
Kembali ke rumah tidak pernah seberat itu Riana rasakan. Bangunan bercat putih tertangkap pandangan membuat ia terpaku di pekarangan. Langit sudah menapakan kegelapan tanpa ada bintang maupun bulan sebagai penghias. Awan kelam hadir mengundang gemuruh yang mendatangkan rintik air perlahan turun membasahi bumi.
Guntur saling bersahutan berlomba-lomba dengan cahaya kilat menyambar. Buru-buru Riana masuk ke dalam rumah dan membersihkan air hujan menempel di bajunya. Ia berdiri membelakangi pintu masuk dan memandang ke seluruh penjuru ruangan.
Sudah hampir dua tahun lamanya ia tinggal di sana bersama sang suami dan juga anak-anaknya. Selama itu pula ia benar-benar merasakan kebahagiaan tanpa mengkhawatirkan apa pun. Namun, kini ia sadar jika tidak akan selamanya senyum terus mengembang, terkadang kepedihan datang untuk menyadarkan.
Suara rintikan air hujan menjadi simfoni merdu mengantarkan bayangan demi bayangan yang pernah terlewati. Hari-hari yang sudah ia lalui bersama keluarga kecilnya mengundang lengkungan bulan sabit sempurna, perasaan mendebarkan serta kebahagiaan mengantarkan keharuan.
Setetes keristal bening jatuh dan mendarat di lantai marmer, Riana terlalu terlena akan kesenangan semu tanpa mempersiapkan diri akan datangnya musibah.
Allah menghadirkan cobaan berupa rasa sakit bukan sebab membenci, tapi Allah sayang. Karena Allah ingin melihat kesungguhan setiap hamba-Nya. Setelah ujian itu hilang Allah akan menggantinya dengan kebahagiaan yang tak terlupakan.
Kehidupan seperti roda berputar, kadang berada di atas ataupun di bawah dan selamanya akan seperti itu, sampai Allah menentukan waktunya. Masa yang akan datang harus mempersiapkan diri dengan matang. Tidak salah mengecap manisnya kebahagiaan, tapi jangan melupakan kesakitan yang kapan saja bisa datang. Syukuri apa yang sudah Allah berikan dan jalani ketentuan dari-Nya.
Kehampaan dan kecemasan seketika memukul cepat, Riana berjongkok menyembunyikan wajah berairnya di atas lutut. Isak tangis pun terdengar memilukan, sebagai seorang ibu dan istri kini ia tengah berada di ambang kebimbangan.
Beberapa saat kemudian ia pun membersihkan diri siap untuk menyambut keluarga kecilnya. Kim Hyun Sik yang masih berumur setengah tahun tengah dibawa sang ayah menjadikan rumah terasa sepi dan kosong. Riana merasakan kepedihan masa lalu kembali merenggut kebahagiaannya.
"Sayang."
Suara baritone menyadarkannya dari lamunan, Riana yang tengah melipat tangan di depan dada seraya memandang ke arah luar lewat jendela besar di kamar menoleh ke belakang mendapati sang suami. Senyum yang mengembang di wajah tampannya meruntuhkan pertahanan.
Ia berlari lalu menerjang tubuh tegap Kim YeonJin.
"Ada apa, hmm? Kenapa kamu memelukku seperti ini?" tanya kepala Kim tersebut.
Riana menggeleng perlahan dan menenggelamkan kepala di dada bidang suaminya.
"Tidak, aku hanya merindukanmu saja," dustanya.
YeonJin semakin mengembangkan kedua celah bibir kemerahannya. Perasaan hangat menyapa memberikan kesenangan tersendiri dalam dada, ia pun membalas pelukan sang istri dan menghujami kecupan kasih sayang di puncak kepalanya.
"Benarkah? Baru beberapa jam aku tidak ada di rumah, kamu sudah merindukanku?" tanya YeonJin lagi mencoba menggoda.
Riana pun mengangguk cepat membuat YeonJin tercenang. Baru kali ini ia melihat istrinya manja tidak seperti biasanya. Namun, hal tersebut membuatnya sangat bahagia, pada akhirnya Riana bisa bersandar padanya.
"Aku juga sangat merindukanmu. Tetaplah bersamaku dan kedua anak kita."
Manik kecoklatan Riana melebar sempurna, kata-kata yang tercetus dari mulut sang suami membuatnya bimbang. Di satu sisi ia tidak ingin kehilangan momen berharganya bersama keluarga kecil mereka, tetapi di sisi lain ia tidak bisa melihat air mata sang putri.
"Ya Allah, berikanlah kesabaran dan ketabahan pada hamba. Hamba percaya apa pun yang Engkau berikan itu yang terbaik," benaknya.
...***...
Jam sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam, Riana kembali mendatangi kamar Kaila. Ruangan berbentuk segiempat dengan nuansa putih pink itu mengembangkan senyum di wajah ayunya. Di sana sang anak tengah duduk di meja belajar mengerjakan tugas sekolah.
Kedatangan Riana membuat Kaila terkejut dan buru-buru menunduk dalam menghindari tatapan. Rasa bersalah dan ketakutan menguasai, kala hari ini ia sudah mengecewakan sang ibu, bertengkar dengan anak laki-laki pasti memberikan masalah, pikirnya.
"Sayang."
"Lihat Mamah, Sayang," pinta Riana.
Namun, Kaila menggeleng singkat, Riana membawa kedua tangan putri kecilnya dan mendekapnya di dada.
"Mamah mohon," pintanya lagi dengan sangat.
Tidak kuasa mendengar Riana terus memohon, Kaila pun menoleh melihat sorot mata hangat memandanginya lekat. Seketika kedua iris melebar dengan degup jantung bertalu kencang, ia tidak sanggup menatap ibunya terlalu lama.
Kaila hendak kembali menundukan pandangan, sebelum itu terjadi Riana lebih dulu menangkup kedua pipi gembilnya dan memaksa ia untuk kembali saling tatap.
"Mamah minta maaf."
"Eh! Kenapa Mamah minta maaf? Seharusnya aku yang meminta maaf, karena sudah mengecewakan Mamah. Aku seharusnya bisa menahan diri untuk tidak berkelahi dan memberikan masalah. Aku minta maaf, Mah," ujar Kaila, air mata tidak bisa dibendung jatuh begitu saja.
Riana tersenyum simpul dan menghapus keritasl bening di pipi sang anak. Ia tahu begitu berat kenyataan yang harus dipikul Kaila disaat anak-anak seusianya tengah bermain dengan bebas, tapi ia dibeban pikiran.
"Mamah mengerti, Kaila tidak usah meminta maaf. Mamah yang seharusnya minta maaf, sudah membuat Kaila kecewa dan menyembunyikan kebenaran tentang ayah. Dulu, kamu terlalu kecil untuk mengerti keadaan kita. Sekarang Mamah yakin, kamu sudah mengerti bagaimana keluarga kita."
Riana memandangi wajah cantik Kaila yang mirip mantan suami. Irsyad, menurunkan hampir semua gen dalam diri buah hati mereka. Ia tidak bisa membencinya, karena bagaimanapun juga cinta pernah ada untuk pria itu, meskipun Irsyad dulu tidak menginginkan kehadiran Kaila, tetapi sekarang keadaan sudah jauh lebih baik.
Namun, tetap saja kebaikan tidak akan selamanya melekat pada mereka. Ujian lain datang dari orang yang tidak disangka-sangka, mertuanya, Kim YeonSun telah melukai perasaan sang putri.
"Mamah mau bertanya sesuatu pada Kaila, boleh?"
Kaila mengangguk beberapa kali.
Riana menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan lalu kembali menampilkan senyum seolah semua baik-baik saja.
"Apa Kaila senang tinggal di sini?"
Kaila tercengang, tidak menyangka jika sang ibu bisa mengajukan pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Kepala bersurai hitam lembut itu pun menunduk perlahan menahan kepedihan dalam tubuh mungilnya. Ia tidak bisa memuat ibunya terus kecewa.
"Iya, Kaila senang," jawabnya disertai seulas senyum.
Riana memandangi kedua irisnya dalam, ada kebohongan yang tidak bisa disembunyikan. Ia menggenggam tangan Kaila erat menyalurkan kekuatan.
"Benarkah? Sayang, Mamah tidak pernah mengajarimu untuk berbohong, kan? Bagaimana dengan sekolah? Apa teman-teman sekelas memperlakukanmu dengan baik? Jawab Mamah dengan jujur, Sayang."
Kembali Kaila tercenang mendengar perkataan sang ibu. Air mata terus menerus mengalir tanpa bisa ditahan. Riana pun langsung membawanya ke dalam pelukan, seketika itu juga tangisannya pecah mengema dalam ruangan.
"Kaila tidak bermaksud mengecewakan Mamah. Selama ini Kaila senang bisa tinggal di sini, tapi setelah tahu kenyataannya........Kaila tidak mau tinggal di sini lagi. Teman-teman menjauhiku, karena tahu aku anak seorang penjahat. Dan aku........aku tidak mau membebani Hyun Sik appa. Ayo, pulang ke Indonesia, Mah."
Suara tercekat malaikat kecilnya memberikan pukulan telak, rasa sakit terus menerus datang mengundang kebimbangan. Riana pun kembali menangis seraya terus mengusap punggung Kaila pelan menyalurkan kekuatan, sebagai seorang ibu yang selama ini sudah membesarkannya sendirian, ia tidak bisa melihat air mata kesedihan mengalir di pipinya.
"Mamah mengerti, Sayang."
Malam itu Riana pun mengambil keputusan yang merubah kehidupan bahagia keluarga kecilnya selama ini.