QUEEN, The Single Parent?

QUEEN, The Single Parent?
Bagian 20



...Perasaan itu menyusahkan. Adanya perbedaan membuat kita tidak mungkin bersama....


.......


Kaila masih betah berada dalam gendongan YeonJin. Semua mata kini mengarah padanya, CEO muda itu tidak mempedulikannya dan terlihat nyaman bersama gadis kecil ini. Ia benar-benar seperti seorang ayah. Kelak entah berapa tahun lagi ia bisa menjadi ayah sesungguhnya. Bukankah sekarang ia tengah melatih kemampuannya? Anggaplah seperti itu. Ia juga tidak menghiraukan bisikan demi bisikan orang-orang di sekitarnya.


Hyerin dan ayahnya, Park Jung Guk kagum dengan sikap yang diambil YeonJin saat Kaila datang mendekatinya. Awalnya mereka terkejut melihat kedatangan Kaila. Kecewa dan emosi terlihat jelas di wajah berkepala 6 itu. Jung Guk berpikir YeonJin sudah mengkhianati anak semata wayangnya.


“Jadi, anak itu bukan putrimu?” tanyanya menatap ke dalam mata hitam si gadis kecil.


“Itu benar. Saya memang mengadopsi Kaila sebagai anak, appa,” jujurnya.


“Appa mereka siapa?” kini giliran Kaila yang bertanya.


“Em, mereka keluarga appa.”


“Ahh itu benar. YeonJin oppa memang sudah mengadopsi anak. Itung-itung sebagai latihan kita nanti, ne oppa?” lanjut Hyerin masuk ke dalam pembicaraan. Sang ayah tersenyum senang mendengarnya.


“Baguslah, kalian bisa cepat menikah kalau begitu.”


YeonJin melebarkan matanya tidak percaya. Pernikahan dan menjalin rumah tangga bersama seseorang tidak pernah terpikirkan sebelumnya oleh Kim YeonJin. Apalagi menikahi Park Hyerin. Sudah 2 tahun mereka bertunangan, tapi sampai saat ini ia tidak mencintainya sedikit pun.


"Hah~ mungkin karena dari kecil aku sudah bersamanya. Aku menyayanginya sebagai adik saja," benak YeonJin melihat sang tunangan.


Namun, berbeda dengan wanita itu. Hyerin sepertinya tengah mempertimbangkan perkataan ayahnya tadi.


"Kalau menikah dengan YeonJin oppa kami pasti melengkapi satu sama lain. Aku mengangguminya karena dia begitu berbeda saat melukis. Aku jadi teringat masa-masa itu,"


Kenangan masa kecilnya berputar di dalam kepala bersurai hitam itu. Saat usianya 10 tahun ia tidak sengaja melihat YeonJin tengah melukis di pekarangan rumah bermandikan cahaya matahari. Sejak saat itulah ia jatuh cinta pada sosoknya.


Dari jarak beberapa meter, Riana yang tenagh duduk seorang diri menatap kebersamaan mereka. Satu dua buah anggur dijejelkannya ke dalam mulut. Entah kenapa ia merasa kesal sendiri melihat sang anak bersama wanita lain.


Ia memang belum mengenal Hyerin, tapi saat kejadian waktu itu ia bisa merasakan hal berbeda darinya. Senyum yang mengembang di wajah cantiknya membuat ia terpaku. Wanita itu berbeda dari hari itu.


“Ternyata dia punya sisi baik,” gumamnya seraya terus memakan buah-buahan. Hanya itu yang bisa ia makan di sana.


“Ck, seperti keluarga saja. Apa Kaila senang bersama mereka? Sampai-sampai melupakan ibunya sendiri.”


Tanpa ia sadari Jimin yang tengah duduk tidak jauh darinya mendengar ocehannya sedari tadi. Pria itu hanya tersenyum mengerti dengan perasaannya.


...***...


Setelah puas berbincang-bincang bersama sang tunangan dan ayahnya, YeonJin pun membawa Kaila menuju Riana. Wanita itu tidak menyadari kedatangannya karena terlalu sibuk bermain ponsel menghilangkan kejenuhan.


“Hah~ sepertinya Kaila kelelahan. Lihat Riana, dia sampai tertidur pulas,” perkataan YeonJin membuatnya terkejut. Ia langsung mendongak seraya bangkit dari duduknya.


“E-aahhh maaf. Sini biar aku yang gendong Kaila.” Riana pun mengambil alih sosok yang sudah terkulai lemas itu.


Kaila terlihat nyaman dalam gendongan sang ibu. Bibir mungilnya yang kemerahan melengkung merasakan aroma ibunya. Riana maupun YeonJin ikut tersenyum melihat itu.


“Maaf sudah merepotkan Anda, YeonJin-ssi. Dan maafkan Kaila sudah membuat keributan di depan tunangan Anda. “ Riana mengangguk sekilas dan kembali duduk di tempatnya.


“Sama sekali tidak merepotkan, kamu tidak usah minta maaf. Aku senang Kaila ada di sini. Oh yah jangan berkata formal seperti itu kita kan sudah berteman. Lagi pula aku sudah menganggap Kaila seperti anak kandung sendiri.” Setelah mengakhiri ucapannya, kedua mata mereka kembali saling bertubrukan.


Riana tidak mengerti kenapa YeonJin bisa berkata seperti itu. Seharusnya dia kesal karena bisa saja Hyerin salah paham dengan keberadaan Kaila. Namun, yang ia lihat sorot mata kegembiraan.


Di tengah-tengah keheningan mereka, tiba-tiba saja suara mikrofon membuyarkan lamunannya. Seorang pria bertubuh tegap berkacamata bulat berdiri di atas panggung. Senyum penuh kebahagiaan mengembang di bibir tebalnya. Bola mata kecilnya bergulir kepada semua tamu undangan yang kompak menatapnya sebagai objek pertama. Ia tidak sabar ingin memberitahukan berita menyenangkan ini.


“Selamat malam. Sebelumnya saya minta maaf karena bukan hak saya untuk berdiri di sini sekarang. Tetapi, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. Berita ini mengenai CEO kita tercinta Kim YeonJin yang akan segera melangsungkan pernikahannya bersama putri saya Park Hyerin.”


“Eehhhhh!!”


Semua orang tentunya terkejut mendengar berita itu. Seketika keadaan yang semula tenang menjadi heboh. Mereka ikut senang mendengarnya.


Berbeda dengan YeonJin yang berdiri mematung di tempatnya. Ia tidak percaya Jung Guk, bisa berkata seperti itu bahkan tidak ada kesepakatan yang terjadi sebelumnya. Jimin bergegas mendekatinya yang sudah membulatkan kedua matanya. YeonJin tercengang mendapati kabar mengejutkan itu.


Beberapa saat lalu Jung Guk bertanya kepada Hyerin, apakah putrinya itu mau menikah dengan YeonJin atau tidak? Dan jawaban sang anak tentu saja ia mau. Dengan keputusan sebelah pihak pria tua itu bergegas memberikan informasi tersebut.


“Ini sebagai hadiah yang saya berikan untuk Anda, Kim YeonJin,” lanjutnya seraya menatap YeonJin lekat.


Pria itu mengepalkan kedua tangannya erat tidak mengerti permainan apa lagi yang tengah dilakukannya. Refleks ia pun menoleh ke samping kanan melihat Riana yang menunduk. Entah kenapa ia merasa takut. Degup jantungnya bertalu kencang seperti mau meledak detik itu juga. Keringat dingin bermunculan di dahi lebarnya. Bahunya yang tegap bergetar pelan.


Tidak lama kemudian Riana mendongak dan memberikan senyum terbaiknya. Ia pun bangkit hendak mengucapkan selamat. Namun, baru saja bibirnya terbuka ucapan YeonJin mengejutkan. Jimin sampai tercengang, tidak percaya sahabat sekaligus kakaknya ini mengatakannya begitu cepat.


“Saranghae.”


Untuk sedetik saja waktu seolah berhenti berputar. Kini giliran Riana yang melebarkan matanya. Beruntung musik yang tengah dimainkan meredamkan ucapan YeonJin tadi. Orang-orang tidak memperhatikannya dan sibuk mengucapkan selamat kepada Hyerin.


Namun, ada satu orang yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari mereka. Mendengar YeonJin mengatakan itu sebelah sudut bibirnya terangkat.


“Aku tahu apa yang harus dilakukan. Sepertinya wanita itu sangat berarti untuk dia. Kalau begitu permainan baru segera dimulai. Selamat menikmati, Kim YeonJin.”