QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Luka (Season 2)



Musim semi kali ini sama sekali tidak memberikan aroma harum bunga sakura, melainkan menebarkan racun mengundang air mata. Keristal bening itu terus mengalir bagaikan air sungai di kedua pipi Kim YeonJin.


Dadanya terasa sesak seperti tertimpa batu berton-ton beratnya. Seorang anak yang tumbuh tanpa bimbingan dari sang ayah harus berjuang sendiri dalam ganasnya dunia. Tidak lama setelah perpisahan orang tuanya, YeonJin harus kehilangan wanita paling dicintainya. Ibu yang sudah melahirkannya adalah sosok malaikat pelindung. Meskipun ia tahu jika ibunya menanggung luka yang teramat dalam.


Berkali-kali stir tidak bersalah itu menjadi sasaran pukulan YeonJin. Saat ini ia berada di dalam mobil enggan untuk melakukan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan. Ia ingin sendirian merasakan sakit atas kejadian masa lalu.


Kenangan akan luka di hati tidak semudah itu untuk disembuhkan. Butuh waktu seumur hidup untuk menjahit, mengobati sakit dalam dirinya. Anak korban broken home harus berjuang sendirian dan bertahan di balik gemerlapnya kehidupan.


YeonJin kembali teringat saat anak-anak lain tertawa dan bercanda dengan kedua orang tuanya ketika ada acara di sekolah, ia hanya bisa tersenyum masam. Karena sadar diri jika ia berbeda dengan teman-temannya.


"Ya Allah sakit sekali," lirih Kim YeonJin.


Ia terlihat seperti seorang anak berusia lima tahun. Menangis, meraung, melupakan emosi dalam bentuk air mata. Dewasa dan pria bukan berarti tidak boleh menangis. Saat ada kesakitan yang mendera dan tidak ada siapa pun yang mengerti hanya tangisanlah sebagai pelarian untuk meluapkan emosi tertahan. Bukan cengeng melainkan hal tersebut adalah pilihan yang tepat.


Dan setelahnya serahkan pada Yang Di Atas. Allah lebih tahu apa yang terbaik bagi hamba-Nya.


La tahzan innallaha ma'ana.


Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.


Seketika YeonJin menelungkupkan wajahnya di lipatan tangan yang bersandar pada stir mobil. Ia terus beristighfar menyerahkan semuanya pada Allah semata.


Di tempat berbeda, Riana dan putra keduanya Hyun Sik tengah berada di sebuah cafe tidak jauh dari rumah. Ia bersama Sarah dan keponakannya bernama Jasmin tengah berbincang-bincang ditemani beberapa potong cake dan jus.


"Jadi, Jasmin akan tinggal di Seoul?" tanya Riana.


Sarah mengangguk seraya meminum juasnya singkat. "Iya, beberapa bulan lalu dia lulus S1 dan ingin mencari pengalaman di sini. Makanya hari ini aku ingin bertemu denganmu dan memperkenalkan kalian."


"Mohon bimbingannya Teh Riana, saya baru kemarin datang ke Seoul." Jelas Jasmin sambil menampilkan senyum cerianya.


"Jangan terlalu formal, teteh dan Mbak Sarah sudah kenal lama. Jadi, Jasmin keponakan teteh juga."


Jasmin hanya mengangguk seraya mempertahankan lengkungan bulan sabit di wajah kemerahannya.


"Anak ini memang sedikit pemalu, maklum abah dan uminya dulu sangat menjaganya. Kamu tahu sendirikan lingkungan keluargaku bagaimana?" ucap Sarah kembali.


Riana mengangguk-anggukan kepalanya teringat akan cerita Sarah dan keluarganya. Mereka dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Ilmu agamanya sudah pasti sangat kental dan Riana melihat hal itu dari cara Jasmin berpakaian. Wanita berusia 24 tahun tersebut memperlihatkan sosok muslimah sebenarnya. Gamis panjang tidak menerawang, hijab lebar syar'i menutup auratnya dengan sempurna. Tutur katanya sopan dan suaranya yang halus membuat Riana senang bisa bertemu dengan keponakan orang yang sudah dianggapnya kakak ini.


"Jasmin bermaksud untuk bekerja di sekolah Kaila, jadi kamu tidak usah khawatir untuk menjemputnya nanti."


Penjelasan Sarah membuat Riana melebarkan pandangannya. "Benarkah? MasyaAllah, Alhamdulillah jadi Kaila mempunyai teman seiman di sekolah."


"Tapi belum ditentukan Teh, besok aku harus datang dan wawancara," timpal Jasmin membuat Riana menganggukan kepalanya lagi.


"Aamiin, terima kasih banyak Teh."


Setelah itu mereka kembali menikmati waktu bersama dengan pembicaraan seputar kehidupan sehari-hari. Hyun Sik yang bangun dari gendongan sang ibu pun seketika diambil alih oleh Jasmin. Wanita itu sangat menyukai anak-anak. Sudah sering ayah dan ibunya menyuruh ia untuk menikah, tapi Jasmin tahu jika jodoh sudah ada yang mengatur.


Ia tidak memasalahkan hal tersebut dan mempercayakan semuanya pada Yang Di Atas. Karena Allah tahu kapan waktu terbaik bagi dua insan untuk bertemu dan saling jatuh cinta kemudian berakhir di atas janji suci pernikahan.


...***...


Riana baru saja tiba di kediamannya pukul setengah 4 sore. Setelah menjemput Kaila, ia mampir sebentar ke rumah Sarah untuk memperkenalkan sang putri pada Jasmin. Ia senang Kaila dan Jasmin bisa akur dengan cepat. Kaila seperti mendapatkan seorang kakak dari sosoknya.


Dahi wanita itu mengerut dalam saat melihat kendaraan sang suami terparkir di pekarangan. Perasaan tidak enak tiba-tiba saja menghantuinya. Dengan cepat ia masuk ke dalam dengan sedikit menyeret Kaila.


"Mamah?"


Putrinya selalu peka terhadap perasaan sang ibu yang tengah gelisah. Riana menghentikan langkah di ruang tamu dan menunduk ke bawah menatap bulan di kedua mata itu.


"Ah, mamah tidak apa-apa, Sayang. Emm, sepertinya appa sudah pulang. Kamu ke kamar dulu dan jaga adek Asraf, yah."


Kaila hanya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Riana kemudian meletakan putranya di box bayi yang ada di sana.


Buru-buru Riana berjalan menuju lantai dua di mana ruangannya berada. Tidak lama berselang pintu kamar terbuka dan menampilkan YeonJin yang tengah duduk di tepi tempat tidur. Penampilannya acak-acakan dengan kepala menunduk dalam. Riana merasakan firasat tidak mengenakan terus merayap dalam dirinya.


"Sayang," panggilnya.


Riana bersimpuh tepat di depan sang suami. Kedua tangannya terulur menangkup pipi YeonJin untuk menatapnya. Seketika itu juga bola mata bulat itu melebar sempurna. Riana terkejut melihat wajah pucat suaminya dengan mata bengkak dan memerah.


"A-apa yang terjadi? Sa-sayang?" gugup Riana.


Sedetik kemudian bola mata yang sedari tadi terus menatap ke bawah bergulir menatap sang istri. Tanpa ia duga air mata menetes begitu saja membuat Riana terperanjat. Pria yang selalu menampilkan senyum cerah dan ketegaran itu kini memperlihatkan sisi lemahnya.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun Riana membawa tubuh rapuh sang suami ke dalam pelukan. Perlahan dengan gerakan lembut ia mengusap punggung lebar prianya.


"Jangan ditahan. Menangislah jika itu memang menyakitkan. Aku ada di sini bersamamu, jadi tidak usah khawatir."


Suara lembut nan halus mengalun memasuki indera pendengarannya. YeonJin mengangkat kedua tangan dan membalas pelukan sang istri dengan erat. Ia membenamkan wajah berairnya di ceruk leher Riana. Tanpa isakan, tanpa kata-kata, air mata mengalir tak tertahankan.


Riana hanya membiarkan suaminya menangis sampai keadaannya benar-benar membaik. Ia tidak ingin bertanya kenapa terlebih dahulu, karena ia tahu kata-kata bisa saja melukainya. Riana pernah berada diposisi seperti itu. Dan yang ia lakukan hanya menangis sampai perasaannya membaik.


"Aku akan selalu berada di sampingmu, jangan khawatir. Aku sangat mencintaimu. Apa yang sebenarnya terjadi? Ya Allah berikanlah kekuatan untuk suami hamba," benak Riana.


Senja sore itu tidak memberikan ketenangan bagi penikmatnya dan hanya menemani kepiluan yang datang menerjang.