QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 17



...Bersama seseorang memberikan luka baru tercipta....


.......


Kemarin menjadi historis yang mendebarkan untuknya. Pernyataan sang putri dan juga pertanyaan Kim YeonJin terus saja berputar dalam kepalanya. Sejak ia membuka mata sampai kini sarapan bersama Kaila, sorot matanya masih saja terlihat kosong.


Sang anak yang duduk di depannya mengerutkan dahi, bingung. Tidak biasanya Riana bersikap seperti itu. Suap demi suap nasi goreng masuk ke dalam mulutnya, tapi ia sama sekali tidak merasakan apapun. Kaila menjadi penasaran. Batin anak dan ibu biasanya saling berhubungan.


“Mah…? Mamah kenapa? Ko bengong terus dari tadi?”


“Ahh…”


Riana mendapati Kaila tengah memandanginya lekat. Mendapatkan tatapan seperti itu ia pun berusaha tersenyum. Walaupun itu terlihat sangat dipaksakan.


“Emm, mamah tidak apa-apa. Kenapa Kaila bertanya seperti itu?”


“Karena dari tadi mamah melamun,” Riana terdiam sadar jika putinya memerhatikan.


“Oh iya mah, sekarang kan aku sudah punya appa, kenapa mamah tidak menikah saja dengan YeonJin appa? Kan setiap hari aku bisa bertemu dengannya,” perkataan konyol putrinya pagi ini membuat bola mata Riana melebar sempurna. Ia kembali tidak percaya Kaila bisa berkata demikian.


“Sayang, itu tidak mudah. Em, mamah sudah selesai sarapannya. Kamu cepat selesaikan mamah mau siap-siap dulu.” Ia pun malarikan diri dari sana sebelum Kaila mengatakan hal yang tidak-tidak lagi.


Musim dingin datang begitu cepat. Tepat hari ini salju turun dengan perlahan. Riana dan Kaila melebarkan senyum melihat benda putih itu berterbangan di sekitarnya. Ibu dan anak ini baru saja keluar dari gedung apartemen dengan pakaian tebal melekat di tubuh mereka.


Kaila terlihat sangat manis ketika sekarang mengenakan hijab. Tadi sebelum mereka pergi, Riana menyuruhnya untuk mengenakannya. Gadis kecil itu menolak, Riana pun beralasan jika mengenakan kain itu kepalanya akan terasa lebih hangat. Akhirnya Kaila pun mau mengenakannya.


Beberapa kali orang-orang yang berpapasan dengannya terus saja memperhatikan Kaila. Mungkin wajahnya yang imut bisa membuat mereka terpesona. Bahkan terkadang ada ibu-ibu yang sengaja ingin memotret kecantikan putrinya.


Riana yang tidak terbiasa merasa segan, tapi mau tidak mau ia pun mengizinkannya. Sedangkan Kaila dengan senang hati berpose dua jari pada saat difoto. Mereka pun berkali-kali harus berhenti di tengah jalan untuk memenuhi permintaan orang-orang.


“Kaila senang mah. Banyak orang yang menyukai Kaila.” Ucapnya yang kembali melangkah di trotoar.


“Eung Alhamdulillah mereka sudah menerima kehadiran kita.” Balas Riana menunduk melihat putrinya yang tengah digandeng.


Senyum mengembang di bibir mungil Kaila. Pipinya yang bulat berisi itu sedikit memerah mengikuti perubahan suhu. Netranya yang bulat dengan bulu mata lentik menambah daya tariknya.


“Omo, seperti boneka hidup.” Tiba-tiba saja dari arah depan seorang wanita berambut sepinggang berjalan mendekatinya lagi.


“Boleh saya berfoto dengannya?” tanyanya pada Riana. Ia pun hanya mengangguk saja. "Sepertinya hari ini Kaila menjadi selebritis jalanan… hihihi semoga membawa berkah yah, nak," benaknya.


Dari jarak beberapa meter dari keberadaannya, Riana tidak menyadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka sedari tadi. Iris kecilnya semakin menyipit melihat betapa sibuk ibu dan anak itu pagi ini. Bibir kemerahannya pun ikut tersenyum.


Setelah tidak disibukan dengan orang-orang itu, ia pun kembali menginjak gas dan melajukan mobilnya perlahan.


Titt!!


Secepat kilat ia menekan klakson mengejutkan mereka. Kaca mobil itu terbuka memperlihatkan senyuman yang mengembang.


“Ayo masuk, aku antar kalian. Di luar sangat dingin jadi cepatlah!” titahnya ramah.


“Sajangnim.”


...***...


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan. Riana maupun YeonJin masih membungkam mulutnya rapat. Sedangkan Kaila tersenyum lebar bisa bersama dua orang yang disayanginya. Ia terlihat bahagia duduk di pangkuan sang ibu.


Awan nampak mendung pagi ini. Jalan pun sedikit licin karena salju terus turun tanpa henti. YeonJin melajukan kendaraannya pelan dan hal itu membuatnya tidak terbiasa. Ia pun mencoba mencarikan suasana dengan mengajak anak angkatnya berbicara.


“Wahh, anak appa ternyata jadi selebritis terkenal yah.. Kamu cantik menggunakan kain itu sama seperti eomma,” Kaila menoleh begitu pula Riana. Wanita itu tercengang mendengar YeonJin menyebutkan "anak appa" seperti Kaila benar-benar putri kandungnya saja.


“Ehehe gomawo appa. Aku senang sekali banyak orang yang menyukai Kaila. Ternyata orang-orang tidak membenci mamah yang selalu menyembunyikan rambutnya,” celotehnya polos. Sedangkan Riana bersemu. YeonJin menatapnya sekilas tidak mengerti.


“Maksudnya?”


“Iya kata teman-temanku di sekolah mamah aneh menutupi rambutnya. Tapi saat menggunakannya hari ini, Kaila tahu perasaan mamah.” Bola mata berbinarnya mendongak menatap sang ibu lekat.


Riana mengusap pipinya pelan. “Sayang, hijab itu wajib untuk kita sebagai muslimah. Karena wanita begitu berharga, jadi Allah menyuruh kita untuk menutup aurat. Tidak sembarang orang bisa melihatnya hanya mahram kita saja. Sekarang Kaila menggunakan hijab untuk latihan supaya nanti jika sudah baligh atau besar Kaila terbiasa. Perintah Allah wajib untuk ditaati karena itu demi kebaikan kita juga.”


Nasehatnya pagi ini memberikan setitik kehangatan pada pria itu. Dia bisa merasakan kasih sayang yang disalurkan Riana pada anaknya. Tanpa disadarinya ia tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu.


"Entah kenapa aku merasa memiliki keluarga baru. Eomma, aku jadi tidak kesepian lagi," benaknya meracau.


“Ohh begitu yah mah. Allah baik sekali. Kaila mau jadi anak kebanggaan mamah dan juga appa.”


“Ehhh!” Kompak sekali mereka berdua terpekik mendengar ucapannya. Gadis kecil itu menatapnya bergantian dengan heran.


“Kenapa?”


“Mamah sayang sekali sama Kaila. Jadi anak yang sholehah yah, nak agar kelak kamu bisa membanggakan mamah.” Riana mendekapnya hangat seraya menghujani kecupan di puncak kepalanya.


YeonJin yang diam-diam memperhatikan tersentuh kembali dengan kedekatan mereka. Ia menyadari Riana begitu menyayangi Kaila dibalik permasalahan yang tidak ia ketahui. Senyumnya yang lebar menyimpan berjuta kepedihan.


“Kaila tetap akan menjadi kebanggaan buat appa,” lanjut YeonJin menyadarkannya. Perlahan Riana pun melepaskan pelukannya memberikan kesempatan Kaila untuk kembali fokus pada YeonJin.


“Eung, Kaila janji. Kaila juga sayang sama YeonJin appa. Meskipun Kaila tahu YeonJin appa bukan appa kandung. Tapi Kaila tetap akan menjadi anak yang baik untuk appa. Saranghae appa.” Diakhiri dengan senyum manis yang mengembang di bibir mungilnya Kaila menatap hangat ke arah YeonJin.


Pria itu tersanjung mendengarnya. Baru kali ini ia bisa dekat dengan anak kecil hingga membuatnya memanggil ayah. YeonJin tidak bisa menahan keharuan, kedua mata kecilnya berkaca-kaca mencoba menahan cairan bening itu. Ia pun menoleh pada Riana sekilas dan kembali pada Kaila.


“Gomawo, appa juga sayang sekali sama Kaila. Saranghae.”


Kedekatan anak dan ayah tidak sedarah itu juga membuat Riana tidak bisa membendung air mata. Bulir demi bulir kristal itu berjatuhan. Ia pun segera menghapusnya sebelum Kaila menyadarinya.


"Ya Allah terima kasih sudah menghadirkan pria ini untuk Kaila sebagai pengganti ayahnya. Semoga kedekatan mereka tidak menimbulkan masalah lagi," batinnya berharap.


Setelah mengantarkan Kaila, mereka berdua pun akhirnya tiba di tempat kerja. Berjalan beriringan dengan adanya jarak menghinadari hal yang tidak diinginkan. Riana masih saja terdiam merasakan hal berbeda dalam hidupnya.


“Kalau begitu saya ke ruangan dulu,” ujarnya. YeonJin mengangguk mempersilakan.


Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasinya. Dari parkiran sampai ke lantai atas ia terus memperhatikan mereka.


“Aku yakin ada sesuatu yang disembunyikan pria itu,” gumam Jimin berpendapat.