QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 44



...Senja tidak datang membawa kegelapan. Namun, senja hadir memberikan kebahagiaan berupa langit malam bertabur bintang....


.......


Kejadian kemarin bagaikan ilusi. Riana tidak menyangka YeonJin melakukan hal nekad. Ia tidak pernah memikirkan bertemu seseorang keras kepala seperti pria itu. Ia tidak mau terlibat dalam permainan cinta seorang Kim YeonJin.


Bahkan masalahnya bersama Arsyid saja belum selesai. Dan sekarang ditambah dengan pernyataan itu? Tentu saja ia meragukannya. Ia takut YeonJin hanya sekedar kasihan.


Sore ini langit kembali gelap. Sepertinya raja siang enggan untuk duduk di singgasananya dan lebih memilih untuk bersembunyi. Angin pun berhembus sedikit kencang membuat udara semakin dingin. Hal itu membuat Riana kembali melanjutkan pekerjaannya di apartemen.


Jika dipikir, ia tidak bisa bertemu YeonJin dalam waktu secepat itu. Pernyataan dan juga tindakannya jauh dari bayangan.


“Bismillah tinggal sedikit lagi, rancangan rumah ini selesai. Aku tidak perlu berhubungan dengannya lagi.” gumam Riana.


Pensil runcing itu kembali menemani kesendirian.


Di tempat berbeda, YeonJin harus disibukan dengan proyek baru yang terus berdatangan. Kepalanya yang pening habis kehujanan malam itu membuatnya tidak bisa berkonsentrasi, seperti ada kunang-kunang yang berterbangan disekitar matanya. Berkali-kali kepala bersurai hitam itu menggeleng pelan Jimin yang ada di dekatnya mengerutkan dahi heran.


“Hyung kenapa?”


“Tidak apa-apa.” Balasnya acuh mengabaikan kebaikannya sendiri.


Iris kecil Jimin menyipit memperhatikannya. Ia tahu ada sesuatu yang tengah disembunyikan YeonJin. Apa yang dilakukannya tadi siang? Gerakan apa itu? Jimin masih memikirkannya.


"Kalau dipikir-pikir gerakan tadi sepertinya tidak asing. Aku pernah melihatnya di suatu tempat tapi di mana?" batinnya dalam diam.


Ia menerawang jauh ke langit-langit ruangan. Hingga, "A, iya benar. Aku sering melihat Riana melakukannya ketika dia masih bekerja di sini. Apa mungkin, hyung…? Aahh tidak masa iya begitu?" ia masih menemukan tali penyambungnya dengan sibuk meracau dalam diam.


“Apa semalam hyung hujan-hujanan dan bertemu Riana?”


Pertanyaan itu keluar dari mulut manis Jimin seraya masih menatapnya dalam.


YeonJin yang tengah berhadapan dengan berkas-berkas itu seketika mendongak. Sahabatnya ini memang paling mengerti.


“Okhokk…okhok… apa maksudmu? Sudahlah aku banyak pekerjaan jangan membuat keributan.”


Jimin tahu hyungnya ini menyimpan sesuatu. Ia pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya pertanda mengerti.


...***...


Jam menunjukan pukul setengah 7 malam. Keadaan fisiknya jauh dari kata sehat. Sedari tadi YeonJin memaksakan diri untuk bertahan. Jimin yang melihatnya seperti itu tidak tega dibuatnya. Dengan sedikit paksaan ia mengantarnya pulang meskipun sang kakak menolaknya. Ia khawatir terjadi sesuatu di jalan.


Saat ini mereka tengah berada dalam perjalanan. Diam-diam Jimin menoleh ke kaca spion melihat keadaan YeonJin. Pria itu menutup matanya terlihat lelah dengan situasi yang membelitnya.


“Cinta membuat segalanya menjadi berubah. Aku tahu hyung menyembunyikan hal itu,” gumam Jimin yang masih bisa didengar olehnya. Namun, YeonJin tidak mengindahkannya dan memilih untuk diam.


Tidak lama berselang mobil hitam itu tiba di pekarangan rumah. Seraya berjalan gontai YeonJin masuk ke dalam meninggalkan Jimin begitu saja.


“Pastikan hyung istirahat dengan benar.” Teriaknya. YeonJin memberikan lambaian tangan tanpa membalikan badannya sedikit pun.


“Aku harap hyung tidak mengorbankan dirinya terlalu jauh.” Ucap Jimin melihat sang atasan masuk ke dalam.


Baru saja YeonJin menapakan kaki, seorang wanita cantik berambut sepinggang menyambut kedatangaannya. Tidak hanya ia saja, tapi juga ada dua pria yang sudah tidak asing lagi dalam hidupnya.


“Selama ini oppa ke mana? Aku rindu sekali.” Ucapnya berusaha merangkul lengan kekarnya. YeonJin pun berjalan mundur menghindar. Ia tahu bersentuhan dengan lawan jenis tidak diperbolehkan. Ia sangat mengerti dengan kepercayaan yang dianutnya kini. Meskipun mereka belum mengetahuinya.


“Mian Hyerin aku tid-”


“Apa kamu sungguh-sungguh akan menikahi putriku?” tanya kepala keluarga Park itu.


Tatapan YeonJin pun mengarah padanya tepat. Sesuatu dalam dirinya tidak mungkin bisa ia tepis. Tidak bisa dibohongi dan ditutup-tutupi. Ia tidak bisa mencintai Hyerin dan sepertinya permainan mereka harus berakhir.


“Selama hampir seminggu ini saya memang sengaja menghindari Hyerin. Jujur, saya tidak bisa menikahnya.”


Penjelasan itu tentu saja membuat Park Jung Guk naik pitam. Napasnya naik turun tidak terima calon menantunya bisa berkata demikian.


“Apa kamu bilang tidak bisa menikahi putriku? Jadi kamu sudah siap kehilangan semua aset perusahaan?” tanyanya tegas.


Tanpa ragu sedikit pun YeonJin menganggukan kepalanya. Sorot matanya memperlihatkan keyakinan.


“Saya sudah siap.”


“Mwo?! Kamu jangan bercanda yah Yeon. Kamu mau hidup seperti dulu lagi?” Ucap pamannya tidak setuju. Beliaulah yang paling terkejut mendengar perkataan YeonJin tadi.


Kini bola mata itu bergulir padanya.


“Aku tidak peduli harus kehilangan semuanya, jika itu bisa membuatku bahagia. Karena selama ini paman tidak pernah menganggapku sebagai keluarga. Jika bukan karena harta, pasti paman sudah meninggalkanku, bukan?”


“Kamu sudah keterlaluan YeonJin. Apa yang membuatmu bisa menolak pernikahan ini?” ucap Jung Guk lagi.


“Apa karena wanita itu, Riana? Aku tahu selama ini oppa menyukainya, kan?” lanjut Hyerin menahan kepediahan.


“Ne. Aku ingin bersamanya.”


“Kamu gila YeonJin. Paman tidak percaya kamu bisa melakukan semua ini!” Sang paman tersulut emosi.


“Baiklah jika itu memang keputusanmu. Mulai detik ini juga aset perusahaan akan saya ambil alih. Kamu sudah tidak mempunyai apa-apa, selain kebangkrutan!” Tegas ayah Hyerin menatapnya tajam. Setelah mengatakan itu beliau pun pergi dari sana.


Begitu pula dengan Hyerin. Wanita itu sudah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.


“Maafkan aku Hyerin. Aku tidak mau menyakitimu lebih dari ini. Pernikahan itu suci, berjanji di hadapan Tuhan. Dan aku takut mengingkari janji itu. Sekali lagi aku minta maaf," sesal Kim YeonJin.


“Aku kecewa padamu, oppa.” Balas Hyerin dan juga melangkahkan kaki dari hadapannya.


“Hancur semua hancur!!! Kau berhasil memperlakukan pamanmu ini, YeonJin. Mulai detik ini juga kamu bukan keponakanku lagi. Dan kamu bisa angkat kaki dari sini. Karena rumah ini adalah hak saya,” ujar pamannya.


Mendengar itu YeonJin menyeringai seraya menganggukan kepalanya beberapa kali.


“Memang dari dulu paman tidak pernah menganggapku keponakanmu, kan? Dan dari dulu paman juga hanya menginginkan hartaku saja. Baiklah aku senang mendengar ucapan itu darimu.” Balasnya lalu meninggalkan Haneul sendirian di sana.


“Arrghhh, dasar anak tidak tahu diuntung!” gertaknya emosi. Kim Haneul kesal ladang keberhasilannya sudah sadar.


...***...


YeonJin tidak peduli dengan keadaan fisiknya saat ini. Ia terus berkendara di jalanan melajukan mobilnya kencang. Hancur sudah semua usaha yang ia bangun selama ini. Ia menyesal sudah bekerjasama dengan Park Jung Guk jika akhirnya seperti sekarang.


Ia kehilangan semua harta yang telah digenggamannya.


Bugkhh!! Bugkhh!! Bugkhh!!


Ia terus memukul stir tidak bersalah itu.


“Siall!! Sial!! Sial!!” umpatnya.


Rahangnya mengeras merasakan emosi yang membuncah dalam dada. YeonJin kalap jika sudah merasakan kesakitan seperti ini.


“Astaghfurullah haladzim Ya Allah. Aku harus ke tempat Riana dan kembali mengungkapkan perasaanku.”


Ia terus beristighfar mencoba meredam kekesalan dan berniat untuk pergi ke tempat wanita itu.


Hujan tiba-tiba saja turun dengan deras, tanpa aba-aba membuat YeonJin terkejut seketika. Jalanan beraspal itu mulai licin membuatnya harus ekstra hati-hati. Namun sayang, ia tidak berhasil menginjak rem. Hingga……..


Brughh!! Prang!!


Kecelakaan tidak bisa dihindari. Bersama guruyan air yang turun dari langit mobil yang ditumpangi Kim YeonJin terbalik.


“Ri-ana.”


Nama itu yang selalu hadir dalam pikirannya.