QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Berita (Season 2)



"Berita kali ini datang dari pelukis sekaligus pengusaha ternama di ibu kota. Terduga pengusaha berinisial K.Y tersebut terkena skandal akibat melantarkan ayah kandungnya. Hal tersebut ditegaskan secara langsung oleh ayahnya sendiri. Berikut wawancara kami dengan pria paruh baya berinisial K.S."


"Saya tidak menyangka dan menduga kenapa dia bisa menelantarkan ayah kandungnya sendiri? Apa kareka dia sudah berjaya dan bisa berprilaku seenkanya? Saya hanya ingin kedamaian saja dan semoga kalian tidak memberitakan hal negatif tentang Kim YeonJin."


Suara piring jatuh terdengar nyaring menyadarkan Riana di sebelah ruangan. Televisi LCD yang tengah memperlihatkan berita pagi menyentak kesadarannya. Aroma masakan tercetus ke dalam indera penciuman menemani kesendirian dengan bola mata itu memang lurus ke depan.


Ia yang sedang menata piring di meja makan terpaku menyaksikan seseorang dalam layar. Kedua kakinya melangkah perlahan mendekat ruang keluarga di mana televise masih menayangkan pria paruh baya tersebut. Seketika jantungnya berdekup kencang kala melihat dengan jelas siapa sosok di sana.


Ia pun menutup mulut menganganya seraya mundur ke belakang tidak percaya. "A-appa?" cicitnya.


"Appa? Sayang, kamu kenapa?" YeonJin datang seraya menggendong Hyun Sik dan menuntun Kaila.


Riana menoleh ke belakang dan bersamaan dengan itu iklan pun menggantikan siaran. Maniknya bergetar melihat ketiga sosok paling berharga dalam kehidupannya bergantian. Ia lalu mengambil alih Hyun Sik dan segera mendudukannya di kursi bayi di ruang makan.


"Kaila, Sayang, kakak yang baik. Bisa bantu Mamah tata meja makannya, Nak?" pinta Riana sambil berjongkok di hadapan sang putri.


Kaila mengangguk mengerti, "baiklah, Mah. Serahkan padaku," balasnya. Riana tersenyum dan membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala Kaila lalu melangkah meninggalkan kedua orang tuanya.


Kini di sana hanya tinggal ia dan sang suami. Riana kemudian menarik YeonJin untuk sedikit menjauh dari sana. Kepala keluarga Kim itu pun menautkan alis tidak mengerti dan mengikuti ke mana sang istri membawanya. Sampai mereka tiba di ruang tamu, Riana dengan cepat mendongak menatap khawatir manik suaminya.


"Sayang, ada apa?" tanyanya khawatir.


Tanpa mengatakan sepatah kata Riana langsung menghamburkan diri memeluknya erat. "Berjanjilah untuk tetap tegar dan akan terus bersamaku apa pun yang terjadi," cicitnya kemudian.


"Aku berjanji ... aku berjanji, jadi ada apa?" tanya YeonJin penasaran mendorong tubuh wanitanya pelan.


Riana menunduk menyembunyikan wajah cemasnya, "tadi ada berita yang mengatakan jika Oppa mengabikan appa. Di sana juga appa diwawancara untuk lebih lanjutnya Oppa bisa melihat sendiri, mungkin saja beritanya sudah masuk ke media sosial."


YeonJin melebarkan manik kecilnya sempurna, buru-buru mengeluarkan ponsel yang berada di saku celana. Ia berselancar ke dunia media sosial dan seketika itu juga menemukan berita terbaru mengenai dirinya. Ia menghela napas berat dan mengusap wajah gusar kemudian kembali memandangi Riana.


Riana mengangguk mengerti dan kembali memeluknya erat. YeonJin pun membalas dan membenamkan wajah di bahu kanan ibu dari anaknya. Tubuh tegapnya sedikit bergetar kala trauma masa lalu hinggap dalam ingatan. Kenangan terburuk saat sang ayah pergi meninggalkannya dengan sang ibu, menjadi pukulan telak.


YeonJin harus melewati berbagai gunjingan orang-orang yang mengatakan jika ia dan ibunya biang masalah. Min So Yeong, berasal dari keluarga sederhana berhasil bersanding dengan Kim YeonSun, di mana pria itu tumbuh dan besar dari kalangan berada. Dari dulu sampai napas sang ibu berhembus untuk terakhir kalinya, keluarga Kim selalu mengolok-olok mereka.


Kata keluarga itu berkat kehadiran ibunyalah, Kim Yeonun menjadi anak pembangkang. Tidak heran jika pria itu meninggalkan istri dan anaknya. Namun, pada kenyataannya tidak demikian, Kim YeonJin adalah saksi hidup orang tuanya.


Sang ayah, pria yang dari kecil ia kagumi layaknya pahlawan super berharap bisa melindungi mereka malah memberikan kesakitan tiada akhir. Kim YeonSun sering bertindak kasar pada Min So Yeong dan terkadang tidak pernah memberi nafkah untuk mereka. YeonJin yang waktu itu masih berusia tujuh tahun harus didewasakan oleh keadaan.


Sampai pada akhirnya ia melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri, jika sang ayah selalu bermain gila bersama wanita lain. Entah itu di dalam rumah ataupun membawanya ke hotel, kejadian tersebut terus terekam. Ia yang waktu itu masih kecil tidak bisa melindungi ibunya dan hanya melihat Min So Yeong menangis setiap hari.


Mereka tinggal di rumah bak istrana, tetapi kehidupan YeonJin dan So Yeong jauh dari kata bahagia. Keduanya menderita baik fisik maupun mental, tidak ada satu hari saja tanpa adanya cacian dan makian dari Kim YeonSun. Sampai pada titik terendah, Mi So Yeong pergi kala tidak tahan atas perselingkuhan dan juga kekerasaan yang dilakukan terus menerus oleh sang suami.


Sejak saat itu YeonJin tidak pernah melihat ayahnya lagi. Ia juga mengetahui jika Kim YeonSun sudah kembali menikah dan memiliki anak yang lain. Di dalam hati kecilnya, mungkin ia sudah tidak diinginkan lagi. Ia bersikeras untuk tidak pernah memaafkan ayahnya bagaimanapun kondisinya nanti. Kareka ia sudah menjadi korban keegoisan ayah kandungnya sendiri, broken home menjadi cacat dalam kehidupannya.


Namun, takdir selalu mempunyai ceritanya sendiri. Allah menghadirkan Riana yang rumah tangganya mirip dengan sang ibu. Ia kagum dan terpesona dengan perjuangan yang dilakukan wanita itu. Seolah ia melihat ibunya lagi dalam diri Riana.


Sampai ia tidak menyangka perasaan cinta itu tumbuh dan ia pun menemukan kebenaran. Allah saja Maha Pemaaf, tidak peduli hamba-Nya melakukan dosa sebesar dan sebanyak apa pun, tetapi pintu maaf dan rahmat-Nya selalu terbuka lebar.


Pikiran itu membuka mata hatinya untuk memikirkan lebih jauh tentang keadaan sang ayah. Bagaimanapun juga setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kata maaf bisa diterima. Namun, kekecewaan akan selalu melekat dan teringat sampai kapan pun.


Tahun telah berganti kini waktu mempertemukan anak dan ayah itu lagi. YeonJin sudah berusaha keras agar tidak mengingat masa lalu, tetapi Kim YeonSun selalu bersikap seenaknya memberikan kesulitan lain. Ketakutan itu membentuk trauma akan rasa sakit yang tidak ingin ia rasakan lagi.


"Sayang, tidak apa-apa. Ada aku di sini, kamu harus kuat. Karena aku pun akan kuat bersamamu. Kita bisa melalui ini semua, kan?" ucap Riana seraya mengusap punggung tegapnya pelan.


YeonJin menganguk singkat dan semakin merapatkan pelukan. Ia menghirup aroma sang istri kuat mencoba menenangkan diri dan terus beristighfar di dalam hati, "Ya Allah berikanlah hamba kekuatan untuk menghadapi ujian-Mu kali ini. Serta maafkanlah appa," benaknya kemudian.


Riana tahu bagaimana hancurnya perasaan YeonJin. Ia dan sang suami memiliki riwayat kehidupan yang serupa. Jadi Kim YeonJin tahu seperti apa rasanya hidup tanpa kehadiran seorang ayah, ia pun berusaha menjadi orang tua terbaik untuk Kaila dan Hyun Sik. Karena mereka adalah korban dari keegoisan seseorang.