
...Bersama kehadirannya membawa harapan baru yang tidak mungkin berjua. Bagaikan senja, keindahannya hanya sesaat dan berganti gelapnya malam....
.......
Selepas dari hari itu, setiap ahad atau pun hari libur lainnya, YeonJin sering mengajak Kaila main bersama. Riana sempat menolak, tetapi rengekan sang anak tidak bisa membuatnya terbantahkan. Terkadang ia pun membiarkan mereka hanya pergi berdua saja. Bak seorang ayah kandung, YeonJin sering membelikannya bermacam-macam permainan dan juga pakaian.
Riana terkejut anaknya selalu membawa oleh-oleh ketika pergi bersamanya. Ia merasa tidak enak karena sudah merepotkan atasannya. Berkali-kali ia berbicara agar YeonJin tidak membelikan apapun untuk Kaila. Namun, pria itu tetap saja melakukan hal yang sama seolah tidak menggubris perkataannya.
Seperti waktu yang sudah-sudah, hari ahad keempatnya ini pun Kaila pulang membawa mainan baru lagi.
“Lihat deh mah, appa membelikanku boneka baru. MasyaAllah bagus banget kan, mah.” Dengan polosnya anak itu mengelurkan boneka beruang dalam kantung belanjaannya.
“A…eung Alhamdulillah.” Riana tidak yakin dengan itu. Senyum lebar terpendar di bibir mungil kemerahan Kaila. Anak semata wayangnya ini selalu bahagia setiap kali pergi bersama YeonJin.
“YeonJin appa itu baik sekali. Bahkan aku dibawa ke restoran paling mahal. Makanannya enak sekali.” Ia kembali berceloteh seraya menerawang ke langit-langit ruangan.
“Apa makan di restoran? Apa itu halal?” Riana memandanginya takut-takut.
“Tadi YeonJin appa bilang restoran itu halal, mah. Ahh~ aku seperti mempunyai seoranga ayah sekarang. Mah, aku sayang~ sekali sama YeonJin appa.” Ungkapnya seraya memeluk boneka pemberian pria itu.
Riana tidak percaya. Hanya dalam kurung waktu 1 bulan lebih Kaila dan YeonJin sudah akrab layaknya keluarga. Ia tidak bisa membantah. Bagaimana pun juga kebahagiaan yang nampak di wajah mungilnya membuat Riana ikut merasakan. 5 tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu pula Kaila belum pernah merasakan kasih sayang dari seorang ayah.
Kehadiran YeonJin seperti deburan ombak yang menyapu keresahan. Kaila tidak lagi mempertanyakan siapa ayah kandungnya. Mungkinkah ia menganggap YeonJin layaknya ayah asli? Sungguh sangat disayangkan, sepertinya Kaila merasakan hal itu. Kedekatan mereka sudah tidak bisa dilepaskan.
“Aku ingin punya ayah seperti YeonJin appa. Kalau begitu Kaila tidur dulu yah mah, ngantuk.” Sambil menguap kecil Kaila melangkah menuju kamarnya dengan menarik barang-barang bawaannya. Riana kembali tidak percaya melihat itu. Gadis kecilnya sudah berubah, tidak semanja dulu lagi. Lebih mandiri dan juga tegar.
“Entahlah, apa aku harus senang atau tidak…”
Sedangkan di Timur Kota Seoul, YeonJin tengah menikmati makan malam seorang diri. Kursi-kursi kosong itu hanya ditempati oleh angin. Ia tersenyum kecil keadaan seperti itu sudah dialaminya bertahun-tahun. Namun, entah kenapa sekarang ia merasa hampa?
Bayangan Kaila hinggap begitu saja dalam kepala bersurai hitam itu. YeonJin merasakan kebahagiaan saat bersamanya. Ia seolah melihat sosoknya dari masa lalu. Kehilangan kasih sayang dari seorang ayah memang tidaklah mudah. Terlebih Kaila belum pernah merasakannya sejak awal.
“Apa aku merindukan kehadiran keluarga? Hey, bukankah usiaku juga sudah cukup untuk menikah? Hahahaha apa yang ku pikirkan. Ya ampun, sadarlah kau YeonJin. Hah~ aku sudah menyayangi Kaila seperti putriku sendiri. Sshh, tapi masih ada yang mengganggu pikiranku. Alasan apa yang Riana sembunyikan?” Celotehnya pada kekosongan.
Harapan terlihat nyata, tapi ia belum bisa memastikan untuk menggapainya.
...***...
Malam berganti dengan cerahnya langit pagi ini. Selesai sarapan lalu mengantarkan Kaila ke sekolah, Riana bergegas pergi menuju tempat kerjanya. Tidak seperti hari-hari lalu, ia sudah tidak merasa canggung lagi. Kedekatannya dengan sang pemilik perusahaan membuatnya seperti berada di rumah sendiri. Ia bukan karyawan yang istimewa, tapi perlakuan baik sang bos membuat orang lain disekitarnya memandang seperti itu. Hingga saat ini Riana maupun YeonJin belum menyadarinya tentang perbincangan rahasia karyawan yang lain.
Setibanya di ruangan, ia langsung melihat dokumen yang tersebar di meja kerjanya. Wajah bulat terbungkus hijab mocca itu celinagk-celinguk melihat kertas demi kertas.
“Alhamdulillah, sepertinya berjalan dengan lancar.” Senyum manis terbit di bibir ranumnya.
YeonJin yang baru saja tiba, menghentikan langkahnya terpesona. Tanpa sadar kedua kakinya membawa ia masuk ke ruangan.
“E.. YeonJin-ssi. Aku sedang melihat laporan dari pekerja di lokasi, katanya pekerjaan mereka berjalan lancar.” YeonJin mengangguk-anggukan kepala mengerti.
“Syukurlah.”
“Oh yah YeonJin-ssi, terima kasih sudah mengajak Kaila jalan-jalan kemarin. Dan aku mohon jangan pernah belikan lagi dia mainan. Em, aku bukan bermaksud menolak hanya saja barang-barang itu tidak cukup di apartemen kecilku hehehe.” Kekehnya mencairkan suasana agar tidak menyinggungnya.
“Kalau begitu kalian pindah saja ke apartemen yang lebih besar. Ahh, kalau tidak kalian bisa pindah ke rumahku.” Tunjuknya tepat ke wajah Riana.
“Ehh!!” Riana sampai bangkit dari duduknya.
Keduanya saling tatap tidak sadar dengan ucapan yang baru saja YeonJin lontarkan. Seketika menjadi hening dan mereka pun melepaskan pandangan. Canggung begitu kentara. Riana terkejut kenapa YeonJin bisa berkata seperti tadi. Pun dengan dirinya sendiri. Ucapan spontannya membuat keadaan tidak singkron.
“A..ahh, sepertinya aku hanya asal bicara saja hahahaha. Kalau begitu lanjutkan pekerjaannya, a…aku ke ruangan dulu.” YeonJin pun melarikan diri dari sana. Tanpa ia sadari rona merah tipis menghiasi pipi putihnya.
Raina pun kembali duduk di kursi kebesarannya seraya memandang tempat yang baru saja ditinggalkan YeonJin. Keterkejutannya masih membuat ia bungkam. Kepalanya kosong tidak bisa memikrikan apa-apa.
Brakk!!
YeonJin membuka pintu ruangannya kasar, bergegas menuju kursi kerja dan mendaratkan dirinya di sana. Ia memutarkannya membelakangi pintu masih memikirkan tentang ucapannya beberapa saat lalu. Ia tidak tahu kenapa bibirnya begitu lincah berkata seperti tadi terlebih kepada wanita itu.
“Aaaahh~ bagaimana ini? A…apa aku sudah keterlaluan? Kenapa aku selalu berkata seenaknya? Ya Tuhan.” Racaunya.
“Hyung, ini ada dokumen yang harus ditanda tangani.” Kedatangan Jimin menyadarkan. Ia pun kembali memutar kursi dan melihatnya dengan tatapan serius. Jimin mengerutkan dahi tidak mengerti.
“Apa hyung sakit? Kenapa wajah hyung merah seperti itu?”
YeonJin menautkan jari jemarinya dan mendaratkan dagu di sana berusaha mempertahankan wajah tegasnya. Tetap saja bagi Jimin itu terlihat mencurigakan.
“Ani. Aku baik-baik saja.”
Pria itu mendekatinya perlahan. Kedua mata kecilnya semakin menyipit. Mendapatkan tatapan seperti itu bola mata kecil YeonJin bergulir ke tempat lain.
“Apa hyung sedang jatuh cinta?” Seketika itu juga ia kembali menatapnya tidak percaya.
Bughh!!
Dokumen yang berada di depannya mendarat di kepala bersurai coklat lembut itu.
“Yakk!! Sakit hyung kejamnya, kau ini.”
“Pabbo. Mana dokumen yang harus aku tanda tangani.” Pintanya. Dengan sedikit mengaduh Jimin menyodorkan berkas yang dibawanya.
Selagi menandatangani kertas-kertas itu pikirannya terus mengingat ucapan Jimin tadi. Mati-matian YeonJin berusaha mempertahankan ketegasannya. Jika saja Jimin lebih memperhatikannya ia pasti melihat keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Ada perasaan hangat yang tiba-tiba saja menyapa. Ia ingin tersenyum, tapi diurungkan tidak mau membuat dirinya malu sendiri.