
Senja berganti kelam, cahaya bulan menyinari kegelapan yang mengandung segala jenis cerita di dalamnya. Awan mendung pun menghilang tersapu derasnya bintang bermunculan. Kehangatan tercipta kala fakta mencengangkan datang.
Kim YeonJin tidak menyangka jika sang kakek masih hidup dan bernapas. Sudah bertahun-tahun mereka berpisah, bahkan dulu tepat di depan kedua matanya jenazah Kim Dae Jun dikubur. Ia menangis pilu kehilangan orang yang menyayanginya dengan tulus.
Tidak lama setelah itu sang ibu menyusul. Kesakitan pun berkali-kali lipat menghantam kebenaran. YeonJin hampir putus asa diusia remajanya, mempunyai seorang ayah seperti tidak memiliki sosoknya. Pria yang ia hormati berkali-kali menyakiti dan menimbulkan luka menganga dalam hati.
Ia menjadi korban broken home akibat keegoisan. Tidak salah menginginkan suatu kebahagiaan, tetapi jangan pernah melupakan jika masih ada satu hati yang butuh perhatian. Keluarga sejatinya hidup bersama dalam satu atap menciptakan sebuah keharmonisan dan kehangatan. Namun, nyatanya malapetaka dan kesakitan harus timbul dari sana. Air mata hanya sebagai saksi bisu seperti apa perih nan pedih hadiah luka yang setiap kali ditorehkan. Kasih sayang digantikan oleh harta, berharap uang bisa memenuhi kebutuhan. Namun, pada kenyataannya sikap baik paling ditubuhkan dalam setiap tumbuh kembang anak.
Tidak ada yang tahu bagaimana rasanya, selain diri sendiri. Percuma membicarakan pada orang lain dan menjelaskan pada mereka yang tidak pernah merasakan. Simpati dan rasa kasihan yang mungkin bisa mereka timbulkan dan setelahnya acuh tak acuh. Mereka hanya ingin tahu tanpa bisa memberitahu. Setiap insan memiliki masalahnya masing-masing, tetapi saling menghargai dan tidak menjatuhkan sepatutnya dilakukan. Tidak usah melihat hanya sebelah mata, sebab mental seseorang berbeda-beda. Satu kata yang keluar bisa saja malah menimbulkan luka lain. Lebih baik diam dari pada memberitahu yang berujung kepedihan. Jika tidak bisa merasakan setidaknya jangan menambah permasalahan.
YeonJin pernah berada diposisi itu, bagaimana dulu orang-orang memandanginya kasihan dan membicarakannya di belakang. Ia mengetahui hal tersebut, tetapi tidak ada yang bisa dilakukan. Ia hanya sosok remaja yang kehilangan senyuman sebab mereka yang disebut keluarga memberikan kenangan terpahit dalam hidup.
Tidak ada yang tersisa dalam perjalanan bersama ayah dan ibu di masa lalu. Kebahagiaan hanya terjadi selintas, rasa manis yang diberikan sang ibu perlahan memudar dan menyisakan perih mendalam dari keegoisan sang ayah.
Teringat akan hal itu hanya menimbulkan air mata. Dalam dekapan hangat istri tercinta ia menangis kala masa-masa menyedihkan terlintas. Sepulang dari makan bersama sang kakek, YeonJin nampak letih. Seperti waktu berputar pada kejadian tidak diharapkan.
Mereka pun kini tengah berbaring bersama di tempat tidur menikmati detikan jam. Semilir angin di luar berhembus mengenyahkan keheningan. Riana menunduk ke bawah melihat wajah berair suaminya yang tengah bersandar nyaman di bahu. Hangatnya cairan bening yang terus menerus keluar merembes ke dalam gamis. Ia menyadari jika saat ini YeonJin hanya sedang ingin didekap.
Seseorang yang tengah terluka terkadang tidak membutuhkan pertanyaan apa kamu baik-baik saja? Terkadang mereka hanya menginginkan sebuah pelukan hangat dan membisikan tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja. Tidak perlu berlebihan, sebab yang tulus akan selalu ada dan berada di samping orang tercintanya.
"Aku di sini, tidak apa-apa semua akan baik-baik saja," lirih Riana menenangkan.
YeonJin semakin mengeratkan pelukan seraya mengangguk perlahan. "Terima kasih, sudah hadir dalam hidupku. Aku tidak tahu jika kita tidak bertemu mungkin ... aku masih terjebak masa lalu dan tidak akan pernah membuka hati untuk berumah tangga. Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu," ungkapnya teredam.
Kedua manik jelaga Riana berkaca-kaca lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia pun membubuhkan kecupan hangat nan mendalam di puncak kepala suaminya. "Ini adalah takdir yang sudah Allah berikan. Aku juga sangat beruntung bisa bertemu denganmu, Oppa. Kamu bisa menarikku dari kelamnya masa lalu dan menerimamu sebagai imam. Terima kasih sudah menerimaku, apa adanya," ungkapnya bergantian.
YeonJin melepaskan pelukan dan mendongak membalas tatapan hangat pujaan hatinya. "Jangan pernah pergi dari hidupku, sekalipun kamu memohon dan memaksa, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Ke manapun kamu pergi aku akan tetap mengejarmu sampai dapat."
Riana mengulas senyum manis, tangan kanannya terangkat mengusap lembut pipi imamnya. "Aku tidak akan pernah pergi darimu. Bukankah Allah medatangkanku ke sini untuk bertemu denganmu? Inilah indah dan menakjubkannya rencana Allah. Kita tidak pernah tahu misteri apa yang terjadi besok, tetapi Allah sudah menuliskannya dalam catatan takdir. Aku sangat beruntung, Allah menghadirkanmu untuk membasuh luka hati ini."
Lengkungan bulan sabit sempurna terpendar di wajah tampannya. YeonJin menatap binar sang istri bersama cinta tersorot dalam mata kecilnya. "Iya, Allah sangat baik. Maha Rahman, Maha Rahim, petunjuk bagi hati yang resah dan penyejuk bagi hati yang gundah. Alhamdulillah, aku sangat bersyukur bisa mengecap manisnya hidayah. Terima kasih, karena keberadaanmu aku bisa memeluk Islam,"
Mereka melempar senyum hangat dan menyelami keindahan bola mata masing-masing. Sampai penyatuan pun terjadi. Hubungan suami istri terjalin begitu cepat mengalirkan perasaan mendalam. Cinta sejatinya bisa datang pada siapa saja asalahkan berlandaskan pada Allah semata. Karena keseriusan di bentuk dan ditunjukan pada jenjang pernikahan.
...***...
Musim semi datang untuk kesekian kalinya. Semerbak aroma harum menguar pada setiap insan. Jalanan begitu indah memperlihatkan kecantikan kelopak bunga sakura yang bermekaran. Di tengah keheningan ibu kota, siluet seorang pria tampan berambut rapih tengah berjalan di trotoar.
Aura positif terpancar dari binar matanya. Sudah hampir tiga bulan berlalu, kehidupan seorang Choi Jimin berubah total. Ia lebih santun, baik, tutur katanya lembut, ramah dan juga arah hidupnya sudah lebih lurus.
Ia pun tiba di bangunan berlantai dua sang kakak, kedua kaki jenjangnya melangkah masuk ke pekarangan. Setibanya di sana ia hendak menekan bel sebelum suara seseorang mengejutkan. Ia menoleh ke belakang mendapati wanita berhijab panjang.
Kepalanya langsung menunduk menghindari tatapan. "Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucapnya memberi salam.
"Wa-Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," balasnya pelan seraya terbelalak lebar.
Belum sempat mereka saling bertukar sapa, pintu terbuka menampilkan sang pemilik rumah. YeonJin dan Riana keluar berseru senang melihat keduanya. Pasangan suami istri tersebut saling tatap dan tersenyum lebar.
"MasyaAllah, apa kalian datang bersama?" tanya Riana antusias.
Keduanya pun menggeleng pelan, "Jasmin," panggil Riana lagi dan berjalan mendekatinya. "Kamu masih ingat? Dia? Choi Jimin?" ungkapnya lagi, Jasmin hanya mengangguk pelan.
"Alhamdulillah, sebulan yang lalu dia sudah menjadi seorang mualaf, dan hari ini baru keluar dari pengarajan para ustad. Siapa yang menyangka jika kalian bsia dipertemukan begitu cepat?" Kini giliran YeonJin angkat bicara. "Bagaimana perasaanmu, Jim?" tanya YeonJin kala mengerti dengan diamnya mereka.
"Alhamdulillah, Hyung aku sangat bahagia. Aku merasakan perbedaan yang sangat jauh berbeda. MasyaAllah, andai dari dulu, mungkin aku tidak akan merasa asing," jawab Jimin. Jasmin terperangah dan menatap lantai marmer di bawahnya.
"Tidak ada yang perlu disesali, kamu harus bersyukur jika Allah masih memberikan kesempatan bagimu untuk berubah. Alhamdulillah, cahaya itu masuk ke dalam hatimu, selamat datang adik seimanku." YeonJin memeluknya erat mengucap rasa syukur. Jimin membalasnya dan mengucapkan kata terima kasih.
Dalam diam Riana tersenyum melihat kebersamaan mereka, sedangkan Jasmin terpaku dengan apa yang dilihatnya sekarang. Ia tidak menyangka dan percaya jika pria yang pernah mengungkapkan perasaan kepadanya sudah menjadi seorang mualaf. Tidak ada yang tahu rencana Allah dan itu adalah sebaik-baiknya. Allah selalu mempunyai cara untuk memberikan kebaikan kepada setiap hamba.