QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Pertemuan (Season 2)



Senja kembali mengukir jalan cerita berbeda. Ia hadir di balik awan kelabu merentangkan keindahan jati dirinya. Tidak peduli akan hujan maupun gelapnya, semburat orange di ufuk timur masih hadir memberikan kebahagiaan pada sang penikmat. Sesekali angin musim semi hadir menyebarkan aroma bunga sakura yang bermekaran.


Di balik hangatnya alam, terdapat satu kisah memilukan. Ujian datang menuntun setiap insan lebih bersabar dan bertawakal kepada Allah. "Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang sabar." (Q.S Al-Baqarah : 155)


Di balik setiap musibah yang Allah berikan kepada masing-masing hamba di sana terdapat kebaikan serta kebahagiaan. Allah tidak mungkin membiarkan hamba-Nya terpuruk dan jatuh terus menerus pada kesakitan. Laa tahzan innallaha ma'ana, janganlah kamu bersedih, karena sesungguhnya Allah bersama kita.


Sepercik air menetes pun tidak luput dari takdir Sang Maha Kuasa. Setiap insan di dunia pasti mempunyai jalan ceritanya masing-masing. Satu dan lain tidaklah sama, ada waktu tertentu untuk bunga mekar dengan sempurna. Jadi, tidak pantas membandingkan hidup dengan mereka yang tidak memiliki kisah serupa.


Fajar menyingsing di ufuk timur, cahaya jelaga sang raja siang menyembur menghangatkan bumi dari segala hiruk pikuk kehidupan. Kemarin memberikan cerita berbeda yang sudah berakhir, hari ini menjadi langkah baru untuk memulai menjadi lebih baik. Bismillah, di awali niat yang baik pasti berbuah manis.


Sebagai seorang ibu dan istri, Riana menjalankan tugasnya seperti hari-hari kemarin. Namun, hari ini ia membuat strategi baru untuk meredakan berita tidak baik yang datang dari ayah mertuanya. Kim YeonSun semakin berulah dan menjadi dalam mengganggu keluarganya sendiri.


Selesai menyelesaikan pekerjaan rumah, ia bergegas pergi ke café tidak jauh dari kediamannya. Siang ini ia berencana bertemu Sarah dan Jasmin. Keduanya terkejut saat mengetahui berita tentang suami Riana yang terkena skandal oleh ayahnya sendiri.


Kim Hyun Sik nampak tenang dalam gendongan sang ibu. Bayi tampan terbalut stelan kodok berwarna baby blue ditambah topi beruang senada serta kedua telinga di atasnya menambah keimutan Hyun Sik yang kini tengah menatap sekitaran dengan mata berbinar. Tidak lama berselang Riana tiba di tempat dan mengedarkan pandangan mencari keberadaan mereka.


Tidak lama berselang Sarah melambaikan tangan dan berteriak kegirangan menyambut keponakannya datang. "MasyaAllah, tampan dan imutnya keponakanku," hebohnya.


Tanpa basa-basi ia langsung mengambil alih Hyun Sik dari Riana lalu membubuhkan kecupan hangat dikedua pipi gembilnya. Melihat itu Jasmin dan Riana hanya terkekeh senang, dan setelahnya mereka memesan makanan ringan.


Ketiga wanita ditambah satu bayi itu pun duduk di kursi paling pojok sebelah jendela. Beberapa saat kemudian makanan bercita rasa manis tersaji di meja memanjakan mata tidak sabar untuk dicicipi. Rasa manis melebur dan meleleh menjadi satu di dalam mulut. Krim kocok serta sedikit asam dari lemon mengantarkan perpaduan yang sempurna, sesaat ketiganya melupakan sejenak niat awal bertemu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa tiba-tiba saja ada berita yang mengatakan suamimu menelantarkan ayahnya sendiri?" tanya Sarah memulai pembicaraan.


Riana menghela napas pelan dan menopang dagu di atas meja. "Kejadianya sangat rumit, Mbak. Belakangan ini ayah YeonJin oppa datang menganggu ketenangan kami. Aku tidak masalah jika beliau mau bertemu dengan keluarganya, tapi ini malah menimbulkan masalah," adunya.


"Apa yang sebenarnya beliau lakukan?" tanya Jasmin kemudian.


Riana pun menceritanya kronologi sebenarnya, tentang masa lalu Kim YeonSun yang menelantarkan ibu dan anaknya serta kejadian beberapa bulan lalu. Termasuk menghasut teman-teman Kaila dan menimbulkan kejadian tidak terduga. Jasmin dan Sarah tidak menyangka dan membungkam mulutnya skeptis.


"Astaghfirullah, kejam sekali. Apa pria tua itu tidak punya hati? YeonJin anak kandungnya sendiri, kan? Terlebih Kaila hanya anak kecil, tidak tahu apa-apa," ucap Sarah geram.


"Entahlah Mbak, aku juga tidak mengerti. Aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, YeonJin oppa sudah kehilangan satu-satunya mata pencaharian. Saat ini dia sedang berusaha meminta bantuan kepada teman-temannya," keluh Riana lagi.


"Teteh jangan pesimis, bila satu pintu rejeki tertutup masih banyak pintu lain. Allah maha pemilik rejeki, jadi Teteh harus percaya dengan pertolongan-Nya," balas Jasmin membuat Riana berpaling padanya.


Sarah dan Jasmin menatapnya senang, mulut ranum mereka mengembang sempurna. Hyun Sik yang berada dalam pangkuan Sarah pun berceloteh riang menyaksikan sang ibu. Siang ini langit biru terbentang luas, sesekali angin datang memberikan rasa sejuk dari sengatan matahari.


"Kita ambil hikmahnya saja, karena di balik peristiwa akan ada kebaikan. Kamu harus mencari tahu masa lalu ayah YeonJin dan memberikan fakta itu untuk membungkamnya," usul Sarah kemudian.


"Ah ... Mbak benar. Aku harus mencari tahu kebenarannya," kata Riana lagi lalu menyeruput minuman dingin di hadapannya.


Ketiganya menikmati lagi waktu yang dihabiskan. Di tengah-tengah kebersamaan Riana menoleh ke arah Jasmin yang melebarkan senyum yang sedang bermain dengan Hyun Sik. Ia bersandar ke kursi kayu menyaksikan binar dikedua matanya.


"Jadi, bagaimana denganmu? Apa kamu sudah mendapatkan kabar dari Jimin?" Pertanyaan itu seketika menghentikan waktu.


Bak bom atom siap meledak Jasmin terpaku dalam diam. Manik bulannya semakin membulat lebar memandang ke depan. Seakan ada yang salah Riana melunturkan eskpresi senangnya berganti rasa bersalah. Ia kemudian menoleh pada Sarah yang tengah menatap Jasmin.


"Apa ini? Apa yang kalian bicarakan? Apa kamu sedang menyukai seseorang? Jimin? Siapa dia?" tanya Sarah beruntun.


Seakan mengerti Riana pun panik seketika, "A ... ah aku hanya asal bicara. Tidak ada yang terjadi, Mbak," ujarnya mencoba menengahi.


Sarah menautkan kedua alis tajam membalas tatapan Riana. Keduanya saling pandang tanpa mengatakan sepatah kata. Atmosfer tegang seketika menyeruak menimbulkan ketakutan dalam diri. Ia pikir Jasmin sudah menceritakan perasaannya pada Sarah, tapi sepertinya belum? Pikir Riana gamang.


Di tengah ketegangan itu suara tawa Jasmin terdengar nyaring, mereka langsung menoleh padanya tidak mengerti. "A-apa yang kamu tertawakan?" tanya Riana gugup.


"Kenapa kalian tegang sekali, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku baik-baik saja, semuanya berjalan seperti biasa. Aku hanya memasrahkan semuanya pada Allah, maaf Mbak aku tidak memberitahumu sebelumnya ..." Jasmin membalikan badan ke samping kanan dan menatap bola mata kakak sepupunya. "Aku memang sedang menyukai seseorang, tapi aku tidak berharap itu berjalan seperti yang kumau. Aku hanya mengikuti alur saja," jujurnya.


Sarah tersenyum haru dan menggenggam tangannya hangat, "Alhamdulillah, kamu sudah tidak trauma lagi. Semoga ada kebaikan, Allah pasti memberikan jalan terindah untukmu." Jasmin mengangguk senang. Begitu pula dengan Riana kembali mengembangkan senyum menyaksikan interaksi mereka dan bernapas lega.


"Semoga Jimin melakukan yang terbaik," benaknya kemudian.


Setelah pertemuan singkat dengan keluarganya, Riana pun pamit pulang untuk menjalankan rencana. Ia berjalan di trotoar seraya berceloteh ringan pada Hyun Sik. Bayi itu tergelak senang kala menyaksikan orang berlalu-lalang. Sangking seriusnya mengajak sang putra bercanda, ia sampai tidak sadar sudah menabrak seseorang.


Bahu mereka saling bertubrukan membuat Riana terkejut dan mundur beberapa langkah ke belakang. Ia menundukan kepala sambil mengucap beribu maaf. "Saya minta maaf, tidak memperhatikan jalan dengan benar. Saya benar-benar minta maaf," ucapnya.


"Tidak apa-apa anak muda."


Suara serak nan berat terdengar, Riana mendongak dan tidak mendapati siapa pun di hadapannya. Ia kemudian menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria asing tengah berjalan bersama seseorang di sebelahnya. Dahi lebar Riana mengerut dalam seraya bergumam, "Masih ada orang baik di dunia ini."