
...Ketika perasaan sudah berlabuh pada satu hati, maka tidak bisa digantikan oleh yang lain. Karena cinta sejati tidak bisa didapatkan dengan mudah. Allah memberikan rasa itu di waktu yang tepat....
.......
Pagi-pagi sekali Jimin datang ke kediaman wanita itu. Riana yang baru saja kembali ke apartemen setelah mengantar Kaila menungu bus sekolah harus terusik dengan gedoran di pintunya. Buru-buru ia pun mendatanginya melihat siapa gerangan si pengganggu itu.
Brakk!!
Matanya beradu pandang dengan seseorang di depannya. Riana mengerutkan dahi tidak mengerti melihat tatapan kecemasan yang dilayangkan pria itu.
“Choi Jimin-ssi? Ada apa?” tanyanya tidak mengerti.
“Riana, YeonJin hyung kecelakaan.”
Brukhh!!
Ponsel dalam genggamannya terlepas seketika. Iris jelaganya melebar dengan mulut terbuka. Riana tidak percaya mendengar berita omong kosong Jimin pagi ini.
“Semalam hyung mengalami tabrakan dengan mobil besar. Mobilnya terbalik, dan-dan-dan sekarang hyung ada di rumah sakit belum sadarkan diri, Riana. Aku datang ke sini ingin memberitahumu. Karena aku tahu hyung sangat mencintaimu.”
Pria setegar Jimin berusaha menahan kepedihan. Namun, air mata itu berusaha keras untuk tidak lolos dan akhirnya membuat Jimin menangis dalam diam.
Setelah mendengar penjelasannya, Riana bak patung tidak bergerak sedikit pun. Bola matanya bergulir kesekitaran. Tanpa ia duga keristal bening meluncur bebas di pipinya juga. Ia tidak menyangka Jimin tahu tentang perasaan YeonJin.
Jika sudah seperti ini apa yang dipikirkan Riana?
“Bi-bisakah kamu mengantarkanku ke sana?” pintanya.
Jimin menganggukan kepala. Karena itulah tujuannya datang membawa ia untuk menemui hyungnya. Mereka pun sama-sama pergi ke rumah sakit pusat Seoul.
Sepanjang perjalanan Riana tampak gelisah. Ia merasa khwatir tanpa sebab. Ada ruang dalam hatinya yang menimbulkan perasaan asing. Ia takut. Sungguh dirinya takut saat mendengar berita yang dibawa Jimin ini.
"Ya Allah selamatkanlah YeonJin-ssi, bagaimana pun juga dia sudah sangat baik kepada Kaila," benaknya.
Diam-diam pria itu pun memperhatikan. Senyum terukir di wajah tampan Jimin. Sepertinya ia tahu apa yang belum dipahami Riana.
Beberapa menit kemudian mereka tiba di rumah sakit. Jimin dan Riana pun bergegas menuju lantai 6 tempat Kim YeonJin di rawat.
Ting!!
Pintu lift menyadarkannya dari lamunan.
Langkah demi langkah terasa berat ia lakukan. Di ujung lorong itu pintu bercat putih tertangkap pandangan. Ia tahu jika di dalam YeonJin tengah terbaring tidak berdaya.
“Ayo masuk!” ajak Jimin membuat Riana kelabakan.
Ia mengekorinya seraya menundukan kepala tidak sanggup melihat pria itu. Sampai suara Jimin memaksanya untuk mendongak.
“Lihat, hyung belum sadarkan diri.”
Kini netra jelaganya kembali melebar. Riana ingin menangis sekencang-kencangnya melihat keadaan YeonJin. Perban di kepala, kaki dan tangannya menarik perhatian. Ditambah dengan selang yang terpasang di tubuhnya membuat Riana tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun.
Tanpa mengalihkan tatapannya dari YeonJin, Riana berusaha mengeluarkan suaranya. “A-aku tidak tahu,” hanya itu yang bisa ia katakan.
“Aku harap kamu bisa memahami perasaan hyung. Sebelum datang ke apartemenmu, aku membereskan barang-barang hyung di rumahnya. Dan aku menemukan ini.” Jimin pun menyodorkan beberapa lukisan kecil.
Riana menoleh dan menerimanya. “Hyung rela kehilangan semua hartanya untuk bisa bersamamu. Bahkan dia juga sudah menggagalkan pernikahannya dengan Hyerin. Aku juga tahu jika dia rela hujan-hujannya untuk menunggumu. Aku titip hyung, ada hal yang harus dibereskan dulu.” Jimin pun melangkahkan kakinya dari sana.
Perkataannya tadi masih terngiang jelas dalam pendengaran. Riana tidak menyangka YeonJin bisa melakukan hal itu. Bagaikan diiris-iris pisau tak kasat mata, Riana merasakan perih dalam hatinya. Namun, sekarang karena hal lain.
...***...
Tidak lama berselang, Riana keluar dari ruangan dan duduk di kursi tunggu. Keadaan di lorong itu sepi tanpa ada seorang pun terlihat. Dalam diam, ia melihat kelima lukisan yang diberikan Jimin tadi. Netra jelaganya memperhatikan gambar demi gambar yang dituangkan oleh YeonJin.
Dalam salah satu lukisan itu, ia melihat senja dan seorang wanita yang tengah membelakanginya. Wanita itu mengenakan penutup kepala sama seperti yang dikenakannya sekarang. Ia pun membalikannya dan terkejut saat melihat tulisan tangan di sana.
“Senja mengajarkanku arti penantian. Keindahannya sama seperti wanita itu. Riana. Kecantikannya hanya terlihat oleh orang yang bisa memahaminya. Aku tidak tahu kenapa perasaan itu tiba-tiba saja datang. Ini bukanlah sebuah kebetulan, semuanya sudah menjadi rencana Tuhan. Riana, jika kamu melihat luksian ini aku harap kamu bisa memahami perasaanku. Aku benar-benar mencintaimu. Aku tidak peduli dengan statusmu. Yang jelas aku juga sangat menyayangi Kaila. Aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku ingin membahagiakanmu. Sama seperti senja, kamu indah dengan apa yang ada dalam dirimu.”
Air mata mengalir tak tertahankan. Riana menangis sesenggukan mengamati kata demi kata yang tertuang di sana. Ia merasakan ketulusan seorang Kim YeonJin. Pria itu ikhlas dalam mencintainya tanpa melihat apapun.
Dia tidak peduli dengan status Riana saat ini.
“Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Apa hamba berhak mendapatkan perasaannya? Aku merasa tidak pantas. YeonJin-ssi pria yang sangat baik, tapi kenyataannya kita tidak bisa bersama. Aku dan dia berbeda.” Gumamnya seraya terus menangis.
Tidak lama setelah itu ia melihat dokter dan beberapa suster berlarian masuk ke ruangan YeonJin. Dirasa ada yang tidak beres Riana pun mengikutinya. Seketika iris bulannya melebar melihat keadaannya.
Pria itu kejang-kejang membuat semua tim medis pun kepanikan.
Tittt…!!
Suara dari monitor pendeteksi jantung memperlihatkan garis lurus. Riana menegang di tempat seraya tubuhnya bergetar hebat. Kepala berhijab merah itu menggeleng beberapa kali tidak percaya.
“Ti-tidak ini tidak boleh terjadi. Ki-kim Ye-YeonJin-ssi. YeonJin-ssi... YeonJin … tidak… kamu tidak boleh pergi.” Riana berjalan mendekati ranjangnya.
Melihat kedatangan wanita berhijab itu, seorang suster wanita menarik dan mencegahnya untuk mendekati sang pasien. Riana pun tidak bisa menerima dan terus memberontak. Keristal bening itu kembali meluncur bebas di kedua pipinya.
Riana baru menyadari jika orang yang selama ini tulus mencintai dan menyayanginya adalah Kim YeonJin. Seseorang yang tidak diharapkan kedatangannya. Pria berjiwa besar, pemilik senyum termanis dengan selung pipit di pipinya telah merobohkan pertahanan Riana.
Gembok hatinya yang semula tidak bisa dibuka, kini perlahan hancur dengan sendirinya.
“Maaf Nona, Anda tidak bisa mendekati pasien.”
Berkali-kali suster itu memperingati.
Namun, Riana tidak peduli dan berusaha mencapai ranjang Kim YeonJin. Sampai suster lain pun ikut turun tangan mencegahnya.
"Aku mohon bangunlah. Aku mohon bukalah matamu, jangan pergi. Jangan tinggalkan Kaila. Kim YeonJin, mianhae. Aku tidak pernah menghargai perasaanmu. Aku mohon….. aku mohon kembalilah. Ya Allah hamba mohon berikanlah kesempatan pada hamba untuk memperbaiki semuanya. Sembuhkanlah Kim YeonJin, kembalikan dia…"
Harapannya tercekat dalam ucapan tak bersua.