pelan lalu masuk ke dalam.
Aroma cenda begitu menguar menyapa kedatangan mereka. keadaannya terasa hening dan sepi, Riana menyimpan tanya dalam diamnya.
"Appa, aku datang," ucap Yeon Jin menyadarkan.
Riana mengerti tempat apa itu, pertemuannya dengan Kim Dae Jun telah menjelaskan jika sang mertua tengah diasingkan. Ayah dari suaminya tersebut harus memikirkan semua kesalahan yang pernah diperbuatnya.
Yeon Jin meminta sang kakek untuk tidak mengurungnya dalam jeruji besi, Kim Dae Jun menyanggupi hingga pada akhirnya Kim Yeon Sun diasingkan disebuah pinggiran kota yang jarang terjamah oleh siapa pun.
Bangunan kayu sederhana di tengah-tengah padang luas menyisakan mertuanya sendirian di sana. Ia melihat Yeon Jin terus masuk ke dalam lalu mendapati mertuanya tengah duduk di kursi goyang menatap keluar jendela.
Sang empunya menoleh mendapati putra semata wayangnya, perlahan Yeon Sun beranjak dari duduk dengan manik melebar sempurna.
"A-apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya gugup.
Yeon Jin langsung menerjang tubuh ringkih sang ayah. Punggung tegapnya bergetar menahan tangis dalam diam.
Melihat pertemuan antara ayah dan anak membuat Riana terharu. Ia yang sudah kehilangan orang tua dari usia muda begitu merindukan mereka. Namun, apalah daya ayah dan ibunya sudah pergi jauh.
"Appa, aku minta maaf," ucap Yeon Jin lirih.
"Apa yang kamu katakan? Jangan meminta maaf pada Appa. Di sini kamu tidak salah, Appa yang salah. Appa pantas mendapatkan hukuman ini. Hiduplah berbahagia bersama keluargamu. Kamu semakin baik setelah mendapatkan kepercayaan," ungka Yeon Sun.
Yeon Jin mengangguk beberapa kali seraya mengatakan, "Karena dalam agamaku harus tetap menghormati dan menghargai orang tua, terutama ayah dan ibu. Aku harap setelah ini Appa mendapatkan kehidupan yang lebih baik."
Yeon Sun tidak menduga putranya jauh sangat berbeda. Pikirannya yang lugas, hatinya yang lapang, telah membuka mata jika sebagai ayah dirinya telah memberikan luka teramat dalam.
"Appa, benar-benar minta maaf ... untuk semuanya."
Yeon Jin hanya mengangguk mengiyakan.
Riana ikut menitikkan air mata menyaksikan momen haru tersebut. Ia bangga dan bersyukur bisa mendapatkan suami sebaik serta penyayang seperti Kim Yeon Jin.
"Terima kasih ya Allah, semoga keluarga kami menjadi jauh lebih baik," batinnya.
...***...
Setelah beberapa jam mereka menghabiskan waktu bersama Kim Yeon Sun, Riana dan Yeon Jin memutuskan pulang.
Setibanya di rumah, keduanya dikejutkan oleh beberapa orang yang menyambut kepulangannya. Senyum lebar mendamaikan jiwa melepaskan segala penat dalam dada.
"Mamah, Appa," teriak Kaila seraya berlari kencang menuju sang ayah.
Yeon Jin menyambut kedatangannya dan menggendongnya cepat. Riana mengambil alih Hyun Sik dari Kim Dae Jun yang kembali datang ke kediaman mereka.
"Jasmin, Jimin kalian kembali? Apa bulan madunya sudah selesai?" goda Riana menatap pengantin baru tersebut.
"Dia merindukan tempat ini dan ingin segera bertemu kalian," jawab Jimin sambil merangkul bahu kecil sang istri.
Jasmin merona dan menyikut pelan tulang rusuknya. "Bukannya kamu yang bilang mau bertemu Yeon Jin Oppa?"
"Sayang, sakit," bisik Jimin tanpa mengindahkan ucapannya tadi.
"Kalian berhenti bermesraan di depanku," cela Sarah kemudian.
"Ya Allah, Mbak aku minta maaf," balas Jasmin.
"Bilang saja Mbak iri," lanjut Jimin.
"Yak! Kamu jangan seperti itu pada orang tua." Yeon Jin ikut menimpali.
"MWO?" murka Sarah.
Hal tersebut membuat mereka semua tergelak dan mulai masuk ke dalam rumah.
Riana melihat kebersamaan orang-orang yang dicintainya merasakan hangat dalam dada bertubi-tubi. Perjalanan untuk bisa berada di titiknya sekarang tidaklah mudah.
Ia melalui banyak rintangan yang tidak mudah serta terjal. Sakit, perih, nan pedih menjadi jalan ceritanya saat itu.
Namun, semua sirna kala kesabaran ia tempuh guna melupakan kepelikkan yang terjadi dalam hidup. Tidak ada yang salah dalam memilih pasangan, semua sudah menjadi jalan cerita dari Allah. Karena apa pun yang terjadi Allah pasti akan memberikan yang terbaik.
Ia pun menoleh ke belakang melihat senja hadir menyuguhkan pemandangan memanjakan mata. Senyum hadir membentuk bulan sabit sempurna menggambarkan perasaannya saat ini.
"Sayang, ayo masuk."
Sang suami kembali seraya merangkul bahunya pelan, ia membawa Riana masuk ke rumah mereka.
"Terima kasih ya Allah atas segala kelimpahan rahmat yang telah Engkau berikan," ucapnya.
...SEASON 2 THE END...