
Atmosfer asing menyapa membentuk kehampaan tiada tara. Keheningan menjadi teman setia kala suara bising dari arah berlawanan berdengung dalam pendengaran. Sedari tadi Kaila terus menunduk menyembunyikan kekecewaan dengan kedua tangan meremas kuat pakaiannya.
Kedatangan sang ibu lima menit lalu mendatangkan ketakutan tersendiri. Ia belum pernah berada dalam situasi menegangkan dan mendatangkan masalah untuk Riana. Ia hancur dengan kenyataan yang terus menerus berdatangan menamparnya kuat.
Keberadaan Riana di samping membuat Kaila terus dirundung gelisah. Kini di ruangan itu ada sekitar tujuh orang untuk membahas perkelahian yang baru saja terjadi di kelas dua sekolah dasar.
Kaila terus terdiam, penampilannya acak-acakan, rambut yang selalu terikat rapi kini berantakan dan ada luka di wajah ayunya.
"Kaila tidak mungkin mengambil uang yang bukan haknya," kata Riana.
"Tapi Ahjumma hanya dia yang berada di dalam kelas saat istirahat tiba," timpal Baek Hyeon kemudian.
Riana menghela napas kasar tidak percaya, Jasmin yang juga berada di sana menggenggam hangat tangan Kaila. Gadis kecil itu pun mendongak melihat senyum percaya diri darinya, hal tersebut mendorong ia untuk bertahan.
"Apa alasan putri Anda terus menerus makan di dalam kelas sedangkan teman-temannya yang lain berada di kantin?" ucap Nyonya Baek.
"Nyonya sepertinya Anda lebih pintar. Seperti yang Anda lihat semua saya, Kaila, Jasmin seorang muslim. Kami hanya bisa memakan makanan halal, saya tahu di sekolah ini tidak menyediakannya. Maka dari itu saya selalu membekali Kaila makanan rumah yang diolah sendiri. Apa sampai sini Anda sudah mengerti?"
Sorot mata serius menyalang tepat mengenai wanita bermarga Baek tersebut. Nyonya Baek menoleh ke samping melihat sang suami yang tengah termenung memikirkan sesuatu. Sedangkan Baek Hyeon termangu memandangi Kaila yang kembali menunduk.
"Ah, sepertinya ini hanya kesalahpahaman saja, saya mengerti mengenai kepercayaan kalian. Saya menghormati perbedaan di negara kita. Mungkin putra kami lupa menyimpan uangnya, dia memang sedikit ceroboh."
Tuan Baek, selaku pemilik sekolah pun angkat bicara. Baek Hyeon mendongak tidak percaya melihat sang ayah.
"Appa," panggilnya, tanpa mendapatkan balasan apa pun.
"Baiklah, karena permasalahannya sudah diselesaikan secara kekeluargaan lebih baik kalian saling meminta maaf," ujar wali kelas keduanya.
Riana mendorong Kaila untuk bangkit dan bermaafkan dengan Baek Hyeon. Mau tidak mau keduanya pun saling mengulurkan tangan memberi maaf tanpa adanya dendam.
Setelah permasalahan selesai, Kaila yang sudah dibawa keluar oleh Jasmin menoleh ke belakang mendapati sang ibu tengah berbicara bersama wali kelas. Ia kembali menunduk melihat lantai sekolah dengan perasaan bersalah.
Jasmin yang tengah menggendengnya keluar menatapnya dalam.
"Mamah, pasti baik-baik saja. Kaila tidak usah berpikir berlebihan, yah," ucapnya.
Kaila hanya mengangguk singkat tanpa ada niatan menjawab.
Riana tidak percaya jika hari seperti sekarang datang juga. Selama ini ia berusaha untuk menjaga perasaan sang putri, jangan sampai Kaila terlibat masalah di sekolah. Namun, ternyata permasalahan itu datang tidak disangka-sangka dan menjadi bom atom untuk keluarganya.
"Saya di sini tidak ingin membicarakan nilai Kaila. Saya ingin tahu bagaimana perkembangannya selama satu minggu ini?"
Wanita berkucir kuda tersebut tersenyum sekilas dan menghela napas pelan. Seketika perasaan Riana tidak karuan, ia mengerti sudah ada yang terjadi hingga membuat Kaila terkena masalah.
"Selama satu minggu ini saya memperhatikan Kaila dijauhi teman-teman sekelasnya. Sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi, saya juga mendengar jika ayah kandung Kaila berada di penjara. Itu sebabnya mereka menjauhinya."
Riana terdiam dengan perasaan campur aduk. Ia tidak menyangka perkembangannya bisa sebesar itu. Lingkungan pertemanan Kaila menjadi bermasalah. Sebagai seorang ibu ia harus melakukan sesuatu untuk bisa mengembalikan nama baik putrinya lagi.
...***...
Seulas senyum pun mengembang melihat pemandangan menentramkan jiwa tepat di sebelahnya.
"Aku mau seperti Eonni Jasmin."
"Ehh."
Jasmin menunduk melihat ketegasan dikedua manik bulatnya, Kaila hanya mengembangkan bulan sabit tanpa mengatakan sepatah kata.
"Aku ingin menjadi seorang muslimah yang baik dan bisa membanggakan mamah," lanjut benaknya.
Tidak lama berselang mobil hitam berhenti tepat di depan mereka. Seperti de javu kejadian tersebut kembali terulang. Jasmin termangu kala irisnya beradu pandang dengan seseorang yang keluar dari kendaraan tersebut. Ia langsung menunduk dalam berusaha bersikap biasa.
Sejak hari itu mereka sudah tidak bertegur sapa seolah ungkapan perasaan tak pernah terucap.
Jimin yang baru saja menapakan kaki tertegun dengan indera penglihatannya sendiri. Sudah hampir dua minggu mereka tidak melihat satu sama lain dan kini waktu mempertemukannya lagi. Seketika degup jantung bertalu kencang seolah merenggut separuh oksigen mengantarkan pengap dalam dada.
Pandangan mata ia alihkan pada Kaila yang tengah memandanginya, kedua alis saling berpautan tidak mengerti kala penampilan gadis kecil itu jauh dari kesan baik-baik saja.
"Ya ampun Kaila, apa yang terjadi? Kenapa penampilanmu acak-acakan sekali?" sewot Jimin berusaha mencairkan suasana.
"Aku berkelahi dengan teman sekelas," jawab Kaila cuek.
"MWO?! Be-berkelahi?" Jimin terkejut tidak percaya, gadis semanis Kaila bisa berkelahi? Pikirnya.
Ia yakin sesuatu tengah terjadi dan ingatannya kembali ke satu minggu yang lalu. Di mana sang kakak sekaligus atasannya menghubungi ia untuk mencari tahu tentang Kim YeonSun.
"Apa ini ada hubungannya dengan penyelidikanku? Jika memang iya, bagaimana awalnya?" benaknya.
Belum sempat bibir kemerahan itu kembali terbuka, kedatangan Riana dengan sejuta emosi mengejutkan. Ketiganya berpaling merasakan aura tidak menyenangkan darinya, Jasmin mengerti apa yang tengah dirasakan Riana saat ini.
"Kebetulan sekali, aku titip mereka padamu."
Setelah mengatakan itu Riana menghilang dalam taksi menuju suatu tempat tanpa memberi kesempatan untuk Jimin berbicara. Pria bermarga Choi tersebut terpaku dengan berbagai pertanyaan menumpuk.
"Taring seorang ibu sudah keluar, teh Riana membuktikan jika berurusan dengan wanita yang sudah memiliki buah hati tidak mudah. Induk semang kini menjukan jati diri, bersikap manis pada orang baik dan menyalak pada mereka yang mengusik anaknya," benak Jasmin kemudian.
Mau tidak mau mereka pun kembali bersama seperti hari itu. Kecanggungan begitu kentara dalam kendaraan tersebut. Sedari tadi hanya mesin mobil sebagai musik pengiring perjalanan ketiganya. Jasmin, Jimin dan Kaila sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sedari tadi Kaila terus memandang ke arah luar mengenyahkan kepedihan dalam dada. Namun, semakin ditahan air mata berusaha merembes keluar. Isak tangis pun tidak bisa terelakan, mengejutkan Jasmin yang tengah duduk di sebelahnya.
"Ya Allah, Kaila."
Jasmin langsung membawanya ke dalam pelukan, seketika itu juga tangisan Kaila pecah. Ia menangis dengan kencang mengantarkan kesedihan untuk kedua orang dewasa di sana. Jasmin mengelus punggungnya pelan mencoba untuk menguatkan.
Dalam diam Jimin memperhatikan dua penumpang di belakangnya. Raut kesedihan tergambar jelas di wajah cantik Jasmin memberikan luka tak kasat mata dalam dadanya juga.