
"Aku mohon beri aku kesempatan lagi. Aku mohon ... aku ingin menebus semuanya. Aku masih mencintaimu dan ingin selamanya bersamamu," ungkap Yona yang teredam di punggung tegap Jimin.
Seringaian hadir di wajah tampannya dan dengan cepat ia melepaskan pelukan Yona tanpa sedikit pun melihat ke arahnya. "Pergilah, aku sudah tidak mencintaimu lagi. Saat ini ada seseorang yang ingin aku perjuangankan. Aku sangat mencintainya dan aku tidak ingin membuatnya terluka. Kita sudah selesai dan aku harap kamu tidak menganggaguku lagi."
Setelah mengatakan itu Jimin melangkahkan kaki meninggalkan Yona sendirian. Riana dan YeonJin yang mendengar perkataannya pun mengembangkan senyum. Keduanya yakin jika perasaan yang dimiliki Jimin tidak main-mian, hanya tinggal masalah waktu bagaimana takdir bermain untuk mereka.
Pasangan suami istri itu pun bergegas menuju pintu depan menyambut kedatangannya. Jimin terkejut dan hampir berteriak mendapati keduanya dengan lengkungan bulan sabit begitu lebar di sana. Ia mundur selangkah dan mengerutkan dahi bingung.
"Hyung, bangga padamu, Nak. Pertahankan kegigihanmu ini," ucap YeonJin menepuk-nepuk bahu kanan Jimin.
"Aku juga sangat bangga padamu dan teruskanlah perjuanganmu itu. Karena tidak ada perjuangan yang sia-sia, bukan?" lanjut Riana riangan.
"Kalian ini kenapa? Hyung bukan orang tuaku jadi jangan memanggilku nak. Sangat kekanankan. Dan ada apa dengan senyuman itu, Riana?" sewot Jimin memandangi keduanya bergantian.
Mereka mengangguk-anggukan kepala semakin membuat Jimin tidak mengerti. "Sudahlah kalian memang pasangan aneh. Tunggu, di mana Jasmin?" tanyanya kala tidak mendapati wanita itu di manapun.
Mendengar pertanyaan tersebut wajah ceria Riana dan YeonJin seketika memudar. Mereka saling pandangan dan memberikan tatapan menyesal. "Jasmin sudah pulang beberapa saat lalu," jawab Riana.
"Mungkin dia terkejut melihat kedatangan Yona," timpal YeonJin.
Jimin menghela napas kasar dan mengusap wajah gusar. Tanpa mengatakan sepatah kata ia pergi dari sana menyisakan keheningan kembali. "Setelah ini kita hanya bisa melihat keberuntungan mereka," ungkap YeonJin.
"Eum, aku juga sudah tidak sabar," balas sang istri. Setelah kepergian para tamu, keduanya pun membereskan dapur dan siap untuk menyelam ke alam mimpi.
...***...
Malam semakin larut, sepi nan hening menyambut kedamaian, detik demi detik jam terus bergerak bergema dalam ruangan. Selesai dengan tugasnya, kini pasangan suami istri itu tengah menikmati waktu bersama. Dekapan hangat satu sama lain mengantarkan pada muara kebahagiaan, pandangan satu sama lain mengunci tepat pada sasaran.
Cinta tengah bergejolak dalam dada, perasaan mendalam tersalurkan lewat bahasa tubuh yang saling membutuhkan. Dalam waktu singkat penyatuan pun terjadi, kelembutan yang dilayangkan memberikan kenikmatan. Pasangan halal itu tengah berada dalam dunianya sendiri, melupakan sejenak problem dalam hidup.
"Aku sangat mencintaimu, jangan pernah menyembunyikan apa pun lagi dariku, yah. Perjalanan kita tidak mudah banyak lika-liku yang terjal hingga pada akhirnya Allah mempersatukan. Aku sangat menghargai pernikahan kita dan juga perasaanmu. Aku tahu masa lalu memang tidak mudah dilupakan, tetapi aku ingin menciptakan memori indah bersamamu. Sayang, kamu tahu bagaimana perasaanku," ungkap YeonJin mengutarakan rasa dalam dada. Ia lalu kembali mengecup punggung tangan sang istri membuat degup jantung Riana meningkat tajam.
Kehangatan kembali menjalar, ia harus selalu menyiapkan diri untuk setiap kejutan demi kejutan yang suaminya berikan. Perjalanan rumah tangga mereka memang baru seumur jagung, tetapi Riana sudah merasakan banyak perhatian dan juga kelembutan dari Kim YeonJin. Bahkan dari sebelum mereka menikah pun pria itu sudah terlalu sering membantunya.
Air mata kebahagiaan meluncur deras tanpa bisa dicegah. Memang benar masa lalu menyakitkan tidak mudah untuk dilupakan, terkadang bayang-bayang hari itu masih terngiang dalam ingatan. Perlakuan yang dilakukan Irsyad padanya dulu berbanding terbalik dengan suaminya sekarang.
Kim YeonJin memperlakukannya bak ratu yang benar-benar menghargai dan menghormatinya sepenuh jiwa raga. Tangan mungil Riana terulur menangkup pipi sang suami, "terima kasih karena sudah memperlakukanku dengan baik. Aku sangat menghargainya."
"Sayang ... kamu adalah ratu yang berhasil membangun singgasana di hatiku. Kamu ibu dari anak-anakku dan juga istri yang sangat aku cinta. Dulu aku tidak pernah percaya cinta, karena perlakuan appa yang sudah menyakiti eomma, semua itu seperti sebuah illusi. Aku terjebak di dalamnya dan merasa trauma, tetapi setelah Allah menghadirkanmu semuanya berubah. Aku melihat eomma dalam dirimu, itu sebabnya aku sangat menghargaimu. Aku tidak bermaksud menjadikanmu sebagai pengganti eomma, aku hanya mengaggumi perjuanganmu untuk membesarkan Kaila. Aku bangga sekaligus takjub dan ... aku beruntung memilikimu." Kim YeonJin kembali mengutarakan perasaan terdalamnya.
Kejadian masa lalu memang tidak untuk dikenang maupun diungkit lagi, tetapi keberadaannya mampu mengundang ketidakpercayaan dan berlabuh pada trauma. Sulit untuk kembali percaya akan sebuah perasaan jika hati sudah terluka. Tidak mudah membuka hati saat dihadapkan pada peristiwa menyakitkan yang terus membayang.
Kehilangan sosok paling berharga tidak mudah diterima. Perpecahan terjadi dan menjadikan diri sebagai saksi atas perstiwa yang terjadi. Tidak gampang mengemban tugas sebagai saksi hidup yang menyaksikan kerumitan dalam hidup. Sejarah kelam itu harus ditutup selamanya tidak usah dibuka lagi dan jadikan semuanya sebagai pembelajaran.
Riana merengkuh hangat sang suami dan mengusap punggungnya pelan. Sebagai korban broken home dan sebagai korban kegagalan dalam pernikahan, keduanya memiliki luka yang sama. Perceraian, melekat dalam diri mereka menimbulkan depresi tak berkesudahan.
Tidak mudah bagi Riana maupun YeonJin berada di posisinya sekarang. Banyak perasaan yang harus dikorbankan dan air mata tidak berhenti mengalir. Namun, takdir Allah tidak ada yang tahu, rencana-Nya selalu mendatangkan kejutan tak terduga. Mereka dipertemukan dalam ikatan benang merah yang akhirnya terjalin janji suci pernikahan.
"Aku juga wanita paling beruntung yang bisa bersanding denganmu. Aku bukan wanita istimewa yang patut untuk diperjuangkan, bahkan aku pernah gagal dalam pernikahan dan mempunyai anak. Namun, kamu memperlakukanku seperti ratu yang berharga. Terima kasih, aku sangat mencintaimu," balas Riana.
Ia membubuhkan ciuman mendalam di puncak kepala sang suami yang kini tengah bersandar nyaman di dadanya. YeonJin mengangguk sekilas menahan keharuan yang kian bergejolak. Perasaan keduanya pun tersampaikan dengan jelas, kisah kelam yang pernah mereka lalui kini berganti cerita manis tak berujung.
Buku lama sudah tertutup rapat dan buku baru terbuka untuk diisi dengan episode-episode mendebarkan. Meskipun memang terkadang hidup dan kehidupan tidak pernah luput dari yang namanya permasalahan. Namun, kebersamaan dan kepercayaan yang melekat dalam diri, bisa menjadikan Riana dan YeonJin mampu menghadapinya.
Bersama mereka kuat dan yakin untuk melalui semuanya dengan saling bergandengan. Terkadang cobaan itu berat dan mampu mengalirkan air mata, tetapi keberadaan satu sama lain bisa menghempaskannya perlahan. Karena cinta sejati dibangun atas dasar cinta kepada Illahi Rabbi.