QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Sadar (Season 2)



Jam terus berdetik menemani kebersamaan ketiga insan di ruang keluarga tersebut. Cakrawala sudah memperlihatkan kegelapan mengundang kesunyian. Di tengah nestapa yang mendera kekaluan akan debaran perasaan begitu menggelora.


Choi Jimin termangu kala perasaan dalam dada yang berusaha disembunyikan kini tersampaikan sudah. Kepala bersurai hitam sedikit bergelombang tersebut menunduk dalam tidak kuasa membalas tatapan kedua orang di hadapannya.


Riana tersenyum melihat kesungguhan Jimin. Namun, di balik itu semua ia merasakan hal lain. Dahi lebarnya pun mengerut dalam kala sudah satu jam lebih berlalu, tapi sosok Jasmin belum juga muncul. Kekhawatiran pun menyeruak tajam kala mungkin sepupu dari kakaknya tersebut mengalami kepelikan. Ia sadar kala tidak ada penyekat dalam rumah itu hanya tembok sebagai pemisah tanpa ada pengendap suara.


Tanpa mengatakan sepatah kata pun Riana bangkit dan bergegas menuju ruang sebelah. Hal tersebut mengundang tanda tanya tidak hanya sang suami, Jimin pun mendongak melihat kepergiannya.


Pintu terbuka lebar, seketika netra jelaga Riana membulat sempurna. Ia berlari menghampiri sosok yang terduduk di lantai seraya memegang kepalanya.


"Jasmin," panggil Riana dan langsung memegang pundaknya erat.


Tidak ada respon apa pun dari pihak lain membuat Riana menarik tubuh lemas Jasmin ke dalam pelukan.


Kalimat "tidak apa-apa, semua baik-baik saja" terus terlontar seraya mengelus punggungnya memberikan ketenangan.


Semua itu tidak luput dari perhatian kedua pria yang mengikuti Riana ke sana. Jimin mematung tidak percaya melihat betapa rapuhnya Jasmin saat ini. Tubuh mungil terbungkus gamis longgar tersebut bergetar hebat, ia menyadari jika ada sesuatu yang salah dengannya.


"Ri-ana."


Panggilan YeonJin menginstrupsi, Riana pun melonggarkan pelukan lalu menoleh ke belakang mendapati sang suami dan Jimin di ambang pintu. Sorot mata cemas terlihat di wajahnya, kepala berhijab sang istri menggeleng pelan kala mengerti dengan keadaan Jasmin sekarang.


"Aku tahu mungkin Jasmin mendengar pembicaraan kami tadi. Jimin, perasaannya sudah membuka luka lama yang belum bisa dilupakan." Benak Riana kembali melihat Jasmin yang masih terdiam.


"Jasmin?"


Suara serak seseorang mengejutkan membuat tubuh Jasmin menegang. Riana merasakan hal tersebut dan melepaskan pelukan. Kedua hazelnutnya melebar dengan tatapan kosong. Ia lalu kembali menoleh ke belakang menatap sang sekertaris serius.


Jimin menautkan kedua alis tidak mengerti, "apa aku melakukan kesalahan?" benaknya bingung.


"Te-teh, a-aku ingin pulang." Cicit Jasmin seraya mencengkram pergelangan tangannya kuat.


Riana lalu merangkulnya membawa Jasmin untuk duduk di sofa. Seketika air mata tidak bisa dibendung dan tumpah ruah begit saja. YeonJin dan Jimin kembali terkejut melihat hal tersebut. Jasmin seolah tengah mengalami sebuah trauma, pikir keduanya.


"Bisakah kalian berdua pergi? Aku ingin berbicara dengan Jasmin sebentar." Pinta Riana.


YeonJin pun mengangguk singkat lalu menarik Jimin untuk menjauh dari sana.


Langkah kaki semakin menghilang dalam pendengaran, Jasmin mendongak menatap lurus ke depan tanpa berekspresi apa pun. Cairan bening meluncur dengan bebas tanpa hambatan dengan kedua tangan saling mengepal kuat mencoba menahan kepedihan.


Riana kembali mengusap punggungnya pelan menyalurkan kehangatan.


"Jika sulit bagimu untuk melupakan, tidak apa. Setidaknya jangan terus diingat, masa itu biarkanlah pergi. Kamu berhak mendapatkan yang lebih baik."


Kata-kata lembut yang meluncur dari celah bibir kemerahan Riana mengalun menjadi simfoni kesadaran. Perlahan, Jasmin menoleh menampilkan senyum lemah. Ia lalu mengusap air matanya kasar serta menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan.


"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian tadi dan tiba-tiba saja teringat hari itu. A-aku ti-"


"Istighfar Jasmin, ingat Allah."


"Astaghfirullah hal adzim," ucap Jasmin berulang kali.


Riana tersenyum dengan air mata menggenang di pelupuknya. Ia mengerti bagaimana rasa sakit dan juga takutnya masa lalu yang membentuk sebuah trauma akan masa depan. Masa kelam yang seharusnya bisa dilupakan dan tidak usah diingat kembali menorehkan luka mendalam menjadikan ketakutan.


Akibat perbuatan keji pria itu, Jasmin mendapatkan trauma tak berkesudahan. Ia jadi tidak percaya lagi akan sebuah perasaan dan takut kejadian yang sama terulang kembali. Meskipun masih banyak orang di luar sana memiliki hati baik nan tulus.


"Teteh, mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Tetapi, percayalah Allah pasti sudah menyiapkan yang terbaik untukmu. Tidak usah menoleh kembali ke belakang, setiap orang berbeda-beda. Teteh juga awalnya enggan membuka hati untuk yang lain, tapi kamu tahu Kim YeonJin gigih untuk merobohkan benteng itu dengan kesungguhannya. Sampai, Teteh pun luluh dan pada akhirnya kami punya Kim Hyun Sik. Rencana Allah jauh lebih indah dari apa yang kita pikirkan."


Jasmin tidak langsung menjawabnya. Ia mencerna baik-baik perkataan Riana yang terus mengalir ke indera pendengaran. Kepala berhijabnya menunduk menatap lantai marmer di sana seraya menyelam dalam lamunan memikirkan apa yang terjadi dalam kehidupan.


Dulu ia tidak berencana untuk terbang ke Negara Ginseng tersebut dan tidak pernah berpikir untuk melihat dunia serta bertemu orang baru. Sejak kejadian itu Jasmin mengurung diri selama bertahun-tahun tidak memikirkan apa pun dan terus menyalahkan diri sendiri. Kenapa tidak menolak perjodohan itu dan bisa mencegah hal mengerikan. Pikirnya.


Namun, sekarang semua berbeda. Allah memiliki rencana-Nya sendiri untuk kebaikan setiap hamba. Terkadang memang diperlukan ujian untuk meningkatkan kualitas taqwa. Setelah tiga tahun diam ia mencoba untuk membuka diri lagi dan melanjutkan sekolah. Hingga pada akhirnya Jasmin bisa terbang ke Korea Selatan, setelah kembali berkomunikasi dengan sang bibi, Sarah.


Ia pun mendapatkan pekerjaan dan bertemu Riana juga Jimin.


Pria asing yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya. Tetapi, Allah mempertemukan sampai perasaan asing pun timbul dalam dirinya. Jasmin tidak menyangka kejadian demi kejadian tidak diharapkan terus berdatangan.


Ia sadar jika semua itu semua sudah menjadi jalan cerita dari Allah yang terbaik untuknya.


"Aku sadar sekarang, Teh. Tidak seharusnya aku terus berada dalam kungkungan masa lalu. Sudah saatnya aku membuka hati untuk yang baru."


Jasmin menoleh seraya memperlihatkan senyum lemah pada Riana. Ibu dua putra tersebut langsung menghamburkan diri kembali memeluknya erat.


"MasyaAllah, Teteh yakin Allah sedang merencanakan yang terbaik untukmu di balik kejadian itu."


Tanpa bersuara Jasmin mengangguk singkat dan membalas pelukan Riana.


Beberapa saat kemudian keduanya pun keluar dari ruangan. Jimin beranjak dari duduk kala netranya melihat kedatangan Jasmin. Berbagai pertanyaan seketika menyeruak ingin dikeluarkan, tapi ia sadar keadaan Jasmin tidak memungkinkan untuk menjawab semua rasa penasarannya.


"Kalau begitu aku pulang dulu, yah Teh." Jasmin menyalami punggung tangan Riana dan mengulas senyum simpul pada YeonJin.


Baru saja ia hendak melangkahkan kaki perkataan Jimin menghentikannya cepat.


"Aku akan mengantarkanmu."


Jimin melengos pergi begitu saja, Jasmin cengong lalu merasakan Riana mengelus punggungnya lagi. Ia menoleh dan mendapati tatapan khawatir di sana. Seulas senyum pun terpendar di bibir kemerahan Jasmin.


"Aku baik-baik saja Teh, ada sesuatu yang harus dituntaskan."


Setelah mengatakan itu Jasmin angkat kaki dari hadapannya. YeonJin datang merangkul pinggang sang istri seraya menatap kepergian mereka.


"Apa semuanya akan baik-baik saja?" tanya YeonJin kemudian.


Riana hanya mengangguk mengiyakan. Dalam diam ia terus mendo'akan yang terbaik untuk mereka.