
Pagi menjelang, hari ini kembali memberikan PR baru bagi Riana sebagai seorang ibu untuk menghadapi putrinya yang kian beranjak. Waktu sudah menunjukan pukul tujuh, beberapa kali ia memandangi jam dinding dan mendongak ke atas di mana kamar Kaila berada. Sampai saat ini ia belum menampakan batang hidungnya.
Semalam Riana menghabiskan waktu untuk tidur bersama Kaila, tapi sang buah hati sama sekali tidak memberikan tanda jika dirinya baik-baik saja. Riana pun memutuskan untuk membangunkannya. Namun, sebelum kedua kakinya melangkah sosok malaikat kecil hadir.
Hati seorang ibu tercubit kala melihat penampilan Kaila yang sangat berbeda. Tidak ada ucapan selamat pagi ataupun senyum sehangat mentari untuknya.
"Sa-sayang-"
"Aku mau hari ini pergi sendiri tanpa diantar Hyun Sik appa."
"Hyun Sik appa" panggilan tersebut kembali menyayat perasaan Riana. Ia tahu hati terdalam Kaila tengah tidak baik-baik saja. Luka yang tidak diharapkan harus datang tanpa peringatan memberikan kepedihan mendalam.
Fakta jika Kim YeonJin bukanlah ayah kandungnya tidak bisa dibantah. Selamanya akan tetap seperti itu, meskipun sekarang dalam kartu keluarga pria tersebut sebagai ayah dari Kaila. Kenyataan tidak bisa dielakan jika ayah kandungnya tengah mendekam di penjara atas perbuatan yang sudah dilakukannya.
"Hyu-Hyun Sik appa? Sa-sayang beliau ayahm-"
"TIDAK!"
Ucapannya yang kembali terpotong dengan nada sedikit meninggu serta tatapan serius membuat Riana terkejut. Selama ini ia tidak pernah melihat Kaila seperti itu, baru sekarang sang putri menampakan kekecewaan dan kesedihan dalam diri, wakaupun tanpa air mata sebagai seorang ibu Riana tahu bagaimana sakitnya itu.
"Kaila, Sayang kenapa kamu jadi seperti ini, Nak? YeonJin appa, ayahmu juga."
"Bukan, beliau ayahnya Hyun Sik. Bukan ayah kandungku."
Setelah mengetakan itu Kaila beranjak dari duduk tanpa memakan sarapannya sedikit pun. Ia langsung melangkahkan kaki keluar menuju sekolahnya berada. Riana tercengang melihat perubahan signifikan anak pertamanya.
Seketika liquid bening mengalir tak tertahankan.
Tidak lama berselang pintu di lantai dua dibuka, satu persatu ia menapaki anak tangga untuk turun ke bawah. Mendengar suara itu, buru-buru Riana menghapus air matanya kasar dan berusaha tersenyum menyambut kedatangan suami serta putra keduanya.
"Kalia mana? Dia belum bangun?"
YeonJin heran kala tidak mendapati anak tirinya di sana.
Riana mengigit kuku ibu jarinya sekilas dan menatap hangat Kim YeonJin lalu mengambil alih Kim Hyun Sik.
"Kaila sudah berangkat ke sekolah, katanya dia mau pergi sendiri. Anak itu sepertinya dia mau belajar mandiri." Ucap Riana seraya mendudukan Hyun Sik di kursi bayi.
YeonJin mengangguk-anggukan kepala mengerti dan menarik kursi kayu untuk menikmati sarapan bersama keluarga kecilnya.
Sama seperti hari-hari sebelumnya kehangatan tercipta di ruang makan keluarga Kim. Celotehan demi celotehan terdengar riang kala Riana menyuapi Hyun Sik. Ia dengan baik menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Namun, jauh dari lubuk hatinya paling dalam ia sangat mengkhawatirkan Kaila.
Kini putri tertuanya terus melangkahkan kaki menuju gedung sekolah berada. Kaila terus menunduk menyembunyikan wajah berairnya seraya mengepal kedua tangannya erat. Delapan tahun bukan angka kecil untuknya bisa mengerti keadaan di dalam keluarga.
Selama ini ia hanya merasakan kehangatan dari ayah barunya tanpa menyadari kenyataan. Waktu itu ia masih berumur lima tahun dan tidak mengerti apa pun tentang kekejaman dunia ini. Tetapi, sebagai seorang anak, samar-samar ia bisa mengingat wajah ayah kandungnya.
Ia menghela napas kasar dan mendongak.
"Kenapa ayah harus pergi ke penjara? Apa yang diperbuatnya? Kenapa ayah meninggalkan mamah dan aku pada Hyun Sik appa?" lirih Kaila, kedua manik hitamnya memandang lurus ke depan.
"Apa ayah tidak menyayangiku dan mamah?" lanjutnya dengan kerisal bening kembali berjatuhan.
...***...
"Benarkah selama ini Kaila tinggal bersama ayah keduanya?"
"Dua ayah dan satu ibu? Bukankah sangat membingungkan?"
"Ayah kandungnya berada di penjara, dia pasti tidak jauh berbeda."
"Iyakah? Pantas saja keberadaannya sangat misterius."
"Kalian jangan dekat-dekat nanti ketularan buruknya."
Beberapa anak pun mengangguk setuju. Kaila hanya bisa bersikap acuh tak acuh dengan perkataan mereka dan hanya menganggapnya sebagai angin lalu.
Namun, semakin didiamkan mereka semakin menjadi, terutama Byeol, Aeri, Ahin. Ketiganya terus memojokan Kaila hingga membuat rumor di kalangan angkatannya yang tidak benar.
Satu minggu berlalu, Kaila terus menghindari ajakan sang ayah sambung tentang mengantarnya ke sekolah. Hal tersebut mengundang tanda tanya dan Riana mengatakan jika Kaila hanya sedang belajar mandiri. Ia tidak bisa mengatakan apa pun dan memberikan waktu sendiri untuk putrinya.
"Kamu berbohongkan? Pasti kamu yang mengambil uang di tasku."
Suara seorang bocah berambut cepak menarik perhatian. Jam istrahat tengah berlangsung, Kaila yang sedang duduk di meja menikmati makan siang buatan sang ibu dikejutkan dengan teman sebelahnya. Baek Hyoen, putra dari kalangan atas itu menunjuk-nujuk Kaila.
"Apa yang kamu katakan?" tanyanya acuh tak acuh seraya memasukan makanan ke dalam mulut.
"Di kelas ini hanya kamu yang selalu makan di kelas dan tidak pernah makan makanan kantin. Jadi sudah jelas jika kamu pencurinya," kata Baek Hyeon lagi.
"Apa Kaila mencuri uang? Yak! Sudah jelas jika dia mirip ayahnya."
Perkataan Byeol mengundang anggukan yang lain.
"Iya benar, selama ini dia juga tidak mau makan makanan sekolah. Apa dia tidak bisa membayar uang makan?" lanjut Ahin.
"Ah, aku dengar ibunya selalu memakai penutup kepala. Aku jadi takut,"
"Tidak heran kalau dia memang berani mencuri uangku. Dasar pencuri tidak tahu diri."
Kaila sudah tidak tahan lagi, selama ini ia menahan diri untuk tidak melawan. Namun, sekarang teman-temannya terus menyudutkan ia dan malah membawa nama sang ibu. Ia menggebrak meja dengan keras dan beranjak dari duduk.
Sorot mata serius nan tegas mengarah pada Baek Hyeon yang sedari tadi berdiri di mejanya.
"Yak!! Siapa kamu bisa menuduhku pencuri? Apa hakmu mengatakan itu semua? Aku mau makan di sini ataupun di kantin bukan urusan kalian," tegas Kaila.
Seakan tidak terima Baek Hyeon kembali mengatainya pencuri dengan jari telunjuk tepat mengarah ke depan wajah Kaila.
Tidak terima terus dituduh dan dikata-katai, Kaila berontak dan langsung memberikan pukulan ke wajah Baek Hyeon. Perkelahan pun tidak bisa terelakan, mereka saling serang seolah tidak seperti anak sekolah dasar.
Teman-teman sekelas pun menyaksikan hal tersebut dengan bersorak. Kegaduhan itu mengundang siswa yang lain hingga sampai ke telinga para guru. Hingga beberapa saat kemudian perkelahan dua anak itu pun bisa dipisahkan.
Keheningan tercipta di ruang guru, Kaila kembali harus menunduk menyembunyikan kekecewaan. Saat ini ia tengah menunggu kedatangan sang ibu yang beberapa menit lalu dipanggil untuk datang. Rasa bersalah, marah, benci dan tidak percaya menguasai.
"Kenapa harus jadi seperti ini?" benaknya.