QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 11



...Senja selalu membawa kebahagiaan kepada si penikmat. Awan gelap pergi berganti sinar mentari yang kembali. Senyum yang hilang, kini datang lagi. Lebih indah dan ikhlas....


.......


Satu persatu bintang bermunculan di langit malam. Semua aktivitasnya di luar berhenti seketika. Kembali bertugas sebagai seorang ibu yang baik untuk Kaila. Seperti hari-hari kemarin, Riana menemaninya mengerjakan pekerjaan rumah. Senyum mengembang mendengar celotehan demi celotehan ringan dari Kaila. Bagi Riana, putri kecilnya ini merupakan kebahagiaan yang tidak bisa terganti oleh apapun. Mutiara berharga yang dulu sempat tidak ia inginkan. Namun sekarang, ia tidak mau kehilangannya. Allah memberinya keturunan untuk memberikan perubahan yang luar biasa dalam hidupnya. Riana merasakan hal itu.


"Meskipun ayah tidak ingin kamu hadir di dunia, tapi mamah sangat menyayangimu, Kaila Humaira. Tetap menjadi anak sholehah kebanggaan mamah, yah sayang." Benaknya seraya mengusap lembut rambut halusnya. Kaila menoleh pada sang ibu. Bibir mungilnya melengkung membentuk bulan sabit sempurna. Ia bahagia bisa bersama ibunya lagi.


“Kaila senang mamah bisa menemaniku. Kemarin mamah sibuk sekali dengan pekerjaan.”


“Maafkan mamah yah sayang. Sekarang pekerjaan mamah kan sudah selesai, jadi bisa menemani Kaila lagi.” Ibu dan anak itu saling melengkapi. Mereka tengah berselonjor kaki di ruang tengah.


Ditemani cahaya bulan temaram. Riana menatap Kaila lekat seraya tersenyum senang. Selagi ada Kaila dunianya sudah sempurna. Ia tidak butuh pendamping lagi. Itulah yang sudah tertanam dalam dirinya sekarang.


“Kaila buat puisi untuk besok. Meskipun tidak pernah melihat ayah, tapi Kaila tetap membuatnya. Semua teman-temanku juga mengarangnya, kata umi Sarah kita harus membacakannya besok.” Seketika pernyataan itu menyadarkan Riana. Bola matanya bergulir menghindari tatapan sang anak. Ia tidak bisa membalas perkataannya tadi. Kata-katanya tercekat di tenggorokan. Sangat sakit mendengar itu semua dari mulut anaknya sendiri.


"Maafkan mamah Kaila…."


...***...


Pagi menjelang, seperti yang sudah dijadwalkan sebelumnya kini di taman kanak-kanak tempat Kaila belajar mengadakan acara menyambut hari ayah. Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Para orang tua murid pun satu persatu berdatangan. Semua anak tersenyum bahagia melihat ayah dan ibunya duduk di sana. Hanya Kaila yang melihat ibunya seorang. Namun, meskipun begitu ia tetap bahagia. Ia ingin membuat ibunya bangga dengan puisi yang sudah dibuatnya semalaman.


“Aku harus membuat mamah bangga.” Gumam Kaila semangat.


Keabsenan Riana membuat YeonJin tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Entah kenapa fokusnya terus tertuju pada wanita itu. Berkali-kali ia mencoba untuk mengenyahkannya. Tetatpi, berkali-kali pula sosoknya terus datang ke dalam kepalanya. Ia pun menyerah menjatuhkan bolpoin di meja lalu memijit pelipisnya pelan tidak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri. Langit-langit ruangan menjadi fokus utama. Netra kecoklataannya seolah melihat bayangan wanita berhijab itu.


“Kenapa aku jadi kepikiran tentang Riana? Apa acara di sekolah anaknya berjalan lancar? Ini hari ayah, kan? Apa mantan suaminya benar-benar datang? Kenapa aku jadi penasaran?” Gumamnya terus menghujani dirinya sendiri dengan pertanyaan. Tanpa pikir panjang, YeonJin menyambar jas abu yang menggantung di penggantungan kayu lalu meninggalkan pekerjaannya.


Jalanan siang ini terlihat lengang. Kendaraan roda empatnya melaju kencang membelah angin. Sorot mata penuh tanya membawanya hingga ke tempat anak-anak bersekolah. Setelah memarkirkan mobil, YeonJin berjalan ke aula yang ia yakini sebagai tempat acaranya berlangsung. Ia melihat banyak pasangan yang datang ke sana.


Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Hingga yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Satu persatu anak dari kelas bintang membacakan puisi buatan mereka. Banyak para ayah yang terharu dibuatnya. Tidak percaya malaikat kecilnya bisa menyentuh hati terdalamnya sebagai penompang hidup keluarga. Beberapa menit kemudian giliran Kaila pun tiba. Gadis kecil bergaun coklat dengan pita besar di atas kepalanya naik ke panggung. Netra bulatnya bergulir melirik tepat ke arah sang ibu lalu tersenyum sekilas. Ia pun membuka lipatan kertas dan mulai membacanya.


...*Ayah….....


...Ayah pahlawan terhebat dalam hidup....


...Ayah, pria sempurna yang ku sayangi....


...Sosokmu jauh tidak bisa terjangkau oleh pandangan....


...Aku tidak tahu seperti apa ayah itu....


...Aku sangat merindukannya....


...Aku juga ingin melihatnya....


...Bertahun-tahun aku hidup tanpa kehadiran ayah....


...Kata mereka, seorang ayah itu seperti bintang yang menawan....


...Aku sering mengirimkan do’a pada Tuhan untukmu....


...Aku ingin disayangi, dicintai oleh ayah....


...Ayah, di manakah kamu berada?...


...Aku ingin melihatmu, walaupun itu hanya sekali seumur hidup....


...Aku ingin ditimang, dibelai sebagai putri kecilmu....


...Ayah, sosokmu seperti mutiara yang tersimpan di dasar lautan....


...Terlalu jauh dan aku tidak bisa melihatnya....


...Ayah, aku merindukanmu…....


...Dan juga sangat menyayangimu*…...


Seketika keadaan di aula itu menjadi hening. Setelah Kaila membacakan puisi tidak ada satu pun orang yang bergeming di tempatnya. Riana pun tidak bisa menahan kepedihan. Air mata jatuh tanpa disuruh. Ia sadar Kaila begitu merindukan ayahnya. Namun, selama ini ia tidak pernah mengenalkannya. Kaila tumbuh tanpa kasih sayang dari sang ayah. Bersamaan dengan itu YeonJin datang dan mematung di pintu masuk. Ia ikut merasakan kesedihan yang mendalam dari Kaila. Ia merespon semua kata-kata yang diucapkannya. Ia mengerti dengan situasi yang terjadi dalam hidup mereka. Bola matanya mengitari tempat itu dan mendapati Riana tengah duduk sendirian tanpa pendamping. Cukup mudah mengenalinya, hanya dia satu-satunya wanita berhijab yang duduk sebagai orang tua murid.


“Ternyata selama ini Riana menyembunyikannya? Aku mengerti seperti apa perasaan anaknya. Karena dulu aku juga jarang bertemu dengan appa.” Gumamnya.


“Jadi Kaila tidak punya appa?”


“Pantas saja kalau kita berbicara tentang appa dia selalu menghindar.”


“Kasihan sekali Kaila tidak tahu appanya.”


“Sungguh kasihan mungkin appanya tidak senang bertemu dengan dia.”


“Jadi appanya meninggalkan Kaila..”


Perkataan demi perkataan dari teman-temannya yang sudah membacakan puisi tadi seketika mengundang air mata. Kaila menangis dalam diam di atas panggung. Kepalanya menunduk dengan bahu bergetar hebat. Ia sadar teman-temannya yang lain didampingi kedua orang tuanya. Sedangkan Kaila? Seperti apa ayahnya pun ia tidak tahu. Sarah khawatir melihat anak dan ibu itu bergantian. Tidak menyangka anak didiknya bisa berkata seperti tadi. Kaila tidak berhenti menangis, baru saja Riana hendak berjalan mendekatinya suara baritone seseorang menghentikan langkahnya.


“Mian, appa telat. Selamat siang semuanya, perkenalkan saya Kim YeonJin appa dari Kaila.” Sontak aula itu menjadi heboh dengan kedatangannya. Semua mata memandanginya tidak percaya. Mereka tahu siapa itu Kim YeonJin. CEO perusahaan art collection yang namanya sudah terkenal di mana-mana. Riana melebarkan matanya sempurna. Kaila pun tidak percaya. Sarah hanya tersenyum melihat sorot mata tulus dari pria itu. Ada harapan yang ia lihat di sana. Senyum menawan YeonJin mampu membungkam mulut bocah tengil tadi. Para orang tua yang hadir pun tidak menyangka dengan kedatangannya dan menyesali perbuatan putra-putri mereka.