QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bertemu (Season 2)



Tiga haru berlalu setelah Kim YeonJin mengatakan jika sang ayah kembali pada kehidupannya, selama itu pula kehidupannya dirundung gelisah. Namun, YeonJin berusaha berpikir positif jika apapun yang terjadi sudah menjadi kehendak Yang Di Atas. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk setiap hamba-Nya. Baik dan buruk sudah menjadi bagian dari rencana-Nya.


Angin musim gugur perlahan menggetarkan perasaan gelisah. Udara yang cukup dingin membuat ibu dua anak itu merapatkan mantel coklatnya. Siang ini Riana yang tengah menggendong Hyun Sik bermaksud untuk menjemput Kaila.


Sudah lama ia tidak melakukan tugas tersebut dikarena sang putri yang tidak ingin dijemput. Namun, hari ini ia ingin mengejutkannya dan membawa kedua buah hatinya jalan-jalan.


Beberapa saat berlalu, taksi yang ditumpanginya sudah tiba di depan gedung sekolah Kaila. Baru saja ia menapakan kaki, seorang pria berperawakan tinggi tegap tersenyum penuh makna padanya. Riana mengerutkan kening kala perhatian pria paruh baya tersebut memang mengarah padanya.


"Permisi, apa ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya Riana hati-hati.


Pria itu pun lalu melepaskan topi dan juga kacamata hitamnya. Seketika iris Riana melebar kala aura sosok di hadapannya mirip sang suami. Terutama bentuk wajah dan juga mata tajamnya.


"Perkenalkan saya Kim YeonSun, dari caramu memandang sepertinya kamu sudah tahu siapa saya."


Dengan angkuh pria itu membalas tatapan Riana. Wanita itu hanya mengangguk samar dan berusaha menenangkan diri. Lama ia tidak mengetahui bagaimana rupa ayah dari sang suami dan kini waktu mempertemukan. Riana seperti melihat Kim YeonJin dengan versi berbeda.


"Anda ayah dari suami saya, Kim YeonJin?" tanyanya memastikan.


Kim YeonSun mengangguk cepat membuat Riana menegang. Ini pertama kali ia berhadapan langsung dengan sang ayah mertua.


"Ada yang ingin saya katakan, bisa kita bicara sebentar?"


Tanpa bisa menolak Riana mengangguk singkat dan mengikuti ke mana YeonSun membawanya. Ia melupakan niat awal untuk menjemput Kaila dan semakin mengeratkan pelukannya pada Hyun Sik. Bayi berumur 4 bulan itu tertidur nyenyak dalam gendongan sang ibu.


...***...


Jam sudah menunjukan pukul setengah 4 sore. Kaila yang tengah bergandengan tangan dengan Jasmin berjalan beriringan keluar gedung sekolah. Mobil hitam mewah berhenti di depan gerbang membuat keduanya menghentikan langkah.


Dari dalam kendaraan tersebut sang pengemudi tengah sibuk dengan benda pintarnya. Ocehan demi ocehan pun terdengar nyaring meluapkan sedikit kekesalan.


"Dasar hyung itu selalu saja seenaknya menyuruhku. Jika bukan karena atasan dan juga keluarga aku pasti sudah menolak. Baiklah, Kaila paman dat-" ucapannya seketika terhenti dengan gerakan tangan mengambang di udara.


Baru saja ia hendak membuka pintu mobil netranya memandangi sang ponakan bersama wanita berhijab lebar. Tanpa bisa dikendalikan degup jantung bertalu kencang. Ia tidak percaya bisa bertemu dengannya lagi dengan cara yang mendebarkan.


Mau tidak mau ia pun menampakan diri.


"Paman Jimin," teriakan Kaila mengejutkan keduanya.


Jimin memandangnya bergantian dengan seseorang yang berdiri di samping Kaila. "Paman datang menjemputku?" tanya gadis kecil itu langsung.


Jimin yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya mengangguk kaku tidak tahu harus bereaksi seperti apa di hadapan Jasmin.


"Eonni, ayo pulang bersamaku. Paman Jimin akan mengantarkan kita. Iya kan paman?"


Sekilas Kaila memandang ke arah Jimin lalu mendongak menatap sepasang manik yang tengah menatap ke bawah.


"E-eehh, tidak usah Kaila. Nanti merepotkan, eonni baik-baik saja. Kaila pulanglah lebih dulu."


"Kaila, Sayang jangan memaksa. Jasmin eonni sepertinya tidak mau pulang bersama kita."


Perkataan Jimin membuat pergerakan kedua wanita berbeda usia tersebut terhenti. Mereka memandanginya dengan lekat mengantarkan kecanggungan dan juga ketakutan pada diri Jimin. Apa aku salah bicara? Pikirnya.


"Aku terlihat menyebalkan, tapi aku juga tidak bisa pergi bersamanya. Meskipun ada Kaila," batin Jasmin kembali memandangi anak didiknya.


"Benarkah begitu eonni?"


Kaila kembali mendongak memperhatikan Jasmin yang tersesat dalam lamunan. Kedua alis tegas saling berpautan erat menunggu tidak ada reaksi apapun dari wanita itu. Kaila lalu menggoyangkan tangannya lagi dan kembali memanggil dengan keras.


"Eonni Jasmin!!"


Jasmin terperangah seraya menarik diri dari alam bawah sadarnya. Netra jelaga itu memandang ke dalam manik hitam Kaila. Bibir semerah cerinya mengerucut kecil membuat sang gadis kecil sangat cantik dan imut.


"Yah, Sayang?!" tanya Jasmin kikuk.


"Paman Jimin akan mengantar kita pulang, apa eonni tidak mau? Jika eonni tidak mau juga tidak apa. Kaila tetap akan pulang bersama eonni."


Senyum lembut hadir menutupi kekecewaan dalam wajah ayunya. Jasmin tersentuh dengan kebaikan Kaila. Meskipun masih berusia sangat belia, tetapi anak itu punya pemikiran yang luas. Kaila mampu membaca situasi dan perasaan seseorang.


Teh Riana mendidik Kaila dengan sangat baik, pikirnya.


"Baiklah, eonni mau."


Final Jasmin mengalah dan tidak mau membuatnya sedih. "Setidaknya ada Kaila di antara kita," benaknya kemudian.


Kini giliran Jimin terkejut mendengar jawaban Jasmin, tidak menyangka jika wanita itu akan menyetujuinya.


Tidak lama berselang mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan gedung sekolah. Sepanjang perjalanan terdengar celotehan yang keluar dari Jasmin dan Kaila di jok belakang. Sesekali Jimin melirik ke atas kaca spion melihat ekspresi yang berubah-ubah dari wajah cantik Jasmin.


Sesuatu dalam dada kembali memberontak ingin diakui. Ini kedua kalinya ia bertemu dengan Jasmin. Selama hidup 27 tahun lamanya baru sekarang Jimin merasakan perasaan berbeda jika bersama lawan jenis.


Ia pernah memiliki kekasih dan menjalin hubungan selama hampir 4 tahun lamanya. Bahkan mereka pun sempat berencana untuk ke jenjang pernikahan. Namun, ternyata takdir berkata lain. Dua tahun lalu ia mendapati sang pujaan hati terjerat pesona pria kaya dan dengan tega meninggalkannya.


Setelah hubungan itu kandas Jimin lebih memilih untuk fokus kepada karier. Ia mengesampingkan dulu tentang urusan menikah. Baginya pernikahan adalah sebuah komitmen yang dijalani seumur hidup. Jimin tidak mau mengambil resiko itu bersama seseorang yang salah.


Tetapi, setelah kesendiriannya selama ini ia bertemu dengan seorang wanita yang jauh dari pikirannya. Ia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang menutup diri dari ujung kaki sampai kepala. Bahkan sehelai rambut saja pun tidak nampak darinya.


Wanita itu entah kenapa sudah menarik dunianya begitu saja. Meskipun mereka baru bertemu, tapi seperti sudah ada tali tak kasat mata mengikatnya untuk tertarik pada Jasmin.


"Apa yang salah denganku? Kenapa jantung ini berdebar hanya dengan melihat senyumannya? Ya Tuhan, apa yang kurasakan sekarang? Apa benar itu cinta?" monolognya dalam diam.


Mobil membelah angin siang mengantarkan pada angkasa jika sebuah perasaan bisa datang pada siapa saja yang dikehendakinya dan untuk mengatasi hal itu serahkan semuanya pada Yang Di Atas. Allah tahu yang terbaik bagi setiap hamba-Nya.