
Aroma kebahagiaan terus menguar dalam keluarga Kim satu ini. Pernikahan yang baru seumur jagung tersebut bertambah dengan kedatangan malaikat kecil bernama Kim Hyun Sik atau Muhammad Asraf Dhaifullah. Bayi laki-laki yang kini beranjak besar menambah keharmonisan mereka.
Kaila Humairah, putri pertama dari Riana pun tumbuh menjadi gadis yang sangat mandiri. Ia pun kini duduk di bangku sekolah dasar tanpa kasih sayang dari ayah kandung. Beruntung ia dipertemukan dengan Kim YeonJin yang menganggapnya sebagai buah hatinya sendiri. Kaila maupun Riana bersyukur akan waktu yang memberikan takdir pertemuan mereka.
Benang merah telah mengikat keduanya dalam ikatan janji suci pernikahan. Lika liku perjalanan rumah tangga sudah dikecap Riana dan YeonJin bersama-sama. Bagaimana mereka jatuh bangun dalam mempertahankan kehidupan yang terus berjalan.
Malam ini langit terlihat sangat indah. Bulan bersinar terang dengan bintang bertaburan. Sesekali angin masuk melaui celah jendela. Dikeheningan itu sepeasang suami istri yang saling mencintai berbaring bersama di tempat tidur.
Senyum membingkai wajah keduanya. Riana dan YeonJin bersyukur dengan perjalanan hidup yang sudah Allah berikan.
"Aku sangat bersyukur bisa mendapatkanmu, Sayang." YeonJin memulai aksinya dengan membelai kepala sang istri hangat yang tengah menghadap padanya.
Bulan sabit sempurna terpendar di bibir ranum Riana merasakan begitu nyaman dalam setiap sentuhan yang suaminya berikan. "Aku pun demikian. Terima kasih, karena mau menerimaku dan Kaila. Oppa, tahu sendiri jika aku seorag single parent yang mana bisa dipandang sebelah mata oleh orang lain. Tapi aku sangat sangat bersyukur Allah mempertemukan kita."
"Jangan berkata seperti itu, Sayang aku menerimamu apa adanya, status hanyalah identitas diri yang bisa dirubah kapan saja. Karena itu aku menikahimu. Aku sangat ingin membahagiakanmu dengan caraku yang sudah Allah pilihkan."
Tanpa terasa air mata mengalir tak tertahankan. Kedua sudut bibir menawan Kim YeonJin melengkung seraya tangan tegapnya terulur mengusap cairan bening di wajah cantik sang istri. Ia tahu seperti apa perasaan yang tengah menempati hati terdalam Riana.
"Jangan menangis, Sayang. Aku memang tidak punya apapun untuk kuberikan padamu. Tetapi, aku punya perasaan yang siap kuberikan sepenuhnya untukmu. Aku tidak butuh harta yang banyak, yang aku butuhkan hanyalah kamu dan anak-anak terus berada di kehidupanku."
Kata-kata manis yang keluar dari mulut sang suami membuat keristal bening itu mengalir tanpa henti. Riana menganggukan kepalanya beberapa kali merasakan ketulusan pria bermarga Kim ini.
Riana yang sempat tidak percaya lagi akan cinta berhasil diluluhkan dengan keteguhannya. Pria itu mampu mendobrak pintu yang sudah lama tertutup rapat. Gembok yang mengunci hatinya erat bisa dibuka dengan perjuangan seorang Kim YeonJin.
Mereka sama-sama korban akibat keegoisan dan dipertemukan dengan sebuah perasaan. Hingga cinta mengikatnya dalam janji suci pernikahan.
Karena Allah tidak pernah salah memberikan kebaikan selepas perginya cobaan yang Ia berikan.
Riana tidak pernah melepaskan rasa syukur sebagai pengingat akan masa lalu.
"Terima kasih, aku sangat mencintaimu."
YeonJin tersenyum sangat lebar mendengar suara lirih nan lembut sang istri. Ia lalu membawa tubuh lemahnya ke dalam pelukan hangat. Di dada bidang suaminya, Riana menangis tanpa henti dan membalas pelukan prianya tak kalah erat.
Berkali-kali YeonJin memberikan kecupan hangat di puncak kepala Riana lalu mengusap punggung wanitanya dengan lembut. Diperlakukan sangat manis seperti itu memberikan kelegaan dalam hati Riana begitu kuat. Ia sangat sangat bersyukur bisa dipersunting oleh pria baik, Kim YeonJin.
Malam itu mereka menghabiskan waktu dengan saling berbagi kehangatan satu sama lain. Kebahagiaan akan terus tercatat dalam sejarah kehidupan Riana dan Kim YeonJin. Dua insan yang semula tidak saling mengenal, dipertemukan oleh takdir. Jika Allah sudah berencana maka skenario-Nyalah yang akan berbicara.
...***...
Hari libur dimanfaatkan oleh Kim YeonJin dan Riana untuk mengajak buah hati mereka jalan-jalan. Taman kota menjadi pilihan keduanya. Setelah shalat subuh berjamaah Riana sibuk menyiapkan keperluan untuk piknik mereka dibantu oleh Kaila dan YeonJin bergegas memandikan sang putra.
Jam sudah menunjukan pukul setengah 10, mereka tiba di tempat tujuan. Kepala keluarga Kim tersebut pun langsung menggelar tikar untuk tempat duduk istri dan kedua anaknya.
Satu persatu kotak bekal makan siang tersaji di atas tikar. Berbagai macam masakan nampak menggiurkan membuat YeonJin dan sang putri Kaila tidak sabar untuk menyantapnya. Riana yang tengah menggendong Hyun Sik tergelak melihat kelakuan suami dan anak pertamanya.
"Kaila senang sekali, akhirnya kita bisa pergi piknik bersama. Terima kasih mamah appa," ucap Kaila seraya memandangi kedua orang tuanya.
"Apapun untukmu, Sayang." Balas YeonJin memberikan kecupan hangat di puncak kepala Kaila.
"Maafkan mamah yah, Sayang. Dulu tidak sempat membawamu pergi jalan-jalan seperti ini," timpal Riana membuat Kaila menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa, Mah Kaila mengerti. Karena mamah sibuk bekerja mencari uang untuk Kaila." Senyum lebar membingkai wajah imut gadis kecil itu.
Riana berkaca-kaca mendengar penuturan buah hatinya. Berkali-kali ia selalu mengucap rasa syukur atas kemandirian Kaila. Yeon Jin pun turut melengkungkan bulan sabitnya mengerti dengan masa lalu sang istri.
"Mulai sekarang kita akan terus bersama-sama. Appa menyayangi kalian semua." Jujur Yeon Jin kemudian menatap Riana dengan hangat.
Wanita itu menganggukan kepalanya singkat karena manisnya kebahagiaan kini tengah dikecap. Satu persatu luka lama menghilang berganti senyum keceriaan. Riana tidak pernah menyangka akan kembali mendapatkan keluarga kecil seperti sekarang. Ditambah dengan keberadaan Kim Hyun Sik lengkap sudah mimpi indah yang pernah ia harapkan dulu.
Allah menghadirkan Kim YeonJin untuk membasuh lukanya yang dalam. Tidak ada yang salah dengan sebuah perasaan. Ia hadir dalam bentuk cinta kasih yang Allah berikan untuk setiap insan perasa. Hanya bagaimana kita mengaplikasinya, sesuai dengan syariat Allah dan mendapatkan pahala yang luar biasa atau malah sebaliknya.
Riana mendongak melihat langit biru cerah siang ini. Senyum di bibir ranumnya melebar merasakan damai luar biasa dalam dadanya.
"Terima kasih ya Allah atas kelimpahan rahmat yang telah Engkau berikan pada hamba," benaknya.
Beberapa saat kemudian Riana memutuskan untuk pergi ke toilet. Ia menitipkan kedua buah hatinya pada Kim YeonJin. Setelah urusan pribadinya selesai Riana bergegas kembali ke tempat keluarganya berada. Namun, baru saja keluar tanpa sengaja ia menabrak seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Riana menundukan pandangannya dari orang di hadapannya.
Pria paruh baya yang tengah mengenakan topi dan kacamata hitam menatap lekat pada Riana. Seulas senyum terpendar di wajah bermaskernya menyiratkan sebuah arti mendalam. Entah apa yang berada dalam benaknya membuat Riana penasaran karena tidak ada balasan apapun.
Wanita itu mendongak dan melihat seseorang di hadapannya.
"Se-sekali lagi saya minta maaf," gugup Riana karena sudah bersentuhan yang bukan mahrom.
"Tidak apa," balas pria itu singkat.
"Kalau begitu saya permisi."
Riana pun angkat kaki dari hadapannya, pria tadi menoleh ke belakang memperhatikannya dalam diam.
"Sepertinya, aku harus mulai bergerak," benaknya kemudian.