QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 49



...Ketika kata bahagia menjadi penentu, maka tidak ada lagi kesedihan di dalamnya. Kita hidup seperti air mengalir. Nikamti dan jalani. Hingga Allah memberikan kebahagiaan setelah datangnya kepedihan....


.......


Seminggu setelah YeonJin keluar dari rumah sakit, Riana dirundung gelisah. Pasalnya lamaran yang ditawarkan pria itu kini semakin mendekati hari H. Ia tahu mengiyakan hal itu sama saja mengubah hidupnya. Kembali hidup bersama seseorang tidak pernah ia pikirkan lagi. Namun, kini Allah telah mendatangkan Kim YeonJin untuk memberikan kebahagiaan.


Namun, benarkah itu yang namanya bahagia? Segenggam cinta yang dimiliki YeonJin berhasil menyakinkan Riana membuka hatinya untuk yang baru. Selama itu pula ia terus berpikir, apakah pilihannya tepat? Apa benar YeonJin mencintainya? Masih ada setitik keraguan dalam benaknya.


Ia takut YeonJin hanya merasa kasihan. Karena ia hidup sebatang kara dan menjadi orang tua tunggal bagi Kaila.


“Ya Allah apa yang hamba lakukan ini benar?”


Pertanyaan untuk kesekian kalinya terus terlontar dari bibir ranum Riana. Sedari tadi ia terus mondar-mandir di ruang televisi.


Kaila yang baru saja keluar dari kamar mengerutkan dahi, heran. Tidak biasanya ia melihat sang ibu seperti itu.


“Mamah kenapa?”


Suara kecilnya membuat Riana terdiam. Ia pun menoleh ke samping kanan tempat anaknya berada.


“A-ahahaha mamah tidak apa-apa, Sayang.”


“Oh yah hari ini mamah dan YeonJin appa akan memilih baju pernikahan, kan? Wahh, Kaila tidak sabar.” Ujarnya seraya menggenggam tangannya di depan dada seraya menengadah ke atas melihat langit-langit ruangan.


Sontak perkataannya membuat perasaan Riana semakin tidak karuan. Setelah ia menerima lamaran YeonJin hari itu, mereka memutuskan untuk mempercepat pernikahan. Tentu saja Riana tercengang dengan usulannya. Namun, bagaimana pun juga niat baik harus segera dilaksanakan bukan? Allah telah menghadirkan kebahagiaan untuknya lewat perantara bernama Kim YeonJin.


Teng!! Nong!!


Suara bel seketika mengejutkan. Riana terdiam, lalu secara perlahan menatap pintu silver di sebelahnya. Dirasa tidak ada pergerakan darinya, Kaila pun berinisiatif untuk menyambut tamu yang datang.


Brakk!!


Senyum Kaila semakin lebar tat kala melihat dua pria dewasa berdiri di depannya.


“YeonJin appa, paman Jimin, datang menjemput mamah yah?”


“Tentu, Sayang. Kalian sudah siap?” Balas YeonJin mensejajarkan dirinya dengan gadis kecil itu. Kaila mengangguk singkat dan menatap mata kecil di hadapannya.


“Eung, dari tadi mamah sudah siap. Itu mamah.” Tunjuknya pada orang di belakangnya.


“Riana, ayo.” Ajak Jimin seraya melambaikan tangan padanya.


“Ehh, a...eung.”


Hanya itu yang bisa dikatakannya seraya mencoba untuk menetralkan degup jantung yang terus berpacu kencang. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti itu lagi. Dan ternyata lebih besar dari yang ia duga.


Tidak lama berselang mereka berempat tiba di bawah apartemen. Riana yang terus menunduk menyembunyikan wajah meronanya sampai tidak sadar jika ketiga orang itu berhenti melengkah. Kepala yang terbungkus hijab merahnya menyembunyikan ketegangan. Langkah demi langkahnya melewati YeonJin yang tengah memandangi seseorang di depan.


Netra jelaga Riana pun berakhir pada sepasang sepatu mengkilap itu. Ia pun mendongak dan melihat tepat sang pemilik.


Seketika itu juga bola matanya membulat sempurna. Ia tidak percaya pria itu kini berdiri tepat di hadapannya. Lidahnya kelu tidak bisa mengatakan sepatah kata pun. Apa mungkin kebahagiaannya hanya tinggal angan-angan? Riana ketakutan sekarang dan berusaha bersikap tenang.


“Ma-mas Arsyid?”


“Assalamu’alaikum Riana. Aku datang ke sini ingin meminta jawaban kalian. Memang lebih dari satu minggu, tapi aku tidak melupakannya. Jadi, Kaila mau kan sama appa?” Tanyanya langsung seraya tersenyum lebar menatap sang anak.


“Sayang?” Ia pun berjongkok tepat di depan Kaila lalu mengusap kepalanya pelan.


“Kaila bagaimana mamah saja. Tapi Kaila minta appa jangan memaksa mamah. Karena Kaila ingin mamah maupun appa bahagia.”


Tegas dan jelas. Kaila terlihat dewasa sekali. Senyum canggung pun tiba-tiba saja hadir di wajah tampan Arsyid. Ia pun kembali berdiri dan melihat ke arah Riana.


Wanita itu memperlihatkan ketegasan dan membalas tatapan mantan suaminya. “Aku sudah memutuskan, kita tidak mungkin bersama seperti dulu. Sudah cukup perlakuan Mas padaku. Sekarang aku hanya ingin bahagia bersama orang yang kucintai. Dan itu bukan kamu. Sudah tidak ada yang ingin aku katakan lagi, permisi.”


Dengan sorot mata tajam, Riana melengos pergi.


Melihat itu YeonJin pun mendekati Arsyid seraya berkata, “Saya harap Anda tidak mengganggu Riana lagi. Karena mulai hari ini dia milikku.” Ucapnya dan menyusul Riana. Begitu pula dengan Jimin yang menggandeng Kaila. Arsyid tidak percaya mendengarnya. Ternyata sang mantan istri mengabaikannya begitu saja.


“Cih, sombong sekali dia. Tapi aku tidak boleh melihat mereka bahagia. Awas saja!!” Gertaknya menatap kepergian mereka.


...***...


Sepanjang perjalanan menuju butik, Riana terus diam di jok belakang. Hal itu tentu saja membuat YeonJin cemas. Ia tahu kehadiran Arsyid tadi pasti mengganggu pikirannya. Ia tidak ingin Riana memikirkan hal yang tidak-tidak. Apalagi sekarang ia sudah berhasil meluluhkan hatinya. YeonJin tidak ingin Riana kembali ragu.


“Sudah jangan dipikirkan. Arsyid hanya ingin menggoyahkan keputusanmu. Kamu tahu, seorang wanita berhak bahagia bersama pria yang dicintainya.” Ucapan YeonJin tadi seketika membuatnya menoleh ke depan.


Riana melihat sorot mata kekhawatirannya yang tengah menoleh ke belakang.


“Aku takut dia menghancurkan semuanya.”


“Kamu tenang saja aku yang akan melindungimu. Aku tidak akan membiarkan Arsyid menyakitimu lagi.”


Perkataannya tadi membuat perasaan Riana menghangat. Ia pun melebarkan senyuman. Sudah lama sekali ia tidak merasakan ketulusan dan kebaikan dari seseorang.


“Sudahlah kalian jangan terus mengumbar cinta seperti itu. Hargai aku kenapa.”


Jimin mempropokasi kebersamaan mereka. Sepertinya YeonJin lupa jika sekarang sahabat yang sudah dianggap adiknya sendiri ini tengah bersamanya.


Ia pun menoleh padanya lalu melebarkan senyuman. “Kamu tahu Jim, kebahagiaan apa yang aku genggam sekarang?”


Pria itu menggeleng singkat. “Aku bahagia karena bisa membuka gembok hati yang sudah tertutup rapat itu. Dan akhirnya aku bisa masuk ke dalamnya. Aku sangat ingin membahagiakan wanita yang kucintai. Aku tidak ingin melihat air mata kesedihan yang turun. Tapi aku akan membuat air mata itu menjadi tangisan kebahagiaan. Riana pantas mendapatkannya,” ungkapnya jujur.


Jimin maupun Riana sama-sama merona hebat. Layaknya kata-kata yang keluar dari mulutnya itu untuk dirinya juga. Jimin sebagai seorang pria pun merasakan kasih sayang yang begitu besar dari dalam diri Kim YeonJin. Apalagi Riana, wajahnya sudah merah padam.


“Kaila sayang sekali sama appa. Kaila harap mamah dan appa bisa bahagia selamanya. Ya Allah, semoga mamah dan YeonJin appa diberikan kebahagiaan. Aamiin,” lanjut Kaila yang sedari tadi memperhatikan mereka dalam diamnya. Ia terus tersenyum lebar merasakan ketulusan sang ayah angkat.


“Kaila tidak mau mendoakan paman Jimin juga?” tanya Jimin kemudian.


“Heheh mian. Ya Allah semoga paman Jimin mendapatkan belahan jiwanya. Terangkanlah hatinya menuju kebenaran.”


Sungguh dewasa sekali pemikian gadis 7 tahun ini. Jimin pun sampai dibuat merindung.


“Aku senang sekali mendapatkan anak seperti Kaila,” ucap YeonJin lagi.


“Yah… yah.. yahh. hyung sangat beruntung,” jawab Jimin.


Perlahan luka yang bersemayam dalam hati Riana menguap dan terbang meninggalkan kenangan. Bibir ranumnya kembali melengkung tidak percaya hari-hari terberat yang pernah dilaluinya berakhir sudah. Dan tersisa sekarang hanyalah manisnya hidup yang sebentar lagi akan ia kecap.


"Ya Allah terima kasih, Engkau sudah menghadirkan orang-orang baik seperti mereka. Semoga ini langkah awal mencapai kebahagiaan…" benaknya.