QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 40



...Dia datang membawa kebahagiaan, tapi tidak bisa digenggam....


.......


Angin masih menjadi teman setia untuk ketiga insan itu. Riana harus berhadapan dengan dua pria sekaligus. Masa lalu dan juga masa depannya? Entahlah untuk saat ini Riana masih belum bisa membuka hatinya untuk yang lain. Sangat sulit membuka gembok yang mengikat kuat perasaannya. Ia terlalu takut memulai kembali kehidupan baru bersama seseorang.


“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Riana langsung tanpa mengindahkan kehadiran YeonJin di sana.


“Seperti yang sudah kukatakan. Aku ingin bersamamu lagi dan akan kembali menjadi keluarga. Terlebih sekarang ada anak yang membutuhkan kita berdua.”


Sontak pernyataan Arsyid barusan membuat Riana tercengang. Ia tidak menyangka begitu mudahnya pria itu berkata demikian. Bahkan YeonJin pun melebarkan mata kecilnya. Sudah ia duga perkataan Arsyid tadi pagi tidak main-main. Pria itu sungguh-sungguh melakukannya.


“Kamu jangan macam-macam yah, Mas. Aku tidak mau bersamamu lagi. Sudah cukup luka batin yang kamu berikan padaku waktu itu,” tegas Riana tidak gentar sedikit pun.


“Aku akan memperbaiki semuanya. Percayalah, aku akan membahagiakanmu.”


Hanya mendengar penuturannya saja membuat Riana merinding. Ia sama sekali tidak percaya dengan ucapannya. Mana mungkin orang seperti Arsyid bisa berubah dalam hitungan hari. Pikirnya.


“Tidak Riana, kamu jangan percaya ucapan dia. Aku tahu Arsyid mempunyai niat lain. Riana, aku akan melamarmu.”


Detik itu juga netra jelaganya beralih pada YeonJin. Dengan ketidakpercayaan Riana menatap lekat wajah serius pria itu.


“Jangan terima dia. Aku tahu YeonJin tidak benar-benar mencintaimu. Terlebih kamu seorang janda. Diakan pengusaha terkenal, masa iya YeonJin tulus mencintai wanita seperti kamu.” Arsyid mencela mencoba memprovokasi dan menyadarkan Riana dari kenyataan.


Wanita itu pun menundukan pandangan tersadarkan dengan perkataannya.


“Tidak Riana. Aku benar-benar mencintaimu. Aku serius!!” Tegas YeonJin meyakinkan.


Adu mulut antara Arsyid dan YeonJin pun terjadi. Mereka sama-sama tidak mau menyerah untuk meyakinkan Riana. Seketika itu juga kedua tangannya mengepal kuat dengan mata tertutup rapat. Ia tidak bisa menahan kekesalan dalam dirinya.


“SUDAH CUKUP HENTIKAN!! Antara kamu atau pun dia sama saja. Aku tidak percaya kalian berdua.” Ucap Riana penuh penekanan seraya menunjuk kedua pria itu lalu meninggalkannya begitu saja.


Hening melanda, angin kembali berhembus membawa tubuh rapuh Riana menjauh. YeonJin dan Arsyid saling tatap menunjukan ketidaksukaan. YeonJin tahu ada niat lain yang tersimpan dalam diri Arysid.


“Saya harap Anda jangan mempermainkan Riana lagi. Jika sampai saya tahu Anda menyakitinya, saya tidak akan tinggal diam!!” nada ancaman terdengar. YeonJin tidak main-main dengan ucapannya. Setelah mengatakan itu ia pun pergi dari hadapannya.


Kembali seringain muncul di wajah tampan Arysid.


“Silakan saja. Kita lihat nanti siapa yang berhasil mendapatkan Riana.”


Berkali-kali YeonJin memukul stir mobil tidak bersalah itu. Sepeninggalannya dari apartemen Riana dan bertemu kembali dengan Arsyid emosinya membuncah lagi. Entah harus bagaimana ia meyakinkan Riana jika dirinya benar-benar mempunyai perasaan itu.


“Ya Allah permudahkanlah niat hamba ini. Aku tahu sekarang. Jika aku benar-benar sudah jatuh cinta. Bukan kagum yang kurasakan dari dulu, melainkan cinta. Ya Allah sekarang hamba tahu definisi cinta sebenarnya. Hamba juga tidak ingin memendam perasaan ini terlalu lama dan malah menjerumuskan ke hal yang tidak diinginkan. Lancarkanlah ya Allah.” Racau YeonJin sepanjang perjalanan.


Kini ia sudah mempunyai tempat mengadu segala keluh kesahnya. YeonJin merasakan perubahan yang signifikan setelah menjadi seorang mualaf. Ketenangan dan kenyamanan membuatnya lebih terarah.


...***...


Kembali ke apartemen air mata itu sudah mengalir tidak tertahankan. Sebelum masuk ke dalam, Riana langsung menghapusnya kasar dan berusaha tersenyum agar terlihat baik-baik saja di hadapan Kaila. Di rasa sudah lebih baik ia pun membuka pintu dan segera menemui sang anak.


“Assalamu’alaikum, Sayang mamah pulang.” Ucapnya seraya melihat kesekitaran.


Dari arah depan Kaila membuka pintu kamar lalu tersenyum lebar melihat kepulangan sang ibu.


“Mamah rindu sekali sama Kaila. Bagimana sekolah hari ini.” Lanjut Riana yang membawanya ke sofa di ruangan itu.


“Alhamdulillah lancar, Mah,” balasnya. Kini tatapan mereka saling bertemu. Sedetik kemudian dahi lebar Kaila mengerut dalam. Merasa aneh Riana pun melakukan hal yang sama.


“Kaila kenapa?”


“Justru Mamah yang kenapa? Kenapa mata Mamah merah? Mamah sudah menangis, yah?”


Memang batin ibu dan anak itu saling bersinggungan. Kaila selalu tahu apa yang sudah terjadi dalam dirinya. Seketika Riana langsung mengalihkan tatapannya ke arah lain.


“Ma-mamah tidak memangis. Tadi kelilipan banyak debu di bawah.”


“Tapi kenapa Kaila tidak percaya?”


“Sudahlah Kaila tidak usah berpikiran yang macam-macam, yah. Mamah tidak apa-apa. Bagaimana kalau sekarang kita siapkan makan malam. Kaila mau?” Ucapnya mengalihkan pembicaraan. Mendengar itu pun Kaila langsung melebarkan senyuman.


“Tapi hari ini Kaila ingin makan di luar. Sudah lama sekali Kaila tidak pergi bersama, Mamah.” Pintanya dengan mata berbinar. Mana mungkin Riana menolak permintaan anak semata wayangnya. Malaikat kecilnya sekaligus penyemangat kehidupan.


“Baiklah untuk anak Mamah yang cantik, malam ini kita makan di luar. Kamu siap-siap dulu yah.” Kaila mengangguk lalu turun dari pangkuan ibunya.


Selang beberapa menit kemudian Riana dan Kaila siap untuk menuju restoran halal langganannya. Tangan yang berpautan tidak ingin saling melepaskan. Senyum merekah indah di wajah imut Kaila. Sudah lama rasanya ia tidak pergi bersama dengan sang ibu. Karena kesibukan Riana, mereka jarang menghabiskan waktu berdua.


Tingg!!


Bunyi lift terdengar nyaring di telinganya. Mereka pun keluar hendak meninggalkan gedung apartemen. Tidak henti-hentinya Kaila bersenandung kecil merasa bahagia.


“Kamu terlihat senang sekali, Sayang.” Ujar Riana tersenyum melihat sang anak.


“Tentu mah. Kaila bahagia sekali bisa pergi bersama Mamah,” jujurnya.


Baru saja perasaan Riana membaik karena senyuman sang anak, kini bulan sabit di bibirnya harus menghilang saat netranya kembali melihat sosok itu. Ternyata selama ia masuk ke dalam apartemen pria itu sedikit pun tidak melangkahkan kakinya dari sana.


Sekarang mereka bertemu kembali. Iris jelaganya melebar lagi tidak tahu harus bagaimana. Terlebih ada Kaila bersamanya.


“Kenapa kamu masih ada di sini, Mas?” tanyanya.


“Aku punya firasat kamu akan kembali keluar. Dan ternyata itu benar. Apa dia anakku?” Tunjuknya pada Kaila.


Seketiak itu juga Riana menghalanginya dengan tubuhnya sendiri. Ia tidak mau Kaila mengetahui tentang kebenaran Arsyid.


“Mamah dia siapa?”


Pertanyaan yang terlontar dari mulut kecil Kaila seketika membungkam bibirnya. Riana gelagapan melihat ke arah mereka berdua.


Diam-diam Arsyid mendengar pertanyaan Kaila. “Aku ini ayah kamu Sayang,” jujurnya.


Riana tidak percaya mendengar penuturannya. Secepat itukah dia harus mengatakannya? Ia kembali diambang kebimbangan. Ia bukannya tidak mau memperkenalkan Arsyid kepada Kaila sebagai ayah kandungnya, tapi fakta mengatakan jika pria itu tidak pernah menginginkan kehadiran Kaila.


Riana hanya tidak ingin membuat Kaila terluka.