QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 39



...Kesakitan menyadarkan jika masa lalu pernah terjadi....


.......


YeonJin masih tidak percaya dengan ucapan yang Arsyid layangkan barusan. Ia tidak mau Riana kembali terkurung dalam kungkungan pria bengis ini. Sudah cukup penderitaan yang dirasakannya. Sebagai seseorang yang menghargai wanita setelah ibunya, YeonJin tidak menerima penuturan Arsyid.


“Apa? Menginginkan Riana? Aku tidak akan membiarkanmu melukainya lagi. Aku sudah tahu di masa lalu kamu melakukan KDRT padanya, kan? Apa kamu tidak mempunyai ibu? Bagaimana jika ibumu diperlakukan seperti itu?” tegas Kim YeonJin mencoba menyadarkan.


Namun bukannya berpikir, Arsyid malah tersenyum semakin lebar. YeonJin mengerutkan dahi tidak mengerti, pasti dia sudah gila. Pikirnya.


“Aku tidak peduli. Selama setahun aku yang membiayai kehidupannya, sampai dia bisa melanjutkan pendidikannya. Yah, sebagai balas budi seharusnya Riana masih bersamaku. Aku pasti akan membahagiakannya.”


Mendengar perkataannya YeonJin merinding tidak mengerti kenapa ada makhluk seperti Arsyid di dunia ini. Baru sekarang ia bertemu dengan pria sepertinya. Tidak berperasaan dan tidak malu dengan perilakunya.


“Lebih baik Anda pergi dari sini!! Saya tidak mau menjual lukisan apapun pada Anda. Silakan pergi, pintu ruangan saya terbuka untuk Anda.” Secara baik-baik YeonJin mengusirnya.


Arsyid memperlihatkan seringain. Ia mengerti dengan tatapan ketidaksukaan yang dilayangkan YeonJin padanya.


“Baiklah. Saya akan pergi dari sini, tapi tidak dalam kehidupan Riana.” Di sertai senyum mengejek, Arsyid pun melangkahkan kaki dari ruangan itu.


YeonJin kembali tercengang. Ia tahu ucapan Arsyid tidak main-main. Kedua tangannya mengepal kuat seraya terus melihat kepergian Arsyid. Jimin yang berdiri tidak jauh darinya memperhatikan dengan jelas seperti apa kemurkaan yang tampak di wajah tampan Kim YeonJin.


Ia tahu apa yang tersemat dalam hatinya. "Hyung benar-benar sudah jatuh cinta pada Riana,’ benaknya.


Setelah bayangan Arsyid menghilang YeonJin pun duduk di kursi kebesarannya lalu memijit pelipisnya pelan mengenyahkan kegelisahan. Ia tidak tahu jika orang yang menemuinya hari ini adalah masa lalu Riana.


“Kenapa hyung tidak menjual lukisan itu?” tanya Jimin membuka suara sekaligus mencairkan suasana.


“Aku tidak mau memberikannya meskipun dia membeli dengan harga mahal.”


Baru kali ini Jimin melihat sosok lain dari hyungnya itu. YeonJin sama sekali tidak tergiur dengan banyaknya nominal yang bisa diberikan Arsyid padanya. Jimin semakin yakin hal itu karena seseorang.


“Astaghfirullah,” gumaman YeonJin seketika mengalihkan perhatian Jimin kembali. Dahi yang tertutup poni halus itu mengerut dalam tidak mengerti apa yang diucapkannya barusan.


Ia pun berjalan mendekat dan duduk di depan meja sang bos. “Hyung tadi mengucapkan apa?”


Mendengar pertanyaan itu seketika membuat YeonJin kelabakan. Ia lupa jika Jimin masih ada di sana.


“A-ani. Sudahlah lebih baik kamu pergi bekerja sana.”


Kembali pria itu mengusir orang lain di ruangannya. Dengan celotehan dari bibirnya Jimin pun meninggalkan YeonJin sendirian.


...***...


Di dalam rumah bernuansa putih itu, Riana kembali berkutat dengan peralatan kerjanya. Kertas besar yang membantang di meja bundar berada dalam kendalinya lagi. Rancangan rumah mewah nan elegan hampir selesai dibuat.


Namun, entah kenapa hari ini membuatnya tidak semangat untuk meneruskannya. Ada sesuatu dalam hatinya yang membuat ia merasa berat.


“Ada apa ini? Aku kenapa?” gumam Riana.


Dari tadi pagi sampai jam menunjukan pukul setengah 4 sore hanya beberapa garis saja yang dikerjakannya. Itu seperti bukan dirinya saja. Riana pun tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Banyak sekali pikiran yang mengganggu konsentrasinya.


Terutama, pria itu. Masa lalunya.


“Ya Allah lindungilah hamba. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi,” racaunya kembali.


Cklekkk!!


Terdengar pintu depan di buka seseorang. Riana pun langsung terdiam merasakan keberadaan si pemilik rumah.


Langkah demi langkah pria itu menapaki lantai marmer tempat bernaungnya. Tidak lama berselang wanita berhijab maroon tertangkap pandangan. Ia ingin melindungi dan menjaganya. Namun, apa ia bisa? Sampai sekarang pun dirinya masih bersama seseorang.


Pertanyaan itu sontak membuat Riana terkejut. Ia langsung bangkit dari duduknya seraya menundukan pandangan.


Ia tahu tidak seharusnya mereka bersama sekarang. “Kamu sudah tiba? Kalau begitu aku pulang dulu. Permisi.” Tanpa melihatnya sedikit pun Riana melangkahkan kakinya dari sana.


Tentu saja YeonJin tidak membiarkannya. “Biar aku antar kamu pulang,” ujarnya begitu saja tanpa mendengar jawaban Riana. Mau tidak mau ia harus menerimanya.


Hening. Menjadi kata yang melekat dalam kebersamaan mereka. Mobil hitam mewahnya kembali melaju di jalanan. Senja datang mempercantik lukisan Tuhan di langit sore ini. Sedari tadi Riana merasa tidak nyaman duduk di kendaraan itu.


Ada sesuatu dalam hatinya yang membuat Riana canggung.


“Apa ada yang kamu pikirkan?” pertanyaan YeonJin kembali mengejutkan.


“A-ani.”


YeonJin tahu Riana tengah berbohong. Setelah percakapan singkat itu mereka kembali diam. Hanya terdengar mesin mobil yang terus berdengung. YeonJin tidak menyukai situasinya saat ini. Tiba-tiba saja bayangan Arsyid hinggap dalam kepalanya. Ia tahu pria itu masih menginginkan Riana. Bukan cinta yang dimilikinya melainkan dendam.


Sebagai seorang pria yang berperasaan, YeonJin tidak mau melihat Riana kembali dilukai. Sudah cukup penderitaan yang dimilikinya. Harusnya sekarang Riana sudah mengecap manisnya kebahagiaan.


“Riana..”


“Ne?”


“Bisakah aku melamarmu?”


Bersamaan dengan pertanyaan itu mobil yang di kendarainya berhenti tepat di depan apartemen. Perlahan Riana mendongak dan melihat ke samping kiri di mana pria itu tengah memandanginya lekat. Tidak habis pikir bagaimana bisa Kim YeonJin, pemilik perusahaan terkenal itu bisa berkata demikian. Riana tercengang dengan netranya melebar sempurna.


Detik itu juga waktu seolah berhenti berputar.


Tatapan keduanya saling bertubrukan. Riana tahu tidak seharusnya mereka saling bertatapan. Namun, ia ingin melihat sorot matanya.


“Kenapa Anda bertanya seperti itu?” tanya Riana setelah sekian lama terdiam.


“Aku ingin melindungimu dari Arsyid.”


Deggg!!


Seketika itu juga jantungnya berdebar kencang. Entahlah apa yang tengah dirasakannya kali ini. Senang, sedih, atau keduanya? Riana tidak mengerti.


Tanpa menjawab ucapan YeonJin, Riana langsung keluar dari mobilnya. Ia tidak bisa berpikir jernih sekarang. Rasanya campur aduk, hingga membuat liquid bening itu meluncur bebas dipipinya.


“Riana.”


Panggilan seseorang dari arah depan seketika membuatnya terpaku. Irisnya melebar dengan mulut menganga. Ingin rasanya ia berbalik arah meninggalkan tempat tinggalnya. Namun, bagaimana dengan Kaila? Ia tidak bisa meninggalkannya begitu saja.


“Ma-mas Arsyid?”


Pria itu datang lagi untuk mengusik ketenangannya. Baru lusa kemarin mereka bertemu dan waktu mendatangkan kembali pria ini. Riana diambang kebimbangan. Ia takut sesuatu yang tidak diinginkannya harus menerjangnya lagi.


“Riana.”


Suara YeonJin menginstrupsi.


Keduanya kompak menoleh ke samping melihat kedatangannya. Kini Riana benar-benar dihimpit oleh benteng besar. Kedua pria itu memberikannya masalah yang berbeda. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk terbebas dari mereka.


Ia takut Arsyid menemui Kaila dan memaksanya kembali. Dan ia juga takut Kim YeonJin melakukan tindakan yang membuatnya harus terjebak dalam hubungannya bersama Park Hyerin.


Kini senja memberinya pilihan tersulit.