
...Bayangan tidak selalu mengikuti ke mana kita pergi. Dia akan menghilang saat kita berada di tempat gelap. Karena itulah kita harus kuat meskipun berdiri sendirian....
.......
Kembali ke rumah itu membuat Riana enggan untuk menginjakan kakinya. Sudah hampir 10 menit ia diam di seberangnya. Berkali-kali pengendara sepeda motor menatapnya heran. Apa mereka tidak mencurigainya? Wanita itu tidak peduli. Ia ragu untuk datang dan melakukan pekerjaannya hari ini.
“Riana?”
Pertanyaan dari seseorang dari arah samping membuatnya menoleh cepat. Netranya melebar melihat wanita itu.
“Hye-hyerin?!"
“Sedang apa kamu di sini? Kenapa tidak masuk? Eyy jangan bilang kamu mau bolos bekerja.” Tunjuknya tepat mengenai sasaran.
Bola matanya langsung bergulir ke sembarang tempat menghindari tatapan Hyerin. Senyum ramah pun terbit di bibir ranumnya. Tanpa mendengar jawaban Riana, Hyerin pun menggandeng tangannya lalu membawanya masuk ke bangunan megah itu.
Riana terkejut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Tidak lama kemudian mereka tiba di sana. YeonJin yang tengah menikmati segelas kopi di ruang keluarga hampir saja menjatuhkannya saat melihat kedatangan mereka. Bagaimana mungkin Riana bisa bersama Hyerin? Pertanyaan itu terlihat jelas dari sorot matanya.
Hyerin pun melepaskan gandengannya dan duduk begitu saja di samping YeonJin.
“Tadi aku bertemu Riana di depan. Dia sedang melamun, entah apa yang sedang dipikirkannya sampai seperti itu,” jelasnya begitu saja.
Sontak hal tersebut membuat Riana gelagapan dan berusaha untuk tidak melihat ke arahnya. “Kalau begitu saya permisi dulu.” Ia pun melarikan diri dari sana tidak sanggup melihat pria itu.
YeonJin tahu apa yang tersembunyi dalam hati Riana. Kedua mata bengkaknya sudah menjelaskan semuanya, jika semalaman wanita itu menangis tanpa henti.
"Pasti berat bagi Riana menjalani ini semua," benak YeonJin tidak menghiraukan keberadaan sang tunangan.
...***...
Di saat Riana tengah sibuk dengan pekerjaannya, YeonJin datang seraya membawakan segelas teh hangat. Melihat kedatangannya, Riana langsung gelagapan. Ia tidak mau keberadaannya di sana membuat salah paham, terlebih sekarang ada Hyerin. Ia takut menambah masalah.
“Lebih baik Anda segera kembali.” Tuturnya membuat YeonJin melengkungkan bibir. Namun, sepertinya ia tidak peduli dan malah duduk di depannya begitu saja.
Riana tidak mengalihkan tatapannya dari kertas dan berusaha berkonsentrasi. Meskipun dari tadi ia merasakan gugup luar biasa dan hal itu tertangkap netra kecil YeonJin.
“Aku sebenarnya mau mengembalikan ini kemarin. Dan tidak sengaja melihatmu dengan pria itu. Aku minta maaf sudah berkata yang tidak-tidak.” Ungkapnya berhasil membuat Riana menghentikan kegiatannya.
Netra jelaganya langsung menatap YeonJin tepat lalu menyambar benda pipih yang disodorkan.
“Eung, tidak apa-apa.”
“Aku juga minta maaf karena sudah lancang melihat isi galerymu.”
Degg!!
Jantungnya berdentum kencang. Riana kembali menatapnya serius. YeonJin pun sempat terkejut melihat sorot matanya. Ada makna tersirat yang ia tangkap. Riana tidak mau siapa pun mengetahui rahasia besarnya itu.
“Kenapa Anda lancang sekali membuka ponsel orang lain?! Apa Anda tahu tindakan itu membuat seseorang kecewa?!” dengan amarah yang tertahan Riana mengungkapkan sedikit kekesalan.
“Jangan bilang dia akan menangis lagi.” Buru-buru YeonJin pun pergi menyusulnya meninggalkan Hyerin yang tengah melukis di ruang pribadinya begitu saja.
“Oppa ke mana? Kenapa lama sekali tadi bilangnya mau ambil minum,” racaunya mendapatkan harapan palsu dari pria itu. “Wahh lukisan yang sangat bagus. Kamu pandai menggambarnya Hyerin,” pujinya pada karyanya sendiri. Ia menggambar sepasang pengantin yang hendak mengucapkan janji di hadapan Tuhan.
...***...
Liquid bening itu harus tumpah ribuan kali. Tanpa isak yang keluar Riana menangis dalam diam. Ia melarikan diri dari sana membawa kekecewaan dan duduk di trotoar sepi menekan kuat-kuat hatinya yang kembali terluka. Ia tidak suka jika ada orang yang mengusik rahasianya. Biarkanlah hal itu hanya dia dan Allah saja yang tahu.
Kepedihan itu bukan untuk dibagi, tapi harus dikubur dalam-dalam. Tidak usah diungkit biarkanlah menjadi masa lalu yang memberikan pembelajaran.
Namun, sepertinya itu tidak berlaku lagi. Ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam masa lalunya. Kim YeonJin pria yang baru dikenalnya mencoba merobohkan dinding kokoh itu.
“Riana,” panggil YeonJin yang berhasil menyusulnya dan kini berdiri tepat di depan Riana dengan adanya jarak. Ia tahu seperti apa kedudukan wanita muslimah ini. Tanpa siapa pun yang tahu jika dirinya pun kini sudah menjadi seorang muslim juga.
“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud untuk ikut campur dalam masalahmu. Hanya saja aku penasaran tentang sesuatu yang kamu sembunyikan. Aku janji tidak akan mengungkitnya dan akan melupakannya. Jika kamu mengizinkan, aku ingin melakukan sesuatu untukmu,” jelasnya tegas tanpa kebohongan sedikit pun.
Sekarang YeonJin mengerti tentang perasaan terdalamnya. Di balik perasaan yang menyusahkan itu ia ingin melindunginya. Riana pun bangkit dari duduknya lalu menatap netra kecil itu.
“Kamu yakin mau melakukan sesuatu untukku?” tanyanya kemudian.
YeonJin menganggukan kepala yakin. “Kalau seperti itu pergilah dari hidupku. Jangan pernah kamu mengusik kehidupanku lagi. Kita orang asing yang tidak berhak ikut campur dalam segala hal. Dan lagi kita ini berbeda. Aku harap kamu mengerti dengan kedudukanmu,”balas Riana tegas dengan tatapan tajam.
Bersama angin yang berhembus pelan Riana melangkahkan kakinya pergi meninggalkan YeonJin sendirian di sana. Hampa, satu kata mewakili perasaan. Setelah mendengar penuturan Riana tadi YeonJin merasa kosong. Bukan itu yang ia harapkan.
“Aku ingin membahagiakanmu Riana. Kenapa kamu malah menyuruhku pergi? Aku tidak sanggup melakukannya. Ya Allah apa yang harus aku lakukan? Aku sudah terlanjur menawarkannya.” Gumam YeonJin lalu berbalik melihat sosok rapuh itu terus berjauh meninggalkannya.
Musim semi untuk kesekian kalinya tidak membuat ia merasakan ketenangan. Justru aromanya malah membuat ia merasa sesak. Kesakitan dalam dadanya kembali terungkap dan kali ini ada orang lain yang mengetahuinya.
Riana tidak menyangka secepat itu YeonJin mengetahui rahasianya.
Kedua kaki itu terus melangkah hingga tanpa sadar sudah jauh dari keberadaan keluarga Kim. Kepala berhijab mocca itu terus menunduk tidak memperhatikan sekitar. Hingga tanpa ia sadari dari arah berlawanan seorang pria berjaket denim berjalan mendekatinya.
Sepatu kets putih tepat berhenti di depannya. Penasaran, Riana pun mendongak siapa gerangan pria itu.
Deg!!
Entah harus berapa kali lagi ia merasakan jantungnya berdegup kencang. Riana terkejut melihatnya sekarang. Semalam ia berharap tidak ingin bertemu dengannya lagi. Namun, ternyata takdir berkata lain. Mereka kembali dipertemukan dalam waktu yang tidak tepat.
“Ma-mas Arsyid?!”
Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Bayangan masa lalu terus hinggap memenuhi ingatannya.
“Asslamu’alaikum Riana. Apa kamu merindukanku?”
Senyum yang hadir di wajah tampannya malah membuat Riana ketakutan.
Kini takdir kembali mempermainkan. Riana tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Kesakitan lagi ataukah kebahagiaan?