
Waktu berlalu begitu cepat, malam semakin larut dan keheningan menyambut. Di balik gelapnya langit menimbulkan ketakutan serta kepanikan. Jam sudah menunjukan pukul setengah dua belas dan Riana masih terjaga. Sedari tadi ia terus berjalan mondar mandir di dalam kamar menunggu kepulangan sang suami.
Raut cemas nan khawatir begitu kentara di wajah ayunya. Sesekali ia akan menghubungi Kim YeonJin yang tidak pernah mendapatkan jawaban. Berkali-kali ia duduk di tepi tempat tidur kemudian beranjak lagi, hal itu dilakukannya terus menerus.
"Kenapa oppa tidak mengangkat telepon ataupun membalas pesanku? Ke mana dia pergi? Ini tidak seperti oppa, dia tidak pernah pulang telat dan tidak mengabariku sama sekali. Ya Allah, ke mana perginya suami hamba?" lirih Riana.
Setetes air mata jatuh berlinang menambah ketakutan. Namun, di saat ia hendak keluar, pintu kamar lebih dulu di buka. Sosok yang sedari tadi dikhawatirkannya menyembul datang seraya menyunggingkan senyum.
Riana terpaku di tempat dan menjatuhkan benda pintarnya begitu saja. Ia langsung berlari, menerjang tubuh tegap sang suami. "Oppa, ke mana saja? Kenapa tidak menghubungiku sama sekali? Oppa, mau membunuhku, karena mengkhawatirkanmu?" racaunya di dada bidang sang pria.
Kim YeonJin mengulas senyum hangat dan membalas pelukan istrinya erat. Ia membubuhkan kecupan hangat di puncak kepala Riana bertubi-tubi kemudian mengusap punggungnya pelan. "Aku minta maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud mengabaikanmu, hanya saja ..."
"Hanya saja, apa?" potong Riana cepat seraya menarik diri mendongak menatapnya lekat.
Lengkungan bulan sabit kembali terpendar menambah ketampanan Kim YeonJin. Ia menangkup pipi bulat sang istri menghujami wajahnya dengan kecupan hangat dan berakhir penyatuan. Mereka saling membagi pasokan oksigen serta menyalurkan kehangatan.
Pegangan di pinggang sang suami semakin mengerat, Riana terbuai akan kelembutan yang dilakukan keduanya. Mata mereka saling terpejam dengan semburat merah menghiasi wajah masing-masing. Setelah beberapa menit berselang, YeonJin melepaskannya dan mendudukan diri di tempat tidur membawa Riana di atas pangkuan.
Pandangan mereka saling mengunci, seakan menginginkan hasrat terpendam pasangan suami istri tersebut melanjutkan apa yang seharusnya dilakukan. Malam itu menjadi waktu paling mendebarkan bagi Riana, di mana selepas kekhawatirkan yang membuatnya panik sang suami begitu memanjakannya.
Tidak ada bagian dalam dirinya yang tak terjamah oleh YeonJin. Ia begitu terbuai dalam euforia kenikmatan serta permainan yang dilakukan sang suami. Ia pun melupakan ketakutan yang beberapa saat lalu membuatnya kecewa. Detik demi detik hanya ada pergerakan cinta yang menggema dalam ruangan.
...***...
Riana tidak menyangka langit-langit kamar begitu menarik untuk di pandang. Baru kali ini ia memperhatikannya dengan mata terbuka dan senyum merekah di bibir ranum nan bengkaknya. Beberapa jam sudah berlalu, kini hanya ada mereka yang saling mendekap di atas tempat tidur.
Kebahagiaannya lengkap sudah, pernikahan kedua menghadirkan kesenangan dan mengikis kepedihan. Ingatan masa lalu perlahan hilang berganti suka cita, tidak pernah ia bayangkan akan kembali ke jenjang pernikahan bersama seseorang yang begitu mencintainya.
Bertemu dengan Kim YeonJin menjadi hadiah tersendiri baginya. Riana tidak pernah berhenti bersyukur mendapatkan pengganti jauh lebih baik. Imam paling sempurna yang bisa menuntunnya kepada jalan kebenaran. YeonJin seorang mualaf, mereka bisa belajar bersama-sama dan membina rumah tangga hanya berlandaskan kepada Allah semata.
"Terima kasih, Sayang aku bahagia," ucap YeonJin serak dan melabuhkan kecupan hangat di pelipisnya.
Riana yang tengah berbaring di dada bidang suaminya tersenyum lebar dan semakin merapatkan diri. "Hari ini ... hari ini Oppa ke mana? Kenapa tidak memberitahuku?" tanyanya lagi masih penasaran.
"MWO?" Riana berjengkit kaget seraya langsung duduk memandangi suaminya tajam. YeonJin terkejut dan kembali menariknya ke dalam pelukan. "Jangan terkejut seperti itu, siang ini aku bertemu dengannya lagi. Dia mengatakan, kenapa aku tidak kembali melukis lagi saja untuk menghidupi kalian? Dia juga memberikan kartu namanya, setelah kupikir beberapa saat ada benarnya juga lalu aku pergi ke perusahaan milik keluarga Park. Di sana aku berbicara dengan Hyerin dan juga ayahnya, kamu tahu ... Alhamdulillah mereka mau bekerjasama denganku tanpa mempedulikan masa lalu. Maaf, tidak menghubungimu aku terlalu terbuai dengan kebiasaanku dulu," jelas YeonJin panjang lebar.
Riana terdiam membungkam mulutnya rapat, ia tahu sebelum menikah dengan Kim YeonJin, pria itu adalah seorang pelukis handal. Banyak karyanya yang bernilai fantastis dan tidak jarang pembelinya datang dari para pengusaha. Sampai pada akhirnya ia mendirikan perusahaannya sendiri untuk menampung pelukis pemula maupun professional.
Namun, perusahaan itu harus diambil alih oleh pamannya Kim Haneul. Gallery yang baru selesai ia rancang pun menjadikan YeonJin beralih ke sana, tetapi lagi-lagi harus diserahkan pada seseorang yang sekarang adalah ayahnya sendiri. Riana, tidak tahu harus berbuat apa dan semakin memeluk suaminya erat.
"Jangan cemburu, kami tidak ada apa-apa, itu sudah masa lalu," goda YeonJin.
"A-apa? Aku tidak cemburu hanya saja ..."
Secepat kilat YeonJin membalikan tubuh Riana menjadi di bawahnya. Tatapan mereka kembali beradu satu sama lain. Getaran cinta yang menggebu masih bergelora di sana, tangan putih itu terangkat mengelus pelan pipi sang istri.
"Kamu harus tahu, tidak peduli siapa yang ada di hadapanku, hanya kamu Ratu di hatiku. Tidak peduli di luaran sana banyak wanita cantik berkeliaran, di mataku hanya kamu yang paling cantik. Aku sangat mencintaimu, jangan pernah meragukan perasaanku," ungkap YeonJin lalu membawa tangan kanan Riana ke dada sebelah kirinya.
"Kamu merasakannya? Di setiap detakannya hanya ada namamu." Senyum tulus mengakhiri ucapan Kim YeonJin.
Kata-kata manis nan memabukan itu pun sampai ke dalam hati terdalam Riana. Wajahnya sudah merah padam dengan ungkapan cinta yang suaminya layangkan. Ketampanan serta pesona Kim YeonJin meluluh lantahkan perasaannya.
Lesung pipi menghiasi wajahnya semakin membuat Riana terlena. Tanpa mengatakan apa pun ia langsung menarik sang suami dan membungkam mulutnya rapat. YeonJin membelalakan mata tidak percaya dan mengikuti permainan istrinya.
Detik itu juga mereka pun melanjutkan keinginan yang tertunda. Seperti kebanyakan suami istri lainnya, Riana maupun YeonJin saling membutuhkan satu sama lain. Perasaan cinta tersalurkan lewat bahasa tubuh yang terus bergejolak.
Tidak ada yang paling membahagiakan selain menghabiskan waktu bersama sang terkasih. Cinta menjadi pengikat keduanya dalam jenjang pernikahan. Pertemuan dua insan yang berbeda negara, bahasa, budaya dan kepercayaan itu pun pada akhirnya dipersatukan.
Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, jika Ia sudah berkehendak apa pun bisa terjadi. Termasuk memberikan takdir kepada mereka yang secara logika tidak bisa dipertemukan. Namun, jika Allah sudah berencana maka semua pasti terjadi.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Riana kemudian.
"Aku lebih mencintaimu," ungkap YeonJin mengecup pelan dahi lebarnya.
Manisnya cinta tengah dikecap, bagaikan madu, keberadaannya menjadi candu. Sang lebah pun tengah menikmati manisnya sari bunga. Mereka terlena dan terbuai seakan dunia hanya milik berdua, serta melupakan sejenak kepelikan yang ada.