
Dalam perjalanan membina rumah tangga pasti ada permasalahan yang menimpa. Entah itu datang dari suami, anak, keluarga ataupun dari orang-orang sekitar.
Permasalahan tersebut sudah menjadi hal lumrah yang kerap terjadi dalam kehidupan pernikahan. Cobaan hadir menjadi bumbu pelengkap agar hubungan suami istri bisa lebih baik lagi setelahnya.
Sama seperti yang tengah menimpa rumah tangga Riana dan Kim YeonJin. Mereka diuji oleh orang terdekat yang sudah lama menghilang dan kini kembali datang, yaitu sang ayah, Kim YeonSun. Pria paruh baya yang sudah lama tidak terdengar kabarnya, datang dan mengganggu ketenangan pernikahan sang anak.
Badai menerpa menerjang kapal yang tengah berlayar di lautan lepas.
Senja sudah menghilang berganti malam tanpa penghias. Udara cukup dingin dengan angin berhembus menyapa Riana yang masih berada di balkon. Sakit rasanya, kala pasangan yang dicintai mengabaikannya begitu saja.
Seketika bayangan masa lalu hinggap membuat Riana bergetar. Perlakuan keji yang dilayangkan sang mantan suami berputar bak film klasik menimbulkan luka lama kembali mencuat.
“Jika tidak menjelaskannya, aku takut kejadian itu datang lagi,” gumam Riana pada kehampaan.
Kim YeonJin yang kini tengah berada di dalam kamar mandi termenung memikirkan baru saja terjadi di antara dirinya dan Riana. Kedua tangan bertumpu pada wastafel serta kedua mata menyorot dalam melihat dirinya di pantulan cermin. Ketegasan dan ketegangan masih terlihat menyelimutinya. Namun, sedetik kemudian kedua alis berkerut sadar akan sesuatu. YeonJin buru-buru keluar lalu berjalan kembali menuju balkon.
Di sana ia melihat sang istri masih setia berdiri memunggunginya dengan tangan bertumpu ada teralis besi. Bahu kecilnya pun bergetar menahan isak tangis. Perasaan bersalah menghantui YeonJin secepat kilat dan buru-buru memeluk sang istri dari belakang membuat Riana yang tengah berada dalam kesendirian tersentak.
YeonJin terkesiap kala merasakan tubuh kecil Riana sedikit bergetar. Kehangatan yang menjalar seketika menyadarkannya, jika apa yang ia lakukan tadi sudah menyakiti sang istri.
“Sayang, aku minta maaf tidak bermaksud untuk mengabaikanmu. Aku hanya terbawa emosi dan suasana. Aku benar-benar minta maaf,” kata YeonJin meyesal.
Berkali-kali ia melabuhkan kecupan hangat di puncak kepala berhijab Riana. Tidak ada kata yang terucap mengantarkan kekhawatiran dalam diri Kim YeonJin.
“Sayang, ak-”
“Aku tidak apa-apa, hanya saja kenangan masa lalu tiba-tiba kembali teringat. Aku takut keadaab itu terulang kembali. Aku tidak bisa kehikanganmu. Aku sudah membuat kesalahan. Aku, aku, a-ak-”
Belum sempat Riana menyelesaikan racauannya, YeonJin dengan cepat membalikan tubuh sang istri hingga mereka saling berhadapan. Riana pun langsung menunduk tidak kuasa menatap ke dalam manik sang suami. Ia seperti akan runtuh jika melihat sorot hangat pujaan hatinya. Ada kesalahan yang kini menjadi penyekat mereka.
Melihat Riana yang tidak berani mendongak, YeonJin menangkup kedua pipinya lalu mengangakat kepala sang istri. Terlihat dengan jelas jejak air mata di sana, seketika YeonJin merasakan sesak dalam dada. Ia sudah menorehkan luka di hati Riana. Rasa bersalah langsung timbul membuatnya menyesal.
“Sayang, tatap aku.” Titah YeonJin lembut.
Perlahan, Riana menggulirkan kelereng kecoklatannya membalas tatapan sang suami. Senyum manis terpendar di wajah tampan Kim YeonJin. Riana tidak kuasa menahan kepedihan hingga air mata kembali mengalir.
YeonJin dengan halus menghapusnya lalu menyatukan kedua kening mereka. Napas hangat dan aroma mint menguar mengatarkan rona merah di wajah Riana. Tatapan mata saling mengunci menggetarkan hasrat terpendam membuat penyatuan pun terjadi beberapa saat, hingga YeonJin menarik diri dan kembali bertengger di dahi lebar sang istri. Emosi yang semula meletup kini mulai mereda, Riana nyaman dengan perlakuan hangat suaminya.
Secepat kilat Riana mendekap erat tubuh kekar sang suami dan menenggelamka wajah ayunya di dada Kim YeonJin. Kedua tangan mencengkram kuat pakaian belakangnya.
"Aku hanya takut kejadian masa lalu terulang kembali. Berawal dari kesalahpahaman, bertengkar sampai akhirnya kekerasan datang dan menimbulkan perpisahan. Aku tidak mau berada di posisi itu lagi dan kehilanganmu. Jika itu benar-benar sampai terjadi ak-"
"Tidak akan ada yang terjadi, aku tidak akan melepaskanmu. Aku berjanji tidak akan terulang seperti ini lagi. Aku minta maaf sudah membuatmu terluka dan mengingat trauma masa lalu itu muncul. Aku sangat menyesal." Lirih YeonJin seraya mengusap pelan punggung sang istri.
Riana semakin mengeratkan pelukan kala tubuhnya kembali bergetar hebat. Trauma terbesar dalam hidup tidak bisa disembuhkan begitu saja, ia sudah memberanikan diri membuka hati untuk yang lain. Namun, tanpa ia duga permasalahan sekecil apa pun bisa menimbulkan kesakitan itu lagi.
"Aku takut jika tidak menyelesaikan semuanya kamu akan pergi. Aku minta maaf sudah menyembunyikan pertemuan dengan ayahmu."
YeonJin menggeleng kemudian mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Riana.
"Aku mengerti dan tidak seharusnya marah. Aku tahu pasti ada alasan kenapa kamu menyembunyikannya, kan?"
Dalam dekapan itu Riana mengangguk singkat. Sedetik kemudian ia melonggarkan pelukannya dan mendongak menatap ke dalam iris sang suami. Tatapan hangat nan lembut itu kembali membuatnya berdebar. Riana sadar jika pria di hadapannya ini bukanlah Arsyid yang sering bertindak kasar, melainkan Kim YeonJin. Pria asing yang sudah berhasil meorobohkan traumanya.
"Aku hanya tidak ingin menambah masalah padamu lagi. Aku ingin hubungan kita baik-baik saja tanpa masalah apa pun. Tetapi, aku sadar ujian datang sebagai bentuk kepedulian Allah. Karena di dalamnya terdapat kebaikan untuk kita. Aku janji setelah ini tidak akan ada lagi yang disembunyikan. Aku sangat mencintaimu, Oppa."
Kedua manik Kin YeonJin berkaca-kaca dan tanpa sadari setetes keristal bening jatuh tak tertahankan. Riana mengulurkan tangan dan menghapusnya perlahan.
"Mulai sekarang kita harus saling percaya dan terbuka, yah? Karena rumit bagiku untuk bertengkar denganmu."
"MasyaAllah, Sayang. Aku semakin dan semakin mencintaimu. Aku juga tidak akan sanggup jika harus bersitegang denganmu."
YeonJin kembali menarik sang istri ke dalam pelukan hangat. Senyum pun mengembang di wajah keduanya. Riana maupun YeonJin menghirup dalam-dalam aroma tubuh pasangannya dengan suka cita. Akhirnya permasalahan yang sempat terjadi kini bisa diselesaikan.
Hanya membutuhkan komunikasi, kepercayaan dan saling terbuka bisa menyelesaikan semuanya. Cinta di antara mereka begitu kuat hingga menimbulkan keresahan jika pertengkaran datang.
Langit tersenyum dengan bulan bersinar terang dan bintang bertaburan di atas sana. Seketika angin berhembus membalut pasangan suami istri tersebut di dalam dekapan.
Kim YeonJin bertubi-tubi memberikan kecupan hangat di puncak kepala dan wajah sang istri, membuat Riana tergelak akan perasaan hangat yang bersarang dalam dirinya.
Mereka melupakan jika masih ada permasalahan lain yang belum terselesaikan.