QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Kebersamaan (Season 2)



Riana masih kukuh menangis dalam diam menyaksikan drama haru dua orang di hadapannya. Suami dan putri pertamanya tengah saling mendekap menyalurkan kasih sayang satu sama lain. Tanpa adanya ikatan darah mereka bisa membuktikan jika kasih sayang antara orang tua dan anak tidak kandung bisa terjalin.


Jeratan kisah yang menghasilkan darah dan air mata sudah pernah ia lewati. Tidak dihargai dan direndahkan pernah dialami. Rasa itu memberi ia kekuatan untuk mundur dan lebih memilih sendirian membesarkan sang putri, meskipun buah hatinya harus kehilangan satu kasih sayang. Namun, itu lebih baik sebab ayahnya pun tidak menginginkan kehadirannya.


Waktu terus berputar sebagaimana tugasnya sebagai pengubah keadaan. Perjuangan tidak ada yang sia-sia, karena pada akhirnya akan ada satu titik penyelesaian. Allah menghadirkan seseorang sebagai pengobat trauma, walaupun memang masa lalu tidak bisa dilupakan begitu saja.


Kehadiran Kim YeonJin merupakan obat mujarab bagi Riana untuk menyembuhkan rasa rasa sakit yang ditorehkan Irsyad. Kini ia bahagia bisa mendapatkan cerita baru dalam kehidupannya. Episode lama sudah ia kubur rapat-rapat dan membuka lembara baru bersama orang baru.


"Bisakah aku bergabung dengan kalian?" tanyanya menyadarkan mereka.


YeonJin dan Kaila pun melepaskan pelukan, keduanya kompak menoleh ke samping melihat lengkungan bulan sabit di wajah cantik Riana. "Tentu," kata mereka lalu merentangkan tangan menyambut kedatangannya, tanpa menyia-nyiakan waktu ia berjalan cepat menghampiri. Ketiganya saling berpelukan dengan perasaan lega mendapatkan keluarga utuh kembali.


"Ah ... jadi seperti ini rasanya berada dalam pelukan kedua orang tua?" pertanyaan Kaila menyadarkan Riana dan YeonJin.


Sang ibu menunduk menatap wajah berbinar putri kecilnya. "Sejak bertemu dengan ayah sambungmu inilah yang selalu Mamah rasakan, Sayang. Bukankah Appa sangat menyayangimu? Appa ... meskipun kalian tidak ada ikatan apa pun, tetapi Appa sudah menganggapmu seperti putri kandungnya. Mamah merasakan itu juga, karena bagaimanapun-"


"Appa, orang tuamu juga, Sayang," serobot YeonJin cepat.


Kaila yang tengah mendongak menatap keduanya bergantian. Senyum lebar pun hadir menyiratkan keharuan dalam dirinya. Berada di tengah-tengah ayah dan ibu memberikan kehangatan tiada tara, meskipun ia tahu jika Kim YeonJin bukanlah ayah kandungnya. Namun, Kaila merasakan kasih sayangnya lebih dari orang tua kandung.


Riana mengusap kepalanya sayang begitu pula dengan YeonJin. Ia senang bisa mendapatkan wanita yang dicintainya sekaligus Kaila. Putri yang sangat mandiri dan juga pintar, ia tidak pernah menyesali apa pun dan mensyukurinya. Karena berkat mereka ia bisa menemukan jalan kebenaran.


Mereka kembali saling mendekap satu sama lain tanpa menghiraukan kedatangan tiga sosok di sana. Jasmin dan Jimin lagi-lagi harus menyaksikan adegan harmonis keluarga tersebut. Namun, mereka senang dan ikut merasakan kebahagiaan Riana dan YeonJin.


Dalam diam Jasmin terus memperhatikan ketiganya. "Teh Riana sudah banyak mengalami kejadian menyakitkan menimpa hidupnya dan Allah menghadirkan YeonJin Oppa sebagai pengobat atas lukanya di masa lalu. Ya Allah hamba percaya, Engkau tidak pernah salah dalam memberikan kebaikan." Monolognya dalam diam.


Tidak lama kemudian Hyun Sik pun menangis menyadarkan mereka, Riana pun melepaskan pelukan dan melebarkan pandangan. Netra kecoklatannya kembali bersitatap dengan dua insan di sana, rona merah pun menghiasi pipi putihnya lagi. Ia pun beranjak dan berjalan mendekati Jasmin.


"Assalamu'alaikum, Teh, maaf baru memberi salam," kata Jasmin seraya menyerahkan Hyun Sik.


"Wa-wa'alaikumsalam, i-iya tidak apa-apa," gugup Riana.


Jasmin pun tersenyum lebar melihat kelakuannya dan membuat Riana menjadi salah tingkah. "Te-terima kasih sudah menjemput Hyun Sik. Kamu belum makan, kan? Bagaimana jika kita malam ini makan bersama? Kamu mau, kan? Jimin juga."


"Bagus, kalau begitu bisa bantu Teteh menyiapkannya?" tanya Riana menatap Jasmin lagi. Ia pun hanya mengangguk dan pergi mengikutinya.


Di sana hanya tersisa Jimin dan YeonJin, Kaila sudah menghilang ke dalam kamar menyisakan mereka berdua. Jimin berjalan dengan lesu ke arah sofa di ruang keluarga dan mendudukan diri di sana. Helaan napas berat pun mengundang sebuah tanya pada sang kakak.


"Ada apa? Apa ada sesuatu tadi di jalan?" tanya YeonJin duduk tepat di sebelahnya.


Jimin menegakan kepalanya di mana ruangan itu tembus langsung ke arah dapur. Iris kecilnya tepat memandangi sosok berhijab di sana. Degup jantung bertalu kencang membuat ia mengalihkan pandangan. Menyaksikan gestur aneh dari adiknya itu mengantarkan kebingungan dalam diri YeonJin.


"Apa masalah ini tentang perasaanmu pada Jasmin lagi? Jika benar apa yang akan-"


"Hyung ... bisakah Hyung membantuku mempelajarai agamamu."


Jimin menoleh dengan sorot mata serius. YeonJin terkejut tidak percaya mendengar ucapannya, bola mata kecilnya pun melebar dan mulut menawannya sedikit terbuka. "Apa kamu yakin dengan keputusamu itu?" tanyanya kemudian.


Tanpa gentar Jimin mengangguk cepat. "Aku ingin mempelajarai agamamu. Aku percaya Tuhan itu satu dan aku ingin mengenalnya lebih jauh."


YeonJin tidak kuasa membendung keharuan, setetes air mata pun terjatuh. Buru-buru ia menghapusnya kasar dan memandangi Jimin lekat. "Apa ini bukan karena Jasmin?"


Jimin menggeleng beberpa kali, tanpa kebohongan ia mengatakan, "ini bukan kerena siapa pun. Selama ini aku sudah membaca mengenai berbagai kepercayaan. Namun, entah kenapa aku tertarik untuk mempelajari lebih jauh kepercayaanmu Hyung. Aku tahu mungkin ini terdengar seperti alasan untuk mendapatkan hati Jasmin, tapi tidak seperti itu. Aku sudah melepaskannya dan mencoba melupakan perasaan ini. Aku berharap ia mendapatkan kebahagiaan, tentang ini aku sangat bersungguh-sungguh."


YeonJin menutup mulut menganganya tidak percaya, adik yang selama ini sering bersikap ceroboh terkadang dimanfaatkan wanita kini mengatakan hal serius. "MasyaAllah, aku sangat senang mendengarnya. Jika kita memang mencintai seseorang lebih baik lepaskan dan serahkan semuanya pada yang di Atas. Karena cinta tanpa ikatan bukan kemurnian yang didapatkan, melainkan kesalahan. Berusaha ikhlas melepaskan dan genggam ia dalam do'a. karena Allah tahu mana yang terbaik. InsyaAllah aku akan membantumu dalam mempelajari kepercayan ini, tetapi aku juga bukan insan yang terbaik. Ah ... bagaimana jika kita pergi ke Incheon? Di sana terdapat masjid pusat Seoul dan ada imam yang bisa membantumu. Kita bisa pergi bersama, aku juga mengucapkan syahadat di sana," ungkap YeonJin mengingat kembali bagaimana hari itu. Waktu paling mendebarkan sepanjang hidup yang membuat perasaannya lega luar biasa. Jimin mengangguk senang dan mengiyakan ucapannya.


Tanpa keduanya sadari samar-samar Riana bisa mendengar perbincangan mereka. Ia mengulas senyum senang seraya melihat ke arah Jimin sekilas. Ia lalu menoleh ke belakang di mana Jasmin tengah sibuk dengan penggorengan. Bibirnya pun semakin melengkung sempurna kala bisa merasakan bagaimana perasaan terdalam seorang Jimin.


"Aku percaya akan ada kebaikan untuk keduanya. Ya Allah jika Engkau menakdirkan mereka untuk bersama, maka berilah kelancaran dan juga kebahagiaan. Aku harap Jasmin bisa lepas dari traumanya. Karena bagaimanapun juga di depan sana masih ada pria baik yang menunggunya." Benak Riana masih memandangi punggung Jasmin.


"Teh, setelah ini masak apa lagi?" Pertanyaan Jasmin mengejutkan. Riana tersentak dan sadar dari lamunan lalu berjalan mendekatinya.


Keduanya pernah hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Peristiwa yang terus membekas dalam ingatan dan menghadirkan trauma memang tidak mudah untuk kembali percaya pada seseorang. Namun, berkat usaha orang yang mencintai mereka, masa menyakitkan itu pun bisa lepas dan pada akhirnya kebahagiaan menghampiri.


Pelangi tidak akan hadir tanpa hujan badai, senyum tidak pernah hadir jika tanpa tangisan. Maka kebahagiaan pun tidak akan timbul tanpa kesakitan. Allah yang mengatakan sendiri jika "Di balik kesulitan pasti ada kemudahan." (Q.S Insyirah : 6)