QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Perasaan (Season 2)



Jasmin termangu dalam diam di ruang sebelah. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat mendengar pembicaraan di luar. Ia yang baru selesai beribah tercenung kala mengetahui suatu hal dalam diri seorang Kim YeonJin, suami dari Riana yang sudah dianggapnya sebagi kakak sendiri.


Ia sadar jika dalam dalam diri seseorang mempunyai permasalahannya masing-masing. Ia pikir hanya dirinya saja yang mempunyai masa lalu menyakitkan. Namun, ia tidak menyadari setiap orang menjadi peran utama dalam kisahnya masing-masing.


Mereka juga menyimpan masa kelam yang tidak ingin diingat kembali.


Di tengah kebingungan itu ia terkejut saat mendengar suara Choi Jimin berdengung. Kim YeonSun sudah pergi beberapa saat lalu tidak menyahuti perkataan sang anak dan menyisakan kepedihan lain. Sesaat hanya ada isak tangis yang teredam.


Jasmin tahu mereka bertiga tengah dirundung air mata kala mendengar tentang kisah hidup yang sudah dilalui Kim YeonSun. Ia juga merasakan sakitnya jika berada di posisi tersebut. Sebelum perkataan Jimin terlontar ketiganya berbincang-bincang singkat.


Air mata sudah mengering, ketiganya terjebak dalam kurung waktu ingatan masa lalu. YeonJin tersenyum menatap sang istri dan sang adik bergantian. Senyum terpendar di bibir menawannya dengan wajah tampan sedikit bengkak dan kedua mata sembab. Hidung bangirnya memerah bekas banjir air mata.


"Aku minta maaf, kalian harus mendengarkan masa lalu tidak menyengkan," ungkap YeonJin kemudian.


Riana kembali menggenggam hangat jari jemari kekar sang suami. Ia mendongak berusaha untuk menatap ke dalam manik kecoklatannya. YeonJin menoleh menampilkan senyum lemah pada Riana. Ia berusaha tegar, tetapi rapuh seperti anak kecil.


"Aku mengerti bagaimana rasa sakit yang Oppa rasakan. Namun, kita tidak usah kembali melihat ke sana, yah. Aku ingin kita melangkah bersama ke masa depan yang lebih baik. Ada aku, Kaila dan Hyun Sik yang turut mendampingimu, Oppa."


Lengkungan bulan sabit terbit di celah bibir Riana. Sebelah tangannya terulur menangkup pipi hangat YeonJin.


"Aku tidak akan berjanji untuk selalu bersamamu. Tetapi, aku akan membuktikan jika setiap waktu yang kamu lewati aku ada di dalamnya. Karena janji, sudah kita ucapkan di hadapan Allah saat pengucapan ijab kabul waktu itu."


Suara halus mengalun bak simfoni indah menendang gendang telinganya. Kim YeonJin tidak kuasa menahan haru dengan perasaan hangat menyapanya cepat. Ia pun menarik sang istri ke dalam pelukan hangat dan membubuhkan kecupan berkali-kali di puncak kepalanya.


Riana membalas tak kalah erat seraya menghirup raksi sang suami yang menguar membuatnya tenang. Aroma mint dan maskulin memenuhi indera penciuman, Riana nyaman berada dalam pelukan Kim YeonJin.


Bak drama romantis di televisi, Jimin merona melihat interaksi kedua insan di hadapannya. Ia pun turut merasakan kebahagiaan yang menguar dalam diri mereka. Ia bersyukur YeonJin bisa mendapatkan kebahagiaan melalui Riana. Meskipun awalnya ia tidak setuju sang kakak bisa menyukai wanita single parent yang memiliki anak satu, tapi Jimin sekarang mengerti. Jika kebahagiaan bisa datang pada siapa saja yang sudah dipilihnya.


Jimin berdehem kala pasangan suami istri tersebut terus terbuai dalam dunianya sendiri. Hal itu membuat Riana dan YeonJin melepaskan pelukan dan menatap ke depan di mana Jimin tengah menampilkan tatapan tajam.


Ia melipat tangan di depan dada membuat YeonJin dan Riana tersenyum kikuk.


"Tidak bisakah, kalian menghargaiku di sini? Ingatkah kalian jika aku masih sendiri? Aku hanya orang ketiga yang tidak kalian anggap. Seperti bayangan yang tidak dihiraukan." Racau Jimin pura-pura merajuk.


YeonJin melebarkan senyum sampai gigi-gigi putihnya terlihat. Sedangkan Riana menunduk dalam menyembunyikan wajah merahnya.


Sang kakak pun tertawa ringan dan merangkul kembali pundak ramping sang istri. Riana tersentak dan mendongak melihat jelas rahang tegas suaminya. Ia bersyukur bisa bersanding dan bersuamikan seorang Kim YeonJin.


"Baiklah Hyung minta maaf, lupakan masalah tadi dan kamu tidak usah memikirkannya. Okay, kita fokus pada permasalahanmu sekarang."


Jimin menautkan kedua alis, heran.


"Jasmin, apa kamu menyukainya?"


Riana langsung menerobos masuk ke dalam pembicaraan mereka. Ia tahu apa yang hendak disampaikan sang suami. Ia juga penasaran kala tanpa sengaja melihat tatapan Jimin saat melihat Jasmin.


Pertanyaan tersebut sontak membuat Jimin melebarkan kedua mata. Ia lalu menghela napas berat dan melihat lantai marmer. Objek di bawah menjadi tumpuan pandangan untuk menumpahkan segala perasaan dalam dada.


"Apa sejelas itu?" Lirihnya.


"Sangat jelas, lalu langkah selanjutnya apa yang akan kamu lakukan?" tanya YeonJin kemudian.


Jimin menggeleng pelan masih kukuh dalam posisinya.


"Aku tidak tahu, perasaan ini tiba-tiba saja datang. Jatuh cinta pada pandangan pertama? Aku baru pertama kali mengalaminya."


Jimin dengan jelas mengakui rasa terpendam yang hampir satu bulan menempati hatinya. Kini ia mengungkapkannya tanpa kebohongan.


Riana memperhatikan dan merasakan jika apa yang Jimin katakan adalah kebenaran. Namun, ia sadar ada sesuatu yang tidak bisa dilewatinya untuk mendapatkan Jasmin.


"Aku menyesal harus mengatakan ini, tapi dalam kepercayaan kami jika dua insan saling menyukai dan berbeda keyakinan maka tidak bersama. Aku minta maaf, tapi sebelum berkembang kamu harus memikirkannya sebelum terlambat."


Mendengar penuturan Riana, iris kecil Jimin melebar sempurna dengan jantung berdegup kencang. Ia perlahan mendongak menatap kedua orang di hadapannya bergantian. YeonJin dan Riana melihat geratan di matanya. Mereka tahu perasaan Jimin tidak main-main.


"Aku pernah di posisimu. Kamu tahu Tuhan tidak pernah tidur. Ia tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Kamu jangan pernah menyerah dan terus berdo'a meminta yang terbaik. Tuhan juga memberikan hidayah-Nya pada siapa yang Ia kehendaki."


Perkataan YeonJin mengalun dan terus berputar dalam pendengaran. Jimin tahu bagaimana sang kakak dulu saat menghadapi perasaannya yang berbeda keyakinan dengan Riana. Namun, Tuhan selalu punya cara untuk mempersatukan mereka.


"Jika sudah takdirnya maka tidak ada yang bisa merubah ketentuan-Nya. Kamu hanya harus percaya dan meyakinkan diri." Kata YeonJin lagi meyakinkan seraya tersenyum lembut ke arah sang adik.


Jimin hanya mengangguk lemah sebagai jawaban.


Di ruangan sebelah Jasmin masih tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Pria asing yang baru saja ia temui mengatakan jatuh cinta padanya. Ia menggelengkan kepala beberapa kali kala sesuatu yang asing dalam diri hadir begitu saja.


Ia jatuh terduduk seraya memegang kepalanya kuat. Tiba-tiba saja air mata merembes keluar saat ingatan menyakitkan waktu itu kembali hadir.


"Tidak, aku tidak percaya itu. Jangan berkata cinta, semua palsu. Palsu, aku tidak percaya. Aku tidak bisa mempercayinya. Semua bohong, dusta dan menyakitkan."


Ia terus meracau dengan tubuh bergetar hebat. Tanpa ketiganya sadari Jasmin kembali dirundung ketakutan masa kelam yang tidak bisa dilupakan. Kenangan menyakitkan itu akan terus ada dan bersemayam dalam dirinya.


Setelah kejadian itu Jasmin menutup diri untuk menghindari perasaan menyusahakan yang berujung menyakitkan. Namun, kini waktu mempertemukan ia dengan orang asing yang mengaku menyukainya. Jasmin sama sekali tidak percaya.