QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Pengakuan (Season 2)



Pertemuan untuk kesekian kalinya mengantarkan kenangan tak terbantahkan. Sudah banyak masa yang mereka lewati, kenangan tidak bisa dikikis dengan mudah dan masih hangat dalam ingatan mengenai hari itu. Waktu di mana kata cinta terucap, tetapi bukan untuk diperjuangkan, perbedaanlah yang membuatnya tidak mungkin bisa bersama.


Kini takdir kembali mempertemukan dalam situasi berbeda. Keadaan di kediaman keluarga Kim terasa lebih hening. Kenyamanan tercipta saat perasaan aneh terus menyapa tanpa henti. Meskipun tidak ada ucapan secara lisan, tetapi pancaran mata tidak bisa berbohong.


Selama tiga bulan mereka tidak saling tegur sapa bahkan keberadaan Choi Jimin seperti menghilang di telan bumi. Sedari tadi Jasmin terus menunduk menyembunyikan rasa terkejutnya. Ia tidak menyangka di saat wanita yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri itu menghubunginya untuk datang maka pertemuan tak teduga pun hadir. Takdir tidak bisa dibantahkan dan terjadi begitu cepat seperti kilat menyambar.


Di situasi menegangkan tersebut keduanya harus saling berhadapan dengan jantung berdegup kencang. Tidak ada yang salah akan sebuah perasaan, hal itu wajar dirasakan oleh siapa pun. Allah menghadirkan cinta pada diri setiap insan untuk mengujinya. Apa dilakukan dengan cara yang benar atau malah sebaliknya. Namun, Jasmin percaya jika di baliknya terdapat kebaikan hanya tinggal menunggu waktu kapan bisa memberikan jawaban.


"Alhamdulillah, selama tiga bulan ini Choi Jimin mendalami agama Islam. Sampai dia pun memutuskan untuk menjadi seorang mualaf. MasyaAllah, semoga kamu istiqamah, Jim," ungkap YeonJin memulai pembicaraan.


"MasyaAllah, aku sangat bahagia kamu bisa mendapatkan keyakinan untuk memeluk Islam. Semoga ada kebaikan yang Allah hadirkan untukmu, semoga istiqamah," lanjut Riana yang berada di hadapannya.


Jimin mengulas senyum lembut dan mengangguk perlahan. "Alhamdulillah, terima kasih banyak Hyung, Riana. Ini juga berkat kalian yang terus meyakinkanku," jawabnya halus.


Riana dan YeonJin hanya mengangguk singkat. Setelahnya mereka menoleh ke arah Jasmin yang sedari tadi terus diam dan menundukan kepala dalam. Riana yang duduk di sebelah menyenggol lengannya singkat membuat sang empunya tersadar.


Jasmin mengangkat kepalanya membalas tatapan Riana bingung. "Apa kamu tidak akan mengatakan apa pun pada Jimin? Dia sudah menjadi mualaf sekarang, itu artinya ... dia saudara seiman kita," bisiknya pelan.


Jasmin terperangah lalu menoleh ke depan singkat dan mengalihkan pandangannya lagi. "Se-selamat, kamu sudah menjadi seorang muslim sekarang, semoga istiqomah," cicitnya. Riana dan YeonJin saling pandang seraya melempar senyum.


"Jadi?" tanya YeonJin mengingatkan.


Jimin terkejut lalu meyakinkan diri untuk mengatakan tujuan yang sebenarnya. "Bismillah," gumamnya.


Seketika hening menyambut, hangatnya musim semi mengalirkan harapan baru. Semerbak aroma bunga menusuk indera penciuman mengantarkan kebaikan. Gelenyar dalam dada berbisik lirih jika semua akan baik-baik saja, lakukan sesuai syariat yang sudah ditentukan maka akan berakhir dengan kebahagiaan. Allah tidak mungkin mempersulit setiap hamba jika dirinya berserah dan menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik Hati.


"Selama tiga bulan aku mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga. Mulai dari kehidupan yang lebih terarah, mendapatkan keyakinan sebenarnya, dan juga ... tentang perasaan. Aku pikir ... rasa ini akan menghilang seiring berjalannya waktu, tetapi aku salah. Selama ini aku berusaha untuk lebih dekat kepada Allah dan memasrahkan semuanya, bahkan aku hampir menyerah untuk tidak memikirkan itu lagi. Namun, seiring berjalannya waktu Allah masih menetapkan perasaan itu dan meyakinkanku jika ... tidak baik memendam rasa terlalu lama. Karena aku tidak ingin terjebak di dalamnya jadi ... aku ... ingin mempersuntingmu menjadi istriku, Jasmin."


Kejadian itu sama seperti beberapa tahun lalu. Di mana pria yang ia pikir baik hendak mempersuntingnya dengan penuh keseriusan, nyatanya malah menorehkan luka tak tertahankan. Kenangan menyakitkan kembali menyapa membuat Jasmin menunduk dalam seraya mengepal tangan erat dalam pangkuan.


Riana yang melihat perubahannya pun langsung merangkul bahunya dan memberikan elusan pelan. Jimin menyadari jika saat ini trauma dan ketakutan Jasmin datang lagi. Ia mengerti tidak mudah untuk percaya lagi di kala kenangan tidak mengenakan itu masih melekat.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya dan menerima. Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sekarang aku lega sudah tidak ada lagi yang mengganjal dalam hati. Jasmin, kamu tahu setiap orang mempunyai kepribadian berbeda-beda. Satu dan lainnya tidaklah sama, jadi tidak mungkin aku memperlakukanmu sama seperti orang itu. Kamu tahu, aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu dan menginginkan menggapai ridho dan jannah-Nya hanya bersamamu," ungkap Jimin lagi tulus dan serius.


YeonJin tidak percaya jika sahabat yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri benar-benar telah berubah. Choi Jimin lebih dewasa, tutur katanya baik, lemah lembut, pantang menyerah, terang-terangan dan tidak bertele-tele. Ia bersyukur Allah memberikan hidayah kepadanya juga, ia bahagia sungguh terharu atas pencapaian yang diraih Jimin.


"Aku juga sempat terpuruk dengan sebuh perasaan bersalah. Aku pernah menjalani suatu hubungan yang berujung melukaiku. Namun, sekarang aku sadar itu adalah cara Allah untuk menjauhkanku dari cinta yang salah. Sampai aku bertemu denganmu dan ... aku menyadari jika Allah menghadirkanmu memiliki tujuan tertentu," lanjut Jimin lagi.


Jasmin termangu, pikirannya gamang tidak tahu harus berbuat apa. Selama tiga bulan ini ia menyadari ada yang salah pada dirinya. Ia sering memikirkan pria asing di hadapannya tanpa alasan yang jelas. Ia berusaha untuk menampik, tetapi perasaan itu berkali-kali terus datang menerjang.


Selama itu pula ia sering melakukan salat istiqarah dan mendapatkan jawaban yang sama. Jika perasaan yang tengah di hadapainya terus tertuju pada pria itu. Namun, Jasmin tidak terlalu memusingkan perkara tersebut, sebab bagaimanapun mereka berbeda dan tidak mungkin bersama.


Sekarang takdir mengejutkannya, Jimin datang dengan perubahan signifikan. Mereka sudah seiman dan memiliki kepercayaan yang sama berlandaskan kepada Illahi Rabbi. Seketika pikirannya berkecambuk, perasaannya campur aduk membuat ia tidak bisa berpikir secara jernih.


"Aku masih takut," cicitnya dalam benak.


Di tengah kebingungannya, Riana memegang kedua tangannya erat. Jasmin mengangkat kepalanya lagi memandang lekat sorot mata sang kakak. "Tidak ada salahnya kamu mencoba. Bukankah apa yang dikatakan Jimin benar? Jika kita memendam perasaan terlalu lama tanpa adanya ikatan, bukankah sesuatu yang tidak diinginkan bisa saja terjadi? Serahkan semuanya pada Allah dan selebihnya kamu harus lebih berani. Tidak ada yang tahu bagaimana esok hari, tetapi kamu harus yakin jika Allah masih memberikan kebaikan. Kuatlah untuk melupakan rasa sakit, tidak ada untungnya kita terus terjebak di sana. Teteh, juga merasakan itu dan sekarang kamu bisa melihatnya sendiri. Teteh punya keluarga yang berharga," tuturnya panjang lebar.


Jasmin terdiam mencerna apa yang dikatakan Riana barusan. "Aku akan memikirkannya," jawabnya begitu saja.


Namun, hal tersebut mengalirkan sebuah harapan untuk bisa digapai. Jimin mengulas senyum lembut dan menoleh pada kakaknya. YeonJin mengangguk beberapa kali dan mendaratkan tepukan lembut di bahunya. Mereka hanya harus yakin, percaya dan berani jika kehidupan baru tidak selamanya mengulang kesalahan yang sama, tetapi bisa memberikan kebahagiaan lain dan mengikis kepedihan.