QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Ayah (Season 2)



Waktu terus berputar sebagaimana mestinya, kejadian mendebarkan sekali lagi harus terjadi dalam hidup. Rencana dan takdir dari-Nya tidak bisa terdeteksi dan menjadi kejutan tersendiri. Di balik air mata yang mengalir, menganak bagaikan sungai terdapat kebaikan setelahnya.


Setiap peristiwa yang menimpa memberikan pembelajaran tersendiri. Terkadang sakit dan membuat diri mengeluh hingga berharap semua berakhir. Namun, lagi-lagi Allah menyadarkan jika itu semua menjadi bukti perhatian yang Ia berikan.


Allah tidak akan pernah salah menghadirkan luka di balik masalah yang terus datang menerjang. Cinta kerap kali hadir membungkus kegelisahan. Perasaan mendebarkan tersebut terkadang menghadirkan trauma dan ketakutan.


Namun, kala diri membuka hati dan menerima keadaan dengan lapang dada, Allah menghadirkan kembali cinta sejati ke dalam hidup. Pasangan sehidup dan sehati mampu mengikis masa lalu bersama kebahagiaan yang lain.


Itulah yang saat ini dirasakan Riana. Wanita yang pernah menjadi single parent gagal dalam pernikahan mendapatkan berkah luar biasa. Bukti nyata tersebut menyadarkan Jasmin jika sudah datang masanya harus membuka hati lagi.


Sudah cukup rasa sakit yang pernah ia terima dari pria tidak bertanggungjawab dan hampir merenggut kehormatannya. Sudah tiga tahun lamanya ia menutup diri dan menghindari sebuah perasaan yang bernama cinta.


Tahun berganti insiden lain datang menghampiri, di balik kepergiannya ke Negara Ginseng tersebut Allah menyimpan kejutan. Choi Jimin, seorang pria yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya kini hadir ke dalam kehidupan.


Pria yang sangat berbeda dari segala hal mengatakan cinta pada pandangan pertama. Luka yang masih tertoreh membuat Jasmin tidak mudah menerima, terlebih kepercayaan keduanya amat sangat berbeda.


Namun, lagi-lagi rencana Allah tidak pernah ada yang tahu. Choi Jimin memutuskan menjadi seorang mualaf dan membukti keseriusannya. Jasmin tidak menyangka jika sekarang tengah duduk bersama keluarga besarnya dan sang calon imam.


Choi Jimin, kedua orang tuanya dan keluarga kecil Kim itu pun bertandang ke Indonesia. Binar kebahagaan melingkupi wajah cantik Riana. Ia yang tengah menggendong Hyun Sik tersenyum lebar dan berbisik pelan kepada Sarah.


"Mbak, entah kenapa aku yakin jika Jimin pria yang tepat untuk menjadi pendamping Jasmin. Semoga Allah melancarkan niat baik mereka," ucapnya.


Sarah yang tengah duduk di sebalah menoleh cepat seraya menampilkan senyum hangat. "Itu yang Mbak rasakan juga. Beberapa hari yang lalu saat kami pertama kali bertemu Mbak merasakan sesuatu dalam dirinya. Meskipun pada awalnya mereka berbeda kepercayaan, tapi sekarang Allah sudah memberikan hidayah padanya. Mbak harap mereka bisa menemukan kebehagiaannya, seperti kalian," balas Sarah sambil menatap Riana dan YeonJin bergantian.


"Aamiin, aku ingin melihat mereka juga bahagia, dan Jasmin bisa melupakan masa lalunya," jawab Riana, Sarah hanya mengangguk mengiyakan.


Acara lamaran pun berjalan begitu khidmat. Dua keluarga sudah bertemu satu sama lain, kini Jimin membuktikan perasaannya, jika cinta yang ia miliki benar adanya. Jasmin yang melihat keseriusannya pun terharu dan menitikan buliran air mata dan menerima lamaran.


Riana dan Sarah yang menyaksikan momen mendebarkan tersebut ikut terharu. Mereka yakin Jamsin bisa melupakan rasa sakit dan trauma masa lalu. Karena tidak ada yang salah dengan kejadian itu jika dilihat dari sisi positifnya. Perstiwa tidak mengenakan menuntun Jasmin untuk menemukan cinta yang lain.


Cincin emas melingkar di jari keduanya. Tanggal pernikahan pun sudah ditentukan dan tinggal menunggu hari istimewa itu datang membuat keduanya tidak karuan. Jimin tidak percaya jika cintanya terbalas jua, perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan dan mendapatkan balasan luar biasa.


...***...


Kaila yang tengah duduk di samping sang ibu menatap lekat ayah kandungnya. Gadis yang hampir berusia sembilan tahun itu pun tidak kuasa menahan air mata. Tanpa isak tangis bulir demi bulir kristal bening berjatuhan di pipi gembilnya.


Riana yang menyadari hal itu pun mengusap punggungnya pelan menyalurkan kekuatan. "Sayang, sapa Ayah, Nak," titahnya kemudian.


Kaila yang tengah sibuk mengusap air mata menghentikan kegiatannya dan mendongak ke depan. Mata bulat besarnya menatap lekat sosok ayah di hadapannya. Irsyad terperangah, bak patung tidak bergerak sedikit pun.


Kaila turun dari duduk dan berjalan mendekat. Perlahan tapi pasti langkah kecilnya mencapai keberadaan sang ayah. Tidak lama setelah itu tangan mungilnya terulur memeluk erat sosok ayah kandung yang selama ini jauh dari jangkauan.


"Ayah," panggilnya pelan. "Aku merindukanmu," cicitnya lagi.


Irsyad tersentak melebarkan kedua maniknya lebar dan menunduk. Ia tidak menyangka anak yang dulu tidak pernah diinginkan keberadaannya kini hadir dan memanggilnya ayah. Perasaan campur aduk menyapa sanubari hingga tanpa sadar air mata menitik begitu saja.


Kedua tangan yang bergetar hebat terangkat membalas pelukan sang putri. Irsyad menangis sejadi-jadinya meluapkan rasa bersalah selama bertahun-tahun. Pemandangan tersebut membuat Riana ikut menangis tidak kuasa menahan perasaan menggebu dalam dada.


YeonJin yang berada di samping seraya menggendong Hyun Sik merangkulnya hangat. Ia mengerti bagaimana emosi membuncah sang istri. Terutama masa lalu yang pernah mereka lewati bersama. Masa yang tidak seharusnya diingat dan harus dilupakan.


"Kaila, Ayah minta maaf. Ayah benar-benar minta maaf." Kata maaf terus tercetus di balik bibir kering Irsyad.


Mantan pengusaha properti itu terus menangis meluapkan rasa bersalah. Untuk beberapa saat hanya ada isak tangis berdengung di sana. Sipir yang tengah berjaga mengerutkan dahi tidak mengerti dan memberikan kesempatan kepada mereka melepas rindu.


Tidak lama berselang Kaila melepaskan pelukan dan mendongak menatap wajah berair sang ayah. Tangannya kembali terulur menangkup hangat pipi Irsyad. Sang empunya terkejut dan berusaha menahan air mata.


"Kata ibu guru orang dewasa tidak boleh menangis, apa pun yang terjadi air mata harus disembunyikan. Ayah, Kaila minta maaf, karena baru kali ini datang .... tapi, Ayah harus tahu jika, Kaila sangat menyayangi Ayah. Bagi Kalia, Ayah orang tua yang luar biasa," tuturnya lembut.


Meskipun bahasa Indonesia yang digunakannya tidak begitu pasih, tetapi Irsyad mengerti dan sangat terharu apa yang dikatakan buah hatinya. Air mata kembali mengalir begitu deras, kata maaf masih tercetus tanpa henti.


"Ayah tidak usah minta maaf. Ayah tidak salah apa-apa, jangan menangis, Kaila sayang Ayah. Sampai kapan pun Ayah tetap pahlawan terhebat," ucapnya tulus.


Irsyad kembali memeluknya hangat dan memberikan kecupan di puncak kepalanya. "Terima kasih, Sayang. Ayah menyesal pernah menyakitimu ... Ayah harap kamu bahagia. Jika nanti Ayah bebas, Ayah akan segera menemuimu. Sekali lagi Ayah minta maaf."


Tanpa mengatakan apa pun Kaila mengangguk dan menyembunyikan wajah berairnya di dada bidang sang ayah. Riana mengerti sang putri sangat merindukan ayah kandungnya, meskipun ia sadar jika keadaan mereka tidak bisa dibilang baik-baik saja.