QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 12



...Air mata telah mengering dan tersisa hanyalah kenangan....


.......


Riana masih menganga di tempatnya berdiri. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri reaksi Kaila setelah mendengar pengakuan mengejutkan dari Kim YeonJin, atasan sekaligus rekan bisnisnya. Ia tidak menyangka pria itu bisa bertindak sejauh ini. Semua kata-kata yang ingin dilontarkannya tidak bisa diutarakan. Keterkejutan masih nampak jelas di wajah ayunya. Kedatangan YeonJin membuat perhatian semua orang teralihkan seketika. Dengan senyum yang bertengger di wajah tampannya, ia berjalan ke atas panggung lalu menggenggam erat tangan mungil Kaila. Gadis kecil itu mendongak melihat pria jangkung di sampingnya. Sorot matanya berbinar berharap sosok itu adalah ayah yang sebenarnya. Seorang pria yang begitu ia rindukan selama ini. Kaila tidak menyangka di hari ayah mendapatkan kejutan yang luar biasa. Tanpa memperhatikan sang ibu kelegaan hadir di wajah imutnya. Semua pandangan mata masih tertuju pada pemeran utama hari ini.


“Annyeonghasseyo, yeorobun. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. Saya ingin memberitahu jika selama ini saya memang sibuk bekerja jadi tidak sempat bertemu dengan keluarga. Termasuk Kaila, maaf yah sayang appa jarang pulang. Puisi tadi bagus sekali, appa terharu.” Seketika itu juga keadaan di aula itu berubah total. Mereka yang meragukan Kaila kini berbanding terbalik. YeonJin bak pahlawan kesiangan bisa menyelamatkan kesedihan gadis kecil itu.


Kekaguman terlihat di wajah para ibu. Tidak ingin YeonJin bertindak terlalu jauh, Riana pun berjalan mendekati mereka lalu menggedong Kaila cepat. Kedua matanya menatap YeonJin nyalang, menuntut penjelasan atas tindakan yang sudah dilakukannya. Tanpa menghiraukan yang lain, Riana meninggalkan aula dengan cepat. Ia tidak mengerti dengan apa yang dilakukan YeonJin. Apa pria itu kasihan? Itulah yang tersemat dalam dipikirkannya. Melihat itu YeonJin pun menyusulnya. Kejadian tadi membuat semua wanita yang ada di sana kembali heboh. YeonJin seperti pria idaman yang mereka inginkan. Pria sejati yang penuh tanggungjawab.


Taman sekolah menjadi titik pemberhentiannya. Riana duduk di bangku dekat air mancur seraya masih menggendong Kaila yang tengah memeluknya erat. Tidak lama berselang YeonJin datang dan duduk di samping mereka. Merasakan kehadiran seseorang, Kaila mengangkat kepalanya lalu menoleh ke samping kanan. Ia melihat senyum tulus dari pria yang mengaku sebagai ayahnya. Ia senang sekaligus terkejut.


“Mamah, apa paman ini memang ayah Kaila?” Tanyanya mendongak menatap Riana. Wanita itu gelagapan seraya menoleh singkat ke arah YeonJin.


“Se…sebenarnya paman ini atasan mamah di kantor. Dia bukan ayah kandungmu.” Jelasnya membuat Kaila kecewa.


Riana sengaja berbicara bahasa Korea bersama anaknya agar YeonJin mengerti. Tanpa disuruh, kedua tangan kekarnya terulur membawa Kaila ke dalam pangkuannya. Mata kecilnya menatap lekat netra bundar Kaila. Senyum mengembang di wajah tampannya membuat selung pipit di pipinya semakin terlihat jelas. Riana kembali tidak mengerti apa yang ingin dilakukannya lagi.


“Annyeong Kaila. Mian, paman sudah berbohong tadi. Maaf paman mengaku sebagai appa kamu. Apa selama ini eomma Riana tidak memberitahumu tentang appa?” Kaila menggeleng singkat. “Ahh sungguh sangat disayangkan. Emm, karena sudah terlanjur bagaimana kalau Kaila menganggap paman sebagai appa kamu. Apa Kaila mau?” Bola mata Riana kembali melebar tidak percaya lalu menoleh pada sang putri yang masih menatapnya lekat. Sedetik kemudian senyum manis mengembang dibibir kemerahannya.


“Ne, aku mau paman.” Kaila mengangguk antusias.


“Ne appa, kamsahamnida…”


“Bagaimana kalau hari ini kita main bersama?” Kalia kembali mengangguk setuju. Tanpa mengindahkan kehadiran Riana, pria itu menggendong anaknya seraya membawanya pergi.


“Hah~” Riana menghela napas berat tidak bisa mencegahnya. Melihat Kaila sebahagia itu membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa. “Ini memang salahku yang tidak bisa memperlihatkan siapa ayah kandungnya. Aku tidak ingin Kaila sakit hati mengetahui hal yang sebenarnya. Hanya itu. Aku melindunginya karena Mas Arsyid tidak ingin dia ada.”


Malam menjelang tanpa disadarinya. Langkah kaki perlahan menapaki rumah yang ia tempati seorang diri. Ia duduk di sofa panjang yang menghadap langsung jendela besar. Gorden putih yang masih terbuka itu memperlihatkan keindahan langit. Bintang satu persatu muncul menemaninya. Ruangan gelap itu mengingatkannya pada masa lalu. Masa yang tidak akan pernah kembali.


“Eomma, jika melihatku di atas sana apa eomma bangga padaku sekarang? Dulu appa meninggalkan kita demi wanita itu. Dia juga bilang aku tidak bisa menjadi seperti dirinya. Yah aku memang tidak mau seperti itu. Eomma, apa aku juga bisa bahagia bersama seseorang?” Racaunya memandang ke salah satu bintang yang berkelap-kelip di atas sana. Di tengah kesenduannya bayangan seseorang muncul dalam pikiran YeonJin. Pria itu melebarkan pandangan. Ia terkejut sendiri kenapa bisa wajah wanita berhijab itu tiba-tiba saja melintas dalam bayang. “Apa yang ku pikirkan? Dan kenapa juga aku berbicara seperti itu pada Kaila. Kalau aku menarik kembali ucapan itu pasti mereka kecewa. Hah~ saat mendengar puisinya aku merasakan kesedihan yang mendalam. Dulu aku juga jarang bertemu dengan appa setelah kejadian itu. Melihat Kaila seperti melihat diriku yang dulu.” Itulah alasan kenapa YeonJin memperbolehkan Kaila memanggilnya dengan sebutan appa.


Di tempat yang berbeda, Riana masih terjaga dalam diam. Ia terus memandangi Kaila yang sudah jatuh terlelap. Ucapan YeonJin siang tadi masih terngiang. Tidak menyangka pria yang baru saja dikenalnya bisa melakukan hal sejauh itu untuk Kaila. Wajah bahagia sang putri masih terekam jelas dalam ingatan. Rasa bersalah pun semakin menyeruak timbul dalam diri Riana. Sudah bertahun-tahun ia merahasiakan keberadaan ayah kandungnya.


“Tapi ternyata aku salah. Sampai kapan pun bayang-bayang Mas Arsyid tidak bisa hilang dalam kehidupanku. Dan bagaimana pun juga dia ayah dari Kaila. Sayang, maafkan mamah tidak bisa mempertemukanmu. Ternyata sesenang itu kamu bertemu ayah. Kim YeonJin itu pria yang baik. Tapi aku tidak boleh terus-terusan membuat Kaila memanggilnya ayah, bagaimana kalau tunangannya tahu? Aku tidak mau menjadi penyebab rusaknya hubungan mereka.” Racau Riana duduk tegak di tempat tidurnya. Ia menoleh ke samping kanan, jendela yang terbuka itu membuatnya mendongak ke atas melihat bintang bertaburan di langit malam. Bulan bersinar terang memberikan kekuatan padanya untuk tersenyum. Masalah dalam pundaknya memudar jika ia menghadapinya dengan senyuman. Riana tahu Allah tidak pernah salah memberikan masalah pada setiap hamba-Nya.


“Jika dulu aku bisa melewati masalah berat itu, aku pasti bisa melewati masalah-masalah lain setelahnya. Karena aku yakin Allah bersama orang-orang yang bersabar.”


Seperti dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 153 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”