
...Jika pelangi itu ada, aku ingin melewatinya bersama hujan menyedihkan. Jika kebahagiaan itu pasti, aku yakin bisa menelan kesakitan....
.......
Hari demi hari, bulan demi bulan terlewati tanpa jeda. Jam terus berputar memberikan peringatan pada setiap insan jika waktu terus bergerak. Hingga tahun kembali berganti. Selama itu pula kisah seseorang terus mendapatkan perubahan. Setiap episode kehidupan menjadi cerita masa lalu yang kelak bisa menjadi perbincangan hangat bersama keluarga.
Hari yang ditunggu telah tiba. Perjuangannya selama dua tahun membuahkan hasil. Galeri hasil rancangan Riana sudah berdiri kokoh di tengah-tengah kota. Kim YeonJin, pemilik sekaligus pemimpin perusahaan art collection sangat puas dengan hasil karyanya.
Tidak pernah sekali pun senyum memudar dari bibir kemerahan itu. Setiap orang yang berpapasan dengannya terus menebar kebaikan, merasakan kebahagiaan sang CEO. Banyak pelukis-pelukis handal yang datang untuk melihat koleksi-koleksi lukisan yang dibuatnya. Kim YeonJin menjadi panutan bagi mereka.
Tanpa disadarinya hari ini bertepatan dengan kontrak kerjanya bersama wanita arsitek itu berakhir.
Jam sudah menunjukan pukul setengah dua siang. Sedari kedatangannya ke sana bersama sang anak, Riana tidak pernah sedikit pun beranjak dari kursi itu. Ia juga ikut senang saat melihat YeonJin terus menerima ucapan selamat dari rekan-rekan kerjanya.
Hingga tidak lama kemudian, seorang wanita berambut sepinggang datang lalu menggandeng lengannya. Sontak hal itu mengganggu pemandangan. Namun, ia sadar mereka sepasang kekasih yang terikat pertunangan. Seulas senyum singkat terpatri di bibir ranumnya.
“Bukankah itu tante Hyerin. Tante!” Tanpa meminta izin kepada sang ibu, Kaila turun dari kursi dan langsung berlari menuju Hyerin berada. Wanita itu pun langsung menggendongnya cepat lalu tersenyum manis ke arah YeonJin. Sontak hal itu membuat Riana terkejut. Ia tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Namun, lagi-lagi ia sedikit tidak menyukainya.
“Apa kamu cemburu melihat mereka?” pertanyaan konyol dari pria bermarga Choi ini seketika membuat kedua matanya membola.
“Ji-Jimin-ssi. Apa yang kamu bicarakan?” tanya Riana terkejut. Tatapannya mengikuti ke mana ia pergi. Jimin pun duduk tepat di depannya.
“Ani. Aku hanya penasaran saja.”
“Penasaran? Tentang?”
“Apa yang kamu rasakan saat melihat hyung bersama Hyerin terlebih anakmu juga ada di sana.” Ia pun mendelik ke arah mereka dengan dagunya.
“Aku senang. Mereka sudah siap untuk menikah.” Balas Riana lalu menikmati cakenya.
Jimin terus memperhatikan wanita berhijab ini. Ia juga tahu ada sesuatu yang terpendam dalam dirinya. Apa pria itu sebenarnya seorang peramal? Entahlah hanya saja Jimin langsung peka terhadap sesuatu yang berhubungan dengan perasaan.
YeonJin dan Hyerin saat ini tengah menikmati jamuan yang ada di sana. Sebagai seorang pengusaha ia bangga dengan pencapaiannya sekarang. Begitu pula dengan Jung Guk yang kembali hadir dalam acara pentingnya. Mau bagaimana lagi kedudukannya juga tidak kalah penting.
“Jika seperti ini appa tidak sabar untuk menikahkan kalian,” ucapnya mengejutkan kedua insan itu. Sedangkan Kaila tidak tertarik dengan obrolan orang dewasa dan lebih menikmati makanan manisnya.
“A…appa,” cicit Hyerin.
“Saya juga setuju jika mereka cepat menikah. Bukankah ini sudah satu tahun lebih setelah ucapan Anda hari itu?” Kedatangan pria berkacamata seketika mengejutkan mereka. YeonJin sampai beranjak dari kursinya melihat sang paman.
“Oh, Kim Haneul. Apa kabar sudah lama tidak bertemu.” Park Jung Guk dan Kim Haneul pun saling berjabat tangan melempar senyum.
“Kamu juga setuju kan Joon jika pernikahan kalian dipercepat dan dilaksanakan tahun ini?” ucap Kim Haneul lagi.
“Sampai kapan? Pokoknya paman tidak mau mendengar penolakan. Jika kamu menolak-” Senyum terbit kembali di bibir tipisnya seraya mencondokan badannya ke arah YeonJin. “Kamu tahu kan konsekuensinya?” bisiknya pelan.
“Ahh kalau begitu mari kita bicarakan masalah ini di sana.” Sang paman pun mengajak pria Park itu meninggalkan mereka.
YeonJin terdiam bak patung. Tatapannya jatuh pada Kaila yang terlihat acuh dengan situasi yang terjadi. Bola matanya bergulir melihat wanita berhijab abu itu tengah bercengkarama bersama sekertarisnya.
"Bagaimana ini? Ya Tuhan berikanlah petunjuk-Mu," benaknya berkecambuk.
...***...
Bertepatan dengan senja datang, MC yang memimpin acara tersebut memberikan ucapan selamat untuk Kim YeonJin. Pria berkepala tiga itu sudah berhasil mendirikan galeri yang menampung semua lukisannya yang berharga fantastis.
Banyak juga wartawan yang datang ingin meliput berita besar tersebut. YeonJin mengizinkannya karena ingin memperkenalkan pencapaiannya yang luar biasa.
Kini gilirannya datang untuk memberikan sambutan. Ia pun beranjak dari duduknya lalu melempar senyum kepada tamu undangan yang datang. Langkah demi langkah lebarnya mencapai panggung untuk menjadi sorot utama hari ini.
“Sebelumnya saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada arsitek kami yaitu, Riana. Karena berkat usaha dan rancangannya bangunan ini bisa berdiri dengan megah. Dan mungkin setelah ini saya akan kehilangan orang berbakat itu…”
Sepanjang pidatonya YeonJin merasakan kegelisahan. Ia sadar dengan apa yang diucapkannya. Mungkin setelah hari ini ia tidak akan bisa bertemu dengan Riana. Lagi.
Bersamaan dengan itu lensa kamera tidak henti-hentinya menyoroti wajah ayu sang aritek. Riana yang tidak biasa menjadi pusat perhatian, merasa tidak nyaman saat kamera merekamnya.
Dari barisan orang-orang penting itu Kim Haneul tersenyum lebar dengan makna tersirat di dalamnya. Ia tahu keponakannya memendam sebuah perasaan kepada sang arsitek tersebut. Sebuah ide muncul tat kala apa yang sudah ia genggam tidak boleh dilepaskan dengan mudah.
"Aku tidak bisa membiarkannya, tapi sedikit bermain-main dengan bocah itu sepertinya menyenangkan juga. Hmm, aku tahu apa yang bagus untuk hadiah pernikahannya," racaunya dalam diam.
Tidak lama berselang, hari beranjak malam. Seharian penuh mereka ada di sana menikmati acara demi acara dibukanya galeri baru milik Kim YeonJin. Satu persatu orang pun membubarkan diri di rasa sudah puas dengan pameran tersebut.
Seraya menggendong Kaila yang sudah terlelap, Riana menghentikan langkahnya saat melihat pria berumur 50 tahunan itu mencegah kepergiannya. Senyum yang diperlihatkannya membuat Riana tertegun. Ia seperti melihat sang CEO dengan versi yang berbeda.
“Perkenalkan saya Kim Haneul paman Kim YeonJin. Saya sudah banyak mendengar tentang kamu. Riana, arsitek wanta dari Indonesia,” ucapnya to the point. Riana mengerutkan dahi heran tidak mengerti.
“Setelah hari ini kamu pasti kehilangan pekerjaan bukan?” dengan ragu Riana mengangguk pelan.
“Bagaimana jika kamu bekerjasama dengan saya? Tenang saja saya akan memberikan imbalan berapa pun yang kamu mau. Kamu seorang single parent, kan? Pasti susah membesarkan anak seorang diri, jadi pikirkanlah tawaran saya. Kalau begitu selamat malam.” Tanpa memberikan kesempatan Riana bicara, Haneul pun pergi meninggalkannya dengan beribu pertanyaan dalam kepala berhijab itu.
“Memang benar apa yang dikatakannya tadi. Setelah ini apa yang harus aku kerjakan?” Gumamnya kembali melangkah meninggalkan tempat itu.
Di negara yang berbeda, di tanah kehalirannya seorang pria tengah mengamati berita di laptop hitamnya. Pengusaha properti itu tersenyum memperlihatkan ketampannya. Ia tertarik dengan video dan artikel yang baru saja dikirimkan oleh sekertarisnya.
“Ohh, jadi sekarang dia sudah menajdi arsitek? Hahaha tidakku sangka dia pergi ke Korea Selatan? Sungguh tekad yang tidak bisa dipercaya. Tapi tunggu, anak dipangkuannya apa itu? Emm, aku harus memastikannya sendiri,” racaunya seorang diri. Masa lalu kembali berdengung dalam pikirannya.