
...Allah menghadirkan seseorang dengan alasan. Dan menyembuhkan luka menjadi salah satunya....
.......
Malam menjelang begitu cepat. Gelapnya langit mendominasi memberikan kesan pada perasaannya yang berantakan. Riana masih betah di sana. Duduk di bangku taman seorang diri seraya menyaksikan cahaya lampu dari gedung-gedung pencakar langit. Kunang-kunang pun berdatangan menemani kegelisahan. Wajahnya semabab. Entah berapa banyak air mata kepiluan yang ia keluarkan. Hanya dia dan Allah yang tahu mengenai kepedihan dalam hatinya. Dan orang lain hanya sebatas tahu tanpa merasakan. Seperti pria satu ini. Perlahan sosoknya muncul di balik semak-semak lalu berjalan ke arahnya. Riana yang masih kukuh dalam posisinya tidak menyadari kedatangan pria itu yang sudah berdiri tepat di sampingnya. YeonJin memandangi Riana yang begitu rapuh. Satu sisi baru yang dilihat YeonJin pada dirinya. Ia pun merasa bersalah. Sangat. Dan semua itu dilakukan karena tunangannya yang tidak ia cintai.
“Aku minta maaf. Hyerin bertindak terlalu jauh. Aku tahu dia tidak bermaksud seperti itu.” Ungkapnya mengejutkan. Riana menoleh sekilas dan kembali pada posisi awalnya.
“Tidak apa. Saya hanya terkejut saja. Ternyata usaha saya digagalkan begitu cepat. Bahkan saya sampai melewatkan momen berharga bersama Kaila. Hari libur pun saya habiskan untuk merancang miniatur itu. Eung, saya tidak bisa berkata-kata lagi. Sakit rasanya, kerja keras saya dihancurkan dengan percuma.” Riana menekan perasaannya. Seulas senyum simpul bertengger di bibir ranumnya. Itu memperlihatkan betapa kecewanya ia.
YeonJin sadar. Riana memendam kekesalan yang tidak bisa diungkapkan secara langsung.
Melihatnya seperti itu YeonJin teringat pada sosok sang ibu. Dulu, kehidupannya susah. Bahkan untuk makan saja ia harus menunggu satu hari. Itu pun mereka hanya mendapatkan nasi putih dan lauk seadanya. Meskipun begiu YeonJin dan ibunya selalu bersyukur. Ternyata kehidupan mereka memiliki latar belakang yang sama. YeonJin dan Riana masih belum menyadarinya saja.
“Melihatmu seperti ini membuatku teringat mendiang eomma. Beliau seorang ibu pekerja keras sama sepertimu. Eomma bekerja apapun agar bisa mendapatkan uang untuk makan. Perjuangannya waktu itu aku lukis dalam secarik kertas. Kapan pun aku mendapatkan keberhasilan, aku tidak akan pernah lupa dengan kerja keras eomma. Aku minta maaf bukan karena tindakan Hyera, tapi sudah membebanimu dengan pekerjaan ini.” Lanjut YeonJin sedikit menceritakan masa lalunya. Riana terdiam mencerna sedikit tentang kisah pilu Kim YeonJin. Ternyata di sini bukan dia saja yang mempunyai masa kelam. Sosok pria yang ia hormati pun memilikinya.
“Saya sama sekali tidak terbebani dengan pekerjaan ini karena memang sudah menjadi tugas. Hanya saja saya merasa tidak dihargai.”
“Mianhae.”
“Gwenchana. Karena saya tahu itu bukan salah Anda YeonJin-ssi. Terima kasih sudah menceritakan sedikit tentang diri Anda.” Balasnya lagi seraya menoleh ke arah YeonJin. Tatapan mereka saling bertubrukan, buru-buru Riana langsung menundukan pandangan dan beristighfar dalam diam. Kembali, YeonJin heran melihatnya.
“Gomawo, sudah mau mendengarkan. Sebenarnya aku anak broken home. Saat mendengar kamu berpisah aku jadi teringat orang tuaku dulu.” Ucapnya seraya mendongak melihat langit gelap.
Riana terkejut. Tidak percaya mendengar pengakuannya. Ia pikir YeonJin terlahir dari keluarga bahagia, harmonis, tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun. Namun, nyatanya tidak seperti itu. Dia anak broken home. Ketika diumur 14 tahun ayah dan ibunya berpisah. YeonJin tahu alasan mereka bercerai, hingga saat ini ia menyimpannya seorang diri dalam kenangan menyakitkan. Berharap luka itu bisa disembuhkan dan tidak terungkit kembali.
Hingga ia pun berhasil. Sosok rapuh itu kini berubah menjadi pria yang menawan. Banyak pasang mata yang mengakui keberadaannya. Dulu, keluar rumah saja ia takut. Selalu mengurung diri di kamar berharap keajaiban datang. Saat melihat ibunya berjuang sekuat tenaga untuk membahagiakannya YeonJin sadar. Jika kenyataan yang dikecapnya tidak untuk disesali. Ditangisi? Wajar karna rasa sakit itu akan terus menetap. Dan saat mengetahui Riana single parent dengan satu orang anak, YeonJin tersadarkan lagi. Dia seperti ibunya di masa itu. Berjuang untuk kehidupan yang layak bagi sang anak. Ia mengerti bagaimana perasaan Riana. Kejadian tadi pasti membuatnya sedih. Seenak jidat, Hyerin merusak kerja kerasnya selama ini.
Bersama bintang, mereka meresapi perasaan masing-masing. Jalan cerita yang berbeda menjadikannya kuat. Tidak berpangku tangan pada orang lain. Kini giliran mereka yang tersenyum bahagia di puncak kesenangan. Masa lalu yang kelam tidak selamanya gelap, masih ada cahaya terang untuk masa depan yang indah. Setiap orang punya cara masing-masing untuk bahagia. Allah selalu mempunyai cara terbaik bagi hamba-Nya. Riana percaya pelangi setelah hujan itu memang benar adanya.
Pagi harinya di saat Riana membuka pintu ruangan, semua miniatur yang sudah susah payah ia susun masih berceceran. Ia tersenyum sekilas lalu membereskannya. Kejadian itu sudah menyadarkan jika berjuang keras masih ada seseorang yang tidak menyukainya. Hanya berdo’a, bertawakal dan sabar menjadi kunci keberhasilan. Tanpa mengeluh Riana membawa satu persatu benda mungil itu di lantai.
“Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan omongan mereka dan perlakuan dia. Kamu bisa, Riana. Ini cara Allah untuk mencintaimu.” Mendengar gumamannya membuat YeonJin tersenyum. Langkah kakinya terhenti saat pandangannya tidak sengaja melihat senyum ikhlas di wajah ayunya. Tidak ada guratan dendam sedikit pun di sana. Riana berhati besar. Ia bahkan sudah memaafkan kesalahan Hyerin. Hanya kesedihan sesaat melihat usahanya dihancurkan.
“Ada apa ini?” Tanya Jimin tiba-tiba masuk ke dalam melewati YeonJin begitu saja. Pria itu terperangah. Bisa-bisanya sekertarisnya itu tidak melihat keberadaannya.
“Hyerin menghancurkan semuanya.” Jelas YeonJin muncul dalam persembunyian. Netra kecil Jimin melebar tidak percaya.
“Ke…kenapa?” YeonJin pun menceritakan semua kejadiannya. Gara-gara kecemburuan tidak bersyarat Hyerin bersikap kasar. “Ya ampun apa yang dipikirkan wanita itu? Baiklah aku akan membantumu menyusunnya lagi.” Lanjutnya ikut mengumpulkan miniatur tersebut.
“Aku juga. Aku tidak bisa diam terus melihat rekan kerjaku bekerja sendirian. Terlebih ini ulah tunanganku.” YeonJin pun ikut-ikutan. Riana hanya tersenyum melihat kelakuan kedua pria itu.
“Apa kamu tidak apa-apa Riana-ssi?” Tanya Jimin. Riana pun mengangguk seraya menoleh padanya singkat. “Apa kamu sudah memaafkannya?” Lanjutnya lagi.
“Iya, tidak baik menyimpan dendam. Aku sudah tidak apa-apa, aku mengerti perasaan Hyerin-ssi.”
“Kenapa begitu gampangnya kamu melupakan kejadian ini?” Jimin terus mencercanya dengan pertanyaan.
“Agamaku mengajarkan tidak baik menyimpan dendam. Lebih baik memaafkan dan melupakan. Menyusahkan bukan jika kita hanya menyimpan kekesalan? Itu tidak baik.” Seulas senyum kembali hadir di wajah ayunya. Jimin menoleh ke arah YeonJin.
Sorot matanya seolah berbicara, "dari mana datangnya wanita berhati besar ini?" YeonJin tersenyum singkat dan kembali fokus pada kegiatannya. Tanpa ia sadari tiba-tiba saja perasaan hangat itu kembali menyapanya lagi.
Waktu terus berputar. Selama itu mereka tidak berhenti bekerja. Hingga suara perut seorang Jimin terdengar nyaring. Mereka saling pandang dan tertawa bersama.
“Hahaha sepertinya kalian sudah lapar. Lebih baik kita makan siang dulu, sisanya biar nanti saya kerjakan sendiri saja. Terima kasih banyak sudah membantu.” Riana menganggukan kepala singkat dan mempersilakan mereka pergi. Jimin dan YeonJin mengiyakan dan berlalu.
Sepeninggalan mereka, Riana pun bersiap untuk melaksanakan kewajibannya. Ia bersyukur bisa bekerjasama dengan orang baik seperti kedua pria itu.