QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 21



...Waktu menjadi bom atom yang siap meledakan kapan pun. Seperti sebuah perasaan atau kenangan yang kembali mencuat....


.......


Setelah kekacauan yang terjadi beberapa saat lalu, Riana segera melarikan diri dari gedung tersebut. Ia tidak percaya YeonJin mengatakan mencintainya begitu saja. Ia tidak habis pikir kenapa pria itu bisa berkata demikian. Bahkan sampai sekarang pun hubungan mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Ia tidak pernah menganggap istimewa pria itu.


Namun, entah kenapa sekarang ia merasa kecewa.


Riana terus berlari meninggalkan kekacauan, sialnya heels yang ia gunakan membuatnya kesusahan. Ditambah dengan Kaila yang tertidur dalam gendongannya. Dadanya terasa sesak ketika bayangan demi bayangan masa lalu hinggap kembali bertubrukan dengan kenyataan sekarang.


Mati-matian ia melupakan kejadian itu. Dan sekarangan kenangan menyakitkan datang tidak bisa terbantahkan. Air mata jatuh berlinang bagaikan sungai yang menganak di pipi gemilnya. Ia jatuh terduduk seraya mendekap sang putri erat. Tanpa isakan, Riana menangis dalam diam.


Bulan malam ini tidak memberinya kekuatan. Ia takut tidak bisa mengontrol dirinya sendiri saat memikirkan masa-masa itu.


YeonJin yang menyusulnya menghentikan langkah saat melihat punggung Riana bergetar hebat. Ia tahu wanita itu tengah menangis. Rasa bersalah datang menerpanya cepat. Ia pun mendekatinya perlahan berharap Riana menghentikan tangisannya. Ingin sekali ia merengkuh tubuh rapuh itu, tapi ia tahu bagaimana kedudukannya.


Ini pertama kalinya YeonJin melihat Riana menangis. Dan itu membuatnya merasakan………sakit.


“Ri-riana.”


“Sudah cukup hentikan! Saya tidak bisa seperti ini terus. Maaf jika selama ini saya sudah mengganggu ketenangan Anda. Mulai sekarang kita hanya sebatas rekan kerja saja. Besok dan seterusnya kita masih akan bertemu dalam pekerjaan jadi saya akan melupakan kejadian ini. Dan saya minta Anda jangan lagi menemui Kaila.”


Setelah mengatakan itu Riana bangkit dan meninggalkannya sendirian.


Angin berhembus pelan menyapu wajah putih YeonJin. Ia terkejut saat mendengar nada dingin keluar dari mulut Riana. Ia tidak bisa mengikutinya lagi karena ia tahu jika itu dilakukan dirinya akan terus menyakiti Riana. Sosok wanita itu mulai menghilang dalam pandangannya.


“Sepertinya aku sudah menyakiti dia.”


Hujan seketika turun dengan deras. Riana yang tengah dalam perjalanan pulang menatap sendu jalanan yang terlewati. Kehampaan dan dinginnya udara menjadikan kegelisahan dalam hati. Sorot matanya terlihat meredup. Riana berbeda dari dirinya beberapa saat lalu.


Tanpa ia duga kejadian yang pernah di alaminya dimasa lalu terus berdatangan menghantam ingatan. Ia mengerang kesakitan tidak sanggup menahan emosi yang tidak terkontrol.


Bersamaan dengan itu pengakuan konyol YeonJin tadi semakin menambah luka menganga dalam hati. Hujan membalut awan mendung dalam matanya. Bulir demi bulir kristal itu mengalir kembali dipipinya.


Tidak lama kemudian ia tiba di apartemen dan langsung membaringkan Kaila di tempat tidur. Ia pun kembali berjalan keluar duduk seorang diri di ruang keluarga. Pantualan dirinya dalam televisi mati itu memperlihatkan betapa rapuhnya ia.


“Aku hanyalah wanita yang tidak pantas untuk mendapatkan cinta lagi. Aku tidak percaya kata itu. Semuanya semu dan memberikan kesakitan,” gumamnya menahan kepedihan.


...***...


Sepeninggalan Riana, YeonJin pun kembali masuk ke dalam aula. Di sana sekertarisnya, Jimin tengah menunggu seraya menutkan kedua alisnya. Netra kecoklatan Jimin menatap sang kakak yang terlihat rapuh. Bahu tegapnya terkulai lemas. Ia menyembunyikan kesedihannya dengan menuduk dalam. Sekarang Jimin tahu kebenaran yang disembunyikannya. Firasatnya memang terkadang tidak pernah salah.


“Hyung. Apa benar yang hyung katakan tadi? Hyung mencintai Riana yang sudah mempunyai anak? Itu tidak boleh terjadi. Secara moral dan kedudukan itu tidak mungkin. Riana single parent sedangkan hyung seorang CEO. Apa kata orang-orang nanti? Aku harap hyung jangan meneruskannya,” cerocos Jimin seperti orang tua mendapati anaknya mencintai seseorang yang tidak cocok untuknya.


YeonJin pun kembali mendongak menatap tepat pada kedua matanya. Jimin tercengang melihat keseriusan yang tercetak jelas di sana. Ini pertama kalinya ia melihat sang kakak bersikap seperti itu.


“Apa aku melukainya? Kamu tahu dia bukanlah wanita idamanku. Lalu kenapa aku bisa menyukainya? Jika bukan karena kenyamanan?” Setelah memberikan tanda tanya besar pada Jimin, pria itu melenggang pergi dari hadapannya.


“Owh, apa yang harus aku lakukan?”


Langkah demi langkah lebar YeonJin membuatnya tiba kembali pada keluarga Park. Ayah dan anak itu menatap kedatangannya seraya melebarkan senyuman. Setelah berita mencengangkan tadi, pria berumur itu tidak sabar untuk menikahkan putrinya. Ia sangat menyukai YeonJin sebagai menantunya nanti.


“Kamu setujukan kalau pernikahan kalian di adakan bulan depan?” pertanyaan itu seketika membuat YeonJin melebarkan pandangan. Ia pun menatap mereka bergantian.


“Apa? Tidak bisa secepat itu appa. Bukankah kita belum membicarakannya? Saya tidak bisa menikah diwaktu dekat ini. Saya mohon pengertian Anda.” YeonJin memelas. Mana mungkin ia bisa menikah dengan seorang wanita yang tidak dicintanya.


Melihatnya seperti itu membuat perasaan Hyerin tergerak.


“Itu benar appa. Tidak usah terburu-buru mungkin YeonJin oppa ingin menyelesaikan sesuatu dulu,” lanjut sang putri. Akhirnya kepala keluarga Park itu mengangguk setuju.


“Saya harap kamu bisa membahagiakan Hyerin. Dia sangat mencintaimu. Jangan pernah sakiti dia. Kalau kamu berani menyakitinya……kamu tahu sendiri akibatnya,” nada ancaman itu terdengar ketika Jung Guk berbisik tepat di telinganya.


YeonJin berkali-kali melebarkan kedua matanya. Masalah demi masalah menghantamnya bersamaan. Ia sadar dengan ucapannya tadi.


“Eung,” hanya gumaman tidak jelas sebagai jawaban.


“Baiklah kalau begitu kita nikmati lagi pestanya.”


Suara alunan musik menemai keresahan. YeonJin terdiam di tempatnya bak patung yang baru selesai dipahat. Seperti ada akar yang menancap di kedua kakinya ia tidak bisa bergerak ke mana pun. Perasaannya tidak menenutu. Di saat ia berhasil menemukan seseorang sebagai sandaran hatinya fakta mengatakan jika dia tidak mungkin bisa bersamanya.


Banyak penghalang. Tembok besar itu tidak bisa ia robohkan dengan kekuatannya sendiri.


...***...


Pesta ulang tahun perusahaan sudah berakhir satu jam yang lalu. YeonJin pun kembali ke rumahnya dengan perasaan gelisah. Ia sadar sudah tidak ada keluarga yang bisa dibagi kesedihan bersamanya. Seketika itu juga bayangan sang ibu melintasi pikirannya cepat. Ia yang tengah mendudukan dirinya di ruang keluarga menatap potret tak bernyawa di hadapannya. Di dalam figura foto itu sang ibu tersenyum manis ke arah kamera seolah beliau tengah memberikan kebahagiaan.


“Eomma, apa yang harus Yeon lakukan sekarang? Yeon sudah menemukan wanita yang berharga. Apa Yeon harus merelakan semuanya untuk bisa bersamanya? Selama 3 tahun, Yeon membangun perusahaan itu. Apa harus runtuh begitu saja?” racaunya menahan kepedihan. Ia teringat saat usianya masih 7 tahun, sang ibu pernah mengatakan…….


“Yeon, jika nanti menemukan seseorang yang kamu cintai, sayangi dia sepenuhnya. Jangan pernah sakiti hatinya apalagi sampai membuatnya menangis.”


“Memangnya kenapa eomma?” tanya YeonJin kecil.


“Karena seorang wanita bisa membuatmu bahagia.”


“Tapi kenapa appa menyakiti eomma?”


“Mungkin appa tidak melihat kebahagiaan itu. Kamu harus ingat pesan eomma ini, arraso?”


“Ne eomma, Yeon akan mengingatnya. Dan wanita yang Yeon cintai adalah eomma…”


“Anak pintar”


Bayangan beberapa tahun silam itu terus berdatangan ke dalam kepalanya. Dalam diam YeonJin menangis meratapi kehidupannya saat ini. Ia begitu merindukan sang ibu. Hari-hari berharga saat bersamanya tidak akan bisa kembali terulang. Semuanya menjadi kenangan berharga meskipun terbalut dalam luka.